
Setelah Dokter selesai memeriksa keadaan Grace, Ar langsung menghampiri sang Dokter dengan langkah yang terburu - buru dan bertanya, "Dok, dia kenapa? Apakah dia baik - baik saja?"
"Ya! Dia baik - baik saja. Hanya perlu beristirahat sejenak, sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, Pak." Jawab Dokter itu sambil menoleh ke arah Ar.
"Sebenarnya dia kenapa, Dok? Dia tidak terluka sama sekali, tapi dia malah pingsan begitu saja." Tanya Ar dengan rasa penasarannya mengingat Grace yang tiba - tiba pingsan entah sejak kapan.
"Dia hanya syok. Mungkin dia melihat hal yang membuatnya terguncang hingga pingsan. Bisa juga ini adalah gejala dari traumanya saat melihat sesuatu yang ingin dia lupakan. Hal apa yang menjadi dasar traumatisnya hanya dialah yang mengetahuinya." Ucap sang Dokter setelah memikirkan kemungkinan yang terjadi pada pasiennya.
"Baiklah Dok. Terimakasih sudah memeriksa keadaannya." Ar pun kembali duduk di sebelah tempat tidur Grace sembari menunggu Steve membeli makanan untuk mereka santap malam ini.
"Kenapa kamu lama sekali, Steve?" Tanya Ar dengan ketus pada seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat inap Grace.
Steve membuka kotak makanan yang dibawanya dan menyerahkannya pada Ar sambil berkata, "Tadi aku bertemu dengan Lisya. Dia sedang cuti hari ini dan tadi dia menanyakan padaku tentang jadwal pemeriksaanmu besok. Kamu periksa kan?
"Tidak, aku tidak akan meninggalkan Grace sendirian di sini. Kita bisa ganti jadwal pemeriksaannya dengan hari lain saja, tunggu aku senggang" Ucap Ar dengan santai. Dia memang tidak peduli dengan orang lain lagi selain Grace.
Dugaan Steve tidak melenceng sama sekali. Dia sudah memberikan jawaban yang pasti pada Lisya. Dia tau bagaimana sifat Ar dan sikapnya terhadap Grace.
“Ya sudah, nanti aku akan menghubunginya untuk memberitahukannya tentang jadwalmu besok.” Jawab Steve sambil membawa makanannya ke arah sofa yang ada di ruangan itu. Steve makan dengan lahap , sedangkan Ar? Dia hanya memakan 3 suap nasi dan sedikit lauknya. Dia tidak berselera makan lagi melihat kondisi Grace yang tak kunjung sembuh.
Setelah selesai makan, Steve izin pulang dan memberikan kunci mobil pada Ar. Steve sudah menelepon supir pribadi Ar untuk menjemputnya, sehingga Ar bisa pulang kapan saja tanpa harus mengganggu jam istirahatnya.
GUBRAK..!!
Pintu rawat inap terbuka begitu keras hingga sang pasien pun terbangun dari tidur lelapnya.
“Kakak..!! Gimana keadaanmu, Kak? Siapa yang membuatmu sampai pingsan begini? Siapa yang menggannggumu, Kak? Jawab Kak..!!” Sam muncul begitu saja tanpa tau situasi yang sebenarnya.
Ar terdiam melihat tingkah lelaki yang sudah dikenalnya sebagai Kepala Bagian Divisi Keuangan. Dia tidak menyangka bahwa Anak muda di hadapannya itu sepertinya mengenal dengan baik perempuan yang menjadi pasien itu.
“Sam..” Panggil Grace pada Sam dengan suaranya yang lembut sambil mendudukkan dirinya di ranjang pasien.
“Kak Grace..” Sam pun duduk di tepi ranjang berhadapan dengan Grace dan langsung memeluk sang Kakak.
Grace hanya bisa membalas pelukan sang Adik dan menepuk pundak Sam dengan lembut.
Tiba - tiba saja ada sebuah tangan yang menarik Sam dan membawanya pergi. Ya! Itu adalah perintah Ar pada Steve. Dia merasa risih melihat tingkah kedua orang itu.
“Kakakmu akan baik - baik saja, Sam. Di sini ada Arion. Dia pasti akan menjaganya. Percayalah.” Steve pun menarik pergelangan tangan Sam hingga mereka keluar dari ruangn itu.
