THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
46



Malam telah tiba. Aku sebenarnya sudah sangat lelah. Menemani Ed yang tidak ada puas-puasnya berlari-larian menghampiri stand yang menjual pakaian anak dan mainan.


Tapi, mau bagaimana lagi? Aku harus pergi ke Klub itu. Sore tadi, Kak El sudah memaksaku ke salon untuk memanjakan diri. Aku paling bosan melakukan hal aneh seperti itu, tapi ini semua demi acara malam ini.


Aku hanya perlu mengganti pakaianku dan langsung menuju lokasi. Hari ini aku hanya membawa sling bag yg hanya berisikan dompet, ponsel dan powerbank.


Yang benar saja, gaun yang ku kenakan sangat cocok untuk acara malam ini. Aku jadi terlihat anggun dengan pakaian ini. Memang pilihan Bang Ricky is the best lah pokoknya.


Yang benar saja, Bang Ricky memang menyuruh supir kepercayaannya untuk menjemput dan mengantarku ke Klub itu. Dia tidak bisa percaya dengan sembarang supir untuk menemaniku pergi ke sana.


Untuk acara pembukaan, aku masih mengikutinya sampai selesai. Tapi, di saat acara inti sampai akhir, aku menghindar dari kerumunan orang-orang itu.


Aku merasa tidak cocok dengan dunia mereka. Mereka minum bir, sedangkan aku? Aku belum pernah minum bir. Aku pun duduk di kursi barisan paling pojok.


Aku lebih suka menyendiri, pegang ponsel dan bermain games yang menurutku menyenangkan. Kegiatanku terganggu di saat ada seseorang yang datang menghampiriku. Dia membawa segelas air jeruk untukku.


"Here, from Big Boss. Drink it." (Nih, dari Bos Besar Di minum.) Ucapnya singkat padaku. Dia membuatku semakin kebingungan.


"Really? Why do you have orange juice at a club like this?" (Bener nih? Kenapa di Klub seperti ini menyediakan jus jeruk?) Tanyaku padanya yang membuat dia menoleh terheran-heran melihat ekspresi ku yang aneh.


"I told you, it was from Big Boss. Look to your right. Big Boss is still looking this way to see if I've delivered this juice to you."


(Kan aku sudah bilang, itