THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
69



"Dad, Ar sudah siuman. Tapi, dia tidak mengingatku sama sekali. Untuk malam ini, aku akan menjauh darinya." Kataku saat menelepon Daddy di luar ruang rawat inap Ar.


"Ar sudah siuman? Benarkah? Kenapa dia bisa tidak mengingatmu? Kamu tidak bertanya pada Dokternya?" Tanya Dad padaku, aku tidak tau harus menjawab apa karena aku pun sedang dalam keadaan kalut.


"Baiklah, malam ini kamu tidur di sofa saja. Besok pagi - pagi sekali Mommy sudah tiba di sana. Daddy juga akan mengabari yang lainnya. Kalau dia tidak mengingatmu, kemungkinan dia mengalami geger otak atau sejenisnya. Yang sabar ya, sayang. Dad akan selalu mendukungmu, sayang. Apapun yang keputusanmu, asal kamu tetap bersama dengan Arion. Ya sudah, kamu beristirahatlah. Bye Grace." Ucap Dad sebelum mengakhiri panggilan telepon itu.


Aku pun masuk ke dalam. Ar yang masih dalam posisi duduknya menatap tajam ke arahku. Tatatpannya begitu dingin dan tidak berperasaan.


"Kamu itu siapa? Kenapa bukan Mommy yang merawatku? Kenapa malah kamu bisa ada di sini? Apa kamu pengasuh bayarannya Mom and Dad ya? Jawab aku!" Ar berkata setengah berteriak padaku. Itu membuatku semakin sedih. Dia ingat dengan Mommy, tapi tidak denganku.


"Besok pagi - pagi sekali, Mommy dan yang lainnya akan kemari. Kamu istirahat saja, jangan pikirkan hal lain lagi. Aku juga sudah lelah dan butuh istirahat. Selamat malam Ar."


Aku langsung mengambil sebuah selimut kecil dari dalam lemari kecil di sudut kamar dan berbaring di sofa dengan membelakangi Ar. Aku tidak sanggup lagi melihatnya. Ternyata sesakit ini jika kita diabaikan oleh orang yang kita cintai.


'Kenapa di saat aku sudah mencintainya, dia jadi melupakanku? Apa ini hukuman bagiku yang sudah mengabaikan perasaannya selama ini?'


Malam ini, aku tidak bisa tidur dengan nyenyak seperti malam - malam sebelumnya. Ar selalu memenuhi pikiranku saat ini. Pikiranku benar - benar kacau dibuatnya.


'Apa aku sudah tidak berarti lagi baginya? Dia orang yang selalu ada untukku, tapi dia malah melupakanku begitu saja.'


*********


"Ar sayang, Mommy datang mejengukmu. Maaf ya, sayang. Selama ini Mommy tidak sempat ke sini. Untung saja ada Grace yang menjagamu dengan baik selama Mom di London bersama Daddy mu.


"Grace? Maksud Mom, perempuan itu? Kenapa Mom membiarkan aku dirawat oleh dia? Kenapa bukan Kak Steve atau Kak Adam saja?" Ucapan Arion bagaikan pedang yang menusuk tepat di dadaku. Dia hanya tidak mengingatku. Hanya aku yang dilupakan olehnya.


Dengan langkah seribu, aku keluar dari ruangan itu. Kak Silvia mengikutiku dan menghampiriku, "Yang sabar ya, Grace. Kita tunggu sampai Dokter selesai memeriksanya. Kamu harus kuat. Kamu pasti bisa membuat Ar mengingatmu kembali. Kamu harus menunjukkan perasaanmu padanya dengan tulus. Jangan menangis putus asa begini."


Kak Silvi memeluk dan mengusap punggungku. Aku hanya bisa menangis dalam diam. Kak Silvi tidak mengatakan apa pun lagi setelah mendengar isak tangisku.


Setelah perasaanku yang tertahan mulai tadi malam sudah kuluapkan dalam tangisanku, aku pun mengambil keputusan yang pasti, "Kak, terimakasih atas dukungannya. Ini adalah yang terakhir aku menangis karena Ar melupakanku. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri dan pada Ar bhawa aku akn selalu berada di sisinya. Apa pun yang terjadi."


