
"Papa! Mama!" Teriak Grace melihat kedua Orangtuanya yang tengah terduduk di kursi tunggu bersama dengan yang lainnya.
Grace memeluk erat Papa dan Mamanya, juga Adik kembarnya.
"Sesekali datang mengunjungi kami ya, Nak. Papa harap kamu bahagia tinggal bersama dengan Nak Arion." Ucap Papanya Grace sambil menoleh ke arah Arion yang sedang berdiri tegap di belakang Grace.
"Papa dan Mama jangan khawatir. Grace akan selalu berada dalam jangkauanku. Jadi, Papa dan Mama tidak perlu khawatir." Ucap Arion meyakinkan Mertuanya.
"Oke, Papa senang melihat Grace bisa mendapatkan Suami yang bertanggungjawab sepertimu, Nak. Jaga diri kalian baik - baik ya. Kalau ada waktu, pulanglah ke Siantar. Kami akan selalu menunggu kedatangan kalian di Rumah." Pinta Mr.Victor pada Menantunya itu sambil bergantian memeluk Arion dan Sam.
"Oh iya, Ar. Tadi Daddy dan Mommy mu hanya bisa menemui kami di Hotel saja. Katanya ada urusan penting, jadi tidak bisa ikut ke Bandara." Ucap Mr.Victor pada Menantunya itu.
"Ahh, pantas saja Ar tidak melihat Mom and Dad diantara rombongan ini, Pa." Jawab Ar yang juga menyadari ketidakhadiran kedua Orangtuanya.
"Sam, kamu juga. Jangan nakal. Kamu harus bisa belajar lebih baik lagi dan bekerja dengan sungguh - sungguh. Papa ingin kamu bisa sukses dengan usahamu sendiri dan jangan sampai kamu jadi Anak manja dengan bantuan Kakakmu ini." Mr.Victor menasihati Anak lelakinya itu.
"Iya, Papa." Jawab Sam singkat.
"Grace!" Teriak Anne melihat sahabatnya itu.
"Anne!" Grace pun mendekati teman - temannya dan memeluk Anne. Dia juga tidak lupa memeluk Dea teman masa kecilnya itu. Karena Dea ikut ke Jakarta, Dea mendapat teman baru. Sekarang hubungan Dea dengan Anne dan teman Grace lainnya bisa dikatakan cukup dekat. Mereka juga saling bertukar nomor ponsel agar bisa tetap menjaga komunikasi diantara mereka.
Khusus yang laki - laki, Grace hanya bersalaman dengan mereka. Dia tau bagaimana besarnya rasa cemburu Suaminya itu. Dia juga tidak ingin orang lain menganggap dirinya gampangan karena bebas memeluk lelaki lain selain Suaminya. Dia sudah memikirkan semua hal dengan matang.
"Semoga sampai di tujuan dengan selamat ya, guys. Wilson langsung balik ke London kah?" Tanya Grace melihat Wilson yang masih setia menggenggam tangan kekasihnya, Anne.
"Tidak. Aku akan mengantar Anne sampai dengan selamat dan tinggal di sana selama beberapa hari sebelum aku benar - benar kembali." Jawab Wilson dengan santainya.
"Ohh, kamu mau berkenalan dengan calon Mertua mu ya, Wil?" Tanya Nayaka sambil menepuk bahu Wilson.
Wilson hanya mengedikkan kedua bahunya dan tidak menjawab sepatah katapun.
"Oke, aku ke sana dulu ya. Masih banyak yang harus aku salam sebelum kalian semua berangkat di waktu yang sama." Ucap Grace sambil berjalan mendekati rombongan Ricky.
"Abang ku.." Sapa Grace pada Ricky yang sedang menggendong Anaknya dan menggandeng Istrinya.
"Aunty!" Teriak Ed melihat Aunty kesayangannya datang menghampiri mereka. Dia langsung melompat ke dalam pelukan Grace.
Dengan sigap, Grace menangkap Ed dan menggendongnya.
"Ed, my Dear. Aunty pasti akan merindukanmu, Ed." Ucap Grace sambil menciumi pipi embulnya Ed yang sangat menggemaskan itu. Ed juga menciumi pipi Aunty kesayangannya itu beberapa kali. Kemesraan mereka membuat Arion menggelengkan kepalanya menekan rasa cemburunya yang kini sudah semakin tidak waras. Dia cemburu pada Anak sekecil Ed.
