THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
90



Setelah perempuan itu pergi, Ar bergegas ke meja kerja Grace, tapi dia tidak menemukan keberadaan perempuan itu. Dia mencoba menghubungi, tapi ponselnya malah tidak aktif.


Dengan pikiran kacau, Ar masuk ke dalam ruangannya. Dia membersihkan diri di ruang rahasianya. Dia membuang seluruh pakaian yang tadi dipakainya ke tempat sampah yang ada di balik pintu ruangannya.


Dia keluar dari ruangannya dan melihat Grace tidak ada di tempat. Dia mulai khawatir dengan keberadaan Grace yang tiba - tiba saja menghilang begitu saja. Baru saja dia teringat pad Supir pribadinya, dia langsung menelepon Bapak itu.


"Pak, posisi Bapak dimana sekarang? Kenapa aku tidak bisa menghubungi Grace? Apa yang terjadi padanya? Apa dia sudah makan siang?" Tanya Ar pada Supirnya itu.


"Tidak Tuan, Tidak terjadi apa - apa dengan Non Grace. Tadi dia sudah makan di Cafe sembari menunggu temannya. Sekarang saya sudah mengantarkan Nona ke Mansion. Dia berpesan pada saya bahwa Nona tidak akan kembali ke Kantor karena dia merasa sedikit pusing. Mungkin krena kelelahan bekerja.


"Baiklah, kalau begitu, Pak. Terimakasih atas informasinya, Pak"


Ar pun mengakhiri panggilan tersebut dan mulai memfokuskan dirinya dengan pekerjaannya. Segala mood nya untuk makan siang pun menghilang begitu saja karena Grace pergi dan tidak akan kembali ke Kantor.


Waktu berputar begitu lamban. Dia merasa tidak bisa menahan rasa ingin tau nya tentang keadaan Grace saat ini. Tapi dia masih belum bisa meninggalkan pekerjaannya. Karena ini akhir bulan dan adanya penutupan pembukuan setiap akhir bualan, membuat dia dan beberapa para karyawannya harus kerja lembur.


Sekarang sudah jam 9 malam. Pekerjaan Ar pun sudah selesai. Dia langsung beranjak dari kursi kebesarannya dan keluar dari ruangannya menuju lift khusus. Dia sudah menghubungi Supirnya untuk standby menunggunya di pintu utama.


Sesampainya di Mansion, Ar melihat di segala penjuru ruangan, tapi tidak menemukan keberadaan Grace. Dia mencoba untuk pergi ke kamar Grace dan ternyata pintunya terkunci.


"Tuan, tadi Nona berpesan agar Tuan makan malam dengan lauk yang sudah dimasak langsung oleh Nona. Kalau besok pagi Nona melihat isi piringnya tidak dihabiskan oleh Tuan, Nona akan marah besar." Ucap seorang pelayan yang mendekati Ar untuk menyampaikan pesan dari Grace.


"Baiklah, aku akan makan." Ar pun menghampiri meja makan dan mulai memperhatikan beberapa lauk yang sudah tersedia di atas meja makan.


Perutnya mulai bergemuruh. Dia sudah merasakan lapar yang sangat menyiksa. Mulai tadi siang, tak ada sedikitpun makanan yang masuk ke dalam perutnya. Akhirnya dia makan dengan lahap.


Setelahnya, dia pergi ke kamarnya untuk membasuh diri dan bersantai. Arion begitu gelisah, karena tidak bisa melihat wajah Grace meskipun hanya sebentar.


Dia mengingat semuanya. Semua kenangannya bersama Grace dan orang - orang yang ada di dekat Grace. Dia juga tidak lupa dengan perlakuannya yang sungguh mengerikan pada Grace.


'Aku harus melakukan sesuatu untuk membuatnya kembali merasakan kebahagiaan bersamaku. Jika hanya permintaan maaf, itu tidak akan cukup untuk menebus semua kesalahanku.' Pikiran Ar mulai berkecamuk dalam batin.


Keesokan paginya..


Ar bangun pagi - pagi sekali, bersiap dan berniat untuk menemui Grace di kamarnya.


"Aku sudah sangat merindukannya. Aku harus menemuinya pagi ini juga!" Dengan penuh semangat, Ar membersihkan diri dan berpakaian rapi.