"Kakak mendukungmu, Grace. Selama ada Kakak, kamu tidak perlu takut dengan apa yang akan terjadi. Kami akan selalu berada di pihakmu," senyuman Kak Silvi sangat hangat hingga mampu menenangkan kegalauanku.


"Baiklah Kak, aku akan pulang dulu. Aku harus membersihkan diriku sebelum berangkat kerja."


Kak Silvi hanya mengangguk dan menemaniku masuk ke dalam ruang rawat inap Ar untuk berpamitan.


"Mom, Grace pamit pulang dulu ya? Grace tidak mau terlambat datang ke Kantor," kataku sambil memeluk erat Mommy.


Mommy membalas pelukanku sambil menepuk - nepuk pundakku dengan lembut, "Jaga dirimu baik - baik ya, sayang. Mom yang akan merawat Ar."


"Baik, Mom. Aku pamit duluan ya, Kak Adam, Kak Sil, Kak Steve. Bye semua." Aku melambaikan tanganku pada mereka. Mereka juga membalasnya sambil tersenyum padaku.


"Cepat sembuh ya, Ar." Ucapku sebelum membalikkan tubuhku dan keluar dari ruangan itu. Aku tau tatapan aneh Arion padaku. Dia pasti kebingungan dengan semua hal yang di lihatnya barusan.


Sesampainya di Mansion Utama, aku pun melakukan ritual mandiku dan berganti pakaian. Oh iya, aku akan ke sini jika waktu ku sudah terhimpit. Letak Mansion Utama masih lebih dekat dengan Kantor dibandingkan Mansion Pribadi kami.


Tiba - tiba aku mendapat telepon dari Mommy.


"Ya? Halo Mom. Ada apa Mom?" Tanyaku pada Mommy dengan penasaran.


"Grace, Ar tidak mau makan bubur yang dibuat oleh pihak Rumah Sakit dan dia ingin makan bubur masakan Rumah. Kamu bisa masakkan bubur untuknya? Sebentar lagi supir Mom akan datang ke sana untuk menjemputnya. Mommy mau berkonsultasi dengan Dokter yang menangani Ar. Kamu bisa tolongin Mommy kan, sayang?" Tanya Mom padaku.


"Baiklah, Mom. Aku akan langsung memasakkan bubur untuknya. Bye, Mom." Kataku sambil mengakhiri panggilan itu.


Dengan segera, aku melangkahkan kakiku memasuki dapur. Koki dan para pelayan sudah terbiasa dengan hadirnya diriku yang tiba - tiba seperti ini. Tidak ada lagi rasa canggung di antara kami.


"Tolong ambilkan panci kecil yang khusus untuk masak buburlah. Aku mau memasakkan bubur untuk Ar. Dia sudah siuman dari masa kritisnya." Kataku sambil meminta bantuan dari seorang pelayan.


"Tuan muda beneran sudah siuman, Non Grace?" Tanya sang Koki dengan tatapan berbinarnya.


"Iya, dia sudah siuman dan saat ini dia tidak mau makan bubur buatan Rumah Sakit. Dia hanya ingin makan bubur masakan Rumah."


Aku melihat mereka bersorak penuh semangat karena mendengar Arion sudah siuman. Dengan senang hati, mereka selalu membantuku menyiapkan alat dan bahan yang akan aku gunakan untuk memasak.


Tidak berapa lama, Supir pribadi Mommy datang menghampiriku. Buburnya juga sudah selesai di packing. Aku pun menyerahkan bubur itu dan mengucapkan harapanku dalam hati, 'Semoga kamu menyukainya, Ar. Makan yang banyak ya, biar kamu cepat sembuh.'


Jam sudah menunjukkan pukul 8, 15 menit lagi. Aku sudah tidak punya waktu lagi. Aku langsung menyambar tas kerjaku dan masuk ke dalam mobil. Tinggal 15 menit lagi, aku akan telat tiba di Kantor.


