THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
TPG2_135



"Grace, apa pekerjaanmu sudah selesai? Sudah waktunya kita berangkat ke Tangerang. Ada meeting penting di tempat salah satu Client Melv.Corp." Ucap Kak Steve yang tiba - tiba saja muncul di hadapan dan duduk dengan santainya.


"Hah? Sejauh itukah?" Tanyaku dengan herannya.


Kak Steve hanya terlihat menganggukkan kepalanya dan mengedikkan kedua bahunya. Dia langsung melirik ke arah berkas yang sedang kupegang.


"Ini sudah hampir selesai, Kak. Kita mau ngapain di sana, Kak?" Tanyaku lagi padanya yang terlihat malas menjawab pertanyaan dariku.


Kak Steve berdiri dan berjalan ke arah sofa. Saat ini dia sudah terlihat duduk di sana. Dia hanya menjawab singkat, "Cepat selesaikan pekerjaanmu."


Aku mendengus kesal mendengarnya. Dia sungguh menyebalkan. Aku pun menyelesaikan pekerjaanku dan memanggil Sheilla untuk mengambil kembali dokumen yang sudah selesai kuperiksa.


Shei pun memasuki ruangan dan membawa pergi dokumen - dokumen itu. Dengan segera, aku mengambil tas bawaanku dan berjalan keluar ruangan mengikuti langkah Kak Steve.


Kami memasuki lift dan dia menekan tombol yang menuju ke parkiran. Aku mengikutinya sampai kami benar - benar berada dalam mobil. Dan mobil kami diikuti oleh mobil Bodyguardku.


"Wahh.. Kamu memang sungguh hebat, Grace. Bodyguardmu sampai mengikuti kita. Padahal ini perjalanan bisnis. Haha.." Ledek Kak Steve padaku sambil melihat ke arah kaca spion.


"Kak Steve.." Panggilku sambil melirikkan mataku ke arahnya dengan tajam.


Dia pun tertawa melihat raut wajahku yang tidak suka dengan tingkahnya. Dia memang jahil, tapi kupikir ini buka waktu yang tepat.


"Jadi, kita sebenarnya ada meeting apa dengan Client yang ada di Tangerang, Kak?" Tanyaku lagi dan lagi karena merasa penasaran.


Sedaritadi pertanyaanku diabaikannya. Dia sungguh menyebalkan. Aku tidak bisa jika terus - menerus dibuat penasaran seperti ini.


"Dia termasuk Client terbaik kita. Kali ini dia mau kita mengikuti meeting yang dia pimpim untuk pertama kalinya di perusahaan yang baru saja selesai dibangunnya. Aku sudah memberitahukannya mengenai dirimu sebagai orang yang mewakili Arion pada meeting kali ini. Dan dengan ramahnya, dia menerima keberadaanmu, Grace. Sekarang kamu tinggal duduk manis saja dan ikuti aku kemanapun aku pergi. Kamu tidak perlu melakukan apa  pun pada rapat tersebut." Tuturnya menjelaskan semuanya padaku dengan perlahan.


Sekarang aku sudah mengerti seberapa pentingnya meeting ini. Aku akan bersikap patuh pada Kak Steve. Dia lebih mengetahui seluk - beluk pertemuan seperti ini.


Aku pun menganggukkan kepalaku dan berkata, "Baiklah Kak, aku akan menurutimu. Aku akan mengingat semua yang Kakak katakan padaku."


Sesampainya di tempat tujuan, aku berdiri di sebelahnya dan berjalan mengikuti langkah kaki Kak Steve. Orang yang dimaksud oleh Kak Steve menyambut kami dengan ramah.


"Selamat datang di Bernarth Corp. Perkenalkan, nama saya Mike Bernarth. Saya sangat tersanjung, karena kalian sudah mau meluangkan waktu kalian untuk menghadiri meeting di sini." Sapanya sambil mengulurkan tangannya padaku juga pada Kak Steve.


