THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
64



Setelah melakukan perbincangan yang begitu panjang, akhirnya mereka pun beranjak dan menuju ke kamar masing - masing. Sudah waktunya beristirahat. Grace pun terpaksa kembali tidur di kamar Arion, entah sejak kapan barang - barangnya sudah berpindah dan sudah tertata rapi di kamar Arion.


 **********


Arion mencoba untuk mendekati Grace, tapi dia malah menghindar. Grace berusaha menjauh dari Arion. Dia pun naik ke atas ranjang dan menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut -dari ujung kepala hingga ujung kaki-.


Arion pun tidak tau mengapa, dia malah naik ke atas ranjang dan menarik kuat selimut yang digunakan oleh Grace. Setelah selimut itu terlepas, Arion menarik kuat tubuh Grace hingga tubuh bagian depan mereka saling menempel. Posisi ini sungguh awkward.


Grace memberontak lagi dan lagi hingga membuat Arion berkata, "Sayang, jangan banyak bergerak, bahaya lho. Meskipun kamu memberontak, kamu tidak akan lepas dari pelukanku malam ini. Jadi, tidurlah dengan posisi seperti ini. Kalau kamu suka gelap, kita akan pakai lagi selimutnya dan akan kumatikan lampu kamarnya."


Beberapa menit setelah Grace diselimutin dalam dekapan Arion dan lampu kamar dimatikan, akhirnya Grace bisa tertidur nyenyak. Tapi tidak dengan Arion. Dia malah kepikiran dengan apa yang diperbincangkan tadi di ruang tamu tentang hubungan mereka yang sudah tidur dalam satu kamar.


Semua orang akan menilai bahwa mereka sudah melakukan hal - hal intim selama tidur bersama. Pikiran Arion menjadi kacau malam ini, karena tubuhnya dengan Grace kali ini sangat intim dan hal itu telah membuat junior miliknya menjadi gelisah di bawah sana. Terbayang sudah bagaimana bentuk tubuh molek Grace saat di Hotel. Kejadian yang mempertemukan dirinya dengan Grace kembali di London.


Arion merasa tersiksa dengan reaksi tubuhnya karena mendekap Grace seperti itu. Namun dia tidak bisa beranjak atau berpindah posisi lagi. Dia takut pergerakannya akan mengganggu acara tidur nyenyaknya si Grace. Dia rela untuk mempertahankan posisinya saat ini, meskipun dirinya harus menahan rasa sakit dan gelisah yang sangat mengganggu tidurnya.


Arion tidak ingin menyia - nyiakan kesempatan langka seperti ini. Bisa tidur dengan memeluk Grace dalam posisi seperti saat ini. Arion pun tertidur pulas setelah hampir sejam dia berkutat pada pikirannya yang melayang - layang entah memikirkan apa.


Malam ini termasuk malam yang singkat bagi Arion. Karena matahari sudah bersinar menembus horden jendela kamarnya sebelum dia merasakan dirinya menikmati alam mimpi.


ARION POV


Pagi hari ini, semua orang sudah bersiap dan berkumpul saat jam sarapan pagi. Kami hanya fokus dengan pemikiran kami masing - masing.


"Ya, sudah. Kami berangkat duluan ya. Daddy takut nanti kemaleman pulang karena banyak kartu undangan yang mau di antar," ucap Daddy sebelum beranjak pergi bersama Papa.


"Hati - hati di jalan Daddy, Papa." Jawab semua Anak yang melihat kedua pasang orangtua mulai beranjak pergi, termasuk aku.


Maklum saja, Mom dan Mama pergi mengantar para suami ke pintu utama. Kami akan pergi masing - masing ke tempat yang berbeda sesuai tanggungjawab masing - masing.


Silvia akan berangkat bersama Steve dan Sam. Adam akan mengemudikan mobil dan pergi bersama Ichi, Mom dan Mama. Sedangkan aku hanya berduaan denga Grace.


Kami semua memiliki kegiatan masing - masing yang tidak bisa di ganggu gugat lagi. Ini semua demi lancarnya acara pernikahan Aku dan Grace yang akan dilangsungkan 2 hari ke depan.


