THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
59



AUTHOR POV


Grace terbangun dari tidurnya. Dilihatnyalah sekelilingnya. Baru dia sadari kalau dia berada di atas ranjang dan di sebelahnya ada Arion yang sedang tertidur pulas menghadap ke arahnya.


Dia pun bangkit dar tidurnya dan perhatiannya jatuh pada foto yang cukup besar yang di gantung di dinding yang berada tepat di hadapannya. Foto itu sudah lama sekali, saat Grace masih di rawat di rumah Sakit. Waktu itu dia sedang tertidur dan tangannya di genggam oleh Arion yang juga tertidur di dekatnya. (Baca Eps.08)


'Sejak kapan Arion memiliki foto ini? Dia sedang tidur juga, siapa yang memotret kami berdua? Akh, sudahlah. Biarkan saja. Toh juga sudah lama berlalu."


Begitu banyak  foto - foto dirinya dan Arion saat Prewed yang di pajang di atas lemari dan meja yang ada di kamar itu. Totalnya bisa lebih dari 10 foto.


Grace terharu melihat semua foto - foto itu. Dia berjalan menyusuri setiap sudut ruangan secara perlahan sembari melihat semua foto yang terpajang.


'Apa selama ini Arion selalu mengingatku melalui foto - foto ini? Apakah di masa yang akan datang, dia akan selalu seperti ini?' Batin Grace melihat begitu banyak foto yang memperlihatkan wajah mereka yang sedang tersenyum.


Saat ini, tidak tau mengapa, Grace mulai mengerti bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang kita cintai. Meskipun Grace masih ragu dengan perasaannya sendiri, dia tau kalau benih - benih cinta untuk Arion sudah tertanam di hatinya.


Grace pun bergegas membasuh diri dan pergi ke dapur. Malam ini dia ingin semua orang makan masakannya. Energinya terisi penuh setelah tidur lama dan semangatnya membara setelah melihat foto - foto tadi.


"Non, jangan masuk ke dapur. Nanti Tuan Arion bisa marah pada kami," ucap seorang pelayan yang kaget melihat Grace berjalan dengan santainya masuk ke dapur.


"Aku hanya mau memasak. Apa kalian mau melarangku? Kalian tidak perlu takut, aku sudah terbiasa memasak. Jadi, aku akan baik -baik saja memegang alat dapur, selama kalian tidak menganggu kegiatan memasakku," tutur Grace dengan tegas.


"Tapi, Non..."


"Sudah, sudah, sudah. Aku tidak mau mendengar keluhan apapun. Kalau kalian merasa tidak nyaman, kalian bisa membantuku menyiapkan bahan - bahannya dan aku yang akan memasaknya. Adil bukan?" Tanya Grace dengan pada pelayan yang ada di dapur sambil tersenyum.


Grace paham betul kalau mereka memang memiliki perannya masing - masing, tapi kali ini Grace hanya ingin semua orang memakan masakannya.


"Oh iya, pegawai di sini, semuanya berjumlah berapa orang?" Tanya Grace kemudian.


"Sekitar 20 orang, Non." Jawab seorang pelayan dengan sopan.


Tiba - tiba seorang Koki datang mendekati Grace dan berkata, "Non Grace? Ada perlu apa sampai masuk ke dapur begini? Apa ada menu yang ingin Non Grace makan saat ini?"


"Tidak, aku ingin memasak. Cheff mau melarangku juga?" Tanya Grace denagn memicingkan matanya ke arah Koki itu.


"Wow, ini peristiwa yang sangat langka. Ada Nona Muda yang mau memasak sendiri. Aku tidak akan melarang Nona jika itu keinginan  Nona. Karena aku bekerja di sini untuk menuruti keinginan Tuanku. Apa yang Nona inginkan, itu adala perintah untukku," ucap sang Koki sambil  membungkuk di hadapan Grace.


"Cheff bisa membantuku menyediakan bahan masakannya? Aku ingin memasak banyak untuk menu makan malam ini. Semua orang akan kebagian." Ucap Grace dengan antusias.


Para pelayan bersorak bertepuk tangan mendengar kata - kata Majikan barunya itu. Mereka tidak menyangka kalau Nona yang di hadapan mereka sangatlah ramah dan pengertian.


"Oke! Mari kita siapkan semua bahannya! Ikuti semua perintah Non Grace!" Perintah sang Koki kepada semua pelayan yang ada di dapur sambil menepuk kedua tangannya.


"Siap Cheff!" Jawab para pelayan serentak.


