THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
TPG2_151



"Kenapa harus sampai seperti itu, Bang? Kalau aku menyetujui form pemecatan ini, siapa lagi yang bisa diandalkan untuk mengelola Melv. Corp yang ada di sana, Bang? Apalagi Sekretaris handalan Daddy itu. Sepertinya Grace tidak bisa melakukannya, Bang."


Grace merasa dirinya tidak berdaya memutuskan hal yang berkaitan dengan ketenagakerjaan. Dia sudah berpikir keras untuk mengabaikannya, tapi dia juga harus mengetahui apa alasan Ricky mengirimkan form pendataan puluhan karyawan yang akan dipecat olehnya tiga hari lagi.


"Grace, Abang sudah mendiskusikannya dengan Daddy. Dad setuju dengan apa yang Abang katakan mengenai pemecatan besar - besaran ini. Abang juga sudah mulai membuat promosi lowongan pekerjaan di majalah dan koran - koran. Kalau kamu tidak percaya, silahkan tanyakan sendiri bagaimana keputusan Daddy." Ricky mulai memberikan Grace pilihan dalam mengambil keputusan.


Grace terdiam sejenak dan berpikir keras. Dia sedikit ragu untuk menelepon Mr. Melv yang sedang sibuk dengan kegiatan proyek barunya bersama dengan Papanya Lisya. Tapi, dia juga harus secepatnya mengambil keputusan.


"Grace?" panggil Ricky. Lawan bicaranya tidak bersuara sama sekali.


"Ahh iya, Bang. Grace tanya Daddy dulu ya? Nanti Grace kabari lagi," ucap Grace sambil menutup panggilan tersebut.


Grace memanggil Mr. Melv dengan menekan tombol 5 lebih lama.


Mr. Melv tidak mengangkat teleponnya. Hingga Grace mencoba dan mencoba lagi sampai 10 kali percobaan. Tapi, hasilnya nihil. Mr. Melv tetap tidak merespon panggilan darinya.


Grace pun beralih. Dia menelepon Mrs. Melv sebagai gantinya. Kemungkinan Mr. Melv ada di rumah dan tidak mengangkat ponselnya karena sedang istirahat.


"Halo, Grace? Ada apa Sayang?" tanya Mrs. Melv yang sudah menerima panggilan dari Grace.


"Mom, Dad ada di rumah? Ada yang ingin Grace tanyakan," ucap Grace sambil berjalan mondar - mandir di depan meja kerjanya.


Meskipun dia itu seorang perempuan, Grace tetap mampu menghandle semuanya dengan baik dan benar. Tapi kali ini, Grace merasa aneh dengan berkas yang dikirimkan oleh Ricky pagi ini. Lebih dari 50 orang masuk daftar yang akan dipecat oleh Ricky. Jadi, mau tidak mau, dia harus mendiskusikannya dengan Mr. Melv.


"Sayang, Dad tidak ada di rumah. hubungi langsung ke ponselnya saja, Sayang." Mrs. Melv menyadarkan lamunan Grace.


"Mom, Grace udah coba telepon Daddy. Tapi tidak ada respon sama sekali,"  jawab Grace dengan tergesa - gesa.


"Kamu kan bisa menghubugi Lisya, Nak. Coba saja. Kemungkinan ponselnya Daddy tinggal di mobil." Mrs. Melv memberikan solusi pada Grace.


"Baiklah, Mom. Grace akan langsung menghubungi Lisya. Makasih atas sarannya, Mom. See you, Mom" Grace langsung mengakhiri panggilan tersebut secara sepihak.


Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..


Ponsel Lisya berdering. Dia menatap sekilas layar ponselnya. Saat ini dia sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun, tak terkecuali Grace.


Lisya membiarkan ponselnya berdering hingga berhenti berdering dengan sendirinya. Pikirannya sedang kacau. beberapa hari tidak fokus kerja, sehingga dia memutuskan untuk mengambil cuti.


"Kenapa? Kenapa aku selalu memikirkannya? Padahal hatiku ini hanya untuk Ar. Arrghh!" erang Lisya dengan kesal pada dirinya sendiri.


Dia memang sedang dalam mode galau sejak hilangnya kabar dari Steve. Dia sudah terbiasa dengan kerusuhan yang diberikan Steve padanya.


Dengan keadaan kamar Apartemen yang berantakan, Lisya mampu membiarkan dirinya kacau di tempat yang kacau pula. Ya! Kekacauan itu terjadi oleh karenanya.


"Padahal sebentar lagi kita mengadakan upacara pernikahan. Tapi, kamu malah tidak ada kabar begini. Bagaimana dengan segala persiapannya? Apa aku harus memutuskan hubungan kita ini?" gumam Lisya dengan sendirinya.


