THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
TPG2_140



AUTHOR POV


"Yoru! Kenapa lama sekali? Kamu dandan ya?" teriak Grace yang kesal dengan Yoru. Dia sudah menunggu cukup lama. Anak itu tak kunjung keluar dari kamarnya.


"Sabar, Kak. Ini sudah selesai," ucap Yoru dari dalam kamarnya.


Sejak hari itu, Grace sudah tidak menunjukkan wajah sedihnya lagi, demi melindungi kandungannya. Sudah 3 hari berlalu, Steve pun tak kunjung memberikan kabar.


Ar dan Steve seolah kehilangan sinyal di London. Semua orang khawatir akan keberadaan mereka. Tapi, setiap kali Mr.Melv. menelepon ke bagian HRD yang ada di London, selalu mendapatkan jawaban yang sama. Ar dan Steve sedang meeting di luar bersama dengan Client baru.


Meskipun merasa sedikit curiga, Mr.Melv. selalu memberikan pandangan positif pada semua orang. Karena dia sendiri sudah mengalaminya selama berpuluh - puluh tahun lamanya. Sibuk dengan dunia bisnis tanpa ada hentinya.


"Dad, Mom, kami berangkat ya." Grace dan Yoru berpamitan dan langsung berangkat.


Hari ini mereka terlambat bangun. Mereka tidak sempat untuk sarapan di rumah, tapi Mrs.Melv. sudah menyediakan bekal untuk kedua orang yang telat bangun pagi itu.


Orang rumah dengan sengaja tidak membangunkan mereka karena takut mengganggu jam istirahat mereka, apalagi keadaan Grace yang masih terbilang lemah.


Sudah 4 hari setelah Grace pingsan karena tangisannya yang begitu syahdu dan menguras emosi. Keluarga Melv. jadi lebih memperhatikan jam tidur dan makannya. Bahkan Mrs.Melv. selalu mengirimkan bekal untuk tiga orang. Karena tidak setiap hari, Mrs.Melv. dan Silvia bisa pergi ke perusahaan. Silvia yang juga sedang mengandung pun tidak diperbolehkan untuk terlalu lelah karena bepergian jauh.


Oh iya, bekal untuk tiga orang itu adalah bekal yang akan disantap Grace bersama dengan Yoru dan Sam. Sam sudah diperbolehkan masuk kerja sejak Steve pergi ke London.


"Kak, kenapa Kakak tidak menelepon Kak Ar atau Kak Steve? Kan jawaban yang Dad dengar itu belum tentu benar. Ini hanya firasatku saja  ya, Kak." Yoru mencoba memberikan sedikit saran pada Grace.


Dia tidak bisa melihat Grace yang kesepian seperti itu. Grace memang tidak pernah lagi kelihatan sedih maupun melamun lagi. Tapi, orang lain tau betapa terpukulnya Grace sejak saat itu.


"Iya, Kak. Apa Kakak pernah menghubungi mereka berdua secara langsung?" lanjut Sam mempertanyakan hal yang belum ia ketahui dari Kakaknya itu.


"Sudah, Sam. Kakak sudah berulangkali mencoba menghubungi mereka berdua. Malahan kemarin malam, ponsel mereka berdua sama - sama tidak aktif lagi," ujar Grace pada kedua Adiknya itu.


Saat jam makan siang inilah, mereka bisa berkumpul dan saling mengungkapkan isi hati mereka. Yoru dan Sam selalu ada untuk Grace. Meskipun Yoru masih termasuk baru di keluarga Melv., dia bisa dengan mudahnya kompak dengan Sam dan yang lainnya.


"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Kapan Kakak cek kandungan Kakak? Sam harus menemani Kakak. Sam ingin tau bagaimana keadaan calon Ponakanku," celetuk Sam yang berhasil membuat Grace terkekeh setelah mendengarnya.


"Gitu dong, Kak. Akan lebih baik lagi jika Kakak bisa setiap waktu tertawa seperti itu daripada senyum yang dipaksakan." Perkataan Yoru menohok pikiran Grace.


Grace baru menyadari bahwa dia sebenarnya sudah lama menanggung beban berat dan selalu mengabaikan orang sekelilingnya.