"Kenapa hari ini kamu cukup lama tiba di Kantor? Tidak biasanya." Tanya wanita centil yang meja kerjanya berada di seberang meja kerjaku.


"Maa.. Maaf, Bu. Tadi pagi saya sempat sakit perut. Mungkin karena semalam kebanyakan makan fast food di luar sana," aku harus selalu bersikap sopan pada pegawai yang satu ini, karena dia sudah lama bekerja di sini.


"Baiklah, selamat bekerja." Dia pun pergi dari hadapanku dengan senyuman liciknya. Enath apa lagi yang akan dikatakannya. Aku tidak suka dengan wanita seperti dia yang suka menyindir orang lain, meskipun pekerjaannya sangat rapi dan bagus.


"Grace, kamu di panggil ke ruang Pak Steve." Teriaknya dari arah seberang. Aku kesal melihat tingkahnya yang semena - mena itu.


"Baik, Bu." Setelah menjawabnya dengan singkat, kau pun pergi ke ruangan Steve.


Aku tidak menjawabnya. Aku hanya mengikuti perintahnya, duduk di hadapannya. Aku hanya diam sambil menunggu dia mengucapkan sesuatu.


"Yang pertama, di dalam amplop ini ada pasport dan tiket serta kartu kunci kamar Apartemen yang akan kamu tempati selama kamu berada di USA. Lalu ada beberapa lembar mengenai wajah dan informasi tentang pemegang saham dan client yang akan kamu temui di sana. kamu harus bisa menghapalnya dengan baik. Penerbanganmu besok sore tepat jam 3. Sudah mengerti mengenai hal pertama yang aku sampaikan?" Tanya Kak Steve dengan wajah datarnya.


"Sudah Kak." Jawabku singkat.


"Yang kedua, kami sudah mendapat kabar dari Dokter cantik itu bahwa Arion mengalami Amnesia sementara. Dia tidak bisa mengingat kejadian beberapa tahun terakhir saja. Benturan yang terjadi pada kecelakaan itu membuat retak bagian dinding otaknya. Tapi, ingatannya akan pulih dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Ada kemungkinan bahwa dia tidak bisa mengingatmu dikarenakan memorinya yang hilang itu berkisar antara 2 sampai 3 tahun silam. Jadi, kamu jangan bersedih lagi. Dia pasti akan mengingatmu lagi." Kali ini, Kak Steve menatapku dengan ekspresi khawatirnya.


"Iya, Kak. Grace tidak akan bersedih lagi. Jadi, informasinya itu saja?" Tanyaku dengan ragu.


"Masih ada lagi yang ketiga, Grace," Kak Steve malah tersnyum aneh padaku.


"Apa lagi itu Kak? Kok banyak banget yang harus disampaikan padaku?" Tanya dengan ekspresi wajah kesalku padanya.


"Yang ketiga, besok Mommy dan Silvia ada janji dengan client lama. Kamu tidak perlu datang ke Kantor, jadi kamu yang akan menjaga Ar sampai jam makan siang. Aku akan datang jika Mommy tidak bisa menggantikanmu. Saat berduaan dengan Ar yang sekarang, aku harap kamu ekstra hati - hati. Ar yang saat ini di Rumah sakit adalah Ar yang dulu sangat benci berdekatan dengan perempuan. Aku takut dia akan bertindak kasar padamu seperti pada perempuan lainnya di masa lampau. Kamu paham kan, Grace?" Kak Steve mulai memasang wajah seriusnya sambil menaik - turunkan kedua alismatanya.


"Aku paham, Kak. Sekarang aku sudah boleh pamitan kan?" Aku kesal melihat wajah anehnya itu.


"Ehh, masih ada lagi, Grace." Kata Kak Steve sambil terkekeh melihat wajah kesalku padanya.


"Apa lagi sih, Kak? Banyak amet..!!" Ucapku sedikit ketus padanya.


"Besok kamu harus memasak bubur untuk Ar seperti tadi. Yang banyak, biar ada stoknya kalau dia makan sampai berkali - kali. Dia mengira itu masakan Mommy. Kami tidak berani mengatakan apa pun, karena kami takut dia tidak mau memakannya jika kamu yang memasaknya. Maklum saja, dia sudah kembali menjadi Ar yang dingin pada kaum hawa." Ucapan Kak Steve membuatku semakin ragu.


