THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
27



ARION POV


Saat ini, aku hanya berdua dengannya. Aku tidak bisa mengendalikan diriku, apalagi degup jantung ku ini.


Dengan posisi kami yang seperti ini, aku sangat yakin kalau Grace juga mendengar betapa kencangnya jantungku berdetak.


Aku sengaja mendekatinya, ingin membuatnya mengetahui perasaanku padanya.


Saat ini, jarak kami sangat dekat. Sebenarnya, aku merasa sangat gugup. 'Apa yang harus aku lakukan setelah ini?' Aku lupa tentang segalanya.


Semua kata-kata yang sudah ku rangkai dan ku hapal, hilang begitu saja dari ingatanku. Itu s~~~~emua karena rasa gugup ku.


Aku menatap lekat wajah Grace yang sepertinya sudah menyadari maksudku mendekat padanya. Tanpa basa-basi, aku memeluknya dan membiarkan kepalanya berada di dada bidangku.


"Grace, apa kamu mendengar detak jantungku saat ini? Aku tidak tau apa dan bagaimana mengatakannya


padamu. Aku hanya ingin memberikan sedikit bukti dari perasaanku ini padamu."


Grace mendorong tubuhku begitu kuat, hingga aku terpundur. Dia menatap tidak percaya padaku. Aku hanya bisa diam menunggunya kembali melihatku dengan normal.


"Ini salah, Ar. Sangat salah. Asal kamu tau, aku itu sudah dijodohkan oleh kedua orangtuaku. Aku juga tidak pernah menganggapmu lebih dari seorang teman." Grace mulai mengutarakan apa yang dia pikirkan padaku.


"Aku tau semuanya, Grace. Aku tau kalau kamu sudah dijodohkan dengan orang yang sudah berumur dan kamu juga tidak pernah menyukai setiap lelaki yang kamu kenal lebih dari seorang teman. Aku pun tau kalau kamu itu sebenarnya terpaksa menerima perjodohan itu."


Ku lihat dia masih terdiam, "Aku hanya ingin Menyatakan perasaanku yang sebenarnya padamu. Aku mencintaimu, Grace. Sangat mencintaimu. Aku ingin kamu tau bahwa cintaku ini tulus padamu."


"Aku ini hanya perempuan biasa, Ar. Perempuan yang memiliki banyak kekurangan. Kamu itu bisa mendapatkan perempuan yang sempurna dan lebih baik dariku di luar sana. Aku tidak akan bisa membalas perasaanmu itu, Ar. Aku akan menikah dengan pilihan orangtuaku. Dan lagi, kita itu baru mengenal satu sama lain kurang dari 3 bulan, bagaimana bisa kamu sudah yakin kalau kamu mencintaiku?" Katanya dengan lembutnya.


Aku tidak suka, jika dia membuat dirinya sendiri lebih rendah dari perempuan lainnya dan dia juga sudah meragukan perasaanku padanya. Jadi, ku coba untuk mengatakan beberapa patah kata yang menurutku dapat mewakili perasaanku padanya.


"My love belongs to you. I adore you since the first occasion when I see you."


-Cintaku hanya milikmu. Aku mencintaimu sejak pertama kali aku melihatmu.-


Ku lihat ekpresinya yang tertegun mendengar ucapanku. Dia pasti mengerti apa maksud dari ucapanku tadi.


"Aku tidak menginginkan apapun darimu, Grace. Yang terpenting, kamu sudah tau bagaimana perasaanku padamu, itu saja sudah cukup, Grace."


Setelah aku mengatakannya, dia terlihat lebih tenang dari sebelumnya dan berjalan mendekatiku.


"Baiklah, Ar. Aku sudah mendengarkan semuanya. Aku juga sudah tau isi hatimu. Sekarang, bisakah kita pergi dari sini? Aku takut keluargaku sudah menungguku begitu lama." Dia pergi begitu saja meninggalkanku setelah mengatakan hal itu.


Grace sungguh tidak tau cara menghargai perasaanku. Aku juga tidak bisa seromantis orang di luar sana. Suasana di antara kami tidak ada romantis-romantisnya, yang ada hanya kecanggungan.


Sesampainya di Restoran, tempat dimana Silvia mengajakku dan Grace untuk bertemu, aku terkejut melihat betapa banyaknya orang yang sudah duduk dengan teratur.


Aku melihat kursi kosong di sebelah Papanya Grace. Aku mengantarkan Grace ke tempat duduk nya, menarik kursi dan membiarkanya duduk terlebih dahulu. Setelah itu, aku bergegas ke tempat dudukku tepat di sebelah Daddy.