Sejak terakhir kali dia bertemu dengan Arion dalam mimpi, dia sudah tidak pernah lagi mendengar bisikan - bisikan yang membuatnya merasakan kehadiran sang Suami.


"Iya.. Kakak mau kalian berdua yang menemani Kakak ke Dokter Kandungan tepat di hari Senin, Minggu pertama di bulan depan. Bagaimana? Kita akan pergi pukul 4 sore," usul Grace mengingat kalau kandungannya sudah berusia tiga bulan tepat pada hari Senin nanti.


"Baiklah, Kak. Aku akan tetap standby untuk Kakak," jawab Sam.


"Aku akan selalu siap kapanpun Kakak menbutuhkanku," lanjut Yoru.


Mereka pun tertawa lepas bersama. Serasa tidak ada beban yang menghampiri mereka.


Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..


"Ya? Halo? Ini dengan siapa ya?" tanya Grace pada nomor yang tidak dikenal.


"Grace? Ini Grace kan?" Terdengar suara perempuan dari ujung telepon. Perempuan itu memastikan terlebih dahulu pemilik ponsel yang dihubunginya.


Grace mengerutkan keningnya dan hal tersebut membuat Sam dan Yoru juga mengerutkan kening mereka.


"Ada apa Kak? Siapa dia?" tanya Sam dengan nada cemas.


"Loudspeaker saja, Kak. Biar kami juga bisa mendengarnya," lanjut Yoru yang juga khawatir pada Grace.


Grace menuruti perkataan Yoru. Dia mengaktifkan pengeras suara pada ponselnya. Dan melanjutkan percakapannya dengan perempuan di seberang telepon.


"Ya, ini dengan saya sendiri. Kamu siapa?" tanya Grace sekali lagi, karena dia masih belum mengetahui siapa yang meneleponnya.


"Ini aku, Lisya." Jawaban si penelepon membuat hati ketiga orang yang menantinya pun merasa lega.


"Ternyata kamu ya? Ada apa, Sya?" tanya Grace pada Lisya.


Lisya menghela nafas sejenak dan bertanya, "Apa Steve ada menghubungi kalian? Tidak biasanya dia mengabaikanku. Dan sekarang ponselnya sama sekali tidak aktif. Apa aku telah melakukan kesalahan yanga fatal padanya?"


"Lisya, tenanglah. Kita bisa membiccrakan hal ini dengan baik - baik. Datanglah ke Mansion sepulang kerja. Kita semua akan berkumpul dan mencaritahu tentang hal ini. Bagaimana, Sya? Kamu mau kan?" tutur Grace dengan perlahan.


Grace tau apa yang dirasakan Lisya. Dia mengerti, karena hal itu sudah dialaminya terlebih dahulu. Arion sudah lebih lama tidak ada kabar sama sekali sibandingkan Steve. Sejak mereka ke London, semuanya menjadi seperti ini.


"Baiklah, Grace. Aku akan ke Mansion setelah jam makan malam. See you," ucap Lisya sambil mengakhiri panggilan tersebut.


Grace hanya menjawab singkat, See you too."


Saat ini ketiga orang itu saling berpandang - pandangan satu dengan yang lainnya.


"Kak Lisya menanyakan tentang Kak Steve?!!" tanya Sam dengan nada yang memekikkan telinga.


"Ini pertanda kiamat sudah dekat, Kak!!" celetuk Yoru yang mengerti arah pertanyaan Sam.


Grace tertawa terbahak - bahak mendengar dan melihat ekspresi dari kedua Adiknya itu. Wajah yang melebar akibat mulut yang sedang menganga seolah tak percaya dengan apa yang sedang terjadi.


"Kak, kami serius!" ucap kedua lelaki itu dengan tegas secara bersamaan.


Tapi, hal ini malah membuat Grace semakin gencar untuk tertawa. Kedua Adiknya itu ternyata memiliki tingkah laku yang hampir sama.


"Baiklah, baiklah. Kakak berhenti tertawa. Tapi, kalian harus berjanji untuk tidak melanjutkan tingkah konyol kalian itu. Aku tidak akan mengatakan apa pun jika kalian masih melakukannya."