"Ar! Jangan melihat mereka dengan tatapan laparmu itu. Mereka sudah terbiasa berdekatan seperti itu selama 2 tahun penuh. Jadi, kamu tidak bisa memisahkan mereka hanya dengan tatapan cemburumu itu." Ledek Ricky dengan bisikan diantara mereka. Dia sedikit terkekeh karena tebakannya benar. Arion cemburu pada Anaknya.
"Aku akui, aku belum pernah bisa mendapatkan kasih sayang Grace yang seperti itu selama ini. Sepertinya dia lebih mencintai Anakmu daripada aku. Lihatlah betapa mesranya mereka." Bisik Ar mencurahkan isi hatinya pada Ricky.
Ricky yang mendengarkan keluhan Arion malah tertawa terbahak - bahak. Hal itu membuat semua orang menoleh ke arah mereka berdua. Arion terpaku tidak tau apa yang salah dengan ucapannya.
Ricky kembali mendekatkan wajahnya pada telinga Ar dan kembali berbisik, "Makanya kalian cepat punya Anak. Biar Grace tidak pindah haluan. Lihatlah, yang dia cintai itu bukan Ed nya, melainkan Anak kecil yang sedang bermanja - manja padanya. Kamu salah besar kalau merasa cemburu pada Anakku."
Arion menimang perkataan Ricky dan memperhatikan gerak - gerik Grace. Dia baru menyadari bahwa perkataan Ricky ada benarnya juga. Grace sangat menyukai Anak kecil. Bahkan si kembar pun masih bersikap manja terhadapnya.
"Gimana? Apa lagi yang kamu tunggu? Jangan bilang, kalau kamu belum melakukan apapun padanya?" Ricky melontarkan pertanyaan yang sama dengan yang pernah dipertanyakan oleh Steve.
"Apa? Apakah aku terlihat seperti itu, Bang?" Tanya Arion dengan penasaran.
"Ya! Kamu masih seperti amatiran yang belum mengerti mengenai hal itu. Apa tebakanku benar? Apa kamu mau kuajarkan cara membuat Anak yang cakep seperti Ed?" Ricky kembali berbisik padanya. Sekarang Ricky mulai sedikit meremehkan dirinya sebagai seorang laki - laki yang tidak berani melakukan hal itu.
'Sialan! Ternyata Steve dan Ricky sama - sama melihatku sebagai lelaki yang seperti itu. Padahal aku diam bukan berarti aku tidak tau cara melakukannya." Umpat Arion dalam hati. Sebenarnya dia geram mendengar ucapan Ricky, tapi dia menahannya. Karena dia memang bukan seorang lelaki yang seperti apa yang sedang dipikirkan oleh Ricky maupun Steve.
"Baiklah, kalian sudah cukup lama di sini. Kalian juga harus menemui keluarga yang lainnya bukan?" Tanya Ricky yang membuat Grace tersadar. Dia terlalu senang bertemu dengan Ed. Dia sangat senang bisa menciumi pipi tembem Ed sampai puas. Yang dia tau, Arion tidak akan cemburu jika dia dekat dengan Ed. Semua pemikirannya adalah salah. Arion sangat cemburu dengan sikap manisnya Grace yang ditunjukkannya pada Ed.
"Ya sudah, Ed sayang, baik - baik di sana ya. Nanti Aunty akan liburan ke sana untuk menemuimu ya, sayang." Grace mengembalikan Ed kepada Ricky. Tapi sebelumnya mereka cipika - cipiki (cium pipi kanan - cium pipi kiri). Ricky saja belum pernah melihat Ed seperti itu terhadapnya dan Istrinya.
"Ed, sebenarnya Ed anak Daddy sama Mommy atau anak Aunty sih? Kenapa Ed kelihatannya lebih sayang sama Aunty nya dibandingkan kami?" Tanya Ricky iseng pada Anak semata wayangnya itu.
"Ed sayang sama semuanya. Ed tidak membeda - bedakan rasa sayang Ed sama siapa pun, Dad." Ucap Ed dengan imutnya.
