
Saat perjalanan pulang, aku dan Istriku berhenti di sebuah Bakery. Dia ingin membeli roti - roti untuk di makan sebagai camilannya selama berada di Kantor.
"Sayang, kamu mauroti yang mana saja? Pilihlah sebanyak yang kamu mau." Tanyaku padanya yang sedang memperhatikan roti - roti yang terpajang di atas meja.
Dia masih diam dan tampak berpikir. Tak berapa lama, dia menunjuk beberapa roti yang dia inginkan sambil berkata pada seorang pelayan yang sedaritadi berdiri di dekatnya, "Mbak, aku mau yang ini, ini, dan yang ini. Terus yang ini juga yang itu ya, Mbak."
Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku secara perlahan melihat seberapa banyak roti yang akan di bawa. Dia memang suka ngemil dan tidak pernah merasa malu - malu jika itu urusan makanan. Tapi, apa dulu dia memang seperti ini ya? Aku sampai bertanya - tanya dalam hati. Karena aku tidak terlalu mengenalnya sejak awal bertemu.
"Sudah, Sayang?" Tanyaku lagi padanya.
Dia hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis ke arahku. Aku pun berjalan ke arah kasir sambil menggenggam tangannya dan membayar tagihan. Setelah itu, kami pun pergi dari sana.
Setibanya di Kantor, Grace langsung duduk di sofa sambil memakan roti yang tadi sudah di beli.
"Aku akan memeriksa berkas - berkas itu di sini saja ya, Sayang? Aku mau bersantai dulu." Ucapnya dengan lembut.
"Baiklah, aku akan menyuruh Shei untuk membawakan berkas yang harus diperiksa. Jangan terlalu memaksakan diri ya, Sayang." Jawabku sambil mengelus kepalanya dan berjalan ke arah meja kerjaku.
Aku pun menelepon Shei melalui interkom, "Halo, Shei. Bawakan berkas yang harus kuperiksa ke ruanganku dan berikan pada Istriku."
"Baik, Pak." Jawabnya singkat.
Beberapa menit kemudian, Shei masuk dengan membawa puluhan berkas lagi. Semua laporan itu juga berasal dari London dan Amerika. Para Asistenku akan mengirimkan file ke sini dan akan aku tandatangani dan berkas asli dengan stempelnya akan dikirim ke sana.
"Shei, buatkan jus jeruk hangat untuk Istriku ya. Yang asli dan tanpa gula." Perintahku pada Shei yang sedang meletakkan berkas - berkas itu ke meja yang ada di hadapan Grace.
"Baik, Pak." Shei pun pergi setelah sedikit membungkukkan badannya. Tidak butuh waktu yang lama, dia kembali dan membawa pesananku.
"Terimakasih, Shei." Ucap Grace pada Shei setelah menerima gelas berisi Jus Jeruk itu.
Shei pun pergi setelah membungkukkan kembali badannya. Dia sudah terbiasa bertemu denganku, meskipun terkadang dia agak gagap jika harus bertatapan denganku. Karena hal itu, aku sering menjawab pertanyaannya ataupun mengatakan padanya sambil melihat berkas ataupun ponsel. Agar dia bisa leluasa mengucapkan apa pun yang mau disampaikan olehnya.
"Sayang, aku butuh bolpoin dan kertas notes nya. Tidak kamu buang kan?" Tanyanya padaku sambil berjalan ke arahku.
Aku pun mencari bolpoin dan notes yang dimaksudkannya. "Aku tidak mungkin membuang sesuatu yang penting seperti itulah, Sayang. Nih, bawa saja ke sana. Aku masih harus memeriksa email yang masuk hari ini." Jawabku sambil tersenyum ke arahnya.
"Makasih, Sayang." Ucapnya dengan nada riang. Dia pun kembali fokus dengan berkas - berkas itu sambil mengunyah rotinya.
Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..
Ponselku berdering dan itu adalah panggilan dari Daddy.
