
"Ayo, dek. Pagi ini kita sarapan diluar saja. Cici yang traktir. Jadi jangan lama kali siap-siapnya, biar sempat makan diluar kita." Kataku pada adik kembarku.
"Aku gak diajak?" Kata Sam sambil menunjukkan ekspresi jeleknya.
"Kamu mau ikut? Mandi sana. Aku gak mau membawa orang yang bau." Kataku sambil mengejeknya.
"Beneran nih, aku boleh ikut? Aku mandi dulu la, tunggu aku ya." Sam langsung bergegas ke kamar mandi. Mereka memang senang diajak makan diluar. Karena memang jarang banget mereka di ajak makan di luar oleh Papa dan Mama.
Sebenarnya, ini hanya alasan bagiku untuk menghindar dari Mama. Aku tidak mau berdebat dengannya lagi. Sudah cukup sekali itu aku dipojokkan sampai segitunya.
Meskipun Mama memang menceritakan hal yang sebenarnya, Mama juga tidak boleh menyebut alm.Mama sebagai pelakor. Aku benar-benar tidak menyukai caranya menyebut hal seperti itu.
Kami berangkat besama setelah berpamitan pada Papa dan Mama, "Kami pergi dulu ya, Pa, Ma."
"Hati-hati di jalan ya, jangan ngebut bawa mobilnya, Grace." Ucap kedua orangtuaku.
"Baiklah Pa, Ma. Kami berangkat." Aku mengemudikan mobil menuju ke sebuah pedagang kaki lima yang menjual berbagai macam jenis makanan untuk sarapan.
Selain nasi, di sini juga menjual lontong dan kue-kuean. Sangat lengkap dan cocok untuk mengisi perut yang lapar di pagi hari.
Aku juga membelikan beberapa kue sebagai stok jajan sikembar untuk dimakan saat jam istirahatnya. Dan juga membeli lontong untuk dibawa pulang. Samuel juga minta dibelikan kue sebagai cemilannya dirumah.
Setelah mengantarkan sikembar ke sekolahnya, tinggallah kami berdua di dalam mobil. Sam bertanya banyak hal padaku.
"Ci, Cici memang bersedia dinikahkan dengan Om Cakra? Dia kan sudah tua banget."
"Yah, tidak ada pilihan lain, Sam. Hanya itu pilihan terbaik demi keluarga kita."
"Memangnya Cici gak punya pacar orang kaya yang mau menikah dengan Cici? Gimana dengan Kak Jeff? Bukannya Kak Jeff masih menyukai Cici?"
"Aku masih belum mau pusing dengan suatu hubungan, Sam. Jeff memang baik, tapi aku tidak menyukainya sebagai pria. Aku menyukainya sebagai seorang Kakak."
"Cici sih, kebanyakan berteman dengan para lelaki, terakhirnya begini kan? Semuanya sama dimata Cici. Tidak ada yang spesial lagi dari mereka."
"Hahaha.. Sepertinya dugaan mu itu ada benarnya juga."
"Jadi, Cici memang sudah memutuskan untuk menerima perjodohan itu?"
"Aku hanya mengikuti bukan memutuskan. Sekarang ini posisiku sedang dilema, Sam. Jadi, jangan menambah beban pikiranku lagi dengan pertanyaanmu yang konyol itu. Oke?"
"Baiklah Ci. Yang kuat ya, Ci. Semua cobaan itu tidak akan melebihi kemampuan kita. Itu sudah pasti. Cici pasti bisa melewatinya."
"Kamu sudah mulai bijak sekarang ya, Sam. Hahaha.."
Aku mulai menggodanya dengan berbagai macam lelucon. Sehingga topik tadi terabaikan begitu saja.
AUTHOR POV
"Steve, malam ini kita harus ikut makan malam demgan para kru film itu kan? Jujur saja, aku sedang tidak bersemangat saat ini. Apa nanti kita bisa pamit pulang duluan dari mereka?" Arion bertanya dengan nada lesu.
"Jangan sampai tidak bersemangat begitulah, Ar. Kan kemarin kita sudah bahas hal ini. Kamu hanya perlu membuat Mom and Dad setuju untuk membantumu mengalihkan perhatian orangtuanya Grace, supaya kamu bisa berbincang dengannya berdua." Steve menasehati seseorang di hadapannya saat ini.
"Iya, iya. Mom and Dad sudah setuju kok. Akunya saja yang kurang percaya diri. Aku itu belum bisa berkata romantis. Bagaimana jika sebelum menyatakan perasaanku yang sebenarnya, Grace sudah menolakku?"