Tidak lupa aku memperkenalkan diri kepada orangtua Grace, "Saya Arion Gavin Melviano, salam kenal Mr. and Mrs.Victor. Maaf, jika aku dan Grace membuat semuanya menunggu terlalu lama."


"Yah, salam kenal Arion. Ternyata kamu yang bernama Arion itu. Sekarang kita makan terlebih dahulu, nanti baru kita lanjutkan obrolan kita ini." Ucap Mr.Victor dengan senyuman khasnya.


'Pantas saja Grace bisa begitu cantik, ternyata Papa nya itu blasteran juga, sama seperti dia.' Gumamku dalam hati.


Aku melihat wajah setiap orang yang hadir disini. Adik lelakinya tidak begitu mirip dengan Grace, karena badannya yang agak gemuk dan berotot. Sedangkan Grace? Dia itu kurus.


Adik kembarnya terlihat lebih mirip dengan Grace dibandingkan dengan Mamanya. Mungkin karena mereka sama-sama lebih mengambil ciri khas dari Papanya. Tapi, tubuh mereka sepertinya lebih tinggi dan besar dibanding anak SD pada umumnya.


Jeff? Sejak kapan Jeff ada disini? Apa dia sedekat itu dengan keluarganya Grace? Dia duduk di antara sikembar dan ... Ah, mungkin dia lah calon yang dimaksud Grace'


Dia tidak terlihat tua, padahal usianya sudah 40an. Mungkin karena dia pandai mengurus diri, makanya bisa tampak lebih muda dari usianya. Tapi tetap saja, aku tidak suka jika Grace menjadi milik orang lain.


Ini pertama kalinya bagiku makan bersama keluarga perempuan yang kucintai. Aku merasa sangat bahagia. Tapi, aku tau bahwa ini tidak akan bertahan lama, setelah ini sudah saatnya kami berpisah dan aku harus merelakannya bersama dengan pria lain.


Usai perjamuan makan malam, Steve mengajak adik-adik Grace untuk pergi bermain di taman bermain yang jaraknya tidak jauh dari Restoran ini. Aku merasa heran, kenapa yang lainnya penuh dengan wajah serius?


"Nah, Mr.Victor, anda sudah melihat dan mengenal putra saya. Dia lah anak sematawayang kami. Dia sudah bekerja untuk melanjutkan bisnis keluarga. Niat kami ini tulus, anda bisa melihatnya sendiri tadi bagaimana


perlakuannya pada Grace, putri anda." Daddy memulai percakapan mereka yang mungkin tadi sudah tertunda.


"Pa, Papa tidak bisa begitu saja membatalkan perjodohan itu, kita bisa dalam masalah besar, Pa." Bisik Mrs.Victor kepada suaminya, tetapi kelihatannya masih bisa di dengar oleh Grace.


"Pa? Apa maksudnya ini? Papa dan Mama membahas hal aneh barusan. Siapa yang dalam masalah besar?" Suara Grace yang begitu lembut namun terdengar tegas membuat kedua orangtuanya menoleh padanya.


Tiba-tiba Mommy membicarakan hal yang membuatku tercengang.


"Grace sayang, Daddy dan Mommy ingin menjodohkanmu dengan Arion. Kami ingin kamu menjadi menantu kami. Kita ini sudah seperti keluarga, Grace. Kami sungguh menyayangimu dan Mommy yakin kalau Arion itu tulus mencintaimu. Jadi, kami harap kamu mau menerima perjodohan ini, sayang."


"Aku tidak terima! Aku lah orang yang sudah berjodoh dengan Grace. Kalian tidak bisa dengan semena-mena menjodohkannya dengan orang lain." Calon si Grace itu malah mengamuk.


"Om, jangan buat malu. Om itu tidak sopan dengan orangtua." Grace mulai merasa tidak nyaman dengan suasana gaduh yang disebabkan oleh calonnya itu.


Aku baru teringat, ternyata orang yang berada dalam panggilan waktu itu, sampai dia mengabaikanku adalah lelaki ini? Aku sangat yakin dengan caranya memanggilnya dengan sebutan "Om".


"Cakra, kamu harus tetap tenang. Sebenarnya, aku tidak bisa membuat putri sulung ku ini terikat dalam pernikahan yang tidak dia inginkan. Aku juga seorang ayah, aku hanya ingin melihat anak-anakku bahagia dengan pilihan hidupnya. Meskipun keluarga kami sedang mengalami kesulitan, aku tidak mau di pandang seperti ayah yang menjual anaknya demi hutang." Papanya Grace memang cukup bijaksana.