Lisya merasa hampa tanpa keberadaan Steve. Dia menyadari keinginan hatinya yang ingin selalu berada dalam jangkauan Steve. Dia juga menyadari bahwasannya dia sudah jatuh hati pada Steve. Sampai - sampai foto Steve yang ada di ponselnya selalu dipandangi olehnya.


Hanya itulah foto Steve yang ada di galerinya. Tidak ada lagi yang lain. Foto yang satu - satunya dikirim oleh Steve dan dijadikan Steve sebagai latar belakang layar ponsel Lisya.


"Steve, kapan kamu pulang? Aku tidak mau tau! Kamu harus pulang dengan selamat!" geram Lisya sambil mengoceh pada layar ponselnya.


Tanpa disadarinya, air matanya menetes begitu saja membasahi pipi mulusnya hingga dia tertidur dalam tangisnya.


**********


"Bagaimana Grace? Apa kamu sudah menandatanganinya?" tanya Ricky pada Grace tepat di hadapan Steve.


"Dad tidak bisa dihubungi, Bang. Aku akan memikirkannya lagi," jawab Grace dengan ragu - ragu.


"Kenapa begitu lama? Aku butuh persetujuanmu secepatnya, Dek. Kamu jangan terlalu memikirkannya. Abang hanya ingin menyelamatkan perusahaan Melv. Corp yang ada di sini. Percayalah pada Abangmu ini, Grace." Ricky tidak henti - hentinya membujuk Grace.


Selama beberapa saat, tidak ada yang bersuara. Semuanya hening. Ricky memandang ke arah Steve dan Steve hanya bisa meresponnya dengan menggelengkan kepalanya sambil menaik - turunkan bahunya.


Grace menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan sambil berkata, "Baiklah, Bang. Aku akan mengikuti kemauanmu, Bang. Aku memilih untuk percaya padamu, Bang. Tapi ingat! Aku yang akan langsung turun tangan jika pemecatan secara besar - besaran ini membuat bisnis Melv. Corp terguncang di masa depan." Grace mengancam Ricky dengan nada sangarnya.


"Siap Bos!" jawab Ricky dengan lantangnya.


"Sebentar lagi, aku akan mengirimkan dokumen ini melalui FAX. Jangan sampai salinannya tercecer ya, Bang. Aku akan kembali bekerja. See you."


Panggilan itu pun berakhir. Steve pun bersorak kegirangan, "Yeay! Langkah pertama untuk menyingkirkan para penghianat itu sudah terpenuhi. Idemu sungguh cemerlang, Bang!"


Ricky hanya tersenyum tipis melihat beberapa Dokter memasuki ruang rawat inap Arion. Mereka segera mengambil posisinya masing - masing memeriksa bagian tubuh Ar.


"He is really strong, sir. He has a strong desire to stay alive," ucap seorang Dokter yang berkacamata pada Ricky dan Steve tanpa menolehkan pandangannya dari Ar.


(Dia sungguh kuat, Pak. Dia punya keinginan yang kuat untuk tetap hidup.)


(Itu benar, Pak. Keadaannya  semakin membaik sejak dia menggerakkan jari telunjuknya.)


"He should be able to hear our words, sir. Even though he is still unconscious," lanjut seorang Dokter lainnya yang masih merasakan denyut nadi Ar dari pergelangan tangannya.


(Seharusnya dia sudah bisa mendengar ucapan kita, Pak. Meskipun dia masih dalam keadaan tak sadarkan diri.)


"I'm sure he will wake up within the next three days." Dokter yang berkacamata memberikan asumsinya dengan penuh keyakinan setelah melihat keadaan Ar.


(Aku yakin, dia akan sadar dalam tiga hari berikutnya.)


"There are no more scars on his body, sir. The recovery process in him is truly amazing." Dokter berkulit hitam mulai membernarkan kancing pakaian tidur milik Ar setelah selesai dengan pemeriksaannya.


(Tidak ada lagi bekas luka pada tubuhnya, Pak. Proses pemulihan dalam dirinya sungguh menakjubkan.)


"Alright, you guys are doing well. I will monitor how the Ar is developing in three days. Hopefully your estimates are correct," ucap Ricky dengan penuh harap.


(Baiklah, kalian sudah bekerja dengan baik. Aku akan memantau bagaimana perkembangan Ar dalam tiga hari ini. Semoga saja perkiraan kalian itu benar adanya.)


Ketiga Dokter tersebut keluar dari ruangan tersebut secara bergantian setelah berpamitan dengan Ricky dan Steve.


"Sekarang Abang ingin mengatakan sesuatu padamu, Steve." Ricky mulai duduk di salah satu kursi yang ada di sebelah ranjang tempat Ar berbaring.


