
"Cup! Selamat sore, sayang." Arion mengecup sekilas bibir mungil milik Grace yang selalu membuatnya merasa ketagihan setelah melakukannya berkali - kali tadi malam.
"Apa? Ini udah sore?" Teriak Grace yang terkejut mendengar sapaan Arion.
"Iya, ini sudah sore, sayang. Kelihatannya aku terlalu memaksamu melakukannya sampai kamu begitu lelah." Ucap Arion sambil menunjukkan senyum manisnya.
"Kenapa tidak membangunkanku untuk sarapan atau makan siang?" Tanya Grace sambil menatap tajam ke arah Arion.
"Mana ada Suami yang tega membangunkan Istrinya yang sedang tertidur lelap seperti seorang Bidadari yang sedang hibernasi. Aku tidak mau menjadi Suami yang jahat yang tidak mengerti keadaanmu, sayang." Tutur Arion dengan wajahnya yang masih terpampang senyuman manis khas seorang Arion. Senyuman yang tidak akan pernah ditunjukkannya kepada perempuan manapun selain Istrinya.
"Ya sudah, aku mau mandi dulu." Ucap Grace dengan malas. Dia berusaha bangkit dari tempat tidur, tapi dia malah tidak bisa berdiri dengan benar.
"Akh!" Ringisnya karena merasakan rasa sakit di bagian intinya.
"Kamu kenapa, sayang? Masih terasa sakitkah?" Tanya Ar yang sudah berada di samping sang Istri dan dengan sigap menopang tubuh Istrinya.
"Masih terasa sakit, Ar." Lirih Grace dengan wajah tertunduk malu. Dia baru menyadari bahwa saat ini tubuhnya masih polos tanpa sehelai benang pun.
Arion yang sangat memahami Istrinya itu, langsung membopong tubuh sang Istri masuk ke dalam kamar mandi. Dia juga mengisi air hangat di bathtub untuk Istrinya.
"Aku bisa melakukannya sendiri, Ar. Kamu kan sudah mandi, aku tidak mau kamu basah - basahan lagi. Keluarlah, aku akan melakukannya sendiri." Ucap Grace yang masih berusaha menutupi tubuhnya dengan handuk.
"Tidak. Aku yang akan melakukannya, sayang. Anggap saja sebagai tanda permintaan maafku karena sudah membuatmu merasa sakit seperti ini." Jawab Arion dengan antusias. Dia tau bahwa Grace masih malu dengan penampilannya saat ini.
"Sudahlah, sayang. Kamu tidak perlu malu begitu. Aku kan sudah melihat bahkan di setiap inchi tubuhmu sudah aku beri tanda kepemilikanku. Kamu tidak lihat begitu banyak tanda - tanda itu? Apa masih kurang banyak, sayang? Kalau benar begitu, dengan senang hati aku akan membuatnya lagi." Arion menggoda Istrinya sendiri sampai keningnya mendapat sebuah ciuman kasih sayang dari sang Istri yang berupa jitakan.
"Aduh! Sakit sayang, kamu sangat tega padaku." Keluh Arion pada Istrinya yang masih mode cemberut.
"Iya, iya, iya. Aku serius. Aku yang akan memandikanmu tanpa melakukan apapun selain itu. Sudah? Aku janji, sayang. Aku tidak akan melakukannya lagi." Ucap Arion dengan senyum manjanya.
"Kamu janji, tidak akan melakukannya lagi?" Tanya Grace dengan penasaran.
"Iya, aku janji. Untuk sekarang saja. Aku tidak akan melakukannya lagi padamu. Bukan nanti." Jawab Arion yang terkekeh kecil melihat reaksi Istrinya itu.
"Sama saja. Sudahlah. Kamu keluar saja. Aku akan melakukannya sendiri." Grace merasa kesal dengan jawaban Arion. Arion sudah membuatnya terlihat seperti seorang Istri yang bodoh.
Arion hanya tersenyum manis melihat wajah mungil Istrinya. Dia mengangkat tubuh Istrinya dan melepaskan handuk yang menggulung di tubuh Istrinya itu.
