THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
TPG2_122



ARION POV


"Sayang, kamu tidak kerja hari ini?" Tanya Grace padaku. Kepalaku masih saja terasa sakit karena berdenyut - denyut. Aku terlalu kelelahan. Selama ini aku memang terlalu memforsirkan tubuhku untuk bekerja.


"Aku harus bekerja, Sayang. Nanti apa yang bisa kuberikan padamu dan juga Anak - Anak kita kelak? Aku tidak ingin kalian menderita selama hidup bersamaku, Sayang." Ucapku sambil menariknya ke pelukanku. Aku menghirup aroma yang ada di puncak kepalanya.


"Kamu masih kelihatan tidak sehat, Sayang. Mending kamu istirahat saja." Ucapnya padaku sambil menolehkan kepalanya menghadap ke arahku.


"Aku tidak bisa bolos, Sayang. Kamu tau sendiri bukan? Dad sudah tidak ikut campur tangan lagi denga perusahaan. Jadi..." Ucapanku terhenti karena dia sudah memotong pembicaraanku.


"Kamu yang mengurus semuanya? Itu bukan alasan untuk mengabaikan kesehatanmu, Sayang. Kalau hanya itu kendalamu, aku juga bisa mengurusnya untukmu. Tapi, aku juga harus memiliki hak akses seperti Kak Silvia. Agar aku bisa mengambil keputusan layaknya kalian. Gimana menurutmu, Sayang?" Tanyanya padaku.


Aku mencoba memikirkan perkataannya sejenak lalu aku menjawabnya dengan antusias, "Kamu itu Istriku, Sayang. Seharusnya kamu tidak perlu melakukan banyak hal sampai memikirkan hak akses semacam itu, Sayang. Ada atau tanpa adanya hak akses itu, seharusnya kamu sudah bisa melakukan apapun mulai sekarang tanpa mengkonfirmasinya terlebih dahulu." Tuturku sambil memegang kedua pipinya.


"Tapi, kan.." Sebelum dia berhasil membantah, aku langsung mencium sekilas bibir mungilnya, "Cup!"


"Aku hanya ingin kamu mengkonfirmasikan pada seisi perusahaan kalau aku memiliki hak akses untuk menggantikanmu. Itu akan lebih baik, daripada aku melakukan yang kamu katakan tadi." Jawabnya penuh dengan semangat yang menggebu - gebu.


"Oke, oke. Kita akan pergi ke Kantor bersama. Nanti aku akan mengumumkan pada semuanya. Aku juga sedang tidak enak badan. Aku minta kamu menggantikanku selama aku beristirahat ya?" Pintaku pada Istriku.


Aku pun bergegas mandi dan bersiap - siap. Setelah kami sarapan bersama, kami pun berangkat ke Kantor. Sesampainya di Kantor, aku mulai mengumpulkan semua karyawan. Aku mengumumkan keberadaan dan posisi Grace di perusahaan. Steve yang akan mengatur berkas yang diperlukan untuk melancarkan peraturan baru tersebut.


Tidak ada satu pun dari karyawanku yang menolak keputusanku yang mendadak ini. Dad juga sangat setuju dengan keputusanku yang menjadikan Grace sederajat dengan Silvia dalam mengatur perusahaan. Jadi, Grace sudah bisa membuat keputusan, di Melv.Corp., baik itu Melv.Corp. yang ada di Indonesia, London maupun Amerika.


"Sudah beres kan, Sayang?" Tanyaku pada Grace yang sedang duduk di sofa. Saat ini kami sedang berbincang di dalam ruanganku.


"Baiklah. Sekarang kamu istirahat saja, aku yang akan membaca dan menandainya lagi seperti waktu itu. Aku masih belum berani sembarangan mengambil keputusan. Aku hanya bisa meringankan beban pekerjaanmu saja untuk sementara. Tidurlah, Sayang. Aku akan mulai bekerja." Perintahnya padaku.


Aku tidak bisa berbuat apa pun lagi, selain menuruti perkataannya. Pengaruh obat yang aku konsumsi itu sungguh membuatku mengantuk. Aku pun segera masuk ke dalam ruangan tempat aku beristirahat.


Setelah hampir 2 jam tertidur pulas, aku pun terbangun dari tidurku. Aku langsung bangkit dan mencuci wajahku sebentar. Saat aku keluar dari ruangan ini, aku melihat Istriku sudah tertidur lelap dengan kepalanya bersandar pada tangannya yang dilipat di atas meja kerja.


'Dia sungguh manis.' Itulah yang terucapku dalam hati pertama kali melihatnya tertidur seperti itu.


Ku biarkan dia tertidur dengan pulas seperti itu. Aku menarik sebuah bangku mendekati bangku tempatnya duduk. Sekarang sudah saatnya aku menyelesaikan bagianku.