Aku pun menyambut uluran tangannya dan balik menyapanya, "Perkenalkan juga, nama saya Grace Melviano. Saya mewakili Suami saya untuk menghadiri meeting yang penting ini. Mohon bantuannya Tuan."


"Ahh, tidak perlu sampai segan seperti itu, Mrs.Melv. Saya sudah tau sejak awal tentang hal ini." Ucapnya dengan cepat.


"Terimakasih, Tuan." Ucapku singkat.


Kak Steve langsung mendekati kami dan mengambil alih acara perkenalan kami yang cukup canggung. Mungkin dia sudah tau bahwa aku sudah bingung mau melakukan apa saat ini.


"Baiklah, Mike. Mari kita masuk ke dalam dan langsung menuju ke ruang meeting. Aku beritahu kamu satu hal penting yang harus diingat, Grace sedang hamil. Dia tidak boleh kelamaan berdiri. Kamu juga tidak perlu terlalu kaku begitu dengannya. Sepertinya ini bukan dirimu yang aku kenal, Mike."


Kak Steve terlihat sangat santai. Dia merangkul pundak Tuan Bernarth tanpa memperdulikan tatapan aneh dari orang - orang di sekitar kami. Aku hanya bisa mengikuti mereka dari belakang.


"Ya ampun, kenapa tidak bilang daritadi? Aku kan tidak tau kalau Mrs.Melv. sedang mengandung. Mari Mrs.Melv., kita langsung saja ke ruang meeting dan menunggu di sana." Ucap Tuan Bernarth padaku sambil menoleh ke arahku. Padahal tubuhnya sulit bergerak karena ulah Kak Steve yang jahil padanya.


Aku melihat mereka begitu akrab. Mungkin saja mereka adalah teman seangkatan saat sekolah atau kuliah dulu. Tuan Bernarth terlihat sangat cocok dengan Kak Steve.


**********


Meeting terlaksana dengan lancar. Pada akhirnya, kami berkummpul di sebuah Restoran yang berada di dekat daerah Bernarth Corp.


Mike mengajak kami untuk makan siang bersamanya. Dia begitu ramah dan senang bercanda. Kak Steve dan dia tidak berhenti tertawa sejak tadi.


"Jadi, apa aku boleh tau? Kenapa kalian terlihat begitu akrab? Apa kalian bersaudara?" Tanyaku dengan ragu di sela - sela tawa mereka berdua.


Kak Steve dan Mike menatapku dengan heran. Raut wajah mereka sangat kompak.


"Kami? Bersaudara?" Tanya Kak Steve.


"Itu mustahil Nona." Lanjut Mike.


"Terus? Kenapa kalian malah terlihat sangat kompak? Sama seperti saat ini, raut wajah kalian sama - sama kelihatan sangat menyebalkan?" Tanyaku lagi.


Dan kali ini, pecahlah tawa mereka. Aku sampai kaget mendengarnya.


"Apaan sih? Aku bertanya dan butuh jawaban! Bukan ngelawak." Ucapku dengan kesal.


Mereka terdiam dan menundukkan kepalanya. Aku merasa seperti seorang guru yang sedang memberi hukuman kepada Anak muridnya.


Sesekali kulihat mereka saling memandang satu sama lainnya. Berbisik dengan lembutnya hingga aku tidak mendengar apa yang mereka perbincangkan.


"Kami ini adalah teman. Hubunganku dengan Mike sama dengan hubunganku dengan Arion. Kami bertiga ini dekat sejak kuliah. Arion dan Mike seumuran, Grace." Kak Steve menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang dapat dimengerti.


"Oke, aku sudah paham bagaimana hubungan kalian. Tapi, adakah diantara kalian yang mendapat kabar dari Ar? Sejak kemarin, dia tidak ada memberikan kabar apapun setelah pergi. Seharusnya kan, dia memberitahukanku apakah dia sudah tiba di sana atau bagaimana keadaannya di sana. Apa dia sudah melupakanku?" Tanyaku panjang lebar pada kedua orang yang langsung menggaruk kepalanya.