"Yuk, kita berangkat sekarang. Nanti keburu macet jalanan. Gimana sayang?" Ucapku yang masih duduk berdua dengan Grace di sofa ruang tamu. Karena semua orang sudah pergi. Jadi, tinggallah kami berdua di sini.


"Sebentar lagi, Ar. Aku mau menelepon Ed dulu. Sudah kangen aku sama dia," katanya sambil memegang ponselnya di hadapan kami.


Aku pun mengeluarkan tablet ku dan meletakkannya di atas meja, "Pakai ini saja, sayang. Biar lebih puas acara kangen - kangenannya."


Ku coba menelepon Ed. Anak kecil itu pun menerima panggilan vidio dariku.


"Aunty..!! I miss you so much. How are you?" Teriak Ed setelah melihat ke arah Grace. Aku diabaikan ini ceritanya.


"Hi dear. I miss you so. I'm fine, dear. How about you? Have you learned so much all this time? Jangan lupa janjimu pada Aunty." Kulihat Grace tersenyum manis padanya.


Aku jadi sedikit cemburu dan hanya bisa mengumpat dalam hati, 'Masa aku bisa kalah dengan itu bocah? Dia bisa dapat julukan dear dari Grace? Kan seharusnya aku juga dapat panggilang spesial darinya.'


"Yes, Aunty. Ed belajar banyak sekali beberapa hari ini. Aunty gak di ganggu sama Uncle itu kan?" Tanyanya pada Grace sambil melirik tajam ke arahku.


"Hei..!! Apa salah Uncle padamu? Bukannya beri salam pada Uncle, kamu malah menuduh Uncle gangguin Aunty mu," aku pun ikut - ikutan menatapnya tak kalah tajamnya.


"Udahlah, Ar. Dia itu masih kecil, jangan gitu. Kamu gak perlu membalasnya," Grace malah membelanya. Aku semakin kesal.


Ed terlihat senang. Dia terkekeh melihat wajah kesalku saat ini. Entah kenapa, aku jadi seperti anak kecil kalau berada di dekat Grace. Apakah mungkin bagi seorang lelaki jika ia semakin mencintai akan semakin manja pada pasangannya?


"Ya sudah, Aunty sama Uncle mau pergi dulu ya, dear. Kamu baik - baik di sana. Aunty akan selalu merindukanmu, dear." Grace malah membuatku seolah aku tidak ada di sini. Mereka memang mengabaikanku.


"Baiklah Aunty. Kalau Uncle jahat sama Aunty, Aunty balik ke London saja ya. Biar Ed yang jagain Aunty dari Uncle. Bye my lovely Aunt." Ed langsung mengedipkan sebelah matanya pada Grace. Dia memang licik.


"Bye My lovely Ed." Grace mengakhiri panggilan vidio itu dan beranjak dari tempat duduknya.


"Ayo, kita berangkat sekarang," ucapmya sambil berjalan ke arah pintu utama.


Aku langsung mengejar ketinggalanku dan menghampirinya, "Kenapa kamu  tinggalin aku? Apa mobilnya bisa jalan kalau aku tidak ikut denganmu?" Candaku padanya.


"Bisa saja. Aku kan jago nyetir. Kamu lupa?" Dia bertanya seolah tidak ada yang ditakutinya di dunia ini.


"Astaga, Grace. Kamu gak aku bolehin menyetir lagi. Kamu itu sangat mengerikan pada waktu itu," ucapku sambil menggenggam tangannya.


"Terserah. Itu kan nyetir saat balapan, beda dong kalau nyetir mobil biasa. Gimana sih?" Grace terlihat kesal mendengar laranganku.


"Ayo, kita berangkat sekarang. Kalau lebih lama lagi, kamu bisa keriput di sini. Cepat banget mood mu itu berubah - ubah. Aku jadi makin cinta dehh.." Kataku padanya sambil cengigiran melihat dia yang sedang menatapku ngeri.


"Masuk, sayang." Aku membukakan pintu mobil untuknya. Sebagai seorang lelaki harus melayani pasangannya dengan baik, jangan menuntut mau nya saja. Itu menurutku sih, benar tidak? Yah, itu semua kembali pada pribadi masing - masing.


