
Selama perjalanan, tidak ada dari mereka yang berkata - kata meski sepatah katapun. Padahal baru tadi pagi mereka berpelukan dan saling menumpahkan kerinduan mereka.
Keheningan yang menyelimuti suasana di dalam mobil itu pun sampai membuat Supir Pribadi Ar merasakan hal yang mencekam. Tidak ada sedikitpun keramahan yang ditunjukkan oleh kedua majikannya itu.
"Akh..!!" Teriak Grace refleks.
Tiba - tiba mobil dihadang oleh puluhan preman. Spontanitas yang dilakukan oleh Supir membuat Grace dan Ar terkejut. Saat mobil berhenti akibat Supir yang tiba - tiba mengerem, Ar masih sempat menarik dan memeluk Grace agar tidak terbentur apapun.
"Ada apa, Pak? Kenapa berhenti mendadak begitu?" Tanya Ar dengan nada kesal. Keheningan yang terasa seketika menghilang begitu saja.
"Ada puluhan preman yang menghadang mobil, Tuan. Mobil kita sudah dikelilingi para preman." Jawab si Supir dengan wajah pucatnya yang melihat begitu banyak preman berjalan mendekati mobil.
"Gadis manis, keluarlah! Kami hanya ingin menemuimu." Ucap salah seorang preman sambil mengetuk kaca mobil tepat di sebelah Grace.
Ar dan Grace saling memandang karena mereka tidak menyangka kalau preman itu mengenal Grace, meskipun tidak menyebutkan namanya.
"Grace? Apa kamu mengenal mereka?" Tanya Ar sambil menunjuk ke arah jendela mobil.
Grace hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia memang tidak mengenal satu orang pun di antara berpuluh - puluh preman itu.
"Ya sudah, aku saja yang keluar menghadapi mereka." Tegas Ar melihat beberapa preman yang mulai mengetuk jendela mobil berulangkali.
"Tidak perlu, Ar. Aku yang di cari mereka. Jadi, biarkan aku yang menghadapi mereka." Jawab Grace dengan ekspresi tenangnya.
"Tapi, mereka itu preman dengan jumlah yang tidak sedikit, Grace. Aku ..." Ucapan Ar terputus karena Grace sudah mengatakan sesuatu yang tidak bisa dibantahnya.
"Aku akan baik - baik saja. Kalau mereka main tangan, kamu boleh keluar dari mobil untuk menghajar mereka."
Akhirnya, Ar setuju dengan apa yang dikatakan oleh Grace. Grace pun keluar dari mobil untuk bertanya pada preman yang memanggilnya gadis manis, "Ada apa mencariku?"
"Kami disuruh membawamu dengan utuh dan tidak lecet sama sekali. Jadi, ikutlah dengan kami. Semuanya akan baik - baik saja." Ucap preman yang sedang ada dihadapan Grace.
Percakapan keduanya masih bisa didengar oleh Ar melalui jendela mobil yang sedikit terbuka tepat di belakang Grace.
"Kalau aku menolak?" Tanya Grace dengan mudahnya. Dia tidak peduli dengan wajah sangar yang ditunjukkan oleh para preman itu.
"Kami terpaksa melakukan sesuatu padamu. Tapi itu tidak akan sakit." Ucap salah satu preman yang memiliki rambut panjang sebahu berwarna pirang.
Grace menyadari ada sesuatu yang aneh dari tatapan mata preman berambut pirang itu. Dia merasakan ada seseorang yang menghampirinya dari sisi kanannya. Benar dugaannya! Preman berjanggut panjang berusaha menancapkan sebuah jarum suntik ke arah bahunya.
Dengan gesit, dia menarik pergelangan tangan preman berjanggut panjang itu sampai jarum suntiknya terlepas. Lalu dia memutarkan lengan preman itu dengan sekuat tenaga hingga tangannya bersuara karena tulangnya bergeser. Preman itupun tumbang seketika.
Ar yang melihat aksi tersebut langsung keluar dari dalam mobil dan menghampiri Grace dan bertanya, "Kamu tidak apa - apa? Berani sekali mereka berbuat curang dengan seorang perempuan."