Padahal aku tau kalau mereka tidak merasa gatal di bagian itu. Mereka hanya ragu untuk menjawab pertanyaanku.


"Sebenarnya, aku juga tidak mendapat kabar apapun darinya, Grace." Jawab Kak Steve dengan nada lembutnya.


"Aku juga tidak mengetahui apapun tentang kepergiannya." Jawab Mike yang masih terlihat kebingungan.


Aku menghela napas sesaat dan berkata, "Ya sudahlah, kalau tidak ada yang diberi kabar olehnya, itu berarti dia sedang sibuk."


"Pasti Ar sedang sibuk - sibuknya sampai dia tidak sempat untuk memegang ponselnya. Apalagi perusahaan yang di London itu kan perusahaan yang cukup besar di sana. Kita tunggu saja kabar baik darinya ya, Grace."


Aku tau, Kak Steve sedang berusaha membujukku. Dia seperti itu karena dia memang perhatian padaku. Mungkin Ar memang sedang sibuk. Dia sibuk.


"Sekarang saatnya pulang. Kami pamit pulang ya, Mike. Selamat karena meeting pertamanya berjalan lancar tadi. Kami masih ada tanggungjawab di Kantor. Terimakasih atas traktirannya, Mike." Ujar Kak Steve mengakhiri pertemuan kami sambil bersalaman dengan Mike.


Ya! Saat ini kami sudah ada di parkiran Restoran. Aku juga mengikuti cara Kak Steve, bersalaman dengan Mike dan berpamitan dengannya, "Selamat ya, Mike. Meetingnya tadi sangat lancar. Kami harus kembali ke Kantor sekarang juga. Terimakasih atas kebaikannya, Mike."


Mike tersenyum pada kami berdua. Dia melambaikan tangannya pada kami dan berjalan menuju ke mobilnya dengan segera. Kami yang sudah berada di dalam mobil pun hanya bisa saling terdiam.


Kak Steve mulai melajukan mobilnya sampai ke Kantor. Seitar 2 jam kemudian, aku kembali ke Mansion untuk membasuh diri dan berencana mengunjungi Sam setelah selesai makan malam di Mansion Utama.


"Kak! Aku ada kabar yang cukup mengerikan." Teriak Yoru yang menghampiriku tiba - tiba.


"Loh? Yoru? Bukannya kamu hari ini ada jadwal kuliah penuh, jadi tidak sempat ke Kantor?" Tanyaku yang heran melihat keberadaannya.


"Aku baru saja tiba, Kak. Kakak saja yang tidak mendengar aku sudah memanggil Kakak sejak tadi." Ucapnya dengan tergesa - gesa.


Aku teringat dengan ucapannya yang awal. Dia ingin mempunyai kabar yang mengerikan.


"Kabar apa yang kamu maksud dengan mengerikan?" Tanyaku sambil berjalan ke arah ruang tamu.


Yoru mendekatiku dan duduk di sebelahku. Dia menyerahkan padaku ponselnya dan menunjukkan sebuah artikel online yang tertera di layar ponselnya.


"CEO Muda Melv.Corp tertangkap basah tidur bersama dengan Sekretarisnya di kamar hotel?" Aku begitu syok membaca sepenggal kata yang tertulis tepat di bagian bawah foto pada artikel tersebut.


"Kak.." Panggil Yoru.


Aku mendengarnya, tapi aku masih bingung melihat artikel itu. Lalu aku bertanya padanya, "Kamu dapat info tentang artikel ini dari siapa?"


"Kak.. Saat aku sedang berada di kantin kampus, aku mendengar banyak teman - teman kampusku berbisik sambil menyebutkan nama Kak Arion. Makanya, aku meminta salah satu dari mereka untuk mengirimkan situs dari artikel ini. Aku hanya ingin menunjukkannya pada Kakak." Tuturnya menjelaskan semuanya padaku.