Akhirnya, Grace hanya pasrah dengan tindakan Arion yang semena - mena terhadap dirinya. Dia pun mandi dengan sedikit bantuan dari Arion.
Usai memandikan sang Istri, Arion tetap tegar menahan gairahnya yang sudah mulai memuncak selama matanya melihat kemolekan tubuh Istrinya. Itu memang reaksi yang normal baginya sebagai seorang lelaki, jika hal itu terjadi. Toh, juga Grace sudah menjadi miliknya seutuhnya. Begitu juga dengan dirinya. Dia sudah seutuhnya dimiliki oleh Grace. Dan hanya Grace yang bisa memilikinya.
**********
"Makanlah, sayang. Tadi aku yang menentukan lauk yang dimasak oleh koki kita. Aku ingin kamu menjaga kesehatanmu." Ujar Arion sambil menyodorkan sepiring nasi beserta lauknya pada Grace.
"Kamu sendiri? Kenapa tidak makan?" Tanya Grace sembari menerima piring yang Arion arahkan padanya.
"Siapa yang bilang aku tidak makan? Ini aku lagi mau makan?" Ucap Arion sambil menaikkan sebelah alis matanya.
"Mana piringmu?" Tanya Grace dengan tatapan anehnya.
"Tidak ada." Jawab Arion singkat.
"Gak ada piring, gimana kamu mau makan? Mau aku ambilkan?" Grace kembali bertanya.
"Tidak perlu. Karena aku masih ada kamu." Arion pun terkekeh melihat ekspresi Grace yang mulai berubah.
"Maksudmu? Kamu jangan mulai lagi dehh, Ar." Umpat Grace dengan nada kesalnya.
"Tidak. Aku tidak merasa diriku ini aneh." Lagi - lagi Arion menggoda Istrinya.
"Jadi?" Grace mulai kesal dan menunjukkan wajah geramnya pada Arion.
"Aku menunggu mu untuk menyuapiku, sayang. Aku ingin dimanja oleh Istriku." Arion tersenyum penuh kemenangan setelah berhasil membuat Istrinya sewot sendiri melihat tingkahnya.
"Aarrrggghhh.. Kamu membuatku kesal, Ar! Jangan ganggu aku, aku mau makan sendiri saja!" Akhirnya Grace mulai meluapkan rasa kesalnya pada Suaminya yang jahil itu. Sejak menjadi Suaminya, dia merasa Arion semakin manja padanya. Senang sih, tapi dia juga merasa risih.
"Jangan begitu dong, sayang. Masa dikit - dikit kesal? Kamu kan Istriku, jadi aku ingin melakukan hal yang belum pernah aku lakukan bersamamu, sayang. Aku belum pernah memanjakan diri pada siapa pun selain padamu, Sayang. Suapin aku yah? Kalau gak, aku gak akan mau makan apapun kecuali kamu memasak untukku." Bujuk Ar pada Grace yang kelihatannya sudah terpancing emosi.
"Hmm.." Jawab Grace singkat tapi bisa membuat Arion merasa sangat senang. Karena Grace menyetujui permintaannya.
Mereka pun makan bersama. Grace mulai menyendokkan nasi ke mulutnya dan mulut Arion secara bergantian. Kalau disuruh memilih dari kedua hal tadi, sebenarnya Grace akan memilih untuk memasak. Dia belum pernah melakukan hal konyol seperti ini.
Tapi, karena kondisinya tidak memungkinkan, dia terpaksa harus menyuapi Suaminya yang manja itu. Untuk berjalan saja, sulit baginya. Arion lah yang menggendongnya dari kamar ke ruang makan. Sebenarnya dia malu dilihat oleh para pelayan yang ada di sekeliling mereka. Meskipun Arion sepertinya tidak peduli dengan hal semacam itu.
"Ar, apa Papa dan lainnya sudah kembali?" Tanya Grace yang sudah selesai dengan kegiatan makannya.
