
Kegiatan pagi ini sama seperti reuni keluarga bagi mereka. Semuanya berkumpul di Mansion Utama. Dan pada saat ini, mereka juga sedang melakukan panggilan vidio dengan kedua orang tua Grace dan adik kembarnya.
"Arion! Steve! Apa kabar kalian? Begitu lama kalian menghilang tanpa kabar. Kami semua sangat mengkhawatirkan kalian," ucap Mr. Victor melihat keberadaan Arion dan Steve.
Steve yang sedang berdiri di belakang Arion pun menjawab dengan lantangnya, "Kami berdua baik-baik saja Mr. Victor. Buktinya? Kami bisa ada di sini sekarang. Terima kasih sudah mengkhawatirkan kami berdua."
"Puji Tuhan, kami baik-baik saja, Pa. Ini berkat Doa kalian semua. Terima kasih semuanya," ucap Arion melanjutkan perkataan Steve.
"Baguslah, kalau begitu. Kenapa kalian bisa menghilang begitu lama? Apa yang terjadi dengan kalian?" tanya Mr. Viktor pada kedua lelaki muda itu.
Arion memulai perbincangannya sambil merangkul sang Istri. Dia mengumpulkan keberanian untuk mengatakan semuanya, sekaligus dia ingin memberikan kekuatan pada Istrinya sebelum mendengar kisahnya.
"Waktu itu, aku sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti rapat penting di pagi hari. Tiba-tiba saja, ada yang memukul pundakku sebanyak tiga kali dan itu terasa begitu keras hingga aku pingsan saat sedang mengenakan setelan jas di kamar hotel. Aku sudah berada di sebuah ruangan layaknya gudang kecil yang tidak terpakai lagi saat aku tersadar," ungkap Arion perlahan.
Grace menyandarkan kepalanya di bahu sang Suami dan erat pinggang Arion dengan eratnya. Sebenarnya, dia takut mendengar kisah Arion. Tapi, dia juga penasaran dengan hilangnya Arion selama setengah tahun terakhir.
"Singkatnya, aku disiksa habis-habisan oleh orang-orang yang berbadan besar yang menggunakan balaklava sebagai penutup wajah mereka. Meskipun aku bertemu dengan mereka sekarang, aku tidak akan mengenal mereka. Karena yang aku lihat dengan jelas dari mereka hanyalah bagian matanya saja. Mereka melakukan semuanya tanpa berkata apa pun padaku. Mereka hanya terus menyiksaku dalam diam. Meskipun aku bertanya, berteriak, bahkan mencaci mereka, tetap saja mereka tidak mengucap sepatah kata pun padaku. Seolah mereka bisu," lanjut Arion sambil mengurut keningnya perlahan.
Steve mulai mengambil alih pembicaraan mereka dan bercerita, "Saat aku mendengar kabar buruk itu dari salah seorang Bodyguard yang masih setia pada keluarga Melviano yang lolos dari sergapan para penghianat, aku langsung memutuskan untuk berangkat ke London sendirian. Aku teringat dengan Bang Ricky saat aku sudah beberapa kali melacak keberadaan Arion, namun aku belum berhasil bertemu dengannya. Mereka adalah suruhan pihak Wicaksana yang sudah mahir dalam bersembunyi. Aku juga sudah hampir putus asa saat pasukan rahasia kita yang dikerahkan dalam pencarian itu malah banyak yang mati. Tapi, karena Bang Ricky menyetujui permintaanku, aku merasa lega."
Semua yang mendengarnya mulai menganggukkan kepala mereka masing-masing, pertanda mereka mengerti dan memahami posisi kedua lelaki muda itu. Mereka memang memiliki kontak batin yang cukup kuat, meskipun tak sedarah.
"Untuk yang terkahir kalinya, aku mengirimkan lokasi Arion pada Bang Ricky. Aku menemukannya. Tapi kami yang tinggal berlima, harus menghadapi belasan pesuruh Wicaksana. Mereka tidak kabur dan sangat kejam saat menghantam lawannya. Hanya aku yang selamat dalam pembantaian itu, karena anggota Bang Ricky datang tepat waktu. Aku dan Bang Ricky pun mendobrak pintunya bersama-sama," lanjut Steve sambil melirik ke arah Ricky.
