THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
86



ARION POV


"Hai, Grace. Bagaimana kabarmu hari ini?" Sapaku padanya yang sedang duduk termenung di atas ranjangnya sendirian. Saat ini dia memang sedang sendirian. Yang lain sudah pada pulang ke rumah.


"Ehh, ternyata kamu sudah datang. Aku sudah merasa jauh lebih baik kok. Aku sudah bisa pulang kan? Aku gak mau berlama - lama di sini, Ar." Pinta Grace padaku dengan wajah sendunya.


"Kalau kamu mau pulang, kamu harus tinggal di Mansion selama aku belum mengizinkanmu kembali ke Rumahmu, bagaimana?" Ucapku dengan nada serius.


"Ta.. Tapi.. Aku rindu Rumahku. Aku mau pulang ke sana." Wajah Grace kini semakin sendu, sangat terlihat bahwa dia merindukan suasana dimana dia dan aku pertama kali ke sana dan berbincang bersama di Rumah itu terakhir kalinya.


"Kalau begitu, kamu di sini saja selama mungkin. Aku sudah berbaik hati ingin membantumu keluar dari Rumah sakit ini malahan kamu tolak mentah -mentah." Aku pun balik badan dan berencana untuk duduk di sofa yang berlawanan arah dengan ranjang pasien.


Grace kelihatannya mulai kebingungan. Aku sebenarnya tidak tega melihat dia yang berwajah sendu seperti itu. Jadi, aku langsung mendekati dan memeluknya.


"Sudah, jangan pasang wajah jelek begitu, aku kan jadi merasa bersalah. Kamu mau pulang kan? Akan aku antar. Tapi, tidak sekarang. Kamu itu dengan keadaanmu yang seperti ini, masih harus ada yang merawat. Kamu tidak boleh tinggal sendirian untuk sementara. Kamu mau diganggu oleh Agung lagi? Dia masih mencari keberadaanmu sampai sekarang." Aku mengingatkannya mengenai Agung. Sebenarnya, aku benar - benar ingin menghajar Agung dengan tanganku sendiri. Dia sudah membuatku salah paham dengan Grace.


Grace pun menganggukkan kepalanya, "Baiklah, aku akan menurutimu. Aku memang tidak mau menemuinya lagi. Dia itu lelaki mesum! Aku membencinya!"


Tubuh Grace bergetar hebat. Akhirnya, dia menumpahkan kekesalannya dengan menangis sejadi - jadinya dalam dekapanku. Pelukannya semakin erat padaku.


Aku tidak terima melihat Grace disakiti oleh orang lain. Aku harus membalasnya! Akan kutemui dia malam ini juga! Lihat saja nanti!


Aku menciumi puncak kepalanya berkali - kali. Tubuhnya yang bergetar pun mulai terasa lebih tenang. Aku mengelus punggungnya. Dia sangat nyaman berada dalam pelukanku. Sampai - sampai dia tertidur begitu saja dengan posisi kami seperti ini.


Aku pun langsung membaringkannya dengan lembut. Dia pasti lelah karena menangis.


'Apa yang diperbuatnya hingga Grace menjadi seperti ini?' Hanya itu yang aku pikirkan saat ini.


Teringatnya, aku berencana untuk menghubungi Agung. Aku ingin menyelesaikan permasalahan ini secara gentle dengannya. Dia harus tau apa yang akan diperolehnya karena sudah mengganggu orang yang kucintai.


"Gung, kamu dimana sekarang?" Tanyaku padanya yang barh saja mengangkat telepon dariku. Aku harus tetap tenang.


"Aku ada di klub milikku. Kamu tau kan? Ada perlu apa, Ar?" Tanyanya padaku dengan santainya.


"Aku ingin menemuimu. Tunggu aku." Ucapku dengan penuh ketegasan.


"Ya, aku akan menunggumu di kantorku." Ucapnya dengan suara seraknya.


Ku akhiri panggilan telepon darinya dan berjalan mendekati Grace. Aku mencium keningnya dan mengucapkan "Love you" dengan bisikan yang selembut sutra.


Sepertinya, aku merindukan perlakuanku padanya yang seperti ini. Mungkin saja, dulu aku sering melakukan hal ini padanya.