"IT'S SHOW TIME..!!" Ucap Grace dengan penuh semangat melihat kekompakan para pelayan itu.


Grace memulai pekerjaannya dengan memasak sop ayam. Sop memang masakan yang tidak begitu sulit, tapi harus dimasak dengan kaldu ayam asli baru terasa aroma dan rasa masakannya yang khas.


Grace berencana untuk memasak 8 jenis lauk yang berbeda untuk hidangan makan malam ini. Dia ingin membalas kebaikan keluarga barunya dengan cara ini.


Semua pelayan termasuk Koki yang ada di dapur itu sangat membantu dan itu membuat Grace tidak membutuhkan waktu yang lama untuk memasak kedelapan jenis lauk itu.


Sudah pukul 6, Grace mulai keluar dari dapur. Dia berencana membangunkan Arion yang masih saja tertidur pulas.


Saat Grace hendak menaiki tangga, dia melihat semua orang sudah berkumpul di ruang tamu bersama dengan Adam dan Silvi.


"Hai, Grace. Apa kabar? Kami sangat merindukanmu." Ucap Adam dan Silvi bersamaan sambil menghampiri Grace dan memeluknya dengan erat.


"Aku juga merindukan kalian, Kak. Aku panggilkan Arion bentar ya, Kak. Soalnya, aku juga sedang sibuk di dapur, jadi nanti saja kita mengobrolnya." Kata Grace sambil berlalu menuju kamar Arion.


"Kamu yang masak ya, Grace? Bukannya istirahat, ini malah sibuk di dapur." Celetuk Adam pada Grace yang pergi begitu saja.


"Lihat saja nanti, apa saja yang kuhasilkan selama aku ada di dapur," ucap Grace tanpa menoleh sedikit pun. Sekarang dia fokus untuk memasuki kamar Arion.


Grace pun membangunkan Arion dengan sekali bujukan dan sekali ancaman. Setelah Arion bangkit dan masuk ke kamar mandi, Grace menyiapkan pakaian ganti untuk Arion.


Begitu dia keluar dari kamar, dengan segera dia kembali ke dapur memantau semua masakan yang sedang dalam proses. Ada juga beberapa yang sudah di tata rapi dan di beri hiasan oleh Grace.


Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..


"Non, ini ada panggilan masuk dari Nomor yang tidak di kenal. Gimana Non?" Tanya seorang pelayan yang melihat ada panggilan masuk di ponsel Grace yang terletak di atas meja di dekatnya.


"Oh iya, kamu aduk ini saja ya. Aku akan menerima panggilan itu. Jangan lupa di aduk terus, jangan di lepas, karena itu pakai santan. Tidak boleh berhenti ngaduknya," ucap Grace dengan tergesa - gesa.


Grace pun mencuci tangannya yang berminyak dan mengelapnya hingga kering. Dia pun menjawab panggilan itu.


"Halo? Ini dengan siapa ya?" Tanya Grace pada orang di seberang telepon.


"Halo, Grace? Ini Papa, Nak. Gimana kabarmu, Nak? Papa sangat merindukanmu, kami semua merindukanmu," ucap seseorang yang ternyata adalah Papanya Grace.


"Papa? Darimana Papa tau nomor Grace? Kabar Grace sangat baik, Pa. Jangan khawatir. Kita akan bertemu sebentar lagi," kata Grace.


"Papa baru dapat nomormu dari Arion tadi siang. Besok kami akan berangkat ke Jakarta, sayang. Kan acara pesta pernikahanmu dipercepat. Jadi, kami harus ke sana secepatnya. Papa cuma mau bilang, beritahu pada calon mertuamu kalau besok penerbangan kami pukul 9 pagi. Karena ponselnya tidak aktif. Ya udah, kamu jaga dirimu baik - baik ya, Nak."


Panggilan itu pun terputus begitu saja. Sedangkan Grace? Dia sedang menunjukkan ekspresi tidak senang. Dia marah.


"Kenapa tidak ada yang memberitahukan padaku tentang hal ini? Aku kan pengantinnya, kenapa jadi aku yang tidak tau sama sekali tentang jadwal pernikahanku?" Umpat Grace pada dirinya sendiri. Dia tidak terima dengan diamnya semua orang tentang jadwal pernikahannya dengan Arion.


Karena kesal, Grace langsung menghampiri semua orang yang ada di ruang tamu. Grace meluapkan segala kekesalannya pada mereka.


