THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
TPG2_156



"Hey, Ar! Kamu sudah sadar?" tanya Steve yang sudah memasuki ruang rawat inapku.


Aku menatap tajam ke arah Steve dan sebelum aku berucap, Steve sudah menghentikanku dengan cepat.


"Eits, simpan pertanyaanmu yang bejibun itu untuk sementara waktu, Ar. Aku tidak ingin mendengar sepatah kata pun darimu. Kamu harus cepat pulih agar kita bisa pulang lebig awal dari perkiraan," perintah Steve dengan menyodorkan semangkuk bubur padaku.


Aku menerima mangkuk itu dan melahapnya dengan cepat. Setelah itu, aku meminum obat pemberian Dokter. Saat ini aku hanya bisa menatap Steve tanpa bersuara.


Aku ingin bertanya dan mengatakan banyak hal pada Steve. Tapi, kondisiku saat ini belum cukup stabil untuk mengucapkan semuanya. Aku begitu penasaran akan segalanya.


"Baiklah, setengah jam lagi, kamu harus tidur. Kamu harus tau, betapa khawatirnya aku padamu selama kamu dalam keadaan koma. Sekarang saatnya kamu beristirahat yang cukup," ucap Steve sambil duduk di kursi sebelahku tanpa dipersilahkan.


"Aku sudah mengurus semuanya. Dan kita dibantu oleh Bang Ricky dalam menangani semuanya. Keluarga kita tidak ada yang tau tentang kita. Bang Ricky mengamankan semuanya dengan mengatakan bahwa dia yang akan mencari keberadaan kita. Maka dari itu, aku mohon padamu, Ar. Kamu harus menurut. Kali ini saja. Jangan berbuat hal yang gegabah. Kita masih belum mengetahui siapa dalang dari semuanya," lanjut Steve.


"Baiklah. Aku ingin ke sana. Apa aku juga dilarang untuk buang air kecil?" tanyaku sambil menyunggingkan senyuman pada sahabat sekaligus dia yang sudah seperti seorang Kakak bagiku.


Dia pun dengan sigap membantuku untuk menuju ke toilet sambil berkata, "Kalau urusan seperti ini, tidak akan ada yang berani melarangmu, Ar."


Kami pun tertawa renyah bersama. Dia tetap peduli padaku, padahal aku selalu membuatnya kerepotan sendiri dalam segala kegiatan kami.


Kami melakukan kegiatan yang cukup membosankan setiap harinya di dalam ruangan ini. Aku tidak diperbolehkan untuk keluar dari kamar. Segala yang aku butuhkan, sudah dipersiapkan oleh Steve secara langsung.


Jujur saja, aku merasa bosan. Kami hanya bisa melakukan beberapa permainan untuk


"Apa aku belum bisa keluar dari Rumah Sakit ini?"


Aku tidak pernah melihat Bang Ricky mengunjungiku sekali pun selama tiga bulan ini. Hanya ada aku dan Steve. Dia juga mempersiapkan pakaian ganti untuk kami berdua. Ruangan ini juga cukup mewah untuk dikatakan sebagai ruang rawat inap.


"Aku sudah mendapat kabar dari Dokter, kamu sudah boleh keluar dari Rumah Sakit ini, Ar. Tapi kita harus menunggu Bang Ricky datang untuk menjemput kita. Dia ingin mengatakan banyak hal padamu," ucap Steve yang lagi-lagi berhasil membuatku penasaran.


"Baiklah, kita akan bersiap-siap. Aku ingin mengenakan pakaian formalku, Steve."


Secara spontan, aku memberikan perintah pada Steve. Dia langsung memberikan setelan jas berwarna abu-abu padaku. Aku pun memasuki kamar mandi untuk membasuh diri.


Sebenarnya, aku masih merasakan sakit di beberapa bagian tubuhku. Tapi, itu tidak ada apa-apanya jika aku sudah bertemu dengan keluargaku. Terutama Istri dan calon buah hatiku.


AUTHOR POV


"Sudah tiga bulan berlalu sejak kejadian itu. Grace dan Ed selamat dari kejaran para bandit yang memang menargetkan Grace sebagai korbannya. Untung saja Grace bisa melawan mereka dan kembali tepat waktu sebelum dia mengalami kesakitan pada bagian rahimnya," tutur Ricky pada kedua orang yang sedang duduk di depannya.