Steve pun duduk di sebelah Ricky sambil menatap Ricky dengan wajah serius. Riscky sengaja mengambil tempat paling dekat dengan Ar. Agar dia juga mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Ricky.


"Ini menyangkut keselamatan Grace," ucapan Ricky terhenti karena Steve menghela percakapan mereka dengan berkata, "Apa? Ada apa dengan Grace, Bang? Dia baik - baik saja kan? Bukannya tadi Abang baru saja meneleponnya?"


"Sssttt.. Dengarkan aku sampai selesai berbicara, Steve! Jangan disela!" bentak Ricky pada Steve yang sungguh menjengkelkan baginya.


"Baiklah, Bang. Silahkan dilanjutkan." Steve dengan pasrah mengikuti permintaan Ricky.


Ricky mulai bercerita dengan perlahan agar kata - katanya bisa dicerna oleh Ar. Meskipun hal ini belum tentu terjadi, apalagi dengan kondisi Ar yang belum sadarkan diri.


"Sebelum aku mengutus Ed ke Indonesia bersama dengan El, aku sudah mengajarkan beberapa permainan pada Ed. Tadi pagi, Ed berhasil menemukan sebuah CCTV yang disembunyikan oleh seseorang di sela - sela buku yang ada di rak buku saat Ed berada di ruang kerja Grace tanpa tuannya. Aku juga sudah meretas kinerja CCTV tersebut tanpa sepengetahuan pemiliknya. Hal ini akan membuat kita semakin mudah mencaritahu siapa - siapa saja kaki tangan dan dalangnya."


Saat Ricky selesai dengan semua yang ingin dikatakannya, Steve malah berterimakasih padanya sambil menggenggam kedua tangan Ricky.


"Bang, terima kasih banyak. Kamu memang pahlawan kami semua. Apa yang Abang lakukan, belum tentu bisa kami balas dengan setimpal."


Ricky yang merasa risih dengan gerakan tangan Steve pun bersuara dengan nyaringnya, "Aku melakukannya tidak ada hubungannya dengan imbalan. Aku melakukannya demi Adik kesayanganku. Kamu tidak perlu sampai seperti ini, Steve. Ini sangat menjijikkan!"


Steve pun melepaskan genggaman tangannya dan tersenyum manis. Dia tidak menyangka bahwa Bang Ricky bisa menunjukkan raut wajah menjijikkan seperti telah digoda oleh wanita liar.


"Baiklah, aku akan melakukan yang terbaik sebelum yang terburuk terjadi pada kalian semua." Ricky mulai beranjak dari tempat duduknya dan membalikkan badannya. Dia berjalan keluar ruangan tanpa berpamitan pada Steve.


Steve yang merasa gerah pun bangkit dari kursinya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh diri. Dia mandi sambil memikirkan siapa sebenarnya yang berani memasangkan CCTV di ruangan Arion tanpa sepengetahuan siapa pun.


Suasana sepi menyelimuti ruangan tempat Ar dirawat. Angin sepoi - sepoi berlalu lalang di dalam ruangan itu melalui celah jendela kamar yang sengaja dibuka sejak pagi tadi. Semua itu dirasakan oleh Ar. Dia mendengar semuanya dengan jelas. Tapi, mata dan mulutnya tidak mau melakukan hal yang ingin dia lakukan. Dia merasa khawatir pada Istri dan anaknya. Perasaan khawatir itu membuatnya berusaha lebih keras lagi untuk terbangun dari keadaannya saat ini.


"Kamu siapa?" teriak Ar pada seseorang yang berjalan mendekatinya dengan wajah yang ditutupi oleh cahay terang.


"Pergilah!" Orang tersebut kembali berteriak pada Ar.


Ar yang merasa heran pun kembali bertanya, 'Pergi? Aku harus pergi kemana? Di sini tidak ada apa - apa selain ruangan tanpa batas berwarna putih."


"Ikutilah kata hatimu. Dia yang akan menunjukkan arah yang benar padamu, Ar." Suara itu menghilang seiring menghilangnya orang yang ada di hadapan Ar tadi.


Ar merasakan sesuatu yang lain dari dalam dirinya. Dia mencoba untuk berkonsentrasi untuk mengikuti kata - kata seorang yang tidak dikenalnya itu.


Apakah Ar berhasil menemukan jalan pulangnya?


Apakah yang akan terjadi sleanjutnya?


Tunggu chap selanjutnya ya, Kakak2..


>> Bersambung <<<


Bagi yang ingin bincang - bincang dengan Author, join grup yag tertera di detail ya, guys..


Salam Kasih untuk Yg Terkasih


~~ Love You All ~~


IG : friska_1609