Satu per satu berkasnya ku buka. Lembar per lembar ku lewati begitu saja. Aku tidak lagi membaca ulang isi dari berkas itu, melainkan aku hanya memperhatikan note yang ditulis tangan langsung oleh Grace.


Dia begitu teliti sampai - sampai dia menuliskan range nominal ataupun persentase yang mempengaruhi kondisi perusahaan jika menerima keputusan yang tertera di dalam berkas itu dan hal tersebut sangat jarang diperhatikan olehku selama ini.


Aku lebih mudah menentukan pilihan yang lebih baik dengan risiko yang lebih kecil. Aku terlalu fokus dengan semua berkas yang sedang aku koreksi. Hingga aku tidak sadar jika dia sudah terbangun dari tidurnya.


"Ternyata benar kata teman - temanku selama ini. Akan lebih terlihat tampan jika seorang lelaki dia sedang serius bekerja. Itu terbukti sekarang. Kamu terlihat begitu menawan jika seperti itu, Sayang. Hehehe.." Ucapnya secara tiba - tiba yang membuatku menjadi salah tingkah.


Sangat jarang baginya memuji diriku. Aku sampai kaget mendengar pujian yang dilontarkan oleh Istriku yang paling aku cintai.


"Jadi, menurutmu, aku harus dalam posisi seperti ini terus biar aku bisa selalu mendapatkan pujian darimu ya, Sayang?" Ledekku tanpa menoleh ke arahnya. Aku membiarkannya memandang wajah seriusku sedikit lebih lama.


"Apa kamu bilang? Aku tidak pernah bermaksud seperti itu, Sayang. Kamu terlalu berlebihan." Ucapnya padaku sambil mendekat padaku dan memeluk lengan kananku. Dia sungguh menggemaskan.


"Iya, Sayang. Aku mengerti. Sekarang cuci wajahmu di dalam ruangan itu dan kita akan pergi untuk makan siang bersama pasangan - pasangan lainnya." Tuturku sambil meletakkan berkas terakhir yang sudah selesai aku tandatangani dan mengelus kepalanya.


"Pasangan apaan? Kita akan makan bersama siapa?" Tanya Grace dengan kepala yang sedikit dimiringkan ke sebelah kiri.


"Ada dehh, pokoknya kamu harus siap - siap sekarang. Aku akan menunggumu di depan. Karena aku harus menyerahkan berkas ini pada Shei dan menjelaskan sedikit masalah beberapa berkas padanya." Jelasku padanya.


Dia hanya mengangguk pelan dan langsung beranjak dari tempat duduknya berjalan menuju ke ruangan itu. Tidak lupa, dia membawa sling bag nya bersamanya.


Aku pun berdiri dari bangku ku. Ku ambil berkas - berkas yang ada di atas meja dan membawanya keluar dari ruang kerjaku.


Entah sejak kapan, Shei sudah tidak takut lagi untuk berhadapan denganku. Sekarang dia cukup berkompeten dalam bekerja, karena dia sudah bisa mengkomunikasikan dengan baik apa yang aku perintahkan kepada semua karyawan dengan penjelasan yang berbeda pada setiap orangnya.


Tak berapa lama, Grace pun menghampiriku. Aku langsung merangkulnya dan menariknya agar tetap berada di dekatku. Kami pun berjalan memasuki lift.


Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..


Ponselku berdering. Aku melihat nama yang terteta di layar ponselku sejenak. Adam Bratadikara.


"Halo." Sapaku saat sudah menggeserkan ikon berwarna hijau dari layar ponselku.


"Kami semua sudah berkumpul di sini. Kalian masih belum berangkat ke sini? Kenapa lama sekali?" Umpatnya di seberang sana.


Aku yang mendengarnya otomatis menjauhkan ponselku dari telingaku.


"Iya, kami sedang dalam perjalanan ke sana." Ucapku kesal sambil mengakhiri panggilan itu secara sepihak.


"Siapa Sayang? Kenapa ekspresimu jadi sepat seperti itu?" Tanyanya padaku. Aku terkekeh mendengar kata sepat yang diucapkannya.


"Sepat? Memangnya wajahku ini salak mentah? atau pisang mentah? Yang rasanya sepat?" Jawabanku memang cukup melenceng dari pertanyaannya, tapi itu malah membuatnya menggembungkan kedua pipinya. Sungguh menggemaskan.


"Apaan sih?" Umpatnya kesal mendengar jawaban dariku yang tidak sesuai dengan apa yang sudah diharapkannya.


Setibanya di Restoran AHK, aku pun menarik tangan Istriku menuju ke ruang VIP dimana sudah ada pasangan yang menunggu kedatangan kami.