"Mereka berangkat besok pagi, sayang. Semuanya akan berangkat pada waktu yang sama. Begitu juga Kak Ichi, Bang Ricky dan teman - temanmu yang lainnya. Aku sudah meminta Steve dan Sam untuk mengatur semuanya." Jawab Arion sambil menyandarkan kepalanya di bahu Istrinya.
"Jadi, seharian ini mereka ngapain saja? Kenapa tidak ada seorang pun dari mereka yang menghubungiku?" Tanya Grace dengan penuh rasa penasaran.
"Mereka sudah menghubungimu berulang kali, sayang. Tapi kamunya saja yang tidurnya terlalu lelap. Jadi, aku yang menjawab panggilan dari mereka. Aku bilang, kamu masih butuh istirahat karena semalaman tidak bisa tidur." Jawab Ar dengan gamblangnya.
"Kita gak ke sana? Aku ingin bertemu dengan mereka, Ar." Tanya Grace.
"Kamu mau bertemu dengan mereka? Apakah kamu yakin?" Tanya Arion kembali sambil mengangkat kepalanya dari bahu Grace dan langsung menoleh padanya.
"Aku yakin, Ar." Jawab Grace dengan penuh semangat.
"Dengan keadaanmu yang seperti ini?" Tanya Ar lagi. Dan kali ini Grace terdiam tidak bisa menjawab apa pun lagi.
Dengan keadaannya yang seperti ini, dia tidak bisa kemana - mana. Yang adanya, nanti dia malah menjadi seseorang yang menyusahkan orang lain di sana.
Arion yang melihat Grace yang masih kesulitan berjalan pun langsung menghampiri Istrinya dan menggendongnya.
"Ar! Aku sudah bisa sendiri. Kamu jangan main gendong begitu dong. Kan aku jadi kaget." Teriak Grace sambil memukul bahu Arion dengan tangannya yang bebas.
"Aku tidak tega membiarkan Istriku yang sedang kesakitan untuk berjalan sendiri. Dan aku juga memiliki tujuan yang sama dengan mu, sayang. Aku ingin berduaan saja denganmu di dalam kamar." Senyuman yang dilemparkan Arion padanya membuat Grace merinding.
Dengan berat hati, dia membiarkan Arion membawanya ke dalam kamar. Dia pun mengambil sebuah novel yang terletak di lemari kecil yang berada tepat di sebelah tempat tidurnya.
Dengan santainya, Grace membaca satu per satu halaman novel tersebut. Tidak seperti Arion yang terus - menerus gelisah karena dia selalu merasa bergairah saat berada di dekat Grace. Apalagi sekarang posisinya mereka sedang berduaan di atas ranjang yang empuk. Dia berusaha untuk menghilangkan kegundahannya. Dia masuk ke kamar mandi dan mengguyurkan air dingin ke seluruh tubuhnya.
"Ar, besok mereka berangkat jam berapa?" Tanya Grace pada Arion yang baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan jubah mandinya.
"Sekitar jam 10 pagi, sayang. Kenapa? Aku pasti akan membawamu menemui mereka di Bandara. Jangan khawatir, sayang." Ucap Arion sambil menghampiri Grace dan duduk di tepi ranjang.
"Ya, kamu memang tau apa yang aku pikirkan. Jadi, kenapa kamu gak berpakaian dulu, baru ke sini?" Tanya Grace pada Arion yang sudah berada tepat di sebelahnya.
"Arion mendekatkan tubuhnya pada Grace dan berbisik, "Aku mau minta lagi, boleh ya sayang? Sekaaaliii saja."
Permintaan Arion yang mendadak itu membuatnya geram.
"Aku masih merasa sakit begini. Masa iya, harus melayani kamu lagi? Gak mau akh!" Dengan cueknya, Grace tidak menoleh sedikitpun pada Arion. Dia malas meladeni permintaan Arion yang tidak ada habisnya. Arion sungguh memiliki stamina yang kuat.
"Bukan sekarang, sayang. Tapi nanti." Arion menunjukkan senyum seringaiannya. Dia merasa akan tetap mendapatkan apa yang dia mau.