"Aku baik - baik saja. Dia yang terlihat tidak baik." Ucap Grace sambil tersenyum pada Ar dan dia mengalihkan pandangannya ke arah preman - preman dihadapannya sambil bertanya, "Bagaimana menurut kalian?"
"Errgghh.. Ternyata gadis manis sepertimu bisa melakukan hal yang tidak wajar seperti itu. Kamu yang memintanya. Kami tidak akan menundanya lagi dan pasti akan membawamu, gadis manis." Preman di hadapan Grace yang berwajah sangar dengan tato di sekujur tubuhnya mulai mengeram kesal melihat aksi yang dilakukan oleh Grace terhadap anak buahnya. Ya! Dialah ketua geng dari puluhan preman itu.
"Serang mereka..!! Jangan terlalu kasar dengan gadis itu. Kalian harus ingat dengan perjanjian kita dengan Bos Besar..!!" Lanjut ketua preman itu dengan ketus kepada semua anak buahnya.
Grace dan Ar mulai bersiap untuk melawan puluhan preman itu dengan posisi saling membelakangi satu sama lainnya. Meskipun sudah tidak pernah bertarung seperti ini, Grace tidak pernah lupa dengan kain yang selalu dibawanya. Kain itu digulungkannya ke telapak tangan kanannya. Ar tidak lupa untuk selalu memperingatkan Grace agar dia lebih berhati - hati.
Para preman itu tidak lagi memberi ampun pada orang yang sudah berani menghajar temannya. Mereka menyerbu Ar dan Grace secara membabibuta dengan jumlah yang cukup banyak dalam sekali perlawanan.
Meskipun mereka sudah melihat kemampuan Grace, mereka tetap akan menjaga agar pukulan mereka tidak terlalu kuat mengenai Grace. Karena itu adalah perintah mutlak dari Bos nya. Grace harus dibawa dalam keadaan utuh dan tidak lecet sedikitpun. Inilah yang membuat Grace bisa lebih leluasa melawan mereka meskipun dia masih mengenakan setelan kantor (Jas dan rok).
Tiga orang datang dari arah depan Grace dengan maksud untuk menahan kedua tangannya. Tapi, mereka kalah cepat. Gerakan orang tengah dapat dikunci oleh Grace dan membuat preman bertompel di bagian wajahnya sebagai tamengnya. Dalam keadaan kedua tangannya yang ditahan oleh Grace dibagian punggung, dia tidak bisa berkutik lagi.
"AARRGGHHH..!!" Terdengar teriakan dari preman bertompel itu. Grace mendaratkan siku tangan kanannya dengan tenaga maksimal yang dimilikinya ke punggung bagian tengah hingga dia menegadah kesakitan.
Ada dua preman lagi berusaha mendekati Grace yang sedang menahan temannya itu. Preman berambut pirang muncul dari arah kanan malah terkena pukulan keras di bagian pipi kirinya hingga mulutnya mengeluarkan darah. Sedangkan yang satu lagi, preman bercodet (Pipi kirinya terdapat luka sayatan) menyerang dari arah kiri Grace. Tapi dia malah tersungkur karena Grace menarik kuat badan preman bertompel yang ditahan, lalu didorongnya ke arah preman satunya hingga kepala preman bertompel itu mengenai dagu temannya sendiri.
Grace yang sudah bosan menahan preman bertompel itu, langsung menendang bokong preman tersebut dengan keras hingga wajahnya berhasil mencium aspal tanpa ada hambatan. Dia pun pingsan seketika. Grace yang melihat lawannya itu terkekeh lucu, karena mereka melawannya tidak dengan sepenuh hati.
Berbeda dengan Grace, Ar malah berhadapan dengan lima hingga tujuh preman sekaligus. Dengan gerakan yang terampil, dia menghajar beberapa preman dalam sekali pukulan. Dia menunduk untuk menghindari tinjuan lawannya.