“Tapi, aku belum mau pergi, Kak. Aku masih mau melihat kondisi Kak Grace..” Teriak Sam dengan sengaja agar Grace bisa mendengarnya.
Grace hanya terdiam tidak tau harus berkata apa. Dia mengingat kejadian yang membuatnya sampai pingsan hingga harus dibawa ke Rumah Sakit. Wajah ling - lung nya diperhatikan oleh Ar.
Ar hanya bisa menjelaskan sedikit detail kenapa dia bisa berada di Rumah Sakit sekarang, “Kamu tadi pingsan saat di ruanganku dan aku langsung membawamu kemari.”
“Kamu yang membawaku ke sini?” Tanya Grace dengan ekspresi yang membingungkan.
“Iya.” Jawab Ar dengan singkat.
“Baiklah, sekarang aku sudah baik - baik saja, aku mau pulang ke Rumahku.” Ucap Grace sambil beranjak dari ranjang
"Tapi, tubuhmu masih lemah, Grace." Ar memegang kedua bahu Grace dengan erat.
"Aku tidak suka berada di Rumah Sakit, Ar. Aku mau pulang saja." Grace mulai jengah dengan larangan Ar yang tidak masuk akal. Tubuhnya masih lemah? Kalau sekarang dia disuruh untuk berlari, pastinya dia akan bisa berlari dengan kecepatan penuh.
"Baiklah, tapi aku yang mengantarkanmu sampai ke Rumah. Bagaimana?" Tanya Ar dengan ragu.
"Kamu tau rumahku dimana?" Grace balik menanyakan hal yang membuat seorang Ar kebingungan.
"Kan kamu bisa menujukkan arahnya padaku." Ar menjawabnya dengan singkat.
"Tidak akan." Ucap Grace spontan.
"Kenapa?" Ar mulai penasaran.
"Karena hanya Kamu dan Aku yang tau dimana Rumah itu berada." Jawab Grace dengan antusias.
"Aku? Bagaimana bisa aku mengetahuinya? Kita belum pernah ke sana." Ar mulai pusing dengan jawaban yang diberikan Grace padanya.
"Karena kamulah orang pertama yang membawaku ke sana. Dan kamu juga yang membuatku kagum dengan Rumah itu." Grace mulai berharap, Ar akan mengingat dirinya. Apa dia egois? Kurasa tidak.
Ar mulai memegang kepalanya yang berdenyut hebat. Dia melihat bayang - bayang wajah seorang perempuan yang samar - samar dan sedang duduk di sebuah sofa sambil memegang beberapa dokumen dan bolpoin. Bayang - bayang itu muncul diakhiri dengan detik - detik dimana dia melihat sebuah mobil yang mengarah padanya yang mobilnya sudah berada di tengah jalan itu.
"Ar, kamu kenapa? Aku panggilkan Dokter ya?" Grace yang mulai panik pun berusaha berdiri dari ranjangnya.
GREPP..
Ar mulai memeluk tubuh Grace dengan erat. Grace hanya bisa diam mematung tidak menyangka Ar akan memeluknya begitu erat.
"Ar? Jangan begini, aku sesak." Ar melingkarkan tangannya mengapit kedua tangan Grace yang masih berada di kanan dan kiri tubuhnya.
"Ar, kamu kenapa? Kamu tidak tau betapa khawatirnya aku melihat kondisimu saat ini? Longgarkan sedikit pelukanmu, agar aku bisa bergerak melihat kondisimu." Ucapan Grace yang melembut itu membuat Ar merenggangkan pelukannya.
Grace mulai mengangkat tangannya, yang kiri diletakkan di pundak Ar dan tangan kanannya mengusap kepala Ar.
"Grace.." Ar menyebutkan satu kata itu dengan nada bergetar.
"Ya? Kenapa Ar?" Grace masih saja mengelus kepala Ar yang sudah mulai tenang.
Ar membenamkan wajahnya di bagian perut Grace sambil berkata, "Kamu sudah bertunangan?"
Grace tersenyum sambil menerawang sebelum dia menjawab pertanyaan Ar tersebut.