Grace tertawa kecil mendengar pertanyaan konyol Ricky yang mengatasnamakan dirinya.
"Jangan cemburu gitu dong, Bang. Tidak baik untuk kesehatan jantung." Ledek Grace sambil menyalami Suami Istri yang sudah menyelamatkannya dari maut saat itu. 2 tahun bukan waktu yang sedikit untuk mengobatinya. Tapi mereka dengan sabar merawatnya sampai dia benar - benar pulih. Sampai kapanpun, Kebaikan mereka akan selalu dikenang oleh Grace.
"Baiklah, pergilah temui Ichi. Kasihan dia, kenapa dia tidak kelihatan? Kemana perginya Anak Jepang itu?" Tanya Ricky sambil melihat sekelilingnya. Mereka tidak melihat keberadaan Ichi.
"My Brother, Ichi!" Teriak Grace sambil melambaikan tangannya pada Kakak lelakinya itu.
Arion, Steve dan juga Sam mengikuti langkah kaki Grace. Sebelumnya mereka juga ikut menyalami orang - orang yang sudah ditemui oleh Grace.
"Why don't you join Papa and Mama's entourage? Even here alone." Tanya Grace setelah jaraknya dekat dengan Ichi.
(Kenapa Kakak tidak bergabung dengan rombongan Papa dan Mama? Malah di sini sendirian)
"Earlier I did join them. But since my flight schedule is ahead of the others, I have to get ready at my place." Jawab Ichi menjelaskan alasan dirinya berada jauh dari rombongan.
(Tadi aku memang bergabung dengan mereka. Tapi karena jadwal penerbangan ku lebih dulu daripada yang lainnya, aku harus bersiap di tempatku)
"Okay, I understand. Safe flight and take care. Bro." Ucap Grace sambil menyalami Ichi. Begitu juga yang dilakukan oleh ketiga orang yang seperti pengawalnya.
Akhirnya, Grace berjalan ke arah rombongan keluarganya yang berasal dari Medan. Mereka semua diundang oleh Mommy nya. Sebenarnya hal itu merupakan kejutan buat Grace. Dia juga tidak menyangka kalau keluarga besarnya akan datang menghadiri Acara Pernikahannya.
Setelah selesai dengan acara perkenalan antara mereka dengan Suami Grace, mereka pun berpamitan dan tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada Arion yang sudah mempersiapkan semuanya sampai membiayai perjalanan mereka di Taman Wisata Jaya Ancol.
Grace yang mendengar penuturan mereka, langsung menatap tajam ke arah Arion. Tatapan tajamnya seolah meneriakkan nama Arion dan mempertanyakan tentang apa yang sebenarnya yang telah dilakukan Arion sampai dia tidak mengetahui apapun tentang hal itu.
Arion sempat salah tingkah karena takut Grace tidak bisa mengontrol emosinya di depan semua orang. Tapi, dugaannya salah. Grace memang sengaja menunggu waktu yang tepat untuk dapat berbicara pada Arion secara pribadi.
Ingat! Grace bukannya marah, dia hanya merasa kesal dengan sikap Arion yang masih suka amenyembunyikan sesuatu darinya, itu sama saja dengan berbohong. Grace paling anti dengan yang namanya orang yang tidak bisa dipercaya.
Selang beberapa lama, akhirnya semua orang berangkat. Tinggallah mereka berempat yang tetap setia mengikuti langkah kaki Grace menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil. Grace masih diam tak berucap apapun. Dia ingin penjelasan secepatnya dari Arion yang tidak memberitahukannya sedikitpun mengenai perjalanan keluarganya semalam.
Mereka berempat kembali ke Kantor. Steve dan Sam kembali ke ruangannya masing - masing. Sedangkan Grace? Dia dibawa oleh Arion ke ruangannya. Dia tidak ingin Istrinya salah paham dengan niat baiknya semalam. Jadi, dia ingin memberikan penjelasan secepatnya sebelum akhirnya dia didiamin oleh Istri tercintanya.
Arion sedang berusaha memikirkan bagaimana caranya dia menyampaikan pemikirannya waktu itu dan cara agar dia bisa meminta maaf dengan benar di hadapan Istrinya yang sangat dicintainya itu. Dia tidak mau ada sedikitpun penghalang diantara hubungan mereka. Meskipun ini adalah pengalaman perdananya dalam menghadapi amarah seorang perempuan.