Aku pun mengemudikan mobil kesayanganku menyusuri aspal yang dipenuhi dengan mobil - mobil dan orang - orang yang lalu lalang. Sesampainya di tempat tujuan, kami berdua langsung disambut ramah oleh pemiliknya.


"Selamat Pagi calon pengantin baru. Saya ini teman Mommy mu, Ar. Kalian jangan sungkan. Panggil saya dengan sebutan Tante Flo saja," dia menyelip di antara kami dan menggandeng tangan kami berdua.


Aku sedikit risih dengan kontak fisik seperti ini. Jadi aku melepaskan tangannya dan berjalan ke arah Grace. Aku menggandeng tangannya yang bebas. Tante Flo terkekeh melihat tingkahku itu.


"Ehh, maaf ya, Ar. Tante lupa kalau kamu memang risih disentuh sama perempuan. Tapi, Tante senang kalau kamu tidak begitu pada Grace. Sekarang kalian pakai setelan baju itu ya, itu pakaian pertama. Total semuanya ada 5 pakaian dengan lokasi pemotretan yang berbeda pula," Tante Flo mulai mengoceh.


Aku melihat ekspresi tidak suka dari Grace. Mungkin ini kelihatan berlebihan.


"Apa? 5 set pakaian yang berbeda? Apa tidak bisa dikurangi ya, Tan?" Tanya Grace dengan wajah yang gusar. Aku hanya terkekeh melihat ekspresi langkanya itu. Dia sangat menggemaskan.


"Iya sayang, ini pesan Mommy kalian." Tante Flo hanya menjawab singkat pertanyaan dari Grace. Aku hanya bisa memeluk pundak Grace.


"Jangan khawatir, semuanya akan selesai lebih cepat jika kamu tidak mengeluh, sayang." Kataku padanya yang terlihat tidak terima dengan semua yang sudah diatur Mommy.


Sekarang wajahnya sudah terlihat biasa - biasa saja. Dia menoleh ke arahku dan tersenyum, "Baiklah, sekarang kita sudah boleh bergerak mengikuti kemauan mereka. Soalnya, aku tidak suka berlama - lama di tempat seperti ini." Senyumannya sugguh manis.


Kami pun mulai mengenakan set pertama dan mereka mendandani kami agar terlihat lebih fresh. Aku terkesima melihat kecantikan Grace. Semakin hari dia semakin menawan. Tubuhnya yang ideal sungguh cocok dengan segala jenis pakaian.


Pemotretan di mulai dengan tema indoor. Di gedung ini tersedia lebih dari 5 ruangan yang bisa kita pilih sendiri yang dekorasinya sesuai dengan keinginan kita. Kami mengenakan 3 set pakaian dan pemotretan dilakukan di 3 ruangan berbeda.


Grace terlihat gugup saat pemotretan berlangsung. Aku pun langsung menggenggam erat tangannya, menyalurkan ketenangan padanya. Setelah melewati beberapa sesi pemotretan, dia menjadi lebih leluasa dan tidak kaku seperti saat pertama.


Setelah selesai dengan sesi indoor, kami di beri waktu untuk beristirahat. Kami pun segera berganti pakaian dan pergi dari tempat itu.


"Kamu mau makan apa sayang?" Tanyaku padanya yang sedang sibuk melihat sekelilingnya.


"Apa saja, yang penting makan. Perutku sudah lapar badai ini, Ar. Karena gugup tadi, perutku jadi keroncongan nih," katanya sambil memegang perutnya yang kempis itu.


Aku terkekeh melihat sikapnya itu. Aku pun menarik pergelangan tangannya dan menariknya menuju salah satu Rumah Makan Ampera yang ada di dekat lokasi pemotretan.


"Dulu Mama mau mengajak kami makan bersama di sini, sayang. Ayo, pesan saja yang mau kamu makan. Asal kamu bisa menghabiskannya," ucapku padanya sambil merangkulnya.


"Baiklah, aku pesan nasinya pakai lauk ayam goreng yang baru di goreng ya, mbak. Terus kasih perkedel dan tempe bacemnya, Mbak. Rendang nya sama telur rebus sambalnya jg ya, Mbak."


Aku hanya bisa terheran - heran mendengar pesanan Grace. Banyak banget pesanannya. Aku jadi ragu unyuk memesan sesuatu.