"Ar, kamu itu terlalu pesimis soal perasaan. Belajarlah untuk optimis dalam segala hal, jangan hanya dalam bekerja kamu bisa berpikiran seperti itu. Sudah saatnya kamu itu dewasa."
Steve sudah cukup kesal melihat tingkah pesimis Arion. Dia sudah mengajarkannya beberapa kali dalam berucap romantis pada Grace nantinya.
Padahal dia itu memang pada awalnya ingin menyatakan perasaannya, tapi malah dia yang menciut sebelum bertindak.
"Ingat Ar, waktumu hanya 7 hari lagi sebelum hari H. Kamu itu harus bisa bersikap selayaknya seorang pria gentle. Bukan nya malah terlihat seperti banci. Kalau kamu tidak bisa bertindak, jangan salahkan takdir karena dia menjadi milik orang lain."
Begitu selesai bicara, Steve pergi meninggalkan Arion di ruangannya. Hari ini mereka memang ke kantor dan Silvia sedang mengadakan rapat dengan staf dokumentasi.
Arion termenung memikirkan segalanya. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan yanga akan terjadi sebelum dan setelah mereka melakukan rencana mereka.
Drrttt... Drrttt...
"Halo, sayang. Kamu sudah makan siang, Nak?" Arion mengangkat telepon dari Mommy nya.
"Sebentar lagi, Mom. Ar sedang menunggu Silvia selesai rapat, Mom." Arion menjawab dengan semangat yang dibuat-buat.
"Oke. Mommy hanya mau bilang, Mom and Dad akan tiba di Mansion tepat sehari sebelum acara Wisuda Grace ya. Jangan sampai kalian tidak menyambut kedatangan kami di Mansion Utama keluarga kita ya, Ar. Mom Love you. Bye Ar." Si Mommy sepertinya mengancam anak-anaknya.
"Oke Mom. Love you too. Bye Mom." Arion kembali termenung setelah panggilan tersebut berakhir. Tapi kali ini, dia termenung sambil menatap foto Grace yang ada di ponselnya itu.
'Apa rencana ini akan berhasil?' Setiap kata yang terpikirkan oleh Arion saat ini akan berujung pada pertanyaan ini.
**********
Disisi lain, Steve sudah membooking sebuah Restoran Elite untuk acara pada Sabtu malam nanti. Acara Wisudanya itu berlangsung hingga sore hari. Jadi akan ada kesempatan bagi mereka untuk makan malam bersama.
Adam juga sudah menghubungi Anne. Dia mendapatkan nomor ponsel Anne dari Silvia. Dia memberitahukan kesulitan Grace saat ini dan membocorkan semua rencananya pada Anne.
Dia yakin 100% akan kemampuan Anne untuk membantunya menjalankan rencana ini, agar terlihat mulus tanpa ada kecurigaan dari calon tunangannya Grace.
"Anne, bagaimana menurutmu tentang rencanaku saat ini?" Adam bertanya pada seseorang yang hanya diam mendengarkan penuturan darinya.
"Itu akan lebih mulus lagi jika Jeff datang. Kita bisa mengalihkan perhatian si Om dengan kedekatan Jeff dan Grace." Anne menimbang pendapatnya pada Adam.
"Seharusnya Jeff akan datang. Tidak mungkin dia tidak menghadiri hari kelulusan seseorang yang sudah lama dicintainya." Adam juga mulai berpikir sampai sana.
"Oke, itu pasti lebih baik jika kita tidak memanfaatkan kesempatan membuat si Om melepaskan genggamannya dari Grace. Tapi, kenapa Grace tidak bercerita padaku, Kak? Aku kan juga sahabatnya. Aku bisa saja membantunya melunaskan hutang keluarganya itu." Anne mulai merasa kecewa karena mendengar kesusahan sahabatnya itu dari orang lain, bukan dari orangnya secara langsung.
"Pokoknya, kamu jangan mengungkit masalah ini pada Grace. Kamu hanya perlu berperan sedikit bersama Silvia agar Grace bisa menjauh dari calonnya itu." Kata Adam dengan penuh penekanan.
"Jika kamu memang sayang pada sahabatmu itu, kamu harus mau membantu kami. Kita ini membantunya, bukan
menjerumuskannya. Coba kamu pikirkan lagi, apa Grace lebih baik jika menuruti perjodohannya atau dia bersama dengan Arion?"
"Yah, pastinya aku lebih suka jika Grace bersama Arion dibandingkan dengan Om-Om yang entah darimana asalnya itu. Dia hanya memanfaatkan keterpurukan orang lain demi kesenangannya saja. Aku akan membantu kalian, Kak. Tenang saja." Anne menjamin bahwa dia berpihak pada Adam.