Setelah mendapatkan ide, dia pun menoleh ke arah Grace. Dia mendekati dan memegang penuh kedua lengan Grace.
GRACE POV
Aku diam melihatnya menarik tanganku masuk ke dalam ruangannya. Kemungkinan dia ingin segera menyelesaikan perdebatan kami di sini. Aku mengerti, dia tidak akan bisa fokus bekerja jika pikirannya selalu terarah pada masalah kami berdua.
Aku berdiri tepat di sebelahnya. Tidak ada pikiranku untuk duduk di sofa maupun di kursi yang ada di ruangan ini. Sebenarnya, aku tidak ingin diganggu karena ini masih jam kerja. Tapi, bagaimanapun keadaannya, dia adalah Suamiku dan seluruh karyawan perusahaan ini sudah mengetahui statusku sebagai Istri CEO Muda mereka. Aku akan mendengarkannya, seperti sebelumnya.
"Aku benar - benar minta maaf, sayang. Bukannya aku tidak mau memberitahukannya, tapi aku hanya ingin kamu bisa beristirahat tanpa ada yang mengganggu." Ucapnya dengan wajah sendunya.
Kasihan sih, tapi sebel juga. Dia memang baik, tapi kan seharusnya memberitahukanku yang sebenarnya. Aku bukan mau memperbesar masalah kecil, tapi aku mau dia itu belajar untuk mengatakan sesuatu hal dengan jujur. Apa gunanya sebuah hubungan tanpa rasa percaya dan kejujuran?
"Aku tidak mempermasalahkan hal sepele seperti itu, Ar. Aku hanya ingin kamu itu jujur padaku. Apapun kondisinya. Mau sebaik atau seburuk apapun itu, aku ingin kamu itu selalu jujur padaku. Bagaimana aku bisa percaya padamu, kalau dengan hal sepele seperti ini saja, kamu sudah tidak jujur?" Bentakku padanya sambil berjalan menjauhinya.
Aku tidak mau melihat wajahnya. Aku sebenarnya tidak tega melakukan hal seperti tadi. Aku salah, karena aku sudah membentak Suamiku sendiri karena masalah kecil.
"Aku janji, aku akan selalu berkata jujur padamu mulai saat ini. Maafkan aku ya, sayang. Waktu itu aku berpikiran sempit dan tidak sadar kalau hal ini akan berimbas pada kepercayaanmu padaku. Aku sungguh - sungguh tidak bermaksud untuk melakukan hal itu dengan sengaja, sayang." Pintanya padaku sambil memelukku dari belakang.
"Ini kali terakhir kamu tidak berkata jujur padaku ya, Ar. Tidak ada kata lain kali." Ucapku tegas padanya.
"Iya, sayang. Mulai detik ini dan seterusnya, aku akan berkata jujur padamu, meskipun itu adalah hal terburuk bagiku. Kamu gak marah lagi kan, sayang?" Tanyanya padaku sambil mengeratkan pelukannya padaku.
"Iya, Ar. Sebenarnya aku tidak marah padamu. Aku hanya kesal dengan kebohonganmu itu." Aku melepaskan tangannya yang melingkar di leherku dan berbalik menghadapnya.
"Aku akan kembali bekerja, kamu juga harus fokus kerjanya. Karena kamu sudah berjanji, aku akan memberikan hadiah kecil padamu, Cup!" Ucapku sambil mengecup pipi kanannya.
Dia terdiam seolah terpaku mendapatkan kecupan dariku. Ini pertama kalinya, aku berinisiatif untuk mengecupnya dan aku merasa sangat malu. Langsung saja aku membalikkan badanku dan keluar dari ruangannya secepat mungkin sebelum dia tersadar dari lamunannya. Degup jantungku berdetak begitu kencang seperti seseorang yang sedang lari estafet.
'Apakah tindakanku tadi terlalu berlebihan?'
>>> Bersambung <<<
Sampai sini dulu ya..
Kita akan lanjut di next chap, jangan lupa beri like nya yaa, guys..
Salam Kasih untuk Yg Terkasih
~~ Love You All ~~
💞 💞 💞 💞 💞