Jujur saja, aku sedikit terbakar api amarah karena melihat artikel ini. Tapi, aku percaya padanya. Suamiku bukan tipe lelaki yang mau melakukan hal seperti itu.


"Aku yakin, kalau ada sesuatu yang terjadi di sana. Kemungkinan besar Arion dijebak oleh perempuan itu." Ucapku tanpa berkedip sedikitpun melihat artikel itu.


"Lalu, apa yang akan Kakak lakukan jika mereka benar - benar tidur bersama? Bukannya mereka pasti sudah melakukannya, Kak?" Tanyanya padaku.


Aku menjadi bimbang.Di satu sisi, aku percaya pada Suamiku. Tapi, di sisi lainnya, aku mengiyakan perkataan Yoru.


Jika mereka benar - benar melakukannya, apa aku sanggup untuk menerima kenyataan seperti itu? Bagaimanapun, mereka itu sudah ada di dalam kamar Hotel.


"Sudahlah, Yoru. Jangan beritahu yang lainnya. Cukup kita berdua yang tau tentang artikel ini. Kakak akan menanyakannya langsung pada Arion jika dia menelepon. Kakak harus memastikannya sendiri. Kita tidak bisa seutuhnya percaya dengan artikel seperti ini." Ucapku dengan tegas.


Yoru pun tersenyum dan mengangguk pelan. Dia tau apa yang aku khawatirkan. Yoru memang seorang Adik yang pengertian.


"Sudah saatnya istirahat. Kakak mau kembali ke kamar duluan. Nanti panggil Kakak jika sudah waktunya makan malam ya, Yoru. Takutnya, Kakak ketiduran di kamar." Pintaku padanya.


"Siap, Kakak!" Jawabnya dengan sigap.


Aku senang dengan respon yang diberikannya. Aku jadi teringat dengan Sam. Aku akan ke Rumah sakit dan menginap di sana.


Aku langsung kembali ke kamarku dan langsung menuju ke kamar mandi. Selesai membasuh diri, aku duduk di depan meja rias.


Merenung..


Itulah yang kulakukan saat ini. Terkadang aku berpikir, apakah aku sudah tidak menarik lagi? Sampai - sampai Ar bisa kepergok media massa berduaan dengan perempuan lainnya?


"Akh, sudahlah. Jangan berpikiran yang aneh - aneh. Apa aku coba hubungi dia saja ya?" Ucapku pada diriku sendiri.


Aku mengambil ponselku yang terletak di atas meja, lalu mencari nomor Ar dan menghubunginya.


"Maaf, nomor yang Anda tuju sedang sibuk." Begitulah yang kudengar saat panggilan itu terhubung.


"Mungkin saja, dia memang sedang sibuk." Ucapku meyakinkan diriku.


Akhirnya, aku membaringkan tubuhku di atas tempat tidur dan tertidur pulas. Tidak berpa lama, Yoru memanggilku untuk makan malam bersama. Setelah selesai makan, aku pun bertanya pada semua orang mengenai Ar.


"Dad, Apa Ar ada menghubungi Daddy? Atau yang lain? Apa kalian mendapat kabar tentang Ar?" Tanyaku dengan penasaran.


Satu per satu dari mereka menggelengkan kepalanya secara perlahan. Aku pun menundukkan kepalaku dan terdiam sesaat.


"Ar belum ada mengabarimu, Sayang?" Tanya Mom padaku sambil mengelus pundakku.


Saat ini, aku menjadi pusat perhatian. Semua pasang mata tertuju padaku.


"Belum, Mom." Jawabku singkat.


"Baiklah, Dad akan menelepon Manajer yang bertanggungjawab di London. Kita akan tau bagaimana keadaannya di sana tanpa terkecuali." Ucap Dad dengan tegas sambil menempelkan layar ponselnya di daun telinganya.


"Hello, can I help you, sir?" Terdengar suara seorang lelaki paruh baya dari seberang telepon.


(Halo, ada yang bisa saya bantu, Tuan?)