Saat menegakkan badan, Ar menyadari ada dua preman yang hendak menyerangnya dari belakang. Dengan secepat kilat, Ar memfokuskan tenaganya di kedua lengannya dan melayangkan kedua tangannya ke sisi kiri dan kanan dengan kuat sebelum kedua preman tersebut mencapai dirinya. Kedua preman tersebut langsung terlempar jauh tanpa adanya perlawanan setelah kedua tangan Ar berhasil mengenai dada kedua preman itu.
Begitu dia melihat ada dua preman lagi yang mendekatinya dari arah depan, sekejab mata dia mengatupkan kedua tangannya hingga merapat mengenai kepala kedua preman itu. Sangkin kuatnya benturan dari kedua kepala itu, akhirnya mereka jatuh pingsan sebelum sempat memberikan perlawanan apa pun.
Semakin banyak yang melihat kelincahan Arion, semakin banyak yang berlari mendekati Ar dan berusaha untuk menghabisinya. Tapi itu sia - isa saja. Sebelum mereka berhasil menyentuh Ar, mereka malah mendapatkan bogem mentah dari Ar yang melayang dengan ringannya ke arah mereka secara silih berganti.
BUGHH.. BUGHH.. BUGHH..
Bogem mentah pemberian Ar mengenai uluh hati, wajah bagian tengah dan pipi kanan dari ketiga preman yang entah darimana datangnya. Tiba - tiba preman yang berambut kribo berhasil menyelinap dari arah belakang Ar dan mencekik leher Ar sekencang - kencangnya.
Ar sempat kehilangan kendali dan dia melihat beberapa orang datang dari hadapannya berlari dengan penuh semangat untuk menghajar dirinya yang sedang tetahan. Dengan sigap, Ar menahan kedua lengan preman yang ada di belakangnya. Dia mengangkat dan melempar badan preman berambut kribo itu dengan sekuat - kuatnya hingga preman itu terplanting jauh ke depan mengenai dua orang temannya sendiri hingga mereka tersungkur bersama - sama.
Ar tidak lupa pada lawannya yang datang dari arah kanan dan kirinya. Dia menendang keras ke arah kiri hingga mengenai tulang kering preman berbadan kurus sampai preman itu terkapar di aspal. Dia juga melakukan tendangan sabit dengan kaki kanannya menyapu bersih kedua preman lagi yang berusaha mendekatinya dari sisi kanannya.
Grace dan Ar merupakan pasangan yang solid dalam bertarung. Tidak ada dari mereka yang menerima pukulan keras dari lawannya. Grace yang sempat melihat ke arah Ar di sela - sela pertarungannya, merasa kagum akan kemampuan Ar yang belum pernah ia ketahui.
Ar bertarung seolah seperti seorang profesional yang bisa memprediksikan gerakan dari lawannya dan dapat menghajar semua lawannya tanpa diberi celah sedikitpun untuk menyentuhnya. Sungguh mumpuni (ahli) dan perkasa (Berani: hebat: kuat).
Tak berapa lama, Ar dan Grace berhasil menumbangkan puluhan anak buah geng preman itu dan tinggallah ketua preman yang bertato bersama dengan dua anak buahnya yang cukup kekar badannnya.
"Bagaimana? Apa kalian masih ingin melanjutkan pertarungan ini hingga terlihat jelas siapa yang menang dan siapa yang kalah?" Tanya Ar dengan tegas.
"....."
Semua harapannya musnah! Mereka yang berjumlah puluhan itu bisa dikalahkan dengan mudahnya oleh kedua bocah yang menurutnya anak rumahan. Dia sama sekali tidak menyangka akan kalah telak seperti sekarang ini. Dia malu dengan kedua bocah di hadapannya itu, tapi dia juga takut disemprot oleh Bos nya, Agung.
"Mmm..!!"
Tiba - tiba terdengar suara berontak dari arah belakang Ar. Betapa terkejutnya Ar melihat Agung menutup mulut Grace dengan sarung tangan yang pastinya sudah dibaluri dengan obat bius. Grace terlihat pingsan digendongannya dan mereka masuk ke dalam sebuah mobil.
Saat Ar ingin mengejar Agung, dia malah dihadang oleh ketiga preman yang tersisa. Ar begitu marah! Dia sempat melihat nomor plat mobil yang membawa Grace dari sisi nya.