Arion menahan amarahnya. Dia tidak bisa melanggar kesepakatan mereka di awal. Arion dan Steve akan mendengar semua yang diucapkan oleh Ricky sampai dia memberikan kesempatan pada mereka untuk bertanya.


"Sampai sekarang, mereka menjadi targetku. Aku masih belum menemukan titik cerah mengenai siapa sebenarnya dalang dari semua ini. Beberapa anggotanya yang sudah ditangkap dan disiksa oleh anggotaku, malah mati dengan sendirinya," lanjut Ricky sambil sesekali menyeruput kopi yang ada di hadapannya.


Mereka sedang berada di ruang kerja Ricky yang ada di rumahnya. Ricky juga sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk keberangkatan mereka ke Indonesia. Tapi sebelumnya, dia harus menjelaskan semuanya pada kedua orang yang tidak mengetahui apa pun mengenai hal yang sudah disembunyikannya.


Ricky kembali bercerita, "Kandungan Grace memiliki sedikit masalah di bagian rahimnya. Kemungkinan besar, calon bayi kalian akan lahir prematur. Aku harap, kalian tidak mengungkit hal ini padanya sampai dia sendiri yang mengatakannya pada kalian. Tidak ada yang tau selain Istriku dan Ed di sana. Kalian paham maksudku kan?"


Arion dan Steve menganggukkan kepalanya dengan cepat. Mereka tidak menyangka akan mendapat kabar buruk seperti itu. Hal ini membuat tangan Arion bergetar menahan kekesalannya. Dia tidak menyangka, kalau kejadian yang menimpanya ikut menyeret keluarganya.


"Aku sudah memberi kabar pada mereka yang ada di Indonesia, bahwasannya aku sudah menemukan kalian dan akan membawa kalian pulang. Namun, belum ada dari mereka yang aku izinkan untuk memberitahukan kabar ini pada Grace. Karena aku takut itu akan mengganggu mentalnya," ucap Ricky penuh penekanan.


Arion tersenyum kecut mendengar perkataan Ricky. Dia merasa seperti seorang suami yang tidak berguna. Istrinya sedang hamil, tapi dia malah menghilang dan membuat Istrinya kewalahan dengan mengkhawatirkannya.


"Baiklah, Bang. Kita sudah bisa berangkat sekarang? Aku sungguh ingin bertemu dengan Grace," pinta Arion secara spontan.


Selama perjalanan, Ricky menceritakan kilas balik bagaimana dia menemukan Arion dan Steve. Setelahnya, dia ingin Arion melakukan sesuatu untuk memberikan kejutan pada Grace. Karena dia sudah janji pada Ed untuk bekerja sama dengannya memberikan kejutan pada Grace saat Arion pulang.


Arion mendengarkan dengan seksama. Steve juga mengingat setiap kata yang diucapkan oleh Ricky. Mereka banyak berbincang sebelum pada akhirnya memberitahukan pada yang lain mengenai rencana ini.


**********


"Grace, apa kamu tidak terlalu pagi untuk berangkat ke kantor?" tanya Mr. Melv. pada menantu kesayangannya.


Silvia mendekati Grace sembari berkata, "Kamu harus bersantai dalam beberapa bulan ini, Grace. Jangan memaksakan diri untuk bekerja. Kalau kamu tetap ngotot ingin bekerja, aku sarankan kamu bekerja di rumah saja. Nanti mereka mengirimkan laporan melalui email dan mengantarkan dokumen yang harus ditandatangani ke sini."


"Bagaimana menurut Dad and Mom?" tanya Silvia pada kedua orang tua mereka.


"Ide yang bagus, Sil. Kami akan senang jika Grace mau melakukannya," ucap Mrs. Melv. sembari menoleh ke arah Grace.


Grace berpikir sejenak dan langsung menjawab, "Baiklah, Grace akan tetap berada di rumah."


Elvina mendekati Grace sambil menggendong Ed. Dia ikut mendukung keputusan yang telah diputuskan oleh Grace. Ed yang digendongannya pun sudah dipindahkannya ke kursi.