"Siapa dia? Kenapa aku tidak pernah melihatmu bersama lelaki manapun?" Tanya Ar dengan ragu, namun dia terus menghirup aroma tubuh Grace yang mampu menenangkan perasaannya.
"Dia ada di dekatku. Dia selalu bersamaku. Tapi, aku dan dia terpisah karena suatu alasan. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tetap setia berada di sisinya apapun yang terjadi, meskipun kami dipisahkan oleh keadaan." Grace menjelaskan sedikit tentang perasaannya pada Ar. Dia benar - benar berharap Arion mengingatnya pada saat ini. Sifat manja Ar mulai kelihatan dari sikapnya sekarang.
"Kenapa di saat aku merasa nyaman dengan kehadiranmu, aku mengetahui bahwa kamu sudah bertunangan dan bahkan kamu berjanji untuk setia padanya. Jadi, apa yang harus aku lakukan dengan perasaanku ini, Grace?" Ar mengeratkan pelukannya pada pinggang Grace yang ramping itu.
"Yah, itu terserah padamu, Ar. Kamu juga sudah mengetahui kalau aku sudah bertunangan. Semua keputusan itu ada ditanganmu, Ar. Ayo! Kita pulang. Aku tidak mau lebih lama lagi berada di dalam ruangan ini." Grace mulai melepaskan tangannya dari pundak dan kepala Ar.
"Aku akan mengantarmu pulang." Ucap Ar tegas.
"Kalau kamu tau dimana Rumahku, aku akan menunjukkan padamu siapa sebenarnya tunanganku. Tapi, kalau kamu tidak tau dimana Rumahku, mending kita langsung ke Mansion Utama." Tutur Grace dengan harapan Ar ingat akan hadiah pernikahan yang diberikan Ar padanya.
"Baiklah, karena aku tidak tau dimana Rumahmu, kita akan pulang ke Mansion Utama." Perkataan Ar yang tidak terbantahkan itu, membuat Grace jadi tidak bersemangat.
"Oke." Hanya satu kata singkat untuk menyetujui perkataan Ar itu.
Ar pun menggenggam tangan Grace di sepanjang jalan seakan takut kehilangannya. Seluruh biaya administrasi sudah di urus oleh Steve. Jadi, mereka bisa langsung keluar dari Rumah Sakit itu.
**********
"Dok, hari ini Arion tidak akan datang untuk jadwal pemeriksaannya. Dia sedang sibuk menangani urusan yang amat penting saat ini." Ucap Steve yang saat ini sedang berteleponan dengan Lisya si Dokter cantik.
"Oke, tidak masalah. Besok atau lusa juga bisa, kalian saja yang tentukan kapan jadwal penggantinya. Aku akan menunggu kabar dari kalian." Jawab Lisya dengan santai.
"Baiklah. Ehm, apa kamu punya waktu siang ini?" Tanya Steve dengan ragu.
"Ya? Aku sudah punya janji dengan temanku siang ini. Ada apa ya?" Tanya Lisya dengan cuek.
"Oh, tidak ada apa - apa." Jawab Steve dengan singkat.
"Baiklah, ingat kabari aku mengenai jadwal penggantinya ya."
Lisya sudah menutup telepon itu sebelum Steve menyelesaikan kata - katanya.
'Kenapa sangat sulit untuk mendekati seorang Dokter? Apakah aku tidak termasuk tipenya?' Gerutu Steve dalam hati.
Steve pun bergegas masuk ke dalam ruangan Ar. Dia sudah mengurus masalah yang terjadi pada Grace. Dia pun menyerahkan berkas mengenai Ibu - Ibu yang menyerang Grace. Saat ini Ar benar - benar sangat marah mengingat bagaimana jika pecahan vas itu mengenai Grace jika dia terlambat sedikit saja pada waktu itu.
"Sebenarnya, sasaran Ibu itu bukanlah Grace, melainkan Lita karyawan kita yang duduk di seberang Grace. Lita memang seorang wanita dewasa yang suka menggoda para lelaki yang ada di Kantor ini dan salah satunya Suami dari Ibu itu. Mereka bercerai karena sang Suami lebih memilih Lita daripada Istrinya yang tau nya hanya berfoya - foya. Karena semalam Lita izin tidak masuk kerja, Ibu itu mengira Grace sebagai Lita." Steve mulai menjelaskan kronologi peristiwa yang sesungguhnya pada Ar.
