
"Eeegghhh.." Terdengar erangan kesakitan dari Grace. Dia sudah di cambuk beberapa kali, dia juga tidak di beri makan dan minum selama beberapa hari ini. Rasa sakit yang di berikan pada nya membuat nya tidak lagi merasakan lapar.
"Kamu sudah bangun ya? Kuat juga daya tahan tubuh mu itu. Padahal sudah ku siksa sampai beberapa kali pingsan. Masih saja terbangun."
Zesil mendekat dengan memegang sebuah cambuk panjang di tangan kanan nya. Dia mengelus pipi kanan dan kiri Grace. Dia membenci perempuan di hadapannya, tanpa sadar dia menamparnya tepat di pipi kanan nya menggunakan telapak tangan kirinya.
"Tidak sakit kan? Itu karena aku menggunakan tangan kiri ku."
"Phuuuiihh." Grace meludah tepat mengenai pipi kanan Zesil.
"Kau benar-benar kurang ajar!! Berani nya kau meludahi wajah ku?!! MATI SAJA KAU..!! DASAR J*LANG..!!"
Begitu emosinya Zesil pada Grace hingga dia mencambuk punggung Grace beberapa kali setelah dia mengelap air ludah yang menempel pada pipi nya tadi.
"Eeeggghhh.." Erangan kesakitan yang tidak bisa di tahan oleh Grace. Dia merasa lemah tak berdaya dengan posisi nya saat ini.
"Rasakan dan nikmatilah kesakitan yang teramat. Kau telah membuat ku merasa terhina untuk sesaat. Tapi, itu tidak akan ada bandingannya dengan yang kau rasakan saat ini. Kau akan menderita secara perlahan hingga benar-benar mati. Aku sangat menantikan kematianmu ini. Hahahahaha.."
'Aku tidak akan mati semudah itu, Zes. Kau lihat saja nanti. Siapa yang akan tersakiti di antara kita. Tuhan pasti akan menolongku. Tuhan selalu melindungiku kapan pun dan dimana pun aku berada.' Grace menyeringai melihat Zesil yang tertawa seperti orang gila -menurutnya-.
ADAM POV
"Halo, Steve. Ada apa bro? Tumben menelepon aku di waktu seperti ini. Padahal aku sudah mau tertidur sedikit lagi."
Ini memang masih pukul 10 malam. Tapi, aku benar-benar terheran melihat panggilan masuk yang tak lain dari seorang Steve. Sangat jarang bagi dia untuk menelepon ku di jam krisis seperti ini.
"Dam, sebenarnya ada apa dengan Grace? Arion terburu-buru ke Siantar tadi sore, sekarang dia sudah perjalanan ke Moscow. Kamu pasti tau sesuatu. Cepat beritahu padaku, Dam."
"Apa?!! Arion ke Moscow?!! Ngapain itu anak sampai ke sana?" Aku benar-benar kebingungan mendengar kabar seperti ini.
"Kamu tidak tau apa-apa tentang yang terjadi pada Grace? Feeling ku mengatakan bahwa Grace sedang mengalami masalah, sampai Arion nekat pergi ke Moskow hanya bersama dengan beberapa bodyguard." Ucap Steve dengan nada khawatir.
"Aku beneran tidak tau apa pun. Aku dan Silvia belum pernah menelepon Grace lagi sejak hari itu. Kami sangat sibuk. Kami kan juga sedang melakukan pemasaran untu Restoran kami ini."
"Nanti aku coba telepon Daddy atau Mommy. Aku akan tanyakan semuanya dengan jelas."
Aku berbicara panjang lebar begitu hanya untuk menenangkan dia. Tapi, dia memang terdengar sangat mengkhawatirkan Arion dan Grace. Aku pun menjadi cemas mendengar kabar ini dari nya.
"Oke, baiklah, Dam. Ingat kabari aku segera bagaimana situasinya." Steve mengingatkanku dengan penekanan pada setiap katanya.
"Baiklah, aku telepon mereka dulu ya, Bye."
Ku matikan panggilan itu dan langsung beralih memanggil ponsel Daddy.
"Halo, Adam. Ada apa menelepon jam segini?"
Aku tau dari cara bicaranya, Daddy sedang banyak pikiran. Nada bicaranya pun sangat mengganggu pendengaranku.