Begitu siap, dia langsung berjalan tergesa - gesa menuju ke kamar yang ditempati oleh Grace.


Ceklekk..


Ar pun membuka pintu kamar Grace secara perlahan. Tidak ada tanda - tanda kehidupan di sana. Semuanya terlihat sangat rapi.


Dia melangkahkan kakinya memasuki kamar itu. Perasaan tidak nyaman muncul dalam benaknya.


'Apa Grace pergi? Kamar mandi tidak ada orang dan tempat tidurnya pun sudah tertata rapi.' Batin Ar sembari menyapu bersih sekelilingnya dengan tatapan khawatirnya.


Matanya tertuju pada sebuah lemari. Dengan langkah panjang, Ar mendekati lemari itu dan membuka lemari itu dengan kasar.


'Syukurlah, pakaiannya masih ada. Berarti dia sudah pergi ke Kantor. Tapi, apa mungkin sepagi ini? Ehh, apa itu? Kenapa ada amplop di sini? Setahuku, Grace tidak pernah mau menyimpan amplop - amplop seperti ini.'Ar mulai bimbang.


Ar ingin mengambil dan melihat isinya, tapi dia takut ketahuan pemiliknya. Apalagi saat ini dia tidak tau keberadaan Grace. Tapi, lebih besar rasa penasaran yang berkecamuk di dalam hati dan pikirannya.


'Akh! Sudahlah! Aku tak peduli lagi. Selagi Grace gak ada di kamar ini, aku masih bisa melihatnya.'


Ar pun membuka amplop tersebut dan betapa terkejutnya dia melihat foto - foto yang dia alami semalam. Dia tidak menyangka bahwa Agung akan bergerak begitu cepat untuk memisahkan dia dengan Grace.


'Agung kurang ajar! Beraninya dia berbuat curang seperti ini! Apa karena foto ini juga, Grace menghindariku semalam? Tidak akan aku biarkan dia pergi jauh dariku. Lihat saja, aku akan membalasnu berkali lipat dari yang kamu lakuin ke aku, Gung.' Ar mulai menyeringai melihat foto - foto itu.


Foto tersebut dimasukkannya kembali ke dalam amplop itu dan dibawanya keluar dari kamar Grace. Saat melewati ruang makan, Ar mencium aroma lezat yang menggugah seleranya. Dia melirik sedikit ke arah meja makan. Dan ternyata, dia melihat Grace di sana.


"Grace?" Ucapnya spontan hingga orang yang dipanggil pun menoleh.


Ar berjalan mendekati Grace dan memeluknya. Dia lupa kalau dia sedang memegang amplop milik Grace saat ini.


"Ar, aku masih belum mandi. Aku masih bau. Kamu jangan asal peluk begini, nanti kamu jadi ketularan bau nya." Ucap Grace yang kaget mendapatkan pelukan yang erat dari belakangnya.


"Aku tidak masalah dengan itu. Kamu itu tidak bau, tapi beraroma makanan lezat." Ar pun melepaskan pelukannya dan mulai menjauh dari Grace.


"Kenapa amplop itu ada padamu, Ar? Bukannya tadi malam aku simpan di lemari pakaianku ya? Jujur kamunya. Jangan buat aku amrah padamu karena kamu sudah dengan lancang mengambil barang milik orang lain tanpa seizin yang empunya." Tanya Grace dengan memicingkan matanya yang terarah tajam pada Ar.


Ar menggeleng - gelengkan kepalanya meruntuki kebodohannya. Dia lupa memasukkan amplop itu ke dalam tas kerjanya. Betapa bodohnya dia!


"Gini, tadi kan, aku itu.." Ucap Ar dengan terbata - bata. Dia sempat keheranan melihat reaksi Grace yang dianggapnya cukup aneh.


"Kamu itu apa? Ngomong yang benar la, Ar!" Bentak Grace. Dia mulai kesal melihat sikap Ar yang seperti pencuri itu.


Sebenarnya, setelah merenungkan segala sesuatunya di dalam kamar, dia tidak ingin seperti perempuan lemah lainnya yang kabur ataupun lari menjauhi lelaki yang dicintainya hanya karena foto tak berbobot seperti itu.


Dia harus mendengar penjelasan dari kedua belah pihak terlebih dahulu. Semalam dia sudah mendapatkan informasi dari Agung sampai dia kesal sendiri mendengar penuturan dari Agung.