"Baiklah, Kak. Besok aku akan memasak yang banyak untuknya. Tidak masalah dia mau mengira itu masakan siapa, asal dia bisa makan dengan lahap." Kataku sambil menundukkan kepalaku.


"Kamu yang kuat ya, Grace. Semua cobaan ini pasti bisa kamu lewati. Aku bangga dengan kisah Cinta kalian yang penuh tantangan. Aku saja, sampai sekarang masih menjomblo. Entah kapan aku dapat bertemu dengan jodohku." Kak Steve malah tertawa terbahak - bahak setelah mengucapkan kata - kata yangmenurutku tidak lucu.


'Apa - apaan Kak Steve ini? Gak lucu kok malah ketawa?' Batinku merasa terusik melihat tingkah orang aneh di hadapanku saat ini.


"Ya sudah lah, Kak. Kalau Kakak mau tertawa terus, silahkan. Aku pergi dlu." Dengan segera aku melangkahkan kakiku keluar ruangan Kak Steve. Dia itu terlalu lama menjomblo menurutku. Jadi begitulah akibatnya, suka tertawa di saat yang tidak tepat.


**********


Keesokan harinya...


"Kenapa kamu yang datang ke sini? Kemana Mommy?" Tanya Ar dengan ketus padaku.


"Mommy sedang jumpa Client bersama Kak Silvia. Kamu sarapan dulu. Mommy menyuruhku untuk mengantarkan bubur ini padamu. Aku akan meletakkannya di sini, silahkan dimakan buburnya dan ini air hangatnya."


Setelah berkata demikian, aku langsung memundurkan langkah kakiku. Aku tidak ingin melihatnya saat ini, karena aku tau saat ini dia sedang menatapku.


Akhirnya dia mau menuruti permintaanku yang menyuruhnya untuk makan. Dia juga minum obat yang sudah tersedia di atas meja tepat di sebelah tempat tidurnya.


"Kamu kemari. Cepat!" Ar memanggilku dengan ekpresi datarnya.


Terpaksa aku harus berjalan mendekatinya. Dia memberikan rantang bubur yang sudah dihabiskannya. Aku menerimanya dengan hati - hati. Tapi tangan kami bersentuhan. Tiba - tiba saja dia menghempaskan rantang yang ada di genggamannya.


Aku sangat terkejut dan langsung berjongkok mengambil rantang itu. Hal ini membuatku terus bertanya - tanya di dalam hati, 'Apa dia memang seperti ini, jika sedang bersentuhan dengan perempuan?'


β€œKamu kesana! Jangan dekat - dekat denganku lagi! Cepat menjauh dariku!” Ar memarahiku dengan intonasi begitu kasar. Aku pun langsung berjalan menjauh darinya dan duduk di sofa. Aku menundukkan kepalaku.


"Aku paling benci kalau ada yang menyentuhku! Apalagi dia seorang perempuan!" Wajahnya begitu dingin dan sangar. Aku sampai meneteskan airmataku. Tidak ku sangka, dia akan berbuat seperti ini pada setiap perempuan yang menyentuhnya, padahal yang tadi itu tidak disengaja.


γ€€


Apa yang akan terjadi selanjutnya?


Penasaran kan? 🀭🀭


Sabar menunggu next eps nya yaa... 😁😁


>> Bersambung <<


**********


Selesai membaca, jangan lupa klik tanda jempol sebagai apresiasi kalian terhadap Author ^.^


Dan beri komentar seputar ceritanya ya,, agar Author tau bagaimana respon pembaca pada cerita ini..


Apakah banyak yang suka? Atau malah banyak yang tidak suka?


Terima kasih bagi yang sudah setia membaca dan menanti kelanjutan kisah Arion dan Grace..


Ingat untuk singgah ke karya terbaru Author yang berjudul β€œNARA” yaa..


Salam Kasih buat yang Terkasih πŸ˜ŠπŸ™