Akhirnya, Sam dan Yoru menutup mulut mereka dengan kedua telapak tangan mereka. Sam dan Yoru patuh pada permintaan sang Kakak.


"Meskipun demikian, Steve tetap berusaha untuk mendekatinya dengan cara mengusik Lisya setiap saat. Melalui panggilan, pesan singkat, sampai ke akun soaial media." Grace berhenti sejenak dan mmenghela nafasnya.


"Awalnya, Lisya memang selalu mengomel dan menolak. Tapi, setelah hampir sebulan Steve melakukan hal itu, Lisya mulai meresponnya secara perlahan. Melalui panggilan singkat tadi, Kakak sangat yakin kalau Lisya sudah memiliki perasaan yang sama dengan Steve. Meskipun dalam porsi yang berbeda," tutur Grace sembari mengelus dagunya.


Sam dan Yoru bersamaan menganggukkan kepala dan berguman kecil, "Ohh, begitu.. Kami mengira sejak awal, Kaka Lisya tidak akan akan pernah menyukai Kak Steve."


"Sudahlah, jangan berpikiran buruk di awal. Itu tidak baik untuk pencernaan," ledek Grace pada kedua Adiknya.


Malam harinya..


"Nah, sekarang kita semua sudah berkumpul di sini. Dari yang kita ketahui, Ar dan Steve, keduanya tidak bisa dihubungi lagi sejak pergi ke London. Ar sudah hampir seminggu tidak menghubungi kita, sedangkan Steve sudah 3 hari."


Di ruang tamu yang begitu luas dan bernuansa putih keabu - abuan itu, Keluarga Melv. beserta Lisya dan Papanya berkumpul. Mr.Melv. memulai percakapan diantara mereka.


"Apa kamu sudah menghubungi salah satu pekerja yang ada di sana, Mr.Melv.?" tanya Papanya Lisya dengan raut wajah serius.


"Aku sudah menghubungi bagian HRD dan juga salah satu Manajer di sana. Jawaban mereka tetap sama. Arion maupun Steve, mereka sibuk berurusan dengan Client di luar perusahaan. Saat aku menghubungi ponsel khusus Kantor, yang biasanya dibawa oleh Sekretaris Dirut, ponsel itu malah tidak pernah aktif lagi. Dan tidak ada seorang pun yang bisa aku hubungi lagi," ungkap Mr.Melv. yang sudah berusaha keras mencari cara untuk menghubungi Anaknya.


"Oh iya, Grace. Kita masih bisa minta bantuan sama Ricky. Kenapa tidak kepikiran sampai sana sih?" saran Adam yang terlintas begitu saja mengingat keberadaan Ricky di London.


Grace menepuk jidatnya dan berkata, "Iya juga ya, Kak? Kenapa aku jadi melupakan Bg Ricky? Dia kan tinggal di London, jadi kita tidak perlu bersusah payah terbang ke London untuk menyelidiki masalah ini."


"Bg Ricky? Sepertinya aku pernah mendengar namanya. Dia itu siapa?" tanya Papanya Lisya pada Grace.


Mr.Melv. mengambil alih pertanyaan Papanya Lisya. Dia tidak ingin ada kesalahpahaman diantara mereka.


"Ricky itu seorang pengusaha baru yang juga berkecimpung dalam dunia gelap, alias Mafia. Dia itu sudah seperti saudara bagi Grace. Dia juga sudah banyak berjasa pada kami. Maka dari itu, aku mempercayainya. Kalian tidak perlu khawatir, dia adalah Mafia paling baik yang pernah aku kenal," tutur Mr.Melv. menjelaskan mengenai Ricky.


Lisya mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Mafia itu licik. Apa yang bisa kita percayai dari mereka?"


Grace mengeluarkan ponselnya dan memanggil RIcky. Dia juga mengaktifkan speaker ponselnya, agar semua orang mendengar percakapannya dengan Ricky.


"Halo, Grace. Apa kabar Adikku yang sombong?" tanya Ricky yang sudah menerima panggilan tersebut.


"Baik, Bang. By the way, Grace boleh minta tolong sama Abang?" tanya Grace sambil melirik pada Lisya dan Papanya.