Akhirnya, Ricky pun membuka suaranya. Ternyata dia ikut dengan rombongannya pada saat itu. Dia mendengar Steve yang meminta tolong padanya untuk menyelamatkan Arion lebih dulu, karena kondisi Arion yang sudah sangat tragis.
"Karena Steve tidak mengenal salah satu dari para penjahat itu, aku pun menyuruh anak buahku untuk menembak mati mereka semua tanpa bersisa setelah Arion dibawa keluar dari gubuk itu menggunakan tandu. Aku juga menemuka keberadaan si tikus got yang menyelinap melalui celah kecil ke ruang bawah tanah. Anak buahku mengikatnya dengan kuat di sebuah kursi agar dia tidak bisa pergi ke manapun. Akhirnya, kami membakar habis gubuk itu dalam sekejab dan langsung mengirim Arion ke Rumah Sakit tempat di mana Grace dirawat sebelumnya."
Arion dan Grace saling tatap. Mereka terkejut dengan pernyataan Ricky barusan. Yang lainnya juga tidak menyangka, kalau hal semacam ini juga terjadi. Inilah yang dinamakan takdir.
"Jadi, selama beberapa bulan ini, dia dirawat di sana, Bang?" tanya Grace seolah dia tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Rincky tadinya.
"Yap! Dia sempat dalam keadaan koma. Tapi, lukanya tidak separah lukamu yang dulu. Kamu saja, koma sampai setahun penuh baru sadar. Dan karna dia termasuk laki-laki yang cukup tangguh, dia bisa sadar lebih cepat dibandingkan prediksi dari Dokter ahli di Rumah Sakit itu. Dan selama itu pula, Abang mengambil alih pekerjaan mereka berdua, setelah berdiskusi dengan Steve." Ricky pun menaikkan sebelah alisnya.
Grace mengerutkan keningnya lalu bertanya, "Apa pemecatan secara besar-besaran di Melv. Corp. juga bagian dari rencana kalian?"
Steve menganggukkan kepalanya dan menjawab, "Ya, Grace. Mereka semua termasuk ke dalam daftar para penghianat di Melv. Corp."
Grace memilih untuk diam dan berpikir lebih lanjut mengenai orang-orang yang sudah dipecat secara sepihak. Mereka memang mencurigakan. Selama ini, mereka sungguh pandai bersembunyi tanpa diketahui selama bertahun-tahun.
"Meskipun Daddy sempat khawatir berlebihan saat memikirkan kalian berdua. Tapi, Mr. Yardies mampu membuat Daddy percaya padanya. Apa pun yang ia pinta saat itu, selalu Daddy iyakan. Karena dialah satu-satunya harapan Daddy untuk bisa menangani semua ini," tutur Mr. Melv. membanggakan pilihannya.
"Baiklah, semuanya. Kami harus melakukan kesibukan kami di sini. Jaga kesehatan kalian semua ya. Jesus Bless Us," ucap Mr. Victor mengakhiri panggilan tersebut.
"Selamat pagi semuanya," sapa Lisya yang sedang berjalan ke arah ruang keluarga.
Betapa kagetnya dia melihat keberadaan Steve dan Arion bersama dengan seorang lelaki lagi yang tidak dikenalnya. Hingga dia hanya bisa berdiri terpaku melihat sosok yang kini berada di hadapannya kini.
Steve yang sudah sangat merindukannya pun berjalan mendekati Lisya dan langsung memeluknya begitu erat. Lisya tetap terdiam dengan tatapan kosongnya. Dia masih belum bisa mempercayai apa yang sedang dilihatnya.
"Sya, maafkan aku. Karena aku pergi dan kembali tanpa kabar seperti ini. Aku merindukanmu, Sya. I miss you," ucap Steve seolah tidak ingin melepas pelukannya.
Lisya tetap tidak menjawab. Namun, air matanya sudah menetes membanjiri kedua pipinya. Ya, Lisya menangis. Sesungguhnya, dia sangat merindukan sosok Steve yang selama ini diabaikannya.
"Ekhm.." Adam mendeham keras.
Dalam sekejab, pelukan itupun terlepas. Steve merangkul Lisya dan mencari tempat bagi dia dan Lisya untuk duduk. Mrs. Melv. mendekati Lisya sambil mengelus kedua bahunya.