"Aku mau ke ruang kerja sebentar. Ada yang harus aku kerjakan di sana. Aku akan kembali secepatnya ya, sayang. Cup!" Lanjut Arion sambil mengecup bibir mungil Istrinya. Dia pun berjalan mengambil dan bertukar pakaian, lalu pergi begitu saja meninggalkan Grace di dalam kamar.
ARION POV
Aku mencoba menghubungi Steve menanyakan bagaimana perjalanan mereka di Taman Impian Jaya Ancol. Aku memang sengaja tidak memberitahukan Grace tentang hal ini, karena dia pasti akan menolak jika aku mengeluarkan banyak untuk melakukan hal seperti ini. Dan dia memang sedang butuh waktu lebih untuk beristirahat.
"Halo, Steve? Bagaimana dengan liburan kalian seharian ini di sana? Apakah menyenangkan?" Tanyaku pada Steve yang baru saja mengangkat teleponnya.
"Yang pastinya kami bersenang - senang di sini. Mereka semua ingin mengucapkan terima kasih padamu secara langsung, tapi aku bilang kalau kamu sedang sibuk dan besok kamu bersama dengan Grace pasti akan menemui mereka di Bandara. Akhirnya, tidak ada yang berniat untuk menghubungimu ataupun Grace hari ini. Padahal aku tau apa yang kalian lakukan seharian di rumah. Kamu jangan terlalu menyiksanya ya, Ar. Kasihan Grace, dia sangat kurus dan mungkin tidak memiliki tenaga ekstra untuk memuaskanmu. Hahahaha.."
Steve memang sangat suka meledekku. Tapi tebakannya tidak sepenuhnya benar. Dia masih dengan sombongnya menebak kegiatanku bersama dengan Grace.
"Kamu salah, Bro. Aku hanya melakukan pekerjaanku sebagai penerus Melv.Corp. dengan baik di Rumah. Kamu bisa mengeceknya melalui email yang kukirimkan padamu." Ucap Arion sambil memainkan bolpoin yang ada di jari tangan kanannya.
"Masa kamu bekerja seharian ini? Jangan bilang kalau kamu belum melakukanya dengan Istrimu sendiri?" Pertanyaan yang konyol, menurutku. Aku malas melanjutkan percakapan kami. Aku tidak mau menjawab pertanyaannya yang semakin membuatku risih.
"Selamat bersenang - senang, Steve. Titip salamku dan Grace pada mereka ya." Aku pun langsung mengakhiri panggilan itu secara sepihak.
Tiba - tiba aku menerima pesan dari email. Saat aku membuka emailku, ternyata itu adalah pesan dari Daddy. Dad memberikan sebuah informasi mengenai seseorang yang bernama Yoru. Sepertinya aku pernah mendengar nama ini. Tapi, aku masih tidak mengetahui siapa dan dimana aku pernah mengenalnya.
Hanya sedikit informasi mengenai dia. Namanya Yoru. Dia sedang mencari keberadaan keluarganya. Dia sudah berpisah dengan Pamannya yang merupakan satu - satunya kerabatnya yang sudah meninggal dunia dalam kecelakaan. Hanya sebatas itu saja.
Setelah membaca pesan itu, aku langsung menelepon Dad. Tidak butuh waktu lama, Dad menerima telepon dariku.
"Halo, Ar. Kamu sudah melihat berita yang Dad kirim padamu barusan melalui email?" Tanya Dad yang sepertinya penasaran dengan jawaban yang aku berikan.
"Iya, Dad. Aku sudah membacanya. Dan aku tidak mengerti maksud Dad mengirinkan info kecilnya padaku. Memangnya, dia siapa Dad?" Aku balik memberikan pertanyaan pada Dad.
"Dad masih belum bisa memberitahukannya padamu, Nak. Karena Dad masih ingin menyelidikinya lebih dalam lagi, sehingga Dad bisa memberikan kepastian pada kalian setelah Dad mengetahui kebenarannya. Dad ingini kamu membantu Dad mencaritahu tentang orang yang bernama Yoru itu." Dad memberikan penjelasan padaku sehingga aku mengerti maksud Dad mengirimkan email tersebut padaku.