Mereka berdua tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Mereka mengira Ricky yang dihubungi itu bukanlah seorang Mafia. Seorang Mafia tidak akan pernah berkata selembut itu pada orang lain.


"Apa itu, Grace? Apa pun akan Abang lakukan untuk Adik kesayangan Abang. Katakanlah," jawab Ricky dengan santainya.


Grace pun mulai menceritakan semuanya dari awal sampai akhir menggunakan versinya, "..."


"Baiklah, Abang akan membantumu. Tapi, kapan kira - kira kamu melahirkan? Kenapa tidak pernah mengatakan apa pun padaku? Masa aku tau dari Adam? Kamu tidak ingat dengan Abangmu ini lagikah?"


Ricky malah menghujani Grace dengan berbagai pertanyaan. Dia sangat tidak menyukai hal seperti itu. Berita bahagia yang seharusnya dia dengar dari Adik kesayangannya sendri, malah dia mendapat info itu dari orang lain.


"Maafkan aku, Kak. Belakangan ini aku memang kurang fit. Aku akan mengabari Abang setelah aku cek hari Senin nanti. Aku tidak akan membiarkan Kak Adam mengadu lebih dulu pada Abang," ucap Grace dengan nada penuh penyealan.


"Baiklah, Abang tunggu kabar baik darimu. Kamu juga tungga saja kabar baik dari Abang. Selamat malam Adik kesayangan Abang. Jangan terlalu memikirkan hal ini, Abang yang akan memikirkannya mulai sekarang. Kamu kan sudah tau bagaimana kerasnya kelompok Yardies kan? Percayalah pada abangmu ini," ucap Ricky dengan pernuh perhatian.


"Selamat malam juga, Bang."


Panggilan itu pun berakhir. Papanya Lisya membelalakkan matanya menatap ke arah Grace sambil berkata sekencang - kencangnya, "Yardies?!!"


"Sekelompok Mafia ternama dan terkenal paling kejam di Inggris? Apa aku tidak salah dengar?" lanjut Papa Lisya yang sangat penasaran dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Pa, jangan bikin malu. Papa terlalu norak, ikh!" gerutu Lisya pada Papanya yang terus mengabaikannya.


"Iya, dia adalah pemimpin dari kelompok Yardies dan sekarang mereka sudah membuka sebuah perusahaan di bidang jasa di London. Jadi, sekarang masalah kita sudah kelar setengahnya. Tinggal menunggu kabar darinya."


Mr.Melv. berusaha menjelaskan dengan perlahan pada Papanya Lisya. Dia merasa takut jika cara Papanya Lisya dapat mengganggu Menantunya.


Lisya dan Papanya menganggukkan kepalanya secara bersaman sebagi tanda bahwa mereka sudah mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Mr.Melv. Mereka pun bangkit dari duduknya dan berpamitan.


"Tidak terasa sudah pukul 10 malam. Sebaiknya kami pulang. Aku tidak ingin mengganggu jam istirahat kalian. Kami pun butuh istirahat. Kami pamit pulang ya, semuanya." Cara Papanya Lisya berpamitan itu sangatlah sopan santun.


"Terima kasih sudah memperbolehkan kami mengikuti kegiatan malam ini dan terima kasih karena telah membantuku mencaritahu keberadaan Steve. Sampai jumpa semuanya," lanjut Lisya pada semua orang sambil menggandeng Papanya dan sebelah tangan yang lain melambai - lambai pada keluarga Melviano.


Mereka pun pergi dari Mansion Utama. Sedangkan yang lainnya, beranjak dan kembali ke kamarnya masing - masing. Kekhawatiran setiap orang mulai berkurang sedikit demi sedikit setelah mendengar bahwa Ricky mau membantu mereka menemui keberadaan Ariom dan Steve.


 


 


 


>> Bersambung <<<


Sampai sini dulu ya..


Kita akan lanjut di next chap, Ingat untuk selalu beri like nya yaa, Kakak2..


Mohon bantu Author meningkatkan rating di TPG dan NARA yaa, guys..


Terimakasih bagi yang setia mengikuti kisah Arion dan Grace selama ini..


Salam Kasih untuk Yg Terkasih


~~ Love You All ~~


IG : friska_1609