"Itu lebih baik dari pada kamu terlalu aktif ke sana kemari," ucap Elvina dengan memamerkan senyuman manisnya pada Grace.


Grace mengangguk setuju pada permintaan semua orang. Saatnya dia menjaga kondisi tubuhnya yang sedang hamil besar.


Sudah setegah tahun berlalu sejak kepergian Ar yang belum juga ditemukan. Dia hanya bisa berdoa untuk keselamatan sang Suami.


Setelah selesai sarapan, Grace kembali ke kamarnya dan mengganti pakaiannya. Dia sudah sepakat untuk tetap tinggal di rumah. Mr. Melv. yang akan menghadiri kegiatan kantor yang membutuhkan seorang pimpinan seperti saat rapat atau pergi ke perjamuan makan malam bersama Client.


Usai berganti pakaian, Grace menghubungi Sam untuk mengatakan hal ini. Dia memang selalu mengandalkan Sam dan Yoru sebagai rekan kerjanya.


"Sam, mulai hari ini Kakak sudah tidak datang ke Kantor lagi ya. Kalau ada berkas yang penting dan harus ditandatangani, Kakak mau kamu langsung yang mengirimkannya ke sini. Jangan titip sama siapa pun juga, termasuk Yoru. Karena ..." ucapan Grace terputus, sebab Sam telah mengambil alih pembicaraan mereka.


"Lebih percaya padaku dibandingkan siapa pun juga. I know, I know. Sekarang Kakak bersantailah dulu, setelah aku selesai dengan ketikanku, aku akan mengirimkannya langsung padamu, Kak."


Panggilan tersebut pun berakhir begitu saja. Grace memang tidak lagi percaya pada siapa pun selain pada Adiknya sendiri. Inilah caranya agar tetap bisa bertahan dalam dunia bisnis.


"Aunty!" teriak Ed memanggil dirinya yang baru saja meletakkan ponselnya.


Grace menangkap Ed yang berlari ke arahnya dan mendudukkannya tepat di sebelahnya sambil bertanya, "Apa yang kamu bawa, Ed?"


Ed menyodorkan semangkuk kacang pada Grace. "Ini kacang almond, Aunty. Kita akan memakannya bersama-sama," ucap Ed dengan penuh senyuman.


"Of course, Ed." Grace pun melahap kacang pemberian Ed sambil menyuapkannya pada keponakannya itu.


Selama Ed berusaha menahan Grace di dalam kamarnya, semua orang mulai berbondong-bondong membicarakan tentang kedatangan Ricky yang akan tiba besok pagi. Mereka semua sudah sangat merindukan orang-orang yang akan datang bersama Ricky..


"Bagaimana? Besok pukul 5 pagi, mereka akan tiba. Kita harus melakukan semuanya tanpa membuat Grace terkejut dengan kedatangan Arion. Daddy tidak mau kalau Grace melakukan hal di luar nalar karena emosinya saat ini sering tidak stabil," tutur Mr. Melv. memberikan peringatan kecil pada semua orang.


"Iya, Dad. Kita juga sudah tau bagaimana kondisi kandungannya Grace. Mereka sudah begitu kuat bisa bertahan sampai sejauh ini," ucap Silvia sembari memakan buah melon yang sudah disediakan untuknya.


"Dad, Mommy punya sedikit rencana yang sekiranya menurut Mommy sangat sesuai jika dilakukan di pagi hari dan hal ini sangat aman bagi Grace dan kandungannya." Perkataan Mrs. Melv. membuat semua orang menoleh dan mulai memaasang telinga lebar-lebar.


"Coba Mom sebutkan. Apa yang El pikirkan sama dengan yang Mommy pikirkankah?" tanya Elvina yang sudah duduk di sebelah Silvia.


Akhirnya, dimulailah diskusi di antara mereka berempat. Apa yang akan terjadi besok pagi? Apakah semuanya akan aman-aman saja? Kita akan lanjut di bab berikutnya..


γ€€


>> Bersambung <<


IG : friska_1609


Author's noteΒ :


Maaf buat kalian semua pembaca setia TPG..


Dan terima kasih buat kalian semua yang masih setia menunggu kelanjutan kisah Grace dan Arion..


Love You All


😘😘😘