THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
94



ARION POV


"Ar, aku tau kamu sudah bangun! Aku mau bangkit, lepaskan tanganmu ini!" Teriaknya padaku. Aku menganggapnya sebagai ucapan selamat pagi yang merdu.


Aku memeluknya semakin erat dan terus menghirup aroma tubuhnya dari lehernya yang mempesona ini. Aku memang tidak bisa lepas darinya, bagaimanapun keadaan yang kami hadapi.


"Iya, pergilah. Aku masih mau rebahan sebentar lagi." Ucapku sambil melepaskan pelukanku dan membalikkan tubuhku darinya, lalu menggulungkan tubuhku dengan dengan selimut.


"Baiklah, aku akan ke dapur setelah mencuci muka. Nanti akan aku panggilkan jika sarapannya sudah selesai dihidangkan."


Grace pun pergi begitu saja meninggalkanku. Padahal aku masih mau berduaan dengannya. Tapi, aku tidak boleh egois. Karena aku belum mengatakan yang sebenarnya tentang ingatanku yang sudah kembali.


Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..


'Menyebalkan sekali. Tidurku terganggu oleh orang yang menelepon. Arrgghhh..!'


Meskipun aku mengumpat keras dalam hati, aku tetap harus mengangkat panggilan dari ponselku.


"Halo?" Ucapku dengan suara yang lusuh. Aku masih mengantuk dan sedang tidak bersemangat.


"Halo, sayang. Kamu baru bangun tidur ya? Mommy sebentar lagi akan berangkat ke Indonesia. Nanti kamu jemput Mom ya? Wajib bareng Grace! Mom sangat merindukan dia."


Mommy membuatku terlihat seperti anak pungut. Dia lebih merindukan Grace dibandingkan Anaknya sendiri.


"Mom, Anak Mommy sebenarnya siapa? Kenapa Mom hanya merindukan Grace?" Tanyaku dengan nada kesal.


"Mom memang merindukanmu, sayang. Tapi Mom lebih merindukan calon Menantu Mom itu. Udahan dulu ya, Ar. Sudah waktunya Mom berangkat. Bye, Ar."


Sekejab mata, Panggilan itu terputus secara sepihak. Mommy memang seorang Ibu yang sangat baik. Aku tidak pernah menyangka, orangtuaku akan sangat mendukung hubungan kami. Padahal di novel seri romantis, rata - rata berisikan penolakan dari calon Mertua. Puji Syukur, aku tidak hidup dalam kisah yang mengerikan seperti itu. Meskipun Mom pernah membenci Grace karena kesalahpahaman.


Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Aku harus segera bangkit dan menemui Grace di bawah. Aku yakin kalau dia sudah menyelesaikan kegiatannya.


Aku pun langsung masuk ke dalam kamar mandi dan memulai kegiatanku di sana. Selesai mandi, aku melihat tempat tidurnya sudah rapi dan di atasnya tersedia setelah kemeja dan Jas untuk kupakai.


'Grace memang yang terbaik. Tidak salah aku sudah berjuang keras untuk mencintainya.'


Pikiranku melayang - layang seputar dirinya. Hal seperti inilah yang akan membuatku tersenyum bahagia setiap paginya setelah aku benar - benar menikah dengannya.


Tokk.. Tokk.. Tokk..


"Grace? Apa kamu sudah selesai mandi?" Aku bertanya padanya di balik pintu kamar tamu yang ditempatinya.


Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk membuatnya menjadi milikku seutuhnya, tapi aku juga tidak bisa egois seperti itu. Aku akan menghargainya sepenuh hatiku.


"Sebentar, Ar. Beri aku waktu 5 menit." Jawabnya singkat, tapi aku senang jika dia mulai merasa nyaman dengan keberadaanku setelah aku yang amnesia ini berulangkali membuatnya merasakan sakit.


Setelah beberapa saat menunggu, aku melihatnya berpakaian rapi dengan penampilan kasualnya. Meskipun dia mengenakan celana jeans dengan kaus oblong polos begitu, tidak mengurangi kadar kecantikannya. Semua pakaian yang ia kenakan serasa pas dengan dirinya yang semampai itu.


"Kamu mau kemana dengan berpenampilan seperti ini?" Tanyaku sambil meneliti pakaian yang ia kenakan.


"Aku mau jalan - jalan bersama Sam. Dia cuti hari ini. Sudah lama kami tidak menghabiskan waktu berdua. Sejak 2 tahun lalu." Ucapnya gamblang padaku.