"Fix ya, Anne. Kamu sudah setuju. Jadi, kamu tidak boleh jauh-jauh dari Grace. Oke?" Adam mencoba mengingatkan Anne kembali.
"Oke Kak Adam résé. Aku mau balik kerja nih, jangan ganggu lagi. Kalau aku sudah tiba di Jakarta, aku akan mengabari Kakak lagi. Bye Kak Adam."
"Bye Anne."
Adam mulai merencanakan rencana B. Jika rencana A ini gagal, dia masih mengantongi rencana lainnya untuk membuat segala sesuatunya berhasil. Tapi, rencana B ini hanya akan diketahui oleh Mom and Dad, serta Silvia. Khusus Steve dan Arion tidak akan diberitahukan.
'Aku sudah tidak sabar menunggu hasil yang baik dari rencana ini. Kali ini, aku harus bisa membantu adik iparku satu-satunya itu.' Adam mulai tersenyum penuh dengan sukacita.
"Steve, bagaimana persiapannya sampai saat ini? Apa kamu mendapatkan lokasi dengan viewer yang bagus?" Adam mulai berbincang dengan Steve lewat telepon.
"Yah, aku sudah dapat lokasinya. Aku juga sudah membooking sebuah Taman tertutup, Taman Bermain dan Restoran Elite yang sudah sesuai dengan standar yang kamu inginkan." Steve menjawab tanpa celah sedikitpun.
"Yah, baguslah kalau begitu. Jadi, tinggal dekorasinya saja yang belum? Ingat, Grace memiliki alergi serbuk sari.
Kalau pun kamu mau memajang bunga, jangan pilih bunga yang memiliki serbuk sari." Adam mengingatkan Steve akan hal itu lagi dan lagi.
"Iya, Adam. Semuanya sudah dalam kendaliku. Kamu santai saja disana. Jangan berbuat yang aneh-aneh. Nanti jadi kamu pula yang membuat rencana ini berantakan. Kan itu sudah menjadi kebiasaanmu." Steve mengejek temannya yang masih cerewet di seberang telepon.
"Itu tidak akan terjadi lagi. Aku kan sudah berubah. Hahaha.." Adam mulai melucu.
"Yah, berubah menjadi Spiderman? Hahaha.." Steve mulai ngelantur.
"Bukan, aku ini berubah jadi kakak ipar yang baik. Hahaha.." Adam berkata penuh semangat.
"Iya deh, Kakak ipar yang baik." Steve berkata dengan nada mengejek.
"Hussstt.. Hanya mereka yang boleh memanggilku begitu. Kau ini ya, minta ditokok ternyata." Adam mulai kesal mendengar ejekan Steve.
"Wahh, ada yang tersungging ini. Hahaha.. Ya sudah, aku sibuk. Nanti lagi berbincangnya ya, Bro. Bye."
Steve mengakhiri panggilannya dengan segera tanpa berniat mendengar ucapan terakhir Adam.
"Sialan..!!" Adam hanya bisa mengumpat melihat layar ponsel yang kini sudah tidak menyala lagi.
***********
"Grace, aku akan membelikan tiket untuk keberangkatan kita nanti ya, kita akan menginap dulu disana atau langsung pulang malamnya?" Cakra bertanya pada orang dihadapannya. Saat ini, mereka sedang duduk berdua disebuah Café.
"Gak perlu Om. Aku sudah membeli tiket penerbangan untuk kami sekeluarga." Grace menjawab dengan acuh.
Cakra sempat kaget mendengar jawaban Grace, "Kapan kamu membelinya? Apa tidak mahal bagimu membeli tiket ke Jakarta sekeluarga begitu? Biar aku saja yang membayar biayanya."
'Om ini sepele banget denganku' ucap Grace dalam hati. Dia hanya diam tidak berniat menjawab pertanyaan si Om.
"Jadi, kamu tidak berniat mengajakku? Begitu? Kamu mau meninggalkan calon tunanganmu begitu saja?" Cakra mulai kesal dengan sikap acuh tak acuh nya Grace padanya.
"Yah, terserah Om lah mau bilang apa. Om mau pigi atau gak kan bukan urusanku. Yang penting keluargaku akan ikut semuanya." Grace berkata-kata tanpa menoleh sedikitpun pada lawan bicaranya.
Selama hampir seminggu ini, Cakra berusaha keras untuk mendekatkan diri dengan Grace, tapi diacuhkan oleh Grace. Padahal sebelumnya, Grace masih bisa tersenyum padanya.
'Sabar Cakra. Dia itu masih mudah meledak. Dia pasti akan menerima kenyataan bahwa kamulah orang yang pantas untuknya.' Cakra sangat yakin akan keputusan yang diambilnya.