Setelah memperbaiki selimut yang dipakai Grace, aku langsung bergegas ke klub milik Agung. Tidak lupa, aku menghubungi tiga orang bodyguard untuk menjaga pintu depan ruang rawat inap Grace. Aku akan kembali setelah urusanku selesai dengannya.


"Hai, Bro. Tumben sekali kamu mencariku di jam seperti ini. Apa kamu tidak sibuk?" Tanya Agung padaku dengan santainya.


BUGH..!!


Kulayangkan tinjuanku padanya. Aku benar - benar muak dengan sikapnya yang sok alim di depanku. Padahal di belakangku, dia berniat merebut Grace dariku.


"Hei..!! Kenapa kamu memukulku? Ada apa ini sebenarnya?!! Apa salahku padamu?!!" Teriaknya padaku. Aku sudah tidak peduli lagi padanya.


BUGH..!! BUGH..!! BUGH..!!


Saat dia mendekat padakuĀ  aku kembali memukulnya. Tinjuanku mengarah pada bagian wajah nya tepat di pipi kanan, pipi kiri dan bagian dagunya.


"APA MAKSUDMU?!! KENAPA KAMU MEMUKULKU TANPA SEBAB?!!" Teriaknya padaku. Dia sudah mulai terpancing emosi.


"Kamu sudah berani menggangguku! Mengganggu kehidupanku!" Aku membentaknya. Aku menyalurkan amarahku padanya.


"Oh! Jadi, kamu sudah tau semuanya? Baguslah! Dengan begitu, aku tidak perlu repot - repot untuk berpura - pura di hadapanmu lagi." Dia memasnag wajah sinisnya padaku.


Aku hanya bisa mengepalkan kedua tanganku dan bertanya, "Apa maksudmu? Selama ini kamu hanya berpura - pura? Begitukah?"


"Ya! Aku membencimu! Aku benci semuanya yang ada padamu! Sejak kamu berdiri di Dunia Modelling, semua penggemar aku sebanyak 3/5 % berkurang. Dan sekarang? Perempuan yang sangat aku inginkan juga berada di dekatmu! Sebelumnya, aku hanya ingin mencaritahu siapa tunangannya. Tapi, setelah aku melihat dia yang peduli padamu, aku jadi mengubah sasaranku untuk sementara. Sudah? Sudah puas dengan jawaban yang kuberikan?" Wajah sinisnya semakin jelas terlihat dari senyuman palsunya itu.


"Kamu benar. Kamu tidak salah sasaran sejak awal." Ucapku singkat padanya. Aku melihat wajahnya yang terkejut karena mendengar ucapanku yang singkat itu.


"Apa maksudmu?!! Apa kamu mau bilang kalau kamu adalah tunangannya yang selama ini aku incar?!!" Emosinya sudah mulai meledak lagi dan lagi.


Aku hanya tersenyum melihat reaksinya. Aku menikmati setiap ekspresi yang dipancarkan oleh wajahnya itu.


"Ya, akulah tunangan Grace selama 2 tahun lebih." Perkataanku membuatnya syok. Dia memelototiku dan mengepalkan kedua tangannya padaku.


"Karena kamu menyelip di antara aku dan dia, aku jadi tidak memiliki kesempatan yang banyak untuk menghabiskan waktuku dengannya. Tidak boleh ada seorangpun yang memisahkanku dengannya, kamu harus mati!" Ucap Agung dengan mengambil sebuah pisau yang terletak di atas meja yang ada di dekatnya.


Aku yang melihat itu, langsung menangkap tangannya yang dilayangkan ke arahku.


"Kamu mau main pisau di sini? Aku tidak takut! Aku ini lebih mampu dari yang kamu bayangkan!" Ku putarkan tangannya dan mencampakkan pisau itu sejauh mungkin dari kami.


"AARRGGHHH..!!" Dia pun meringis kesakitan. Tangannya sudah terkelir hanya dengan sekali putaran dariku.


"Ini peringatan terakhir untukmu! Jika sekali lagi kamu berani untuk mengganggu tunanganku lagi, kamu akan tau akibatnya! Ingat! Jangan pernah bermain - main dengan percikan api, karena percikan api itu juga yang akan membakarmu!" Ancamku padanya sambil menendang perutnya denga lututku sekuat mungkin.


"SHIT..!!" Teriaknya karna kesal padaku.