"Ar, kamu pesan apa? Atau kamu mau samaan dengan pesenanku?" Tanyanya padaku.


Aku menggelemg dengan cepat sambil berkata, "Tidak perlu Grace, aku bisa pesan sendiri. Mbak, aku pesan nasi pakai lauk ayam goreng saja ya. Yang baru di goreng juga."


Setelah memesan makanan di depan, kami pun mencari tempat untuk duduk. Karena ini sudah waktunya makan siang, Rumah Makan ini sangat ramai.


Tiba - tiba saja ada seorang pelayan datang memdekati meja makan kami dan menanyai kami tentang minuman yang ingin di pesan.


"Mau minum apa, sayang? Aku pesan jus jeruk murni yang hangat saja." Kataku yang masih menoleh ke arah Grace.


"Samain aja, Ar. Jangan lupa air putih hangatnya 2 gelas ya, Mbak." Ucapnya yang membuat pelayan itu pergi setelah mendengarnya.


Begitu makanan pesanan kami terhidang bersamaan dengan beberapa lauk -biasanya memang sengaja dihidangkan di Rumah Makan seperti ini-, kami pun memulai kegiatan makan siang kami.


Aku melihat betapa asiknya Grace makan dengan lauk yang begitu banyak. Dia juga masih sanggup mencicipi udang sambal yang ada di depan kami. Bukannya tidak senang melihat dia makan begitu banyak. Aku hanya sedikit khawatir tentang pencernaannya.


'Dia begitu kurus, apa tidak masalah jika dia makan segitu banyaknya?' Pikiranku selalu tertuju padanya.


Selesai makan, kami masih duduk dan berbincang sebentar sebelum akhirnya kami kembali ke tempat pemotretan itu.


"Sayang, kamu makan begitu banyak apa tidak masalah? Aku hanya khawatir dengan pencernaanmu." Kuungkapkan hal yang menjadi beban pikiranku padanya denga hati - hati.


"Tidak masalah kok, Ar. Kalau aku sedang gelisah atau banyak pikiran, biasanya aku juga akan makan segini banyak. Dan itu tidak berpengaruh dengan pencernaanku. Kami heran dengan porsi makanku yang mendadak banyak begini ya? Kamu khawatir dengan pencernaanku atau dengan berat badanku? Hah?"


Ya, ampuuuun.. Memang susah berbincang dengan seorang perempuan. Mereka selalu sensitif menanggapi semuanya. Aku jadi salah tingkah lagi, kan?


"Bukan gitu maksudku, sayang. Aku memang benar - benar khawatir dengan pencernaanmu. Kalau berat badanmu nambah pun, aku tidak peduli. Aku tidak peduli dengan fisikmu, sayang. Yang terpenting bagiku itu kesehatanmu. Jika kamu sehat, kamu akan lebih lama hidup bersamaku. Hehehe.." Ucapku sambil terkekeh melihatnya terdiam seribu bahasa mendengar jawabanku.


"Sudahlah, kita balik saja ke sana. Perutku sudah bisa diajak berjalan," Grace mulai beranjak dari kursinya. Aku membayar tagihannya dan kami pun keluar dari tempat itu.


Sekarang kami akan melakukan sesi pemotretan outdoor dengan 2 set pakaian yang berbeda. Mungkin ini akan mrnghabiskan waktu lebih lama daripada yang sebelumnya.


"Sayang, ini kan masih sore, apakah ada tempat yang ingin kamu kunjungi sebelum kita pulang, sayang?" Tanyaku padanya setelah kami selesai melakukan pemotretan.


"Tidak, aku mau pulang. Aku lelah. Aku mau istirahat. Kan nanti kita harus periksa ke Dokter lagi."


"Baiklah, sayang. Kita pulang sekarang."


Aku pun melajukan mobilku dengan cepat. Sesampainya di rumah, dia langsung memasuki kamar. Aku hanya mengikutinya ke arah yang ditujunya.


Saat ku buka pintu kamar, aku sudah melihatnya berbaring di tepi ranjang dengan menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut.


Aku juga merebahkan tubuhkan di sebelahnya dan kami pun larut dalam dunia mimpi.


**********


"Ar, bangun. Sudah waktunya makan malam. Aku juga sudah sediakan pakaianmu. Cepat sana mandi."