"Sya, maafkan kami. Karena kami belum memberitahukanmu tentang ini. Mereka baru saja tiba pukul lima pagi tadi. Jangan menangis lagi, Nak."
Mrs. Melv. berhasil membuat Lisya berhenti menangis. Steve pun memberikan tissue pada Lisya. Dia berusaha tersenyum manis saat pandangan mereka bertemu.
"Lisya, apa kamu sudah sarapan?" tanya Grace menghidupkan suasana yang sempat kosong.
Lisya menggeleng perlahan dan menjawab, "Belum. Tadi aku buru-buru kemari karena ingin memberikanmu ini. Tadi aku melihat ada yang menjual camilan ini di toko yang baru buka di simpang rumahku. Ini untukmu, Grace."
"Wahh, makasih banyak. Ayo, ikut aku! Kita akan makan bersama," ucap Grace sembari bangkit berdiri dan menarik tangan Lisya.
Lagi-lagi Adam berdeham. Tapi, kali ini dia ingin memberi peringatan pada Grace. Agar Grace memberikan waktu untuk Steve dan Lisya.
"Sayang, bukannya kamu sudah makan? Dan kamu juga sudah ngemil buah di sini. Apa kamu masih belum merasa kenyang?" tanya Arion yang terheran-heran mendengar peryataan Grace.
"Sssttt.. Aku masih lapar. Dan aku ingin makan berdua dengan Lisya. Jangan ada yang mengikuti kami," ucap Grace sambil meletakkan jari telunjuknya di bibirnya.
Tidak ada satu pun dari mereka yang berani melanggar permintaan Grace. Apalagi, Ricky berada di pihaknya.
"Pergilah. Abang akan menjamin, kami akan tetap di sini sampai kalian selesai. Makanlah dengan senyaman mungkin," ucap Ricky yang hanya menatap ke arah Grace.
Dengan begitu, Grace dan Lisya benar-benar memiliki waktu untuk berdua. Waktu yang cukup bagi mereka untuk menjaga privasi mereka dari yang lainnya. Mereka pun menuju ke ruang makan dan di sana ada beberapa pelayan yang menyediakan sarapan yang mereka inginkan.
"Sya, aku tau kalau kamu terkejut dengan keberadaan mereka. Biarlah yang lalu itu berlalu begitu saja. Aku juga sama sepertimu. Marah? Pasti. Kesal? Apalagi. Karena kita berdualah yang ditinggalkan selama setengah tahun terakhir ini. Makanlah," tutur Grace yang mulai mengeluarkan kegundahan hatinya pada Lisya.
Lisya menerima sepiring nasi goreng yang disodorkan oleh Grace dan melahapnya perlahan. Setelah selesai makan, Lisya mulai memantapkan hatinya untuk berkata-kata.
"Grace, awalnya aku tidak memiliki perasaan apa pun pada Steve. Kamu tau sendiri bukan? Aku sangat mengagumi Arion dan hanya Arionlah yang ada dimataku sampai aku mengabaikanmu beberapa kali. Tapi, setelah keberadaan Steve yang selalu menghantui hari-hariku, aku jadi tidak bisa jauh darinya. Aku sangat kesepian selama dia tidak ada, Grace. Tapi, kamu selalu baik dan perhatian padaku. Padahal aku pernah ingin merebut Arion darimu. Aku.. Aku.."
Sesaat, isakan tangis Lisya pun terdengar. Grace tersenyum dan memeluk Lisya sembari mengelus pundaknya.
"Lisya, aku sudah memaafkanmu. Aku tau, kalau perasaanmu pada Arion itu bukanlah sebuah cinta, melainkan obsesi terhadap sesuatu yang sangat dikagumi. Aku paham bagaimana perasaanmu, Sya. Jangan lagi kamu membuang air matamu hanya karena pikiran masa lalu yang sudah tidak ada gunanya lagi untuk dipikirkan. Sekarang, mari buka lembaran barumu. Ungkapkanlah apa yang sebenarnya kamu rasakan pada Steve. Jangan sampai dia pergi untuk selamanya dan akan aku pastikan, kamu akan sangat menyesal jika hari itu tiba."
