THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
52



Di saat Arion sedang menyiram tanaman, Grace memperhatikan setiap gerakan Arion dari balik jendela kamar. Dia sebenarnya merasa kasihan pada Arion, tapi dia tidak bisa berbuat apa -apa. Karena Ricky sudah melarangnya untuk mendekati Arion.


Pekerjaan Arion selesai saat hari sudah sangat larut, beberapa menit lagi sudah tengah malam. Dia merasa tubuhnya lengket karena keringat yang menyelimuti kulitnya. Dia pun segera mandi dan membasuh diri. Pakaian yang disediakan oleh Ricky terlihat sedikit lebih besar di banding ukuran tubuhnya.


Saat ini dia belum bisa tertidur, mungkin karena sangkin lelahnya dia. Arion mengambil ponselnya dan berpikiran untuk mengirim pesan singkat pada Grace. Iseng -iseng berhadiah.


Tak tau nya, pesan dari dia mendapat balasan dari sana. Rasa senangnta sudah menutupi rasa lelahnya itu. Dia merasa sangat senang, meskipun hanya mendapat jawaban singkat dari Grace.


Arion :


Grace sudah tidur?


Grace :


Belum.


Sejak kapan tersimpan nomor mu di ponselku?


Arion :


Sejak semalam.


Kenapa belum tidur, Grace?


Grace :


Belum ngantuk.


Gimana keadaanmu sekarang?


Pasti kamu kelelahan karena di suruh - suruh Bang Ricky.


Arion :


Grace khawatir denganku?


Senangnya..


Aku tidak merasa lelah lagi saat aku tau ada yang mengkhawatirkanku.


Grace :


Gombal.


Aku mau tidur, Bye.


Arion :


Good Nite Grace.


Jangan lupa mimpiin aku ya, sayang.


Sweet dream.


Meski sudah tidak ada yang membalas pesannya lagi, Arion masih saja cengingiran sendiri hingga akhirnya dia tertidur pulas dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.


ARION POV


"Ar, cepat bangun. Ini pakaian ganti untukmu. Cepat, aku tunggu di ruang tamu," ucap Bang Ricky dengan nada yang keras.


Aku sungguh lelah. Sepertinya, baru 5 menit aku nyenyak dalam tidurku. Tapi sudah harus bersiap untuk menerima perintah dari Bang Ricky.


Pagi ini aku memakian kaos lengan pendek berwarna putih di padu padankan dengan celana sport panjang berwarna navy dengan sepatu sport hitam milik Bang Ricky. Aku masih bertanya - tanya dalam hati, hal buruk apa lagi yang akan aku terima dari Bang Ricky.


"Sudah siap? Kita berangkat sekarang. Jangan sampai yang lain terbangun karenamu," ucap Bang Ricky dengan acuh tak acuh.


Ya! Sebenarnya ini masih subuh jam tengah lima. Ternyata Bang Ricky juga memakai setelah pakaian sport yang hampir sama dengan yang kupakai. Kemungkinan besar, kami akan keluar jogging pagi ini.


Aku mengikuti Abang itu ke sebuah tempat yang sepertinya masih kosong. Sesudah kami tiba di dalam, aku melihat begitu banyak orang bertubuh kekar di sana.


'Wahh, ternyata aku di bawa ke dalam sarang buaya yang sesungguhnya.' Aku membatin sambil melihat ke sekeliling ku. Bulu kudukku bergidik ngeri melihat tatapan mereka yang tajam dan menohok sampai ke tulang ku.


"Nah, kamu hanya akan aku berikan waktu 3 jam untuk berlatih. Setelah itu, kemampuanmu akan di uji oleh beberapa orang yang ada di sini."


Bang Ricky menjelaskan begitu singkat padaku. Dia ingin aku berlatih seperti para petinju yang selama ini ku lihat di televisi. Aku memang pandai dalam bela diri, tapi aku sama sekali tidak mengerti dalam tinju.


Orang itu meninggalkanku begitu saja. Aku sudah mengerti sekarang. Pertama - tama aku harus melatih cara meninju dengan menggunakan samsak ini. Ku lihat sekelilingku. Aku mempelajari sedikit gerakan cara memukul samsak dari gerakan beberapa orang yang sedang berlatih tidak jauh dariku.


Aku pun memulai latihanku. Aku tau bahwa jauh di sana, Bang Ricky memperhatikan apa yang kulakukan. Dia pasti ingin membuatku menyerah dengan cara yang kejam begini. Tubuhku memang sedang dalam keadaan kurang fit, tapi aku pasti bisa melakukan latihan ini dengan baik.


Setelah berlatih selama sejam penuh, ada seseorang lagi yang mendekatiku dan memberikanku sebotol air mineral. Langsung saja aku meneguk air itu. Rasa haus dan lapar yang aku rasakan saat ini, sangat mengganggu konsentrasiku. Aku belum ada sarapan pagi ini, semua itu berkat kebaikan Bang Ricky yang membawaku ke sini subuh - subuh.