Dad sengaja mengeraskan suara dari ponselnya, agar kami semua bia mendengar apa yang dikatakan sang Manajer mengenai Ar.


"Will my son, Arion, come to work today?" Tanya Dad padanya. Dia pasti sudah tau siapa yang dimaksud oleh Dad.


(Apakah Anak saya, Arion, masuk kerja hari ini?)


"Yes, sir. Your son has come to work today. But, he is meeting with clients out there negotiating the distribution of funds for building materials that were damaged when the robbery occurred." Tuturnya dengan sangat jelas.


(Iya, Pak. Anak Bapak ada masuk kerja pada hari ini. Tapi, dia sedang bertemu dengan klien di luar sana merundingkan penyaluran dana untuk bahan bangunan yang sudah rusak saat perampokan terjadi.)


"Thanks for your information. I will contact him directly." Ucap Dad sambil mengakhiri panggilan teleponnya.


(Terimakasih atas informasinya. Saya akan langsung menghubunginya.)


"Bagaimana? Sudah aman pikiranmu, Sayang?" Tanya Mom yang masih saja mengelus pundakku.


Aku mengangguk pelan dan menjawab, "Iya, Mom. Sudah aman. Oh iya, Mom. Aku mau ke Rumah Sakit menemui Sam dan menginap di sana malam ini. Besok pagi, aku akan berangkat ke Kantor langsung dari sana."


"Kenapa harus menginap di sana Grace? Apa tidak cukup bagimu memberikan seorang Bodyguard untuk menemaninya?" Tanya Mom dengan raut wajah serius padaku.


"Aku hanya ingin merawatnya dengan tangan sendiri, Mom. Aku tidak bisa melepaskan begitu saja tanggungjawabku sebagai seorang Kakak pada Sam, Mom." Jawabanku mendapat anggukan dari Mom dan juga Dad.


Aku pun bersiap dan pergi ke Rumah Sakit bersama dengan keempat Bodyguardku. Setibanya di ruang rawat inap Sam, aku langsung menghampirinya dan duduk di kursi yang ada di samping ranjangnya.


"Sam.." Sapaku padanya.


Wajahnya terlihat lebih segar dibandingnya semalam. Dia sangat serius menonton acara televisi yang disuguhkan.


"Sam?" Panggilku sekali lagi.


"Ahh, iya Kak. Kakak sudah sampai? Kapan datangnya, Kak?" Tanyanya dengan polosnya.


Aku menyunggingkan senyum dan berkata, "Kamu itu ya.. Tidak pernah peduli dengan sekitar jika kamu sudah serius menonton. Kangan biasakan hal itu, Sam. Kamu bisa dirampok dengan mudah, jika kamu selalu seperti itu." Ujarku menasihatinya.


Dia selalu seperti itu. Terlalu serius jika sedang menonton televisi. Apalagi acara kesukaannya.


"Sam, ini Kakak bawakan roti manis untukmu." Aku pun memberikan sekantung plastik roti manis berbagai bentuk padanya.


"Wahh, makasih banyak, Kak. Kakak paling tau apa yang aku inginkan," ucapnya sambil melahap salah satu roti manis yang aku berikan padanya.


Aku berencana untuk memberitahukan masalah artikel itu pada Sam, tapi dia masih belum sehat total. Aku takut reaksinya akan berlebihan seperti biasanya.


Biarlah, aku memendamnya sendiri. Aku tidak mungkin mengganggu proses kesembuhan Adikku hanya dengan berita yang belum pasti kebenarannya.


Kenapa aku jadi kepikiran terus? Apa ini yang dikatakan dengan "Cemburu"..??


 


 


 


 


>>> Bersambung <<<


Sampai sini dulu ya..


Kita akan lanjut di next chap, Ingat untuk selalu beri like nya yaa, Kakak2..


Terimakasih bagi yang sudah support Author selama ini..


Salam Kasih untuk Yg Terkasih


~~ Love You All ~~