"Baiklah, Dad. Aku akan menyuruh seseorang yang ahli untuk mencaritahu tentangnya. Aku tidak akan bertanya lebih lanjut lagi mengenai dia, jika memang belum waktunya aku mengetahuinya. Aku akan menunggu." Ucapku memberikan ketenangan pada Dad yang sepertinya sedang gelisah di sana.
"Kamu memang yang terbaik, Nak. Tapi ingat! Jangan beritahu siapa pun termasuk Mommy. Oke?" Pinta Dad padaku.
"Dad bisa mempercayakan hal tersebut padaku seutuhnya." Jawabku singkat tapi meyakinkan.
"Baiklah, Dad akan akhiri panggilan ini. Jangan bekerja terlalu keras, kasihan Istrimu." Setelah mengucapkan hal itu, Dad benar - benar mengakhiri panggilan itu secara sepihak.
'Apa maksud Daddy jangan bekerja terlalu keras, kasihan Istriku? Aku yang bekerja, kenapa yang dikasihani itu Istriku? Daddy memang aneh.' Pikiranku melayang sekilas menimang perkataan Dad yang mengganjal di telingaku.
Aku pun teringat dengan beberapa dokumen penting yang harus aku tanda tangani dan besok mau diserahkan pada Kepala bagian HRD. Dia membutuhkan dokumen ini secepat mungkin. Aku mulai memfokuskan diriku membaca dokumen itu dengan teliti.
Tidak terasa, waktu berlalu dengan cepat. Sekarang sudah pukul 10 malam dan pekerjaanku baru saja selesai. Aku pun kembali ke kamar. Aku melihat Grace yang masih setia membaca buku novelnya itu. Sepertinya, dia benar - benar suka membaca novel sampai dia tidak menyadari kedatanganku.
Aku naik ke atas ranjang dan menarik buku novelnya itu. Dia malah mengomeliku, "Ar! Kamu apaan sih? Lagi seru - serunya aku membaca, kamu main tarik aja."
Aku meletakkan buku itu dan mematikan lampu kamar. Semuanya gelap. Meskipun demikian, aku masih bisa mengetahui dengan pasti keberadaan Grace. Aku mendekatinya dan mendekapnya. "Aku akan menagihnya sekarang, sayang." Bisikku lembut tepat di telinganya.
Aku merasakan tubuhnya yang mulai menegang. Padahal kami sudah melakukannya sekita lima kali semalaman, tapi responnya masih saja seperti ini.
"Aku tidak akan menyiksamu lagi, sayang. Percayalah. Hanya sekali ini saja." Aku kembali berbisik padanya sebelum aku mencium bibir mungilnya. Aku sudah candu dengan rasa manis di bibirnya yang mungil ini.
Setelah beberapa menit, aku merasakan adanya respon positif darinya yang sedaritadi hanya diam tanpa mengucapkan sepatah katapun padaku. Tanpa basa - basi, aku mulai memfokuskan jari - jari tanganku untuk menyingkirkan pakaian yang menempel di tubuh kami berdua. Aku tau kalau saat ini aku sedikit egois. Tapi aku juga tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Maklum saja, ini pengalaman pertamaku melakukannya dan hal itu terasa begitu nikmat hingga membuatku seperti seorang pecandu. Akhirnya, kami pun melakukannya dan itu hanya sekali untuk malam ini sesuai dengan janjiku padanya.
Setelah menyelesaikan ronda malam itu, kami pun tertidur lelap. Aku memeluk tubuhnya dan menyelimuti tubuh kami hingga menutupi tiga per empat tubuh kami. Beberapa kali aku mencium puncak kepalanya dan membisikkan kata "I Love You." padanya. Aku akan terus melakukannya sebelum tidur, tidak peduli apakah dia mendengarnya atau tidak.
>>> Bersambung <<<
Sampai sini dulu ya..
Kita akan lanjut di next chap, jangan lupa beri like nya yaa, guys..
Salam Kasih untuk Yg Terkasih
~~ Love You All ~~
💞 💞 💞 💞 💞