Aku mendengar samar - samar suara Grace yang membangunkanku, "Ya, sebentar lagi ya, sayang." Aku membalikkan tubuhku membelakanginya.


"Bangkit sekarang atau tidak sama sekali?!!" Teriakannya yang seperti singa mengaum membuatku tersentak dan langsung mengubah posisi tidurku menjadi terduduk di tepi ranjang.


Aku bukan takut pada ancamannya. Aku hanya tidak mau gegara hal ini, dia jadi diam padaku seperti waktu itu.


"Aku akan tunggu di bawah. Oke?"


"Baiklah. Aku akan mandi sekarang juga."


Kulangkahkan kakiku dengan gontai masuk ke dalam kamar mandi. Dengan cepat, aku membasuh diriku dan memakai pakaianku.


Hari ini rumah terasa sepi, karena di sini hanya ada kami berdua. Kami pun makan bersama.


"Ehmm.. Lauknya enak hari ini. Kamu yang masak?" Tanyaku padanya sambil mengunyah makananku.


"Iya, aku akan memasak setiap hari kalau kamu memang menyukainya. Sebenarnya aku kepikiran, waktu makan siang tadi kamu terlihat tidak berselera makan. Jadi, aku mencoba untuk memasak sendiri agar kamu mau makan yang banyak."


Mendengarnya berkata demikian, seketika membuatku menghentikan acara makanku. Aku menoleh padanya dan memeluknya dari samping hingga sendok yang dipegangnya terlepas dari tangannya.


"Apaan sih, Ar? Kebiasaan dehh,," umpatannya tidak lagi kuhiraukan.


"Makasih banyak ya, sayang. Mendapat perhatian darimu seperti kejatuhan emas berlian bagiku. Aku sangat bahagia karena aku tidak salah memilih orang yang akan kujadikan sebagai istriku. I love you Grace." Aku pun melepaskan pelukanku dan melanjutkan acara makanku yang tadi tertunda.


Aku sengaja memfokuskan pandanganku pada makananku saat ini. Karena aku tau Grace sedang tersipu malu dan akan canggung apabila dia tau kalau aku mengetahuinya. Setelah selesai makan malam, kami pun berangkat menemui Dokter yang memiliki janji temu dengan kami.


"Kondisi tubuh kalian sangat baik. Tapi kalian juga harus tetap menjaga pola makan dan jam tidur yang cukup sampai hari pernikahan kalian tiba. Jangan sampai kalian kelelahan dengan kesibukan kalian saat ini. Karena itu akan sangat berpengaruh pada kondisi tubuh kalian. Saya hanya akan memberikan resep vitamin untuk kalian berdua. Tubuh kalian juga harus diberi asupan gizi dari suplemen vitamin ini agar kondisi tubuh kalian tetap stabil," ucap sang Dokter dengan panjang lebar.


"Baik, Dok. Terimakasih atas sarannya, Dok." Ucapku sambil mengulurkan tanganku.


"Ya, itu memang sudah menjadi tugas saya. Kalian sudah boleh pulang," kata Dokter itu sambil menyambut uluran tanganku. Selesai berjabat tangan, kami pun pergi dan menebus resep vitamin.


Kegiatan hari ini selesai dengan cepat. Semua yang kami lakukan berjalan dengan lancar. Semoga besok menjadi hari yang lebih baik lagi. Aku sudah tidak sabar menunggu hari pernikahan kami. Gugup? Pastinya aku merasa gugup. Tapi, demi bersama dengannya, rasa gugup itu tertutupi oleh rasa bahagia yang kurasakan saat ini.


Bagaimana dengan kegiatan mereka esok harinya?


Apakah semuanya memang berjalan sesuai dengan rencana?


Jawabannya ada di eps selanjutnya.. 😁😁


>> Bersambung <<


**********


Selesai membaca, jangan lupa klik tanda jempol sebagai apresiasi kalian terhadap Author ^.^


Terima kasih bagi yang sudah setia membaca dan menanti kelanjutan kisah Arion dan Grace..


Ingat untuk singgah ke karya terbaru Author yang berjudul “NARA” (Kolab dengan Dwi Apriana), yaa..


Salam Kasih buat yang Terkasih 😊🙏