"Siang pengantin baru. Kenapa kalian begitu lama sampainya? Apa kalian tidak tau betapa laparnya kami harus menunggu kalian?" Celetuk Kak Adam yang sepertinya masih merasa kesal karena ulahku tadi.


"Jadi, ini yang dikatakan makan siang bersama pasangan - pasangan?" Tanya Grace pada kami semua.


"Iya, apa kamu tidak melihat hanya ada kita di sini? Ayo, sapa Lisya dan Steve. Kita kan juga harus mendekatkan diri dengan saudara kita, Sayang. Sekarang mereka itu Kakak Iparmu, Istriku." Jelasku padanya.


Aku sengaja mengatakan hal itu dengan volume suara yang cukup bisa didengar oleh semua orang yang ada di dalam ruang VIP ini. Aku ingin Lisya sadar diri akan statusnya saat ini. Karena aku sudah melihatnya sekilas menatap ke arahku dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Hai, Lisya. Kita akan menjadi saudara Ipar. Jadi, jangan sungkan apabila kamu menemukan kesulitan jika berada dalam keluarga barumu ini. Aku dan kamu sama - sama pendatang di Keluarga ini. Kita pasti bisa menjadi akrab di masa depan." Ucapan Istriku sungguh membuatku kehabisan akal. Dia itu sebenarnya terlalu polos atau bagaimana sih? Apa dia tidak tau kalau Lisya masih menatap ke arahku?


Setelah menunggu hampir 15 menit, makanan yang kami pesan pun siap dihidangkan. Grace menyendokkan nasi dan beberapa lauk di atas piringku dan piringnya. Dia memperhatikan lauk mana yang bisa dan tidak bisa ku makan. Katanya, aku tidak boleh memakan makanan yang mengandung banyak potongan bawang putihnya. Aku sih, hanya bisa menuruti perkataan Istriku.


Kami pun menghabiskan semua jenis makanan yang terhidang dan minuman yang sudah menjadi pesanan kami. Selesai makan, kami pun melakukan sedikit perbincangan di sudut ruangan. Antara lelaki. Hanya aku, Steve dan Kak Adam. Sedangkan para perempuan masih saja bersenda gurau di meja makan.


"Jadi, bagaimana Ar? Kamu sudah mendapatkan tanda - tanda kehamilan pada Grace? Kenapa kalian tidak melanjutkan bulan madu kalian saja? Bukannya sekarang keadaannya sudah aman - aman saja?" Tanya Kak Adam padaku.


"Ku kira Kakak mau bertanya tentang hal apa. Ternyata ini yang Kakak tanyakan? Kalau untuk sementara sih, kami akan fokus bekerja dulu, Kak. Apalagi kondisi tubuhku sedang tidak bagus. Jadi, untuk beberapa waktu ke depan, aku tidak akan menyentuh Istriku dulu. Aku takut dia akan tertular sakitku." Jawabku penuh dengan banyak pertimbangan.


"Lho? Kalian pengantin baru, Ar. Jangan sampai kalian seperti kami yang sudah beberapa tahun menikah, baru mendapatkan hasil. Itu semua karena dulu kami sibuk sendiri dengan kegiatan masing - masing." Ucap Kak Adam tanpa rem sedikitpun.


"Wahh..!! Kalian sudah mendapatkan hasilnya? Kapan, Dam? Sudah berapa lama kandungannya?" Tanya Steve pada Kak Adam. Aku masih saja berpikir untuk bertanya padanya, takut dia akan tersinggung dengan pertanyaanku.


"Ehh, kamu selalu saja terlalu peka dengan sekitarmu ya, Steve. Kandungan Silvia sudah memasuki minggu kedua. Jadi, untuk saat ini, dia tidak aku kasih pergi - pergi ke sembarang tempat dan harus berada dalam jangkauanku selalu. Kalian tau sendiri lah, kalau kandungan yang dalam usia sangat muda itu harus dijaga ekstra." Pamernya dengan bangga pada kami.


"Jadi, kalian kapan menyusul kami, Ar?" Tanya Adam yang sudah menoleh ke arah Arion.


"Kami pasti akan menyusul kalian secepatnya, Kak. Pasti itu. Tunggu kondisi tubuhku kembali berstamina, aku tidak akan memberikan celah untuknya." Ucapku sambil tertawa garing.


"Wow..!! Arion sudah mulai ganas sekarang ya.." Ledek Steve yang ditujukan padaku. Kami bertiga pun tertawa lepas mendengar perkataan Steve.


"Bukan ganas, Bro. Tapi itu usaha untuk mendapatkan hasil yang lebih cepat." Jawabku singkat.


Kami pun kembali kepada ke meja kami setelah selesai berbincang.