Sebenarnya, kejadian itu masih berbekas dalam ingatan Grace. Gegara Agung menjelekkan bahkan menghina Ar di depannya, Grace pun menampar Agung begitu kuat. Dia tidak terima kalau orang yang dicintainya itu dihina oleh orang yang jelas - jelas lebih busuk dibandingkan orang lain.


Setelah melewati malam yang panjang, Grace tetap akan memegang teguh pendiriannya. Dia akan terus berada di sisi Ar apapun yang terjadi. Setiap hubungan pasti ada badai topan yang menerpa, hal itu tidak akan menggoyahkan keputusannya untuk tetap memperjuangkan cintanya pada Ar.


"Ar? Kenapa malah diam begitu? Aku kan sedang menunggu jawabanmu." Grace mulai menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


"Tadi aku mencarimu di kamarmu. Tapi kamu tidak kelihatan dan semuanya sudah tertata rapi. Aku takut kamu pergi tanpa pamitan padaku terlebih dahulu. Jadi, aku membuka lemari pakaianmu untuk memastikan apakah pikiranku itu benar atau salah. Tapi aku menemukan ini. Maafkan aku telah lancang mengambilnya begitu saja dari lemari pakaianmu." Ucap Ar dengan penuh penyesalan.


"Oh, oke. Aku mau mandi dulu. Kalau kamu sudah lapar, sarapan duluan saja. Aku juga sudah memasak untuk siang nanti. Kita akan pulang untuk makan siang, sekalian membahas sedikit tentang isi amplop itu. Aku tau kalau kamu sudah mengetahui apa isinya, Ar." Ucap Grace dengan senyum manisnya.


"Aku akan menunggumu." Ucap Ar pada orang yang sudah membalikkan badannya.


Grace pun meninggalkan Ar dan segera bersiap untuk berangkat kerja. Dia memilih setelan pakaian kerja yang cukup simple. Kemeja putih berlengan panjang dan dibalut dengan jas berwarna dark blue yang senada dengan rok yang dikenakannya.


Mereka pun sarapan dan berangkat bersama. Dalam perjalanan, Ar tidak berani membuka suara melihat ekspresi serius di wajah Grace. Dia hanya diam mengikuti alunan suasana di sekelilingnya.


Di tempat lain yang cukup jauh, Agung mengamuk mengingat bagaimana dia dipermalukan oleh Grace di depan umum. Dia ditampar! Ini kali pertamanya diperlakukan seperti itu oleh Grace.


"SH*T..!! APA YANG KAMU LIHAT DARI ARION B**DAB ITU?!! SEMUANYA KACAU..!! KENAPA AKU YANG DITAMPAR?!! SEHARUSNYA DIA YANG KAMU TAMPAR!! BUKAN AKU..!! SIALAN..!!"


Semua barang yang ada di atas meja sudah hancur berantakan di lantai. Dia mencampakkan semuanya dengan kasar dan membanting beberapa barang antik di ruangannya saat ini.


Tidak ada satupun dari para pelayan yang berani mendekat. Mereka ketakutan mendengar majikannya mengamuk di ruang kerjanya. Bahkan Manajer Agung tidak bisa berbuat apa - apa.


"AARRGGHHH..!!" Teriak Agung dengan sekencang - kencangnya. Dia merasa sangat direndahkan.


"AKU AKAN MEMBALASMU GRACE..!! LIHAT SAJA NANTI..!!" Agung menendang kursinya dengan kasar hingga menabrak dinding dengan kasar.


Senyum seringaiannya yang menakutkan kembali tersirat di wajahnya. Agung sudah menemukan rencana yang bakalam ampuh kali ini.


"Aku akan pastikan, milikmu yang paling berharga akan menjadi milikku. Bersabarlah Grace, kamu akan menjadi milikku seutuhnya." Ucapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


BRAAKKK..


Agung pun keluar dari ruangannya dengan cara yang kasar pula. Manajernya sampai terlonjak kaget dan hampir memuntahkan jantungnya. Dia mengikuti kemana pun Agung pergi.


"Kosongkan semua jadwalku hari ini. Aku sedang tidak ingin diganggu. Kamu bisa menagtur jadwalku ulang lusa dan bereskan semuanya sebelum aku pulang." Ucap Agung yang menahan emosinya yang masih tertinggal dalam benaknya.