"Oke. Aku akan ikut kalian ke Jakarta. Boleh aku melihat tiket pesawat kalian?" Kata Cakra dengan suara yang dilembutkan.
Grace masih saja diam membisu. Dia malas menjawab pertanyaan itu. Dia memang tidak berniat untuk memberikan harapan pada si Om ini, meskipun si Om sudah sangat baik dan perhatian padanya selama ini.
"Ya sudah, kalau memang kamu tidak mau menunjukkannya. Aku bisa mengetahui semuanya dengan mudah." Setelah berkata demikian, Cakra menelepon seseorang.
"Belikan aku tiket pesawat ke Jakarta. Sebelumnya cari tahu tentang jadwal penerbangan Grace dan keluarganya. Aku mau jadwal penerbangan ku sama dengannya dan tempat dudukku nanti harus bersebelahan dengannya juga."
Cakra tersenyum penuh kemenangan melihat ekspresi terkejutnya Grace. Grace mengalihkan pandangannya ke arah jendela.
Dia jadi teringat dengan teman-temannya. Hanya mereka yang akan membantunya jika dia dalam kesulitan. Tapi untuk urusan yang ini, dia tidak mau teman-temannya ikut tersérét dalam masalahnya.
"Sudahlah, Om. Aku mau pulang. Soalnya sudah waktunya aku masuk kerja." Grace mulai berdiri dari bangkunya dan meninggalkan tempat itu.
"Grace, aku kan sudah bilang, kamu itu tidak perlu kerja lagi. Kenapa kamu tidak mau mendengarkanku?" Cakra mulai membuka suara saat mengemudikan mobilnya.
"Kan Om bukan siapa-siapa ku. Aku masih single. Masih bebas melakukan apapun yang aku mau." Grace menjawab dengan pandangan tetap terarah pada luar jendela.
"Yah, terserah kamu saja lah. Tapi, setelah kita bertunangan, kamu tidak boleh membantahku lagi. Aku tidak suka kalau kamu bekerja. Aku lebih suka kalau kamu hanya di rumah saja." Ucap Cakra penuh dengan peringatan.
"So what?" Grace tidak menoleh sekalipun.
Sesampainya di rumah, Grace langsung menuju kamar. Dia melihat isi dari koper yang sudah disiapkan oleh adik kembarnya. Dia selalu mengecek segala sesuatu nya sebelum hari keberangkatan.
Begitu dia merasa sudah pas dengan isi koper itu, dia langsung bergegas untuk berangkat kerja.
"Ayo, Grace. Aku antarkan sampai tempat." Cakra menyodorkan tangannya pada Grace seakan ingin menggenggam tangan Grace.
"Lho? Harusnya Om itu pulang. Apa Om tidak ada kerjaan lain selain mengekoriku setiap hari?" Grace kesal melihat sosok yang kini berhadapan dengannya.
"Aku ini calon mu, Grace. Kamu gak boleh bersikap seperti itu. Seharusnya kamu senang karena aku perhatian padamu. Aku akan mengantarmu ke sana dan akan menjemputmu nanti malam." Cakra mulai meninggikan suaranya pada Grace.
Grace tidak suka di atur-atur seperti itu. Dia langsung menghidupkan sepeda motor yang biasa digunakannya dan pergi begitu saja.
"Lihatlah nanti Grace. Kamu akan bertekuk lutut dihadapanku. Kamu itu seperti bukan dirimu yang biasanya. Aku tidak suka itu. Jika dengan kelembutan kamu tidak bisa melihatku, aku akan mencoba cara yang kejam padamu. Yang penting kamu mau melihat ke arah ku, hanya ke arah ku."
Cakra mulai menyusun berbagai strategi yang akan diperbuatnya agar Grace mengakuinya. Dia itu sebenarnya sudah tidak sabar untuk melangsungkan pernikahan dengan Grace. Tapi, karena ini permintaan Grace, yang masih
ingin menghadiri acara Wisudanya sebelum menikah, Cakra berusaha untuk menyanggupinya.
'Aku sudah tidak sabar ingin memiliki dirimu seutuhnya, Grace.' Itulah yang selalu ada dipikiran Cakra.
**********
Halo semuanya..
Maaf ya, jika jadwal UP nya tidak menentu..
Terkadang Author sempat kebingungan untuk menuangkan apa yang dipikirkan menjadi cerita tertulis..
Terima kasih buat readers yang sudah mengikuti ceritanya hingga eps.25 ini..
Jika ada saran dari readers tentang cerita ini, boleh komen dibawah langsung ya..
Sebagai tambahan inspirasi bagi Author yang penuh kekurangan ini..
Stay Tuned for Updates ya, Guys ^.^