Setelah habis meneguk air mineral itu, aku kembali berlatih. Dan benar saja, sekarang aku menjadi pusat perhatian dari orang - orang ini.


'Ada apa?' Aku hanya berani bertanya dalam hati.


Tatapan aneh mereka aku abaikan dan berusaha untuk berlatih, tapi tetap saja aku tidak bisa fokus dengan latihanku ini. Aku harus bisa memanfaatkan waktu 3 jam ini untuk melatih otot tangan dan kekuatanku dalam meninju.


tak terasa, setengah jam sudah berlalu. Aku merasa sangat lelah sampai aku terduduk dan tidak sanggup untuk melakukan apa pun lagi. Bang Ricky entah pergi kemana. Dia tidak kelihatan sedaritadi.


Tiba - tiba saja ada orang yang menepuk pundakku, "Hei, kamu adalah lelaki yang kami temui di Rusia 2 tahun lalu kan? Kamu yang pingsan di sebelah Grace?"


Dia mengenal Grace dan dia menggunakan bahasa berbicara denganku. Apa mungkin mereka semua yang di sini mengenal Grace?


"Iya, Bang. Saya memang orang itu. Kenapa Bang?" Tanyaku padanya.


"Aku yang membawamu dari Rusia ke Rumah Sakit yang ada di Jakarta waktu itu. Aku kira aku salah orang. Ternyata itu memang kamu. Apakah luka lamamu sudah sembuh total?" Abang kekar ini duduk di sebelahku. Dia mulai mengajakku untuk mengobrol dengannya.


"Terima kasih banyak ya, Bang. Meski awalnya kita tidak saling kenal, tapi Abang sudah mau mengantarkanku dengan selamat ke Rumah Sakit." Aku pun tersenyum padanya dan mengulurkan tanganku, "Namaku Arion, panggil saja dengan Ar."


"Aku James. Aku juga dari Indonesia. Tapi aku ikut dengan Ricky ke sini untuk mendapatkan pekerjaan yang layak," ucap James sambil menyambut uluran tanganku.


"Oh iya, kamu kelihatan pucat. Apa kamu kemari sebelum sarapan?"


Mendengar pertanyaan darinya, aku hanya menggelengkan kepalaku dengan lemah. Aku memang belum ada makan apa - apa dari subuh. Aku hanya mengisi perutku dengan sebotol air mineral.


"Sebelum berlatih, seharusnya kamu mengisi perutmu itu lebih dulu. Tunggu sebentar di sini, aku masih punya roti yang bisa dijadikan sebagai pengganjal perutmu sementara waktu." James pun beranjak dari tempat duduknya dan pergi entah kemana.


Selang beberapa menit, dia kembali dengan membawa 2 bungkus roti dan sebotol air mineral. Dia menyerahkan semuanya padaku, "Nih, cepat di makan. Nanti kamu pingsan pula. Di sini bukan tempat penampungan orang sakit."


"Terima kasih banyak, Bang." Aku pun langsung melahap kedua roti itu dan menghabiskan sebotol air mineral lagi, "Ehh, Bang. Kamar kecilnya ada di mana ya? Daritadi aku minum terus, tapi belum ada ke kamar kecil."


"Tuh, kamar kecilnya. Jangan menerobos antrian di sana ya. Bahaya. Kan kamu masih baru di sini."


"Oke Bang."


Aku pun bergegas pergi ke arah yang di tunjuk James. Aku tidak melihat siapapun. Tidak ada yang mengantri, tidak seperti yang dikatakan James pada ku.


Begitu selesai dengan kegiatanku itu, aku langsung mencuci tangan dan keluar dari sana. Di depan pintu terdapat banyak orang yang memandang aneh pada ku.


'Ada apa ini?' batinku dalam hati.


Mereka mendekat padaku dan memojokkanku hingga punggungku menabrak tembok. Aku merasakan hawa - hawa kemarahan tersirat dari wajah mereka. Aku tidak mengenal mereka, tapi kenapa mereka sepertinya tidak senang dengan keberadaanku? Apa salahku?


 


 


**********


Author minta maaf yaa, karena telat up nya 😔🙏


Alasan utamanya, karena Author sedang mengerjakan cerita baru yang masih bergenre romance..


Alasan lainnya menyangkut masalah pribadi..


Bagi yang bersedia, boleh singgah dan baca cerita terbaru Author yang berjudul "NARA"..


Biar lebih simple, klik aja profpic Author. Nanti bakalan muncul cerita yang Author tulis..


Jangan lupa beri like dan komen berupa kritik dan sarannya yaa..


Salam Kasih Author bagi Para Pembaca yang Terkasih


😘😘😘