"Dad, jujur pada ku. Apa yang terjadi di sana? Ada apa dengan Grace? Kenapa Arion sampai pergi ke Moscow?" Tanya ku tanpa jeda pada Daddy.
"Apa?!! Moscow?!! Kamu tidak sedang bercanda kan, Dam..?" Keterkejutan Dad menjelaskan kalau dia tidak mengetahui tentang kepergian Arion.
"Iya, Dad. Memangnya apa yang terjadi? Katakanlah pada ku, Dad."
"Baiklah, sebenarnya, Grace sudah menghilang selama empat hari yang lalu hanya membawa undangan dan dompet nya saat mengantarkan undangan ke rumah Pak RT yang di simpang itu. Sebelum 24 jam, kami hanya bisa menunggunya pulang dan menanyakan ke beberapa tetangga. Keesokan harinya, kami melapor pada polisi. Mereka menyelidiki semuanya dengan lamban, tidak ada kabar sampai sekarang."
"Arion datang ke sini tanpa pemberitahuan, saat kami sedang membicarakan tentang penculikan itu, dia mendengar semuanya di balik pintu masuk. Kenapa Arion bisa pergi ke Moskow tiba-tiba? Apa Grace memang di culik dan di bawa ke sana? Bagaimana Arion tau keberadaan Grace? Padahal Grace tidak membawa ponselnya."
Dad menjelaskan semuanya pada ku. Aku juga heran, mengapa Arion bisa tau kalau Grace ada di Moscow?
"Dad, apa ada teman atau musuh dari pihak kita atau pihak Grace dari Rusia?" Aku mempertanyakan hal yang memamg harus diketahui pertama kali.
".........." Aku menunggu Daddy menanyakan hal yang sama pada orang-orang yang ada di sana. Aku menunggu mereka selesai berdiskusi.
"Gak ada, Dam. Pihak kita atau pun Grace, tidak memiliki teman atau musuh dari Rusia. Ini sangat tidak masuk akal. Tapi, kenyataannya, Grace memang di culik dan sekarang Arion pergi ke Moscow. Apa yang harus kita lakukan, Dam?"
Daddy kedengarannya sudah mulai frustasi dengan semuanya. Dia mulai kebingungan.
Baru saja aku teringat dengan seseorang, "Oh ya, Dad. Daddy ingat dengan Ricky kenalan Grace yang waktu itu datang beramai-ramai ke acara Martuppolnya Arion dan Grace?"
"Yaa, Daddy ingat. Kata nya, dia itu teman sekolah mu dulu kan?"
"Iya, Dad. Aku memang mengenalnya, meski pun kami tidak begitu dekat. Dia itu sebenarnya orang yang baik, Dad. Aku hanya tidak suka saat dia menyiksa orang yang menurutnya jahat dengan sadis. Makanya, selama ini aku menjaga jarak dengan nya."
"Kenapa kamu membicarakan tentang dia? Apa ini ada hubungannya dengan penculikan Grace?"
“Bukan Dad, menurut ku, saat ini hanya dia yang bisa menolong kita. Dia itu sebenarnya..."
"Dia itu siapa, Dam? Beritahu yang jelas."
"Dia itu pemimpin anggota Mafia Yardies yang terkenal di Inggris, Dad. Mereka berasal dari Jamaika yang saat ini kegiatan utama mereka berpusat di Inggris. Mereka itu sangat di kenal dengan kekejamannya, Dad. Daddy pasti pernah mendengar nya kan?"
"Iya, Daddy ingat sekarang. Selama Dad tinggal di London, tidak ada yang berani mengusik kelompok Yardies itu. Mereka juga sudah melebarkan sayap nya ke negara-negara lain nya. Kenapa dia bisa tinggal di Indonesia?"
"Nah, itu dia Dad. Adam juga tidak begitu mengerti kenapa dia bisa tinggal dan bersekolah di Indonesia. Setahuku, dia sempat mengalami beberapa konflik keluarga saat dia berusia 15 tahun. Maka nya dia dan Ibu nya lari ke Indonesia untuk bersembunyi. Sekarang dia sudah mengambil alih semua yang menjadi miliknya. Dia lah pemimpin kelompok Mafia yang paling di takuti hampir di seluruh belahan dunia itu."