"Selamat ya, Sil. Selamat atas kehamilannya yang pertama. Kamu harus lebih berhati - hati lagi dalam melakukan semuanya. Ingat, kalau kamu itu bukan lagi sendirian, melainkan sudah berdua dengan janinmu." Ucapku sambil mengulurkan tanganku untuk menyalaminnya.


Dia pun menyambut uluran tanganku dan berkata,"Terimakasih, Ar. Semoga kalian cepat menyusul ya." Ucapnya padaku sambil menoleh ke arah Grace.


"Kakak hamil? Wah, selamat ya, Kak. Sudah usia berapa janinnya, Kak?" Tanya Grace sambil memegang kedua tangan Silvia.


"Ini kabar gembira, Kak. Selamat ya, Kak." Ucap Lisya sambil mengelus bahu Silvia.


"Kandunganku usianya baru saja memasuki minggu kedua. Terimakasih ya, semoga kalian juga cepat diberikan momongan menyusul kami." Ucap Silvia sambil tersenyum pada Grace dan aku.


"Amin. Kalau Tuhan memang mengkehendaki, kami pasti menyusul secepatnya, Kak." Ucap Grace pada Silvia. Dia memang sungguh bijak memilih kata - kata untuk menjawab perkataan seperti itu.


"Sejak kapan Kakak merasakan adanya tanda - tanda kehamilan Kakak? Ceritakan sedikit tentang itulah, Kak." Pinta Istriku pada Kakak Iparnya. Aku juga menajamkan pendengaranku untuk mengetahui jawaban yang diberikan Silvia padanya.


"Beberapa hari ini, aku merasa mual - mual tanpa memuntahkan apa pun. Aku merasa cepat lelah melakukan pekerjaan apa pun itu. Aku juga suka dengan makanan khas Jepang yang selalu aku minta pada Suamiku. Setiap kali dia pulang kerja, dia wajib membawakanku makanan sejenis sushi. Aku suka sekali dengan makanan seperti itu, padahal sebelumnya, aku itu tidak begitu menyukai makanan sejenis itu. Kami pun memeriksakannya tadi pagi dan kabar gembira ini pun membuat kami begitu bahagia. Mulai saat ini, aku tidak akan bisa menemanimu berbelanja. Aku tidak diperbolehkan untuk melakukan hal - hal yang sepertinya melelahkan kondisi tubuhku."


Penuturan Silvia membuatku berpikir keras. Sejauh ini, Grace tidak mengalami kondisi seperti itu. aku masih belum berhasil melakukannya. Kami masih muda, masih banyak kesempatan bagi kami untuk menyusul mereka.


"Ohh, aku masih belum mendapatkan tanda - tanda seperti itu, Kak. Mungkin kami akan menyusul setelah kondisi Suamiku membaik. Dia masih belum fit, Kak. Kata Dokter, Dia itu terlalu stres dan kelelahan dengan pekerjaannya. Jadi, dia harus lebih banyak beristirahat untuk saat ini." Ucap Grace dengan wajah yang masih saja tersenyum.


"Tak mengapa, Grace. Saat ini kalian fokus saja dengan kesehatan Arion. Kesehatan itu yang paling utama dari segalanya." Silvia memang sungguh perhatian. Dia mengingatkanku akan kesehatan.


"Okelah, Kak. Kami kembali ke Kantor dulu ya. Sudah saatnya kembali bekerja. Aku akan membantu Suamiku mulai sekarang." Ucap Istriku sambil berpamitan dengan Silvia. Aku pun ikut berpamitan pada semuanya.


"Ayo, Sayang. Kita berangkat sekarang." Ajakku padanya sambil memeluk pinggangnya dari samping.


Semua orang menatap iri pada kami, termasuk Lisya. Dia menatap tidak suka dengan kemesraan kami. Aku tau itu dari wajahnya yang masam yang tertutupi oleh punggung Steve. Aku sangat yakin kalau Steve akan bisa membuatnya melupakanku. Aku tidak akan memberikan sedikit puncelah bagi perempuan - perempuan lainnya untuk mendekatiku, termasuk Lisya.


"Oke, Bye semuanya. Kami berangkat duluan ya." Ucap Grace pada semua orang sambil melambaikan tangannya.


Kami pun pergi dari tempat itu. Kami langsung menuju ke Kantor. Mulai sekarang, kami akan selalu bersama. Dia selalu mendukungku dalam segala hal, seperti saat ini. Dia sangat membantuku untuk menjaga kondisi tubuhku. Aku semakin mencintainya.


>>> Bersambung <<<


Sampai sini dulu ya..


Kita akan lanjut di next chap, Ingat untuk selalu kirim jempol nya yaa, Kakak2..


Terimakasih bagi yang sudah support Author selama ini..


Salam Kasih untuk Yg Terkasih


~~ Love You All ~~