"Halo, Dad. Ada apa Dad?" Tanyaku langsung setelah menerima panggilan itu.
"Nanti malam, kita akan berkumpul bersama. Ajak Steve juga. Dad mau memberitahukan sesuatu pada semuanya." Ucap Dad dengan tergesa - gesa.
"Apa ini ada hubungannya dengan dia, Dad?" Tanyaku dengan ragu.
"Iya. Sampai jumpa nanti malam, Ar." Ucap Dad untuk terakhir kalinya sebelum mengakhiri panggilan kami.
"Kenapa Sayang? Kok wajahmu bingung begitu?" Ternyata Istriku melihat perubahan pada raut wajahku.
"Ahh, tidak apa - apa Sayang. Tadi itu telepon dari Daddy. Kita disuruh kumpul bersama nanti malam." Jawabku dengan hati - hati.
"Oh, oke. Nanti malam, berarti saat jam makan malam?" Dia bertanya kembali padaku.
"Mungkin. Kita akan ke sana sepulang dari Kantor. Dan malamnya, kita akan izin pulang duluan. Kita akan kembali tinggal di Mansion kita. Bagaimana menurutmu, Sayang?" Tanyaku perlahan padanya.
"Hmm.. Itu ide yang sangat bagus, Sayang. Aku sudah merindukan Rumah kita." Jawabnya dengan wajah yang berseri.
Aku hanya bisa membalas perkataannya dengan senyumanku yang termanis padanya.
AUTHOR POV
"Gung, maafkan aku. Aku sudah bertindak gegabah." Lirih Sandra pada kekasihnya.
"Aku tidak pernah mau mengampuni seorang penghianat! Kamu sudah keterlaluan! Beraninya kamu menyuruh ketiga orang suruhanmu itu untuk memperkosa Grace!" Bentakan demi bentakan dilontarkan oleh Agung sambil menunjuk ke arah tiga lelaki suruhan Sandra yang sudah ditangkap oleh Anak buahnya.
Lepas dari cengkraman Ricky, mereka malah terperangkap dalam genggaman Agung. Sungguh sial nasib mereka.
"Aku sungguh - sungguh dibutakan oleh cinta, Gung. Aku mencintaimu, aku tulus mencintaimu. Tapi, kamu malah lebih memilih Grace yang sudah menjadi milik orang lain. Padahal aku di sini, sudah memberikan semuanya untukmu. Kamu tidak mengerti apa yang aku rasakan, Gung. Kamu hanya melihat ke arahnya, ke arah perempuan sialan itu." Teriak Sandra yang sudah tidak tahan dengan bentakan Agung.
Agung melancarkan tangan kanannya menampar keras pipi kiri Sandra hingga dia tersungkur ke lantai. Sandra pun merintih kesakitan sambil memegang pipi nya yang sudah memerah itu.
"Jaga ucapanmu itu! Kamu tidak pantas menyebut nama Grace dengan mulut kotormu itu! Seburuk apa pun dia, kamu jauh lebih buruk lagi! Kamu kira aku tidak tau? Tubuhmu itu sudah dipakai oleh hampir 10 orang yang berbeda dalam satu hari dan satu malam. Kamu itu menjijikkan! Aku sudah tidak sudi bers*tubuh denganmu lagi! Yang aku mau hanyalah Grace. Dia itu perempuan paling suci yang pernah aku kenal. Tidak sepertimu! Kamu itu kotor! Seperti sampah!" Lagi - lagi Agung membentak Sandra dengan kata - kata hina.
Meskipun dirinya dihina oleh sang kekasih, Sandra tidak mau menyerah. Dia mencari berbagai cara agar Agung mau menerimanya kembali.
"Aku berjanji, tidak akan melakukan kesalahan lagi. Tapi, kumohon. Beri aku kesempatan sekali ini saja. Kamu boleh melakukan apa pun, asal jangan membuangku." Ucap Sandra dengan sendu dan ekspresi yang minta dikasihani.