“Jadi, bagaimana cara nya kita bisa membuat nya berpihak pada kita?”
“Aku akan mencoba untuk meminta tolong pada nya, Dad. Aku akan menceritakan semua nya pada nya.”
"Apa kamu bisa meminta bantuan dari nya? Dia mengenal Grace dan Daddy rasa dia pasti akan menolong nya, jika dia tau tentang hal ini."
"Baiklah, Dad. Aku akan coba menghubungi nya. Aku masih punya nomor lama nya yang ku dapat dari teman SMA ku. Semoga saja dia belum mengganti nomor telepon nya. Udahan dulu ya, Dad. Bye."
"Semoga saja ya, karena hanya dia harapan kita kali ini, Dam. Bye."
Panggilan pun terputus. Aku mencari nomor telepon dia. Ricky. Namanya masih tersimpan selama beberapa tahun di ponsel ku. Aku ragu, 'Apa yang harus aku katakan setelah menelepon dia?'
"Halo?" Terdengar suara samar dari seberang telepon.
"Halo? Ini siapa?!!"
"Ya, ha.. halo.. Ini aku Adam."
Aku merinding sejenak, karena tidak terdengar suara apa pun dari seberang sana selama 5 menit. Mungkin dia masih mengingat-ngingat tentang ku.
"Oh, Adam yang waktu itu di acara Martuppol nya Grace?"
"Iya, ini aku. Adam yang itu."
"Wah, aku senang sekali. Dari sekian lama aku mengenal mu, baru kali ini aku mendapat panggilan dari mu. Ada apa?"
"Aku mau minta tolong, Ric. Grace di culik oleh orang yang tidak diketahui dan Arion sedang perjalanan ke Moscow untuk menolong nya."
"Apa?!! Grace di culik?!! Bagaimana bisa?!! Kata mu tadi ke Moscow?!! Berarti Rusia kan?!! Tunggu sebentar."
Ku dengar dia berbicara dengan seseorang, lebih tepat nya berbisik. Karena aku tidak tau dengan jelas apa yang mereka bicara kan.
"Dam, tolong jelaskan semuanya padaku. Semuanya, tanpa terkecuali! Waktu mu hanya 5 menit!"
'What?!! 5 menit?!!' Ucapku dalam hati.
"Oke, baiklah. Asal kamu tidak menyela pembicaraan ku. Jadi..."
Aku pun menjelaskan pada nya sesuai yang ku dengar dari Daddy. Aku tau di sana dia begitu khawatir pada Grace.
'Sebenarnya, mereka sudah sedekat apa sih? Tumben banget seorang Ricky mengkhawatirkan seorang perempuan. Yang dia tau kan hanya berkelahi.'
"Nah, begitu cerita nya, Ric. Aku mohon, bantu lah kami menolong mereka berdua."
"Baiklah, aku akan pergi dan menolong mereka. Tapi, jika ku lihat si Arion itu tidak berguna sebagai lelaki, aku akan membawa Grace bersama ku. Aku tidak bisa menyerahkan Grace pada lelaki yang tidak berguna, karena tidak bisa menjaga nya!"
Begitu lah dia, emosinya meluap-luap tidak tentu. Dia memutuskan panggilan itu secara sepihak.
Aku tau, dia sedang melakukan sesuatu yang dapat menolong ke dua adik ipar ku itu. Hanya dia yang bisa menolong mereka.
‘Apa Ricky menyukai Grace seperti Jeff dan Cakra? Terdengar jelas kalau dia sangat mengkhawatirkan Grace. Dia juga mengancam ku, dia akan membawa Grace jika Arion membuat kesalahan di sana.’ Ucap ku membatin.
Dengan segera, aku mengirimkan pesan singkat pada Steve.
To Steve :
Grace di culik.
Arion mengejar nya ke Moscow.
Aku juga sudah meminta bantuan teman lama ku untuk menolong mereka.
"Ada apa, sayang? Kenapa kamu belum tidur juga?" Silvia terbangun dari tidur nya. Mungkin dia terganggu dengan suara ku yang sejak tadi bertelepon.