"Kenapa? Kenapa semua orang tidak ada yang memeberitahukanku tentang jadwal pesta pernikahan yang dipercepat? Apa memang pendapatku sama sekali tidak berarti dalam keputusan ini?!!" Ucap Grace setengah berteriak karena terlalu kesal.


"Bukan begitu, sayang. Kami belum sempat memberitahukanmu. Kami pasti akan memberitahukanmi saat kita berkumpul bersama keluargamu, sayang." Tutur Mrs.Melv. dengan lembut berusaha meredakan amarah Grace.


"Tidak sempat memberitahukanku, tapi sempat memberitahukan kedua orangtuaku?!! Apa aku ini memang tidak di anggap di sini?!! AKU BENAR - BENAR KECEWA DENGAN KALIAN SEMUA..!!" Grace pun pergi begitu saja meninggalkan tempat itu.


Sebenarnya, dia menyesal karena terlalu kasar kepada mereka, 'Seharusnya aku tidak berbicara sekasar itu pada Daddy dan Mommy.'


Untuk meredakan amarahnya sendiri, Grace memutuskan untuk fokus membereskan semua makanan yang akan di hidangkan.


"Gimana? Berapa masakan lagi yang belum siap?" Tanya Grace pada yang ada di dapur.


Koki itu hanya menjawab dengan santai, "Tinggal rendang dan ayam bakarmya yang belum matang, Nona. Yang lainnya sudah bisa di hidangkan terlebih dahulu, ini yang terakhir saja."


"Cheff benar juga. Ayo! Semua yang sudah siap, sudah bisa dihidangkan ke meja makan. Aku akan menyiapkan minumannya." Perintah Grace pada semua pelayan yang ada.


"Terus yang ada di mangkuk besar ini, lauk untuk kalian semua yaa.. Aku menyiapkan makanan hari ini memang untuk semua orang yang ada di Mansion. Jangan sampai masakanku bersisa ya? Aku yang masak, harus habis tak bersisa," kata Grace dengan nada mengancam.


Semua yang ada di dapur menganggukkan kepalanya sambil mengucapkan, "Terima kasih banyak Non Grace."


Dengan segera mereka mengambil bagiannya masing - masing berbaris dengan rapi mengantarkan makanan siap saji ke ruang makan. Salah satu pelayan pergi ke ruang tamu dan memberitahukan kepada semuanya untuk pindah ke ruang makan.


Mr. Dan Mrs.Melv. mulai gugup untuk bertemu dengan Grace. Ichi dan Steve yang tidak tau apa -apa juga ikutan merasa gugup. Adam dan silvi mulai merasakan hawa ketegangan selama perjalanan menuju ruang makan.


Arion yang baru datang saja, sudah kebingungan dengan kondisi yang dia hadapi. Semua orang yang berkumpul di ruang makan itu malah menatap tajam dirinya dan dia merasakan ketegangan yang muncul akibat mereka yang berdiam diri dan tidak mengucap sepatah kata pun.


Saat makan malam selesai, semua orang tetap saja diam, tidak ada seorangpun yang berinisisatif untuk membuka suara. Arion yang bingung pun ikut diam seribu bahasa. Dia takut akan makin memperparah suasana mencekam itu jika dia sempat mengucapkan satu patah kata pun.


Grace masih diam membisu, tidak ingin mengatakan apa pun. Dia selesai lebih dulu dan langsung pergi menuju kamar Arion. Dia mau memindahkan semua barangnya yang ada di kamar Arion ke kamar tamu yang kosong.


Ar yang melihat apa yang dilakukan Grace langsung menahannya dan bertanya, "Kamu kenapa, sayang? Katakanlah padaku. Kenapa kamu malah mau pindah begitu? Kamu masih malu untuk tidur satu kamar dengan diriku?"


"Aku hanya ingin sendirian untuk sementara. Berikan aku waktu untuk Me Time."


Begitu selesai mengumpulkan barangnya, Grace langsung menepis tangan Ar yang terus - menerus menahan tangannya. Setelah genggaman Ar lepas, Grace segera pindah ke kamar tamu yang berada di lantai satu. Masuk ke kamar dan mengunci pintunya dengan rapat.


 


 


**********


Jangan lupa beri Rating, Like dan Komen untuk cerita ini ya, guys..


Biar Author tetap semangat melanjutkan ceritanya..


Terima Kasih banyak untuk semua yang sudah setia membaca dan memberikan support untuk Authornya..


Sudi kiranya kalian singgah ke karya terbaru Author ya..


Yang berjudul "NARA"..


Salam Kasih untuk yang Terkasih..


😊🙏