"Grace? Papa akan menerima lamaran yang akan kamu terima. Jadi, kamu harus pikirkan baik-baik, ini hidupmu. Sebenarnya, Papa benar-benar menyesal dengan keputusan Papa yang secara sepihak menjodohkanmu, setelah melihatmu seperti menghindari kami selama seminggu ini. Keputusan akhirnya ada ditanganmu, Grace. Kamu bisa


memilih calonmu. Cakra Wijaya atau Arion Gavin Melviano?"


Aku terkejut melihat Cakra berdiri dan menarik pergelangan tangan Grace, "Ayo Grace, kita pergi dari sini."


"Tidak, Om. Aku tidak akan meninggalkan siapapun dan tidak akan pergi kemanapun." Ucap Grace yang terlihat marah.


"Kamu tidak bisa membatalkan perjodohan kita, Grace. Aku pasti akan menuntut kalian semua. Kamu harus ingat, Grace. Hanya aku yang bisa menolong keluargamu." Kata-kata Cakra itu sepertinya meremehkanku saja.


"Om, Pria yang gentle itu tidak berbuat kasar terhadap perempuan, lho. Lihatlah, pergelangan tangan Grace sudah memerah karena ulahmu, Om." Ucap Jeff dengan nada mengejek.


"Aku mau ke toilet dulu, permisi." Grace menepis tangan Cakra. Dia beneran pergi dan diikuti oleh Silvia.


Semuanya hening. Tapi, Mr.Victor menoleh ke arahku, "Sudah berapa lama nak Arion mengenal Grace?"


"Sekitar tiga bulan, Mr.Victor." Aku berusaha tetap tenang menjawab pertanyaan tersebut.


"Nak, Ar. Apakah kamu serius terhadap putriku?" Papa nya Grace menanyaiku dan Cakra pun menatap tajam ke arahku.


"Mr.Victor, saya serius dengan Grace. Persaaan saya terhadapnya sudah sangat dalam. Meskipun dia masih belum memiliki perasaan yang sama denganku, aku akan berusaha untuk membahagiakannya jika dia memilihku." Aku mengatakannya dengan begitu saja dan aku mendapat senyuman dari Mr.Victor.


"Kau itu masih anak ingusan, jangan sok bisa membahagiakan dia. Dia tidak akan memilih anak ingusan sepertimu." Ucap Cakra sambil melampiaskan amarahnya padaku.


"Maaf, Tuan Cakra, anak kami ini bukan sekedar anak ingusan seperti yang Tuan katakan. Dia ini adalah pewaris dari perusahaan keluarga kami. Dia itu lebih dari kata 'MAMPU' untuk memimpin Perusahaan Melv.Corp. di usianya saat ini. Jadi, saya harap, Tuan tidak berkata seperti itu lagi."


Daddy membela ku dengan menekankan nada suaranya pada kata 'MAMPU'. Aku melihat Cakra mengepalkan tangan kanannya dan duduk tanpa mengucap sepatah katapun. Tapi, aku merasa Mrs.Victor mulai menunjukkan ekspresi yang aneh.


Kemungkinan besar, Mama nya Grace memang tidak menyukaiku. Karena dari sejak awal, dia memang lebih memihak pada teman dekatnya itu daripada aku yang baru ditemuinya.


Berbeda dengan Mr.Victor, dia tercengang mendengar Daddy menyebutkan nama perusahaan kami. Mungkin dia tau banyak tentang dunia bisnis.


Aku tidak tau kalau hal ini akan terjadi. Pantes saja Kak Adam ingin Mom and Dad pulang menemui Grace dan orangtuanya. Ternyata di belakangku, dia membuat rencana seperti ini.


Aku merasa bahagia memiliki orangtua yang selalu mendukungku dan memihak padaku. Aku tidak akan mengecewakan mereka.


Jika dengan cara seperti ini, Grace memilihku, aku akan berusaha untuk membuat dia dan keluarganya bahagia. Tapi, kalau Grace malah memilih Cakra, aku akan rela melepasnya dan akan berusaha melupakannya.


Aku benar-benar tidak sabar dengan keputusan yang akan diambil oleh Grace. Meskipun acara penyampaian perasaanku tadi terbilang tidak mulus, aku masih memiliki 50% kesempatan untuk memilikinya.