"Baiklah, kita selesaikan semuanya dengan cepat. Aku masih punya urusan dengan Bos mu yang pengecut itu! Ayo, Maju! lawan aku sekaligus!" Teriak Ar pada mereka yang sudah berani menghalangi jalannya untuk menyelamatkan Grace.
"DASAR BOCAH! JANGAN SOK JAGO YA!" Bentak preman bertato itu pada Ar. Mereka bertiga pun maju melangkahkan kakinya secara bersama dan melayangkan tinjuan serempaknya ke arah Ar.
Sayangnya, lagi - lagi gerakan mereka kalah cepat dengan perputaran badan Ar yang dengan cekatannya berhasil melayangkan tinjuan ke arah ulu hati salah satu preman berbadan kekar dan Arion dengan dengan gagah dan berani menendang area kejantanan preman bertato di hadapannya dengan menggunakan lututnya yang jenjang. Ar mampu melumpuhkan ketiga preman itu dalam sekali tindakan.
Sedangkan preman lainnya berhasil Ar lumpuhkan hanya dengan tendangan keras dari telapak sepatu pantopel nya hingga meninggalkan cap sepatu yang membekas di wajah.
Inilah akibatnya karena mereka mencoba menghalangi langkahnya mengejar Grace. Dia benar - benar melampiaskan amarahnya kepada ketiga preman itu.
Dengan langkah kaki yang tergesa - gesa, Ar pun menghampiri mobilnya dan mengeluarkan Supirnya dari mobil itu sambil berkata, "Pak, tolong hubungi Steve agar dia yang mengurus mereka semua. Saya tidak mau satu pun di antara mereka lolos dari hukuman yang akan menanti mereka."
"Baik, Tuan." Ucap Pak Supir itu sambil mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Steve.
"Halo, Pak. Ada apa ya?" Tanya Steve dari seberang telepon dengan nada herannya.
"Ini Pak, saya di suruh Tuan Muda untuk menghubungi Bapak. Ada puluhan preman yang menghadang kami tadi, dan sekarang mereka sudah terkapar dihajar oleh Tuan dan Nona Muda. Lokasinya di Jl.Shymfoni, Pak." Ucap Pak Supir secara singkat menjelaskan situasinya saat ini.
"Baik, Pak. Saya akan ke sana segera." Steve pun mengakhiri panggilan itu dan bergegas ke lokasi kejadian. Tidak lupa dia membawa beberapa anak buahnya dan menelepon polisi untuk mengamankan lokasi tersebut.
**********
Grace yang telah di bius oleh Agung, telah pingsan bahkan tak kunjung sadarkan diri. Sebenarnya itu hanya akting sesaatnya Grace untuk mengalihkan perhatian Agung darinya agar dia bisa mencarincara untuk kabur dari dalam mobil itu.
Agung berhasil membawa Grace jauh meninggalkan rombongannya yang sudah dikalahkan oleh Ar dan dia pun memberhentikan mobilnya di tempat yang sepi tanpa penghuni.
Di dalam mobil tersebut Agung benar - benar merasa sangat gila dengan imajinasi liarnya kala melihat wanita impiannya tertidur lemas di mobil kedap suara itu.
Ia membelai wajah Grace penuh perhatian yang mendalam. "Kau sangat cantik hari ini Permaisuri ku. Ingin rasanya aku melakukannya saat ini juga," ucap Agung pada Grace yang tak sadarkan diri.
Ia mencoba memajukan wajahnya mendekat ke wajah Grace sebagai tanda ia ingin mengecup hangat wajah sang pujaan hati.
Namun Grace yang hanya berpura-pura pingsan itu pun sadar bahwa Agung akan melakukan hal gila itu pada dirinya. Dengan siasat yang telah ia rencanakan sebelumnya, ia pun segera mengambil tindakan.
Ia memutar tubuhnya dan memanfaatkan tubuh Agung yang tidak menyangka bahwa Grace akan melakukan aksinya di saat seperti itu. Sekali tindakan, Grace dapat melayangkan tendangan dahsyatnya tepat di dada Agung hingga seketika punggung Agung terbentur pintu kemudi mobilnya.