Dia sudah lemas dan mulutnya mengeluarkan cairan kental berwarna merah. Tidak ada yang melerai kami, karena kami hanya berdua di dalam ruang kerjanya.


Aku keluar dari ruangannya dan tidak ada niat sedikitpun untuk melihatnya lagi. Aku tidak akan pernah menganggapnya ada. Dia sudah membuatku memasukkannya ke dalam daftar hitam di ingatanku.


Secara perlahan, aku mengingat sedikit demi sedikit kenanganku dengannya. Aku memang tidak bisa memaksakan ingatanku untuk mengingatnya dengan jelas. Tapi aku masih bisa dengan santai ingat begitu saja potongan - potongan kenanganku dengannya.


Sesampainya di ruang rawat inap Grace, aku melihatnya masih tertidur pulas dengan gaya tidurnya yang aneh itu. Perasaanku, aku menyelimutinya hanya setinggi dada. Tapi sekarang? Selimut itu sudah sampai menutupi kepalanya. Dia memang punya kebiasaan yang cukup aneh menurutku.


Sebelum mendekatinya, aku mandi terlebih dahulu hanya untuk membersihkan diriku dari aroma keringat dan darah bekas perkelahian di Klub tadi.


'Grace, aku akan berusaha untuk mengingatmu dan kenangan kita selama beberapa tahun ini. Aku tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi. Meskipun aku lupa ingatan, perasaanku tetap tertuju padamu. Itu membuktikan kalau hanya kamu satu - satunya bagiku. Maafkan aku karena aku telah menyakitimu selama ini. Aku menyesal dengan tindakan kasarku padamu sejak awal aku bertemu denganmu di saat aku mengalami amnesia.' Aku mengucapkan semuanya di dalam hati.


Semuanya hanya tersimpan dalam hati, karena aku masih belum bisa mnegungkapkannya secara langsung pada saat ini. Tunggu sampai ingatanku benar - benar pulih kembali, aku akan menebus semua kesalahanku padanya.


Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..


Ponselku berdering, ada panggilan dari.. Papa?


'Siapa Papa?' Aku bingung, harus menjawabnya atau tidak. Aku tidak tau harus bagaimana hingga panggilan itu redup dengan sendirinya.


Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..


Ponselku berdering lagi. Pusing aku memikirkannya. Akhirnya aku mengangkat panggilan itu.


"Halo, Nak Ar. Papa tadi sudah menelepon Daddy mu. Papa mau menanyakan kabar Grace, Anak Papa. Tapi, Daddy mu bilang kalau kamu yang menjaganya sekarang. Bagaimana keadaannya sekarang, Ar? Grace baik - baik saja bukan?" Dia ternyata Papanya Grace, yang mengkhawatirkan keadaan Anaknya.


"Pa, Grace baik - baik saja. Tidak ada masalah dengan kesehatannya. Besok aku akan membawanya pulang ke Mansion. Banyak yang akan merawatnya di Mansion, Pa. Jadi, jangan terlalu khawatir. Ar akan menjaganya dan dia akan cuti beberapa hari dari pekerjaannya sampai kesehatannya benar - benar pulih.


"Baiklah, kamu jaga dia baik - baik ya, Ar. Papa percayakan dia padamu. Jangan sampai kamu membuatnya bersedih, nanti Papa yang akan bertindak padamu." Papa mengancamku dengan perkataannya. Aku masih sedikit awkward dengan perbincangan kami.


"Iya, Pa. Ar tidak akan menyia - nyiakan kesepatan yang Papa berikan pada Ar. Ar akan menjaganya dengan baik." Ucapku dengan antusias.


"Baguslah kalau begitu. Sudah dulu ya, Ar. Papa hanya ingin mengetahui keadaan Grace saja." Papa pun mengakhiri panggilannya sebelum aku sempat menjawabnya.


Aku baru tau kalau ternyata aku cukup dekat dengan keluarganya. Tapi seingatku, Daddy bilang kalau Grace itu dari London. Data dirinya di perusahaan juga menyatakan bahwasannya dia memang berasal dari London. Tapi, kenapa Papanya begitu lancar berbahasa Indonesia? Apa Daddy berbohong? Kenapa harus berbohong sampai data dirinya Grace pun diubah begitu saja di perusahaan. Pasti semua itu dilakukan Dad dengan alasan yang tidak bisa diganggu gugat.