"Tidak apa-apa Sil. Yuk, lanjut tidur nya. Besok kita akan mulai sibuk lagi."
Akhirnya dia tertidur dalam pelukan ku. Aku bingung, 'Apa aku harus memberitahukan padanya tentang hal ini?'
AUTHOR POV
Setelah panggilan dari Adam di akhiri...
Cakra yang sudah lama muncul, tiba-tiba saja mendatangi rumah keluarga Victor. Dia masih tidak ingin pernikahan itu terjadi.
Rencananya, dia akan membawa Grace secara paksa untuk ikut dengan nya. Tapi, setiba nya dia sidana, dia malah mendapat kabar buruk mengenai penculikan yang di alami Grace.
Dengan cara kejam, dia memaksa Mr.Melv. untuk emmberitahukan keberadaan Arion. Dia ingin menemui Arion yang pastinya sedang mencarai keberadaan Grace.
"Dimana dia sekarang?!! Dimana anak ingusan itu?!!" Cakra menekan suara nya sehingga semua orang yang di rumah itu terkejut melihat tingkah nya.
"Dia sedang perjalanan ke Moscow. Kami tidak tau di mana tepat nya, tapi dia memang sedang pergi ke Moscow." Jawab Mr.Melv. dengan pasrah agar keributan tersebut dapat dihentikan.
Begitu mendengar kata Moscow, Cakra bangkit dan mengepal tangan kanan nya.
"Moscow?!! Grace di culik sama bandit gila itu?!! Aku yakin, pasti mereka!! Aku akan menemuinya!!"
“Kamu bilang bandit? Siapa mereka? Apa kamu yang menyuruh mereka membawa putri ku ke sana?”
Papa Grace mulai panik mendengar kata bandit dari mulut Cakra. Dia mulai berasumsi bahwa pelaku sesungguh nya adalah lelaki di hadapan nya ini.
“Tidak. Mana mungkin aku membuat seseorang yang ku cintai dalam bahaya. Aku memang punya kenalan orang Rusia. Menurutku, orang yang berani menculik Grace sampai di bawa ke Rusia, sudah pasti orang yang berpengaruh, terutama para bandit itu.”
Cakra langsung melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu. Tuan rumah sangat syok mendengar pernyataan yang di ucap oleh Cakra.
"Kita harus tenang. Karena Adam sudah berhasil membujuk teman nya untuk menolong anak kita." Mr.Melv. berusaha mencairkan suasana pelik di ruangan tersebut.
"Apa ini karma yang harus di terima oleh keluarga ku karena aku telah berbuat dosa di masa lalu ku? Grace anak yang baik, bagaimana bisa dia di culik oleh para bandit? Bagaimana keadaan nya saat ini? Seharusnya, aku saja yang di bawa, bukan putri ku."
Papa nya Grace menangis meratapi kelalaiannya sebagai seorang ayah. Dia tidak bisa berbuat apa pun saat ini, meski pun dia sangat ingin pergi ke sana untuk menolong putri sulung nya itu.
**********
Di satu sisi, Arion sudah hampir tiba di Bandar Udara Internasional Sheremetyevo yang terletak di kota Khimki, Rusia. Dia akan di sambut oleh beberapa kenalan nya di sana. Beberapa dari mereka membawa sekelompok tentara Rusia yang bersedia membantunya menolong Grace. Mereka akan ke lokasi itu disertai 5 tank tempur dan 2 jet tempur, hanya itu yang bisa mereka kerahkan untuk misi kali ini.
Di sisi lain, Ricky yang sudah mendapat lokasi pasti keberadaan Grace, langsung berangkat menggunakan helikopter pribadi nya. Dia membawa sekitar 8 jet tempur dan 5 helikopter berisikan para anggota Mafia yang sangat handal milik keluarga nya. Dia tidak akan tanggung-tanggung untuk membunuh siapa pun yang berani melukai Grace.
Dan yang terakhir, Cakra ternyata memiliki teman dari pihak kepolisian Rusia. Dia sudah berangkat ke Moskow sepulangnya dari rumah keluarga Viktor. Teman nya mengabari nya, bahwa mereka sudah mendapat lokasi penyekapan tersebut dan sudah bersiap membantu, karena ini menyangkut keselamatan nyawa seseorang.