Agung berpikir sejenak. Ini memang keinginannya. Dia memang berniat untuk memanfaatkan kebodohan Sandra yang sudah bertahun - tahun menjadi budak cintanya.
"Aku akan memberimu satu kesempatan. Aku ingin kamu melakukan tugas awalmu dengan bersih dan tanpa celah lagi. Bawa Grace ke hadapanku dan aku tidak ingin dia mengalami lecet sedikitpun, apalagi kalau kamu berani berbuat seperti sebelumnya. Aku akan langsung membunuhmu dengan tanganku sendiri. Seperti mereka - mereka ini. Yang berani menyentuh pujaan hatiku." Ancam Agung sambil mengarahkan pistolnya ke arah depan.
DORR.. DORR.. DORR..
Ketiga orang itu pun mati seketika saat Agung menembak tepat ke arah jantung mereka masing - masing secara bergantian. Dia melihat ke arah Sandra yang sedang gemetaran di sebelahnya sambil berkata, "CAMKAN ITU!"
Agung pun pergi begitu saja meninggalkan ruang bawah tanah yang berada di dalam Rumahnya. Dia menjentikkan jarinya. Lalu berdatanganlah beberapa orang mengangkat dan membawa pergi ketiga mayat itu. Ya! Mereka adalah Anak Buah Agung.
"Bersihkan tanpa sisa jejak!" Perintah Agung pada keenam orang itu.
"Siap, Pak!" Jawab mereka serentak.
Agung pun kembali ke dalam kamarnya. Di segala sudut, terpampang foto Grace yang tidak boleh seorang pun menyentuhnya. Hanya dialah yang berhak atas foto - foto itu. Itu adalah foto - foto yang sudah sejak lama ia kumpulkan dengan mempotret Grace secara diam - diam dari kejauhan.
Dia memandangi setiap foto yang terpajang. Dia ingin kembali ke masa itu lagi. Masa - masa dimana Grace belum menerima pernyataan cinta dari Jeff. Dia ingin dialah yang menjadi kekasih Grace. Meskipun itu adalah hal yang mustahil baginya saat ini.
Di sisi lain, Sandra merasa geram dengan apa yang sudah dilakukan Agung padanya. Tapi apa daya? Dia terlalu mencintai Agung. Dia tidak bisa kehilangan orang yang dicintainya. Dia sudah meninggalkan keluarga dan juga teman - temannya demi bisa hidup bersama dengan Agung.
'Aku harus bisa meyakinkan Agung. Dia harus bisa membuatnya mempercayaiku kembali. Malam ini juga, aku akan beraksi. Aku akan mencari celah untuk membawa perempuan itu ke sini, bagaimanapun caranya. Untuk kali ini, aku harus menurunkan egoku demi dia.' Sandra terus - menerus berpikir untuk melengkapi aksinya agar dia dapat menarik perhatian Agung lagi.
Sandra pun beranjak dari lantai dan berjalan menyusuri lorong sempit yang cukup panjang. Dia masih memegang pipinya yang sudah terlihat bengkak. Dia masuk ke dalam kamarnya dan membersihkan diri. Dia masih dendam pada Arion. Orang yang sudah membuatnya menjadi seperti seorang j*lang.
Selama air bercucuran membasahi wajahnya, dia teringat dengan jelas, bagaimana tersiksanya dirinya melayani nafsu 8 orang yang sangat ganas dalam sehari semalam itu juga. Dia memang sudah terbiasa melayani nafsu birahi dari seorang Agung, tapi Agung itu berbeda. Meskipun mereka bisa melakukannya berkali - kali dalam 1 malam, dirinya masih sanggup melayaninya.
Tiga orang suruhannya itu pun tidak segan - segan melakukan hal keji itu padanya. Padahal dialah yang sudah membayar mahal ketiga orang itu, meskipun misi mereka langsung gagal oleh karena kebodohan mereka. Dan mereka sudah membuatnya merasa seperti pel*cur yang bisa dipakai berulang kali. Hanya dengan mereka bertiga saja, Sandra harus menderita selama 3 ronde.