Apa dia tidak tau kalau aku sedikit cemburu dengan kedekatannya mereka? Bagaimanapun juga Sam adalah seorang laki - laki.


"Ambillah ini. Pergunakan semuanya semaumu. Aku tidak ingin kalian tidak menikmati hari libur kalian."


Aku pun menyerahkan sebuah kartu berlogo MasterCard yang kumiliki. Aku harap Grace mau menggunakan kartu ini dengan leluasa.


"Aku tidak mau bergantung pada kartu - kartumu itu, Ar. Aku kan juga punya penghasilan sendiri dan itu tidak sekecil yang kamu pikirkan."


Ucapannya membuatku gemas. Dia memang berbeda dengan perempuan lainnya. Aku tidak menundanya lagi, langsung saja kubuka sling bag yang dipakainya dan memasukkan kartu itu padanya.


"Kartu ini unlimited. Jadi, kamu dan Sam bisa menggunakannya sepuasnya. Aku tidak akan meminta ganti rugi padamu, asalkan kamu mau membawa 2 bodyguard yang akan aku sediakan untuk menjagamu. Ingat, aku tidak terima penolakan."


Grace memasang wajah lucunya. Dia sangat menggemaskan di saat dia kesal ingin membantah tapi dia malah dalam posisi tak berdaya untuk melawan ucapanku seperti sekarang ini.


"Baiklah, tapi kamu harus mengatakan pada mereka, jangan terlihat olehku. Aku tidak mau orang - orang mengira aku seorang perempuan ganjen yang bepergian bersama dengan tiga lelaki sekaligus."


Dia mengomel penuh arti. Aku terkekeh geli mendengar penuturannya itu. Dia bisa berpikiran sampai titik dimana dia harus bisa menjaga jarak dengan lelaki lain selain Adiknya di luar sana.


"Baiklah, Grace. Aku akan mengurus mereka. Sekarang saatnya sarapan. Kamu masih mau untuk makan bersamaku, bukan?" Tanyaku dengan senyumanku yang menggoda.


Dia terlihat mengangguk dengan antusias. Kami pun makan bersama dan pergi menggunakan mobil yang berbeda. Aku menyuruh Supir Pribadiku untuk mengantarkannya sepanjang perjalanan


Sedangkan aku? Aku berangkat kerja bersama Steve. Kami akan pergi ke Rumah Adam pagi ini.


Aku ingin mereka membantuku melakukan sesuatu yang akan aku hadiahkan pada Grace. Aku tidak ingin semuanya berantakan hanya karena aku melupakan hal sekecil apa pun itu.


"Kamu beneran sudah mengingat semuanya, Ar? Kamu tidak membohongiku hanya karena ingin menghindar dari Lisya kan?" Tanya Steve dengan ekspresi curiganya padaku.


"Iya, aku sudah ingat semuanya secara detail. Tidak perlu meragukanku sampai sebegitunya laa.." Aku mengeluh menerima tatapan yang mencurigakan dari Steve dan Adam.


"Bagus dong. Kenapa kamu tidak memberitahukan Grace tentang ingatanmu yang sudah kembali itu? Apa yang ingin kamu lakukan lagi? Tidakkah cukup bagimu melihatnya menderita?" Tanya Kak Adam padaku.


Aku hanya bisa tersenyum tipis mendengar pertanyaannya itu. Aku tau kalau aku itu sudah keterlaluan selama ini. Aku juga tidak berniat untuk berlama - lama menutupi semuanya.


"Tidak, aku hanya ingin melakukan sesuatu untuknya. Untuk menebus segala perbuatan burukku padanya selama aku amnesia. Kalian mau membantuku, bukan?" Pertanyaanku mendapat jawaban positif dari mereka.


"Woahh..!! Kamu ingin melamarnya dengan romantis? Apa kamu ingin memberikannya kejutan yang tidak akan pernah dilupakan olehnya. Sungguh mengagumkan! Sejak kapan kamu bisa berpikiran seromantis ini, Ar?" Tanya Adam padaku. Aku diam sesaat sebelum Steve melanjutkan ucapan Adam.


"Apa karena kepalamu yang terbentur itu membuat otakmu menjadi berputar 180 derajat kah? Kamu masih normal, bukan?" Ejek Steve smbil meletakkan punggung tangannya ke arah keningku.