"Jadi, bagaimana penyelesaian kasus Ibu itu?" Tanya Ar yang sedang menatap dingin berkas - berkas yang ada di hadapannya.
"Ibu itu akan dikenakan beberapa lapis pasal yang akan memberatkan hukumannnya. Lita sudah dipecat dan akan dibawa bersama dengan Suami si Ibu. Mereka bertiga akan diurus langsung oleh ketiga Pengacara Perusahaan kita. Kamu tidak perlu khawatir, semuanya akan sesuai dengan keinginanmu." Ucap Steve yang masih saja menjelaskan sesuatu yang pastinya masih menjadi beban pikiran Ar.
"Baiklah, sudah saatnya makan. Aku akan mencari Grace. Tumben - tumbenan dia tidak kelihatan. Padahal biasanya dia sudah datang dan membawakanku bekal makan siang." Ucap Ar sambil tersenyum kecil.
"Bukannya kamu membencinya? Dia kan sudah membohongimu? Dia sudah bertunangan, Ar." Steve berbicara seolah dia tidak tau apa - apa.
"Aku sudah bertanya langsung padanya. Tunangannya dan dia terpisah karena suatu alasan yang tidak ingin dia sebutkan. Dia sudah berkata jujur padaku dan sudah tidak ada alasan bagiku untuk marah ataupun membencinya lagi."
Steve hanya menggelenggkan kepalanya sambil terkekeh kecil melihat tingkah Ar yang menurutnya sudah kembali menjadi Ar yang manja pada Grace.
Ar pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya diikuti oleh Steve. Baru saja berjalan beberapa langkah kaki, Ar dan Steve melihat seorang teman yang sedang berbincang dengan Grace. Ar merasa tidak suka dengan apa yang sudah di lihatnya.
"Gung, kamu kenapa tidak langsung masuk saja? Kalian saling kenal?" Steve mengalihkan perhatian Agung karena dia sudah melihat sikap Grace yang merasa tidak nyaman berdekatan dengan Agung. Berbeda dengan Ar yang sedang dibakar api semburu, malah masuk ke dalam ruangannya dan dengan kasar menutup pintu ruangannya.
Grace tersadar dari lamunannya. Dia kelupaan mengantarkan bekal untuk Ar. Dengan langkah sedikit berlari, Grace membawa bekal yang sudah dipersiapkannya untuk Ar. Ar menunjukkan ekspresinya yang dingin pada Grace. Tapi, Grace tidaklah bodoh. Dia sudah tau kalau Ar saat ini sedang cemburu.
"Ar, ini bekal untukmu. Aku akan meletakkannya di sini. Permisi." Ucap Grace dengan singkat sambil membalikkan badannya dan langsung keluar dari ruangan tersebut.
Ar tidak menyentuh bekal itu sama sekali. Sampai sore tiba, saat Grace yang mengetahui hal itu pun hanya bisa pasrah. Dia tidak tau bagaimana cara meredakan amarah sang kekasih. Saat dia akan keluar dari ruangan itu, terdengarlah suara bariton dari seorang Arion, "Nanti malam kamu ikut aku ke sebuah acara resmi dan aku akan menyediakan gaun malam untukmu. Kita akan berangkat jam 7 malam."
Ar hanya mengatakan hal itu tanpa menolehkan pandangannya sedikitpun dari layar komputernya. Grace tidak menjawab sepatah katapun. Langsung saja dia pergi keluar dari ruangan yang mencekam itu dan bersiap - siap untuk pulang, karena memang sudah waktunya melepas jam kerja.
>>> Bersambung <<<
Sampai sini dulu ya..
Kita akan lanjut di eps selanjutnya..
Apakah nanti malam mereka akan pergi ke acara itu?
Apakah sebenarnya hubungan antara Grace dengan Agung?
Apakah Steve memang cocok jika pasangannya si Dokter Cantik?
**********
Jangan lupa beri jempol dan sedikit komentarnya ya..
Salam Kasih untuk Yang Terkasih
Love You All