Aku berniat bertanya pada Dad, tapi aku masih belum siap untuk alasan yang bisa membuatku terpojok. Aku tidak suka dengan hal - hal yang tidak pasti seperti itu.


Setelah lelah berpikir, aku mendekati ranjang yang ditempati Grace dan berbaring di sebelahnya. Aku pun tertidur dengan memeluknya dari belakang. Aku sangat menyukai posisi kami yang seperti ini. Apalagi aku bisa dengan leluasa menghirup aroma dari kepalanya. Sangat menenangkan pikiranku.


Keesokan harinya..


Aku bangkit dan melihat Grace masih dalam posisi tidur yang sama dengan semalam. Dia tidur begitu nyenyak. Aku senang melihat wajah polosnya itu. Sungguh cantik alami.


Sekarang sudah jam 6 pagi. Aku pun melangkah keluar dan menjumpai salah satu suster yang sedang berjaga di bagia resepsionis. Aku mau meminta persetujuan untuk membawa pulang Grace.


Setelah mendapat persetujuan dari sang Dokter yang telah dihubungi oleh suster itu, aku kembali keruangan Grace dan membereskan semua barang - barang miliknya yang dibawa oleh Mommy.


Sejam kemudian, Grace pun terbangun. Aku memanggil salah seorang suster untuk mencabut segala jarum infus yang melekat pada kulit mulusnya Grace. Dia hanya terdiam melihat Suster itu melepaskan jarum infus dari pergelangan tangannya.


"Aku sudah boleh pulang, Ar? Seriusan?" Tanyanya padaku. Aku hanya tersenyum menjawab pertanyaannya.


"Aku mau mandi dulu, biar segar." Dia terlampau senang karena sudah diperbolehkan pulang. Aku hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum.


Dia pun bergegas memilih pakaian gantinya dan masuk ke dalam kamar mandi. Setelah dia sudah siap dengan penampilannya, aku pun menggenggam tangannya dan berjalan bersama dengan diikuti ketiga bodyguard ku keluar dari Rumah Sakit ini. Begitu banyak pasang mata yang melihat ke arah kami. Mereka sangat iri dengan kemesaraan kami saat ini.


"Lihatlah! Pasangan itu sangat serasi. Yang perempuan cantik tanpa make up, yang lelakinya juga tampan."


"Kenapa bukan aku saja yang digenggam lelaki tampan itu?"


"Kenapa harus ada pemandangan seperti ini di Rumah Sakit ini?"


"Mataku sakit melihat kemesraan mereka, Aw!"


"Jangan bercanda, mereka itu sepertinya sepasang kekasih. Atau mereka hanya saudara?"


Banyak sekali bisikan - bisikan yang masih bisa ku dengar dengan jelas. Aku heran. Mereka tidak bisa mengerem mulutnya untuk tidak membicarakan orang lain.


Tapi, biarlah. Aku senang karena banyak yang mengatakan bahwa aku serasi dengan Grace. Dia memang begitu cantik. Meskipun wajahnya yang polos tanpa polesan apapun, dia tetap terlihat cantik. Tidak salah hatiku memilih pasangan.


Sesampainya di Mansion, kami tidak di sambut oleh siapa pun. Karena aku memang tidak mengatakan apa pun kepada mereka. Kami masuk ke dalam dan aku membawanya ke kamarnya. Dia akan tidur di kamar tamu untuk sementara.


Aku sebenarnya ingin membawanya untuk tidur di kamarku, tapi itu tidak mungkin. Aku belum mau dia mengetahui kalau aku sudah tau tentang hubungan kami. Biarlah untuk sementara waktu ini kami menjalin hubungan seperti ini saja.


"Kamu istirahat saja ya, Grace. Nanti aku akan memanggilmu jika sudah waktunya makan siang." Ucapku sambil mengelus rambutnya. Dia hanya menganggukkan kepalanya dengan diselingi senyum sumringahnya yang sangat indah itu.


Aku pun ikut tersenyum melihat keindahan itu, meskipun hanya sesaat.


>>> Bersambung <<<


Sampai sini dulu ya..


Kita akan lanjut di eps selanjutnya..


Usai membaca, jangan lupa beri jempolnya dan sedikit komen2nya untuk mensupport Author, yaa..


Salam Kasih untuk Yg Terkasih


Love You All