THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
93



Setelah merasa puas melampiaskan emosinya, Ar pun mendorong tubuh lemah Agung hingga tubuhnya terbentur kuat ke arah mobilnya sendiri. Seketika Agung pingsan dan terkapar tak berdaya.


Ar langsung berlari mengahampiri Grace yang saat ini sedang dalam keadaan kacau. Dia menggendong tubuh Grace dan membawanya menjauh dari mobil itu menuju mobilnya. Tubuh yang bergetar ketakutan itu mulai tenang saat ia memeluk lelaki yang telah menolongnya.


GRACE POV


Aku takut. Aku memang berani melawan orang jahat, tapi aku tidak punya keberanian jika terkurung dengan orang mesum. Aku benar - benar kacau saat ini. Aku mengira Agung akan melakukannya secara paksa karena aku sudah membuatnya kesal setengah mati karena penolakanku dengan hanya diam membisu tanpa menjawab permintaan ataupun pertanyaan darinya.


'Ar?' Hanya itu yang terbesit dalam pikiranku setelah aku merasakan ada yang menarik paksa Agung dari sisiku. Setelah beberapa saat, aku merasakan tubuhku diangkat olehnya.


Dia datang untuk menyelamatkanku. Aku merasa sedikit tenang setelah memeluk tubuhnya yang beraroma khas itu.


"Hei, apa yang kamu takutkan? Ini aku. Tenanglah. Apa dia sempat menyentuhmu?" Tanya nya dengan lembut padaku setelah dia mendudukkanku di bangku penumpang tepat di sebelahnya.


"I.. Iya.." Jawabku singkat.


"Dia sudah menyentuh bagian yangmana saja? Apa aku boleh tau?" Dia bertanya lagi padaku. Tapi kali ini dengan tatapan yang lebih serius lagi.


Aku hanya menunjuk bagian pipiku yang sempat dibelai Agung dan kepalaku yang dimana Agung menjambak rambutku dengan kasar.


Ar mulai membelai kedua pipiku lalu mengecupnya singkat. Aku terlonjak kaget dengan sikapnya seperti itu. Tidak biasanya dia begini.


"Grace, beristirahatlah. Kita akan pulang dan tidak akan kembali ke Kantor." Ucapnya sambil membelai kepalaku dan mencium puncak kepalaku.


Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku dengan lemah dan aku pun berusaha untuk tidur.


**********


"Hooaammm.." Aku mencoba meregangkan badanku sejenak. Badanku terasa pegal sekali.


Ehh, ternyata aku sudah ada di atas ranjang. Ada yang terasa mengganjal di pikiranku. Ini bukan kamar tamu yang selama ini aku tempati dan aku juga sudah berganti pakaian.


"Siapa yang menggantikan pakaianku? Bukannya ini kamar Arion? Apa dia yang menggantikan pakaianku?" Ucapku pada diriku sendiri melihat pakaian tidur yang aku kenakan. Ini adalah pakaian berkarakter milik Ar.


Ceklekk..


Aku menoleh ke arah pintu yang terbuka itu. Ternyata dia yang masuk, Arion.


"Kamu sudah bangun? Bagaimana keadaanmu sekarang, Grace? Sudah lebih baik kan?"


Dia mendekatiku dan duduk di tepi ranjang. Lalu dia membelai lembut rambut hingga pipi kiriku. Mendapat perlakuan seperti itu, aku hanya bisa tersenyum dan berkata, "Aku sudah merasa lebih baik daripada sebelumnya."


"Baiklah, sudah saatnya makan malam. Ayo, kita ke bawah. Kita makan terlebih dahulu, kita kan tidak jadi makan siang tadi."


Ar menarik pergelangan tanganku keluar dari kamarnya. Aku merasa bahwa dia seperti Ar yang dulu. Dia tidak lagi marah - marah tidak jelas padaku lagi.


"Aku sudah menyuruh pelayan menyeduhkan teh gingseng khusus untukmu. Baik untuk tubuhmu saat ini."


Dia begitu lembut dan dari matanya terpancar kasih sayang terhadapku.


'Apa aku hanya berhalusinasi saja? Apakah dia Arion yanh sesungguhnya? Atau masih Arion yang amnesia?' Begitu banyak pertanyaan yang terlintas dalam benakku, tapi tak berani kuutarakan padanya.


Segala tindakannya menjadi pusat perhatianku. Dia menarik kursi untukku, mengambilkan nasi beserta lauknya bahkan dia juga menyeduhkan air hangat untukku. Dia makan dengan tenang, sedangkan aku makan dengan pikiran yang melayang memikirkan tingkahnya.


Selsai makan, kami pun berkumpul di ruang TV. Dia membicarakan banyak hal, termasuk mengenai foto - foto itu.


"Grace. Sejujurnya, aku sama sekali tidak mengenal perempuan dalam foto itu. Semuanya sudah direncanakan oleh Agung. Dia membayar perempuan itu untuk melakukan sebuah skenario yang begitu panjang."


Aku hanya mendengarkan dia bercerita. Untuk saat ini, aku ingin menjadi pendengar yang baik. Apalagi setelah kejadian tadi siang, aku sudah tidak mempercayai Agung lagi.


"Saat kembali dari tempat Client, aku singgah ke toko kue untuk membelikanmu cake. Saat aku keluar dari toko, hampir saja aku ditabrak oleh seorsng pengendara motor. Alhasil cake nya tercampak dan terjadi kecelakaan di sana. Perempuan itu entah datang darimana menarik lenganku dengan kuat, berpura - pura sebagai penyelamatku. Dia memaksaku untuk membalas budi padanya dengan menraktirnya makan di sebuah Restoran pilihannya."