"Aku serius Kakak - Kakak. Aku butuh kalian semua untuk memberikannya kejutan di Wisma itu. Aku tidak ingin orang lain yang membantuku, aku hanya ingin orang - orang yang dekat dengan Grace yang membantuku untuk melamarnya nanti. Aku tidak ingin menundanya lagi. Aku ingin tepat di Hari Ulang Tahunku akan menjadi Hari pernikahanku juga. Kalian tau kan? Hari Ulang Tahunku tidak lama lagi." Ucapku sambil tersenyum penuh arti pada mereka.


"Gila bener nih Anak, Dam. Dia mau melangkahiku untuk menikah duluan. Bagaimana ini?" Steve mulai mengolok - olokku.


"Hei..! Apa salahnya kalau aku duluan menikah darimu? Apa kamu sudah berhasil dengan Dr.Lisya mu itu? Bukannya dia perempuan yang bisa membuatmu menggila beberapa hari ini?" Ejekku padanya.


Adam pun melebarkan bola matanya tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan dan dia berteriak seperti orang yang sedang histeris, "Apa..?!! Kamu sudah menemukan tambatan hatimu, Stev?!! Siapa dia, Bro?!! Kenapa tidak pernah memperkenalkannya padaku?!!"


"Kak Adam tau orangnya dan pernah bertemu dengannya." Jawabku singkat setelah melihat tingkah konyolnya itu.


"Aku pernah bertemu dengannya?!! Siapa dia, Ar?!! Dimana aku menemuinya?!!" Adam malah mendekatiku dan mencengkeram kedua bahuku sambil mengguncangkan tubuhku.


"Di Rumah Sakit, dimana aku dirawat terakhir kali. Dia yang mengurus segalanya yang berhubungan dengan penyakit amnesiaku, bahkan dia yang melakukan operasi pada otakku waktu itu."


Aku hanya bisa pasrah menjawab begitu pada Kak Adam yang sudah cukup tenang saat ini. Dia memegangi dagunya seolah sedang berpikir sambil berkata, "Aku ingat, dia Dokter cantik yang masih kalah cantikn0ya dari Silvia. Hahaha.."


Tawa renyah Adam mengisi keheningan ruangan Kantornya. Sekarang dia sedang berjalan mendekati Steve. Lalu dia menepuk pundak Steve sambil berkata, "Aku akan mendukungmu kali ini, Bro. Kamu harus bisa menaklukkannya dan membawanya ke hadapanku."


"Ehh, kok jadi aku yang dibahas nih? Bukannya kita di sini untuk membahas tentang rencana Ar untuk Grace?" Ucap Steve dengan nada kesalnya.


"Kita memang sedang memebhaas tentang mereka, tapi tentangmu juga sama pentingnya, Steve. Apa kamu bisa membocorkan sedikit hal mengenai Dr.cantikmu itu? Apa kalian sudah menjadi sepasang kekasih?" Kak Adam bertanya dengan penuh semangat. Akhirnya, Steve pun menyerah dan mulai bercerita sedikit tentangnya dan Dr.Lisya.


--- AUTHOR POV ---


Sejak saat itu, Steve mulai memberanikan diri untuk mengirim pesan hanya untuk sekadar basa - basi pada Lisya. Dia mendapat respon yang positif. Meskipun jawaban yang ia terima selalu singkat, ia sudah memiliki harapan untuk bisa masuk ke dalam kehidupan Lisya.


Saat Steve ikut dengan Mr.Melv. ke acara jumpa Client di hari itu, dimana dia disuruh secara mendadak untuk menemani Mr.Melv., ternyata dia juga bertemu dengan Lisya.


Lisya adalah anak dari seorang pengusaha baru yang ingin melebarkan sayapnya secara perlahan. Meskipun perusahaan yang dikelola oleh Ayahnya Lisya masih tergolong baru, tapi perusahaan itu tergolong berpotensi untuk berkembang menjadi besar. Lisya lah orang yang menangani proyek kerjasama antara Mr.Melv. dengan Mr.Jaya dan Steve juga diberi wewenang oleh Mr.Melv. untuk mengendalikan semua kegiatannya.


Mr.Melv. sudah mengetahui tentang perasaan Steve pada Lisya. Dia mengetahui semuanya tentang Ar, Steve dan Adam. Tidak ada yang bisa disembunyikan darinya. Dengan sengaja, dia mempercayakan semuanya pada Steve untuk bisa lebih dekat dengan keluarga Lisya.