Ucapan Grace benar, bahkan terlalu benar hingga mampu menusuk hingga ke jantung. Lisya cukup tertegun dengan apa yang didengarnya barusan. Dia tidak ingin merasakan hal yang sudah ia rasakan selama setengah tahun terakhir. Akhirnya, ia memutuskan untuk menyatakan perasaannya pada Steve secepatnya.
"Terima kasih, Grace." Lisya pun membalas pelukan Grace.
Akhirnya, mereka pun kembali ke taman belakang. Semua orang sudah berkumpul di sana. Mereka menikmati camilan yang disediakan oleh para pelayan.
"Aunty!" sapa Ed sambil berlari ke arah Grace.
Ed sangat suka memeluk dan mengelus perut Grace yang sudah membuncit. Dia selalu mencaritahu apa yang bisa dan tidak bisa dikonsumsi oleh Grace. Ketika dia bepergian, dia selalu membawakan camilan sehat untuk Grace.
"Sekarang kita gantian, Ed. Aunty membawakan camilan untuk kita makan. Dimanakah kita akan menyantapnya, Ed?" tanya Grace yang sudah memegang sebuah piring berisikan camilan yang diberikan oleh Lisya.
Ed dengan penuh semangat menunjuk ke arah kanannya sambil berkata, "Aunty, kita duduk di bangku itu. Akan lebih adem, karena ada di bawah pohon rindang."
Ed menarik tangan Grace dengan perlahan. Dia tau kalau Grace sudah mulai sulit berjalan secepat dulu lagi. Dia memahami semua yang berhubungan dengan Aunty kesayangannya itu.
Lisya yang di tinggal sendirian pun berjalan ke arah Steve. Dia berdiam diri sejenak lalu berpamitan pada semua orang.
"Aku pamit ya, semua. Hari ini aku ada jadwal operasi sekitar sejam lagi," ucapnya sambil setengah membungkuk pada semua orang secara pergantian.
Steve menggenggam tangan Lisya dan membawa Lisya sampai ke parkiran. Dia mengambil kunci mobil Lisya dan membuka pintu penumpang bagian depan mobil. Lisya hanya bisa tersenyum menerima perlakuan tersebut.
Mereka pun berangkat ke Rumah Sakit tempat Lisya bekerja. Selama di perjalanan, Steve bertingkah seperti biasanya. Dia menggoda Lisya dan menghibur Lisya yang selalu bertampang seram.
Melihat senyuman dan tawa lepas dari Lisya, Steve merasa heran. Dia pun memberanikan diri untuk bertanya. "Sya, sepertinya mood-mu sedang baik ya? Kamu bisa sampai tertawa lepas seperti itu. Kamu sungguh cantik. Aku harap, kamu akan terus seperti ini."
Lisya menundukkan kepalanya. Dia saja tidak sadar dengan tawanya sendiri. Dia berusaha menutupi pipinya yang sudah merah padam.
Sesaat setelah Steve memarkirkan mobil di parkiran, Steve menahan tangan Lisya yang sudah bersiap untuk keluar dari mobil.
"Yang semangat kerjanya ya, Sya. Nanti akan aku jemput. Jadi, jangan lupa untuk memberiku kabar secepatnya setelah operasi itu selesai," ucap Steve sembari mengecup kening Lisya.
Pipi Lisya semakin memerah. Dia hanya mampu menganggukkan kepalanya dengan cepat dan langsung membuka pintu mobil. Dengan langkah yang tergesa-gesa, Lisya memasuki pintu Rumah Sakit menuju ke ruangannya. Sudah hampir waktunya untuk melakukan operasi.
Sedangkan Steve? Dia tersenyum bahagia, karena ini ciuman pertamanya setelah mereka bertunangan. Dia senang, pada akhirnya, Lisya tidak menolak dan bahkan dia bisa melihat wajah Lisya yang merona. Tawa lepas Lisya juga tidak luput dari ingatannya.
Steve pun menginjak pedal gas mobil milik Lisya dan langsung menuju ke Mansion Utama Keluarga Melviano. Masih ada begitu banyak hal yang harus diperbincangkan oleh mereka smua, sebelum pada akhirnya, mereka kembali bekerja seperti biasanya.
>> BERSAMBUNG <<
IG : friska_1609