Setelah mereka puas, mereka malah dibebaskan begitu saja oleh anggota Yardies. Dan dirinya malah dihampiri oleh lima lelaki yang masih segar dan perkasa. Dia benar - benar merasakan penyiksaan yang bertubi - tubi saat itu juga. Dia sendiri sebenarnya merasa jijik dengan tubuhnya saat ini. Sebab Agung sampai mencampakkannya karena jijik dengan dirinya.
Sandra sudah menghubungi seseorang yang dia percaya di luar sana untuk mendapatkan informasi tentang keberadaan Grace.
"Ternyata malam ini akan menjadi malam yang menyenangkan. Dia akan kembali bersama Suaminya ke Rumahnya. Aku punya banyak kesempatan untuk membawanya." Ucap Sandra dengan senyum miringnya.
Dengan segera dia meminta pada Agung untuk membawa sepuluh Anak buahnya Agung ke lokasi yang sudah ditentukan oleh Sandra. Agung menyetujui permintaan Sandra tersebut. Akan lebih mudah dikontrol tindakan Sandra, jika dia memberikan Anak buahnya bersama perempuan itu.
Sandra tinggal menunggu waktu yang tepat untuk melakukan aksinya. Saat ini dirinya sedang merasa senang, karena Agung mau memberikan Anak buahnya tanpa mengetahui maksud dan tujuan dari Agung.
**********
Semua anggota keluarga Melviano sudah berkumpul bersama dengan seorang lelaki yang masih terlihat lebih muda dari Arion. Dia masih tampan dengan model rambut Pompadour dengan potongan rambut tipis bagian samping dan terlihat tebal pada bagian atasnya.
"Sebelum kita memulai acara makan malam kita, Dad ingin memperkenalkan anak muda ini pada kalian semua. Namanya saat ini adalah Yoru. Dia ini sepupu Silvia yang telah lama hilang yang bernama Charles. Saat kecelakaan yang terjadi, Dad hanya bisa menyelamatkan Silvia dan tidak mengetahui keberadaan Yoru. Dan kematian yang selama ini kita perkirakan itu adalah kesalahan. Saat itu, Dad sebenarnya bimbang dengan kematiannya. Tidak ada yang bisa menemukan jasadnya sampai pada akhirnya, Dad mendapat informasi tentang seorang Anak muda yang mencari keluarganya. Dia menunjukkan bukti - bukti yang konkret mengenai dirinya." Jelas Mr.Melv. pada semua yang hadir pada saat ini.
"Jadi, Dia ini beneran Charles? Dad tidak salah mengenal orang kan?" Tanya Silvia yang merasa familiar dengan wajah tak asing yang dimiliki oleh Yoru.
"Tidak, Sayang. Dia memang Charles. Selama ini dia diasuh oleh keluarga yang sederhana. Ayah angkatnya keturunan Jepang dan Ibu angkatnya keturunan Sunda. Saat ini, dia sebatangkara dan Ayah angkatnyalah yang menyuruhnya untuk mencari keluarga kandungnya. Ayah dan Ibunya sudah meninggal Dunia karena sakit parah. Jadi, mulai saat ini, dia akan menjadi bagian dari keluarga kita. Oh, bukan. Dia adalah bagian dari keluarga Melviano." Tegas Mr.Melv. pada semua orang.
Semua orang setuju dengan pernyataan Mr.Melv. Mereka tidak akan meragukan keputusan dari Kepala Rumah Tangga yang berkuasa di Mansion Utama Keluarga Melviano. Mereka pun memulai pendekatan dirinya dengan Yoru selama jam makan malam berlangsung.
>>> Bersambung <<<
Sampai sini dulu ya..
Kita akan lanjut di next chap, Ingat untuk selalu kirim jempol nya yaa, Kakak2..
Terimakasih bagi yang sudah support Author selama ini..
Salam Kasih untuk Yg Terkasih
~~ Love You All ~~