Mr.Melv. tau benar kalau kedua Orangtua Lisya akan sulit untuk di dekati. Mereka selalu membanggakan Anaknya yang Dokter Spesialis itu dan selalu memandang rendah laki - laki yang mencoba untuk mendekati Anaknya. Hanya dengan cara ini, secara tidak langsung akan menumbuhkan rasa ketertarikan dari Mr.Jaya terhadap Steve untuk menimbang dengan matang hubungan mereka berdua.


Sejak saat itu, Steve mulai sering bertemu dengan Lisya saat jam Kantor maupun saat santai sepulang kerja. Mereka terlihat akrab, apalagi Lisya sepertinya sudah mulai menerima bahwa Ar bukanlah miliknya. Dia telah membiasakan diri dengan kehadiran Steve sebagai laki - laki yang perhatian terhadapnya.


"Sya, hari sabtu ini, kamu ada waktu? Aku ingin mengajakmu keluar sesekali. Bagaimana menurutmu, Sya?" Tanya Steve pada Lisya yang tengah menyantap hidangan makan siangnya.


"Boleh, tapi aku harus izin dulu sama Ayah. Ayah kan harus tau kalau aku pergi kemanapun. Memangnya kita mau kemana, Steve? Apalagi yang mau kita bahas?"


Lisya memang masih bekerja sebagai Dokter, tapi dia adalah tipe orang yang cekatan. Dia bisa meluangkan waktunya untuk membahas dan mengurus proyek Ayahnya.


"Baiklah, Sya. Aku akan menjemputmu dan secara langsung meminta izin pada Ayahmu. Apa aku juga perlu meminta izin pada Ibumu?" Tanya Steve sembari bercanda.


"Tidak perlu, Steve. Ibuku sudah meninggal dunia setelah aku dilahirkan. Cuma Ayah yang membesarkan aku dengan kasih sayangnya selama 25 tahun ini." Jawab Lisya dengan wajah tenangnya.


"Ohh, sorry, sorry. Aku tidak bermaksud untuk..." Perkataan Steve terputus karena Lisya sudah menyambungnya, "Tidak mengapa, itukan hanya masa lalu. Ayo dimakan. Nanti keburu dingin makanannya."


Steve mulai memahami bagaimana kehidupan Lisya selama 25 tahun tanpa kasih sayang seorang Ibu, karena dia juga merasakan hal yang sama sebelum dia bertemu dengan Arion.


Seperti inilah kegiatan mereka selama beberapa hari setelah tandatangan kontrak kedua belah pihak. Makan siang bersama adalah suatu cara yang pas untuk menyesuaikan waktu mereka yang bekerja. Saat - saat seperti ini yang membuat mereka semakin akrab dan saling mengenal satu dengan lainnya.


--- END ---


"Berarti besok kamu mau pergi berduaan dengan si dia dong? Ajak dia ke Rumahku saja, kenalkan dia padaku dan Silvia."


Kak Adam memang orang yang usil dengan kisah hidup orang - orang yang dikenalnya. Steve hanya bisa mengangguk pasrah sambil menaikkan kedua bahunya.


"Sssttt.. Sudahlah Kak. Sekarang mari kita fokus ke pembahasan awal. Aku ingin semuanya bisa terlaksana dengan baik saat di Wisma itu. Kak Adam kan punya nomor temannya Grace yang tomboy itu. Tolonglah Kak, bantu aku untuk meminta mereka ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Aku yang akan menanggung semua biaya transport mereka."


Aku memohon padanya agar bisa membantuku menghubungi semua teman dekat Grace sebagai salah satu kejutan yang akan aku berikan padanya. Kak Adam pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum aneh.


"Baiklah, apa rencana kita? Mari kita duduk dengan rapi di sofa ini. Kita akan membahas semuanya sekarang juga. Aku akan meminta Silvia untuk melakukan permintaanmu itu."


Kami pun duduk merapat di sofa yang ada di ruangan ini. Aku mulai menjelaskan semua rencana yang sudah aku pikirkan dengan matang, tahap demi tahapnya. Semua ini demi dia, perempuan yang aku cintai.


>>> Bersambung <<<


Sampai sini dulu ya..


Kita akan lanjut di eps selanjutnya..


Jangan lupa berikan supportnya untuk Author..


Thor tidak minta yang aneh - aneh, hanya like dari jempolnya..


Kalau komen, itu semuanya semaunya readers saja..


Salam Kasih untuk Yg Terkasih


Love You All