Lalu Grace menggunakan kesempatan ini untuk keluar dari bayang - bayang pria biadab itu. Grace membuka pintu mobil agung dengan cepat dan tergesa-gesa, karena dia tau Agung adalah pria yang licik dan mesum yang harus dia hindari.
Namun belum selesai ia mengeluarkan tubuhnya sepenuhnya dari mobil mewah itu, Agung menarik keras rambut lembut Grace hingga memaksa Grace tertahan dengan rasa sakit dari jambakan yang di lakukan oleh Agung.
"Lepaskan!" Teriak Grace pada Agung seraya kedua tangan Grace menahan tangan Agung yang sedang memegang keras rambutnya itu.
"Melepaskanmu?!! Jangan harap aku melakukannya! Kamu akan menjadi milikku!" Jawab Agung penuh gairah.
Agung menutup rapat pintu mobil yang sempat terbuka itu dan menarik kuat rambut Grace agar bisa berada di dekatnya. Grace benar-benar merasa ketakutan karena perilaku kejam Agung. Ia menangis bahkan air mata ketakutan tak bisa ia tahan.
"Jangan menangis Permaisuriku. Aku berjanji padamu, aku akan berbaik hati padamu asalkan kau mau menuruti semua permintaanku termasuk meninggalkan Arion dan menikah denganku. Maka aku akan pastikan aku tak akan pernah menyakitimu lagi dan kamu akan hidup mewah bersama denganku." Bisik Agung pada Grace dengan siasat godaan serta bujuk rayunya yang selama ini mempan terhadap perempuan lainnya. Namun bujuk rayunya itu tidak bisa meluluhkan hati seorang Grace.
"Kenapa kamu diam begitu, permaisuriku? Jawab aku, sebelum aku melakukan tindakan yang lebih dari ini. Kamu tau maksudku kan? Aku bisa saja membuatmu menjadi milikku saat ini juga. Aku hanya menahannya, karena aku tau kalau kamu tidak akan suka akan hal itu." Agung mulai kesal dengan sikap Grace yang membisu seperti itu.
Namun Grace tak menggubris ucapan serius Agung. Grace hanya butuh seorang yang bisa membantunya saat itu. Tak peduli apa pun, ia hanya ingin lepas dari cengkraman kasar Agung.
Hingga sekonyong - konyongnya, tangisan sendu Grace berkecamuk, Arion yang berhasil mengalahkan puluhan preman itu pun menghampiri mobil yang belum berpindah dari tempatnya saat ini.
Ar tiba di tempat itu dengan tepat waktu, karena dia masih bisa melacak keberadaan Grace melalui GPS dari ponsel Grace yang sudah dihubungkan Ar dengan ponselnya.
Dengan kekuatan penuh Arion membuka pintu mobil tepat di belakang Agung dan memaksa Agung keluar dari mobil. Tanpa hati nurani Arion menarik kerah baju Agung hingga Agung tersungkur di aspal.
Tanpa aba - aba, Ar melayangkan Bogeman mentah tepat di wajah mulus Agung hingga berkali - kali. Dia tidak terima dengan perlakuan Agung yang sudah membuat Grace menangis tersedu - sedu seperti itu.
"ARGHH..!!" Teriak Ar mengeluarkan seluruh emosinya melihat lelaki biadab seperti Agung. Dia menendang dan meninju Agung hingga Agung babak belur tanpa bisa membalas pukulan Ar walau hanya sedetik. Akhirnya, Agung pun pingsan setelah memuntahkan banyak cairan kental berwarna merah akibat menerima hantaman yang kuat secara berulang kali dari Arion.
>>> Bersambung <<<
Sampai sini dulu ya..
Kita akan lanjut di eps selanjutnya..
Jangan lupa berikan supportnya untuk Author..
Thor tidak minta yang aneh - aneh, hanya like dari jempolnya..
Kalau komen, itu semuanya semaunya readers saja..
Salam Kasih untuk Yg Terkasih
Love You All