"Aku tidak menyangka kalau dia akan mengikutiku sampai ke perusahaan. Makanya aku langsung membawanya ke taman belakang agar tidak ada yang melihatnya. Tapi dia malah tersandung. Aku hanya refleks menolongnya, tidak ada niat apa pun padanya. Kamu percaya padaku kan, Grace?"


Dia mengakhiri perbincangan kami dengan pertanyaan konyol yang seperti itu. Aku hanya tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalaku. Dia malah mengira aku tidak mempercayainya, padahal aku hanya terheran mendengar pertanyaannya itu.


"Percayalah padaku, Grace. Aku tidak mengenalnya sama sekali, bahkan namanya saja aku tidak tau sama sekali."


Ar mendekatiku dan duduk bersila di sebelah kaki kiriku dan menggenggam kedua tanganku. Aku hanya bisa tertawa melihat wajahnya yang sungguh menggemaskan. Dia mengeluarkan jurus puppy eyes nya padaku. Sungguh lucu.


"Sudah, jangan dibahas lagi. Aku percaya padamu sejak awal." Ucapku sambil menarik tangannya dan menepuk tempat duduk yang kosong di sebelahku.


Dia pun menuruti arahanku dan bertanya, "Kalau kamu percaya padaku sejak awal, kenapa kamu malah pergi menemui Agung di belakangku dan malam itu kamu mengunci diri seolah menghindariku dengan sengaja?"


"Aku hanya meminta penjelasan darinya. Dan asl kamu tau, aku menamparnya karena dia sempat mengucapkan hal buruk tentangmu. Aku merasa lelah, jadi aku tidur lebih awal. Kamu bahkan menghabiskan semua lauk yang aku masak untukmu malam itu."


Entah apa yang merasukiku saat ini, aku ingin dia yakin padaku bahwa aku memang mempercayainya. Meskipun pada saat itu, aku memang sedang emosi melihat foto - foto itu.


"Sekarang semuanya sudah jelas. Aku akan kembali ke kamarku."


Sebelum aku sempat berdiri tegak, Ar langsung menarik lenganku dengan kecang. Aku pun terjatuh terduduk di pangkuannya. Sungguh memalukan.


"Ar! Kamu apa - apaan sih?!! Banyak pasang mata yang melihat! Aku mau kembali ke kamarku." Ucapku dengan ketus karena merasa jengkel  padanya.


"Tidak. Malam ini kamu akan tidur di kamarku. Aku tidak ingin kamu menyendiri di kamar itu dan mengingat hal yang kamu takutkan tadi." Ar mulai tersenyum melihat ekspresiku yang sedang menganga tidak percaya dengan apa yang sedang diucapkannya.


"Ya! Kamu akan tidur di kamarku tanpa penolakan, karena perintahku adalah mutlak!" Ucapnya tegas. Lalu dia menggendongku ala *bridal style *dan membawaku ke kamarnya.


"Kamu jangan gila Ar! Kita ini tidak punya hubungan apa - apa dan hanya berstatus Atasan dengan Bawahan." Aku pun berteriak padanya memberontak dalam gendongannya.


Dia tersenyum renyah dan berkata, "Oh! Kamu yakin? Kalau begitu, sebagai Atasanmu, aku memerintahkanmu untuk tidur di kamarku. Aku tidak terima penolakan dalam bentuk apa pun!"


Aku hanya bisa terdiam setelah mendengar ucapan ketusnya itu. Dia terlihat sangat kesal mendengar kalau aku mengatakan bahwa kami tidak memiliki hubungan dengannya.


Sesampainya di kamar, dia merebahkan tubuhku di atas ranjang dan menyelimutiku. Setelah itu, dia masuk kek dalam kamar mandi untuk mandi. Aku pun hampir tertidur karena sudah rebahan seperti ini.


Tapi aku tersadar kembali, saat aku merasakan ada seseorang yang mengecup keningku dalam diam dan membisikkan kata "I Love You" di telingaku. Aku merasa sangat bahagia mendapat perlakuan seperti itu hingga aku terlelap dalam mimpiku indahku.


Keesokan harinya..


Aku ingin bangkit dari tidurku, tapi tubuhku tertahan oleh kedua lengan Ar yang menggulung penuh di pinggangku. Aku tidak tega jika harus membangunkannya yang sedang terlelap dengan posisi wajahnya yang dibenamkan di bagian tengkuk leherku.


Pergerakan kecilku untuk melepas pelukannya, malah dibalas dengan penolakan dan tubuhku semakin erat dipeluknya. Aku yakin dia pasti sudah bangun tapi masih berpura - pura tertidur. Mana ada orang yang tertidur lelap bisa memeluk sesuatu dengan begitu erat? Tapi, apa yang harus aku lakukan? Bukankah dia masih Ar yang amnesia? Atau dia sudah menjadi Ar yang dulu?


>>> Bersambung <<<


Sampai sini dulu ya..


Kita akan lanjut di eps selanjutnya..


Jangan lupa berikan supportnya untuk Author..


Thor tidak minta yang aneh - aneh, hanya like dari jempolnya..


Kalau komen, itu semuanya semaunya readers saja..


Salam Kasih untuk Yg Terkasih


Love You All