"Baiklah, Gung." Ucap sang Manajer dan berhenti mengikuti Agung. Dia tau bagaimana sifat Agung. Agung tidak bisa diganggu oleh siapa pun jika dia sudah sampai pada mode emosional seperti hari ini.


Sang Manajer pun mulai menghubungi pihak pemotretan untuk mengosongkan jadwal Agung selama 2 hari ini. Semua pelayan juga mulai membereskan ruang kerja majikannya.


Selama beberapa tahun ini, Agung hidup sebatangkara. Dia tidak memiliki Ayah dan Ibu lagi sejak SMA. Itulah alasan dia pindah ke sekolah lain dimana Pamannya tinggal. Tiga tahun yang lalu, Pamannya sudah meninggal dunia. Jadi, dia hidup sebatangkara selama 3 tahun terakhir.


Pamannyalah keluarga satu - satunya yang baik terhadapnya. Dia tinggal berdua dengan Pamannya yang masih lajang itu. Dia meraih kesuksesan di Dunia Model juga berkat dukungan dari Pamannya.


Rumah yang sekarang ditempatinya adalah warisan dari Pamannya. Kedua Orangtuanya tidaklah sekaya Pamannya, makanya dia berusaha untuk menjadi model untuk memenuhi kebutuhan fashion yang diidam - idamkannya.


Apapun yang diinginkannya harus terwujud! Begitulah sifat Agung yang membuat dirinya menjadi seorang yang egois dan pemarah. Hanya Pamannyalah yang bisa meredakan emosinya selama ini.


"Aku ingin kalian menangkap perempuan yang ada di foto ini, bagaimanapun caranya! Aku tidak mau tau bagaimana cara kalian agar bisa membawa perempuan ini ke hadapanku! Dia harus dibawa dengan utuh, tanpa lecet sedikitpun!" Perintah Agung pada beberapa orang yang berbadan kekar.


"Ini mah, gampang baget Bos! Gadis cantik ini akan kami bawa secepatnya padamu, Bos. Tapi, dimana kami bisa menemukannya?" Ucap salah seorang yang sedang melihat foto yang diberikan Agung padanya. Dia adalah ketua géng nya.


"Dia bekerja di Melv.Corp. sebagai seorang Asisten Pribadi dari Tuan Muda Melv.Corp." Jawab Agung dengan singkat.


"Haduh, Bos. Berarti penjagaannya ketat dong? Tapi, kami akan memantau keadaan di sekelilingnya dulu, Bos. Baru kami bisa memberikan kepastian pada Bos." Ucap ketua géng itu sambil menepuk bahu Agung.


"AKU TIDAK MAU TAU..!! KALIAN HARUS BERHASIL MEMBAWANYA KE SINI..!! LANGSUNG KE HADAPANKU..!!" Teriak Agung sampai meja kayu patah karena tinjuannya.


"I.. Iya, Bos. Kami pasti berhasil." Jawab ketua géng dengan terbata - bata.


"Tidak ada penjagaan khusus. Setiap hari dia akan berangkat dan pulang bersama seorang supir. Siangnya, dia akan pulang melewati Jl.Shymfoni. Jadi, kalian bisa cegat dia di jalan yang sepi itu. Bawa dia secepatnya! Aku ingin kalian membereskan pekerjaan kalian hari ini juga!" Perintah Agung pada anak buahnya.


Sebenarnya, dia pernah menjadi sasaran preman di sebuah tanah lapang. Tapi dia berhasil mengalahkan mereka semua. Dan preman - preman itulah yang sekarang menjadi anak buahnya yang paling patuh.


Sasaran utama mereka adalah Grace. Ya! Grace akan menjadi tujuan utama Agung mulai saat ini. Dia tidak akan mempedulikan hal lain lagi, selain Grace. Grace yang sudah membuatnya seperti orang bodoh yang hanya diam setelah dipermalukan di depan umum.


>>> Bersambung <<<


Sampai sini dulu ya..


Kita akan lanjut di eps selanjutnya..


Jangan lupa berikan supportnya untuk Author..


Thor tidak minta yang aneh - aneh lagi dehh, hanya like dari jempolnya..


Kalau komen, itu semua terserah readers saja..


Salam Kasih untuk Yg Terkasih


Love You All