GRACE POV


Baru saja aku dipusingkan oleh sikap Arion di Taman tadi, sekarang aku dipusingkan oleh sikap kedua orangtuanya Arion.


"Kenapa hal ini terjadi padaku?" Gumamku sambil melihat cermin di depan ku.


"Grace? Kamu baik-baik saja kan?" Ucap Kak Silvia yang ternyata mengikuti ke arah toilet.


Aku segera memeluknya dan menangis di pelukannya, "Kak, aku harus bagaimana? Aku sangat bingung."


"Grace, aku akan bertanya beberapa hal padamu. Tapi, kamu harus jawab dengan jujur agar aku bisa memberikan saran padamu. Bagaimana?" Kata Kak Silvi dan aku hanya mengangguk setuju.


"Sebenarnya, bagaimana perasaanmu terhadap Cakra dan Arion?"


"Aku memang hanya menganggap Arion tidak lebih dari seorang teman. Sedangkan Om Cakra sudah seperti orangtuaku sendiri. Aku memang dekat dengannya, tapi kedekatanku itu padanya seperti aku dekat dengan Papa ku sendiri."


"Kenapa kamu mau menerima dijodohkan dengan Cakra?"


"Aku hanya tidak ingin Papa stres karena terlilit hutang yang lebih dari 2M. Itu nominal yang jumlahnya tidaklah sedikit, Kak. Bagaimana bisa aku menolaknya? Sedangkan hanya dia yang mamapu melunaskan hutang Papa."


"Kamu tidak yakin dengan kemampuan Arion?"


"Aku.. Aku kan masih baru mengenalnya, Kak. Aku masih belum mengetahui apapun tentangnya."


"Aku berkata seperti ini, bukan karena dia keluargaku ya, Grace. Kamu harus percaya padaku. Arion itu sebenarnya lebih mampu melakukan apa yang bisa dilakukan oleh Cakra. Dia itu lebih mapan dari kelihatannya."


"Maksud Kakak? Bukannya dia hanya seorang aktor dan model yang aku sendiri pun tidak begitu mengenalnya."


Aku sudah berhenti menangis. Mungkin karena rasa penasaranku terhadap Arion.


"Yah, sebenarnya itu hanya pekerjaan sampingannya, Grace. Sebenarnya, setelah dia resmi menikah dengan seseorang, dia akan pensiun dari Dunia Hiburan. Dia akan berhenti menjadi aktor dan model. Dia hany akan fokus pada Dunia Bisnis dan keluarganya."


"Ohh, begitu. Tapi, aku masih sedikit ragu untuk memilihnya, Kak. Kenapa Arion bisa menyukaiku, padahal kami baru mengenal satu sama lain belum lama ini dan hanya sesekali bertemu."


"Tenang saja, Arion itu serius dengan perasaannya padamu, Grace. Kalau dengan Arion, mungkin kamu bisa belajar membuka hatimu untuknya secara perlahan, tidak seperti Cakra. Apa kamu mau terkurung dengan orang yang sudah seperti orangtuamu sendiri? Coba kamu pikirkan sekali lagi dengan matang, Grace."


"Baiklah, Kak. Aku masih ingin sendiri. Kak Sil bisa balik duluan."


"Ya, sudah. Tenangkan pikiran mu terlebih dahulu. Semua keputusan berada dalam genggamanmu. Ingat, Papa mu sudah memberikanmu kesempatan untuk memutuskan pilihan hidupmu, Grace. Kakak balik duluan ya."


Kak Silvia pun berlalu. Sekarang aku tinggal sendirian. Aku memasuki salah satu ruangan di toilet ini dan duduk di atas kloset yang tertutup.


Aku memikirkan perkataan Kak Silvia. 'Kak Sil ada benarnya juga, lebih baik aku menikahi seseorang yang kuanggap sebagai teman daripada yang kuanggap seperti orangtuaku sendiri.'


Tapi, bagaimana bisa Arion membantu kami membayar hutang Papa? Apa sebenarnya pekerjaan dia? Aku memang mempercayai Kak silvia, tapi aku masih ragu dengan orangnya langsung.


Arion terlihat seperti seseorang yang hanya tau cara menganggu orang lain. Terkadang dia terlihat lebih muda dariku dan kadang dia terlihat lebih dewasa dari semestinya.


Tidak seperti Om Cakra, si Om lebih terlihat berwibawa dan mapan di banding Arion. Dia pun sudah berjanji akan membantu Papa membayar lunas hutang Papa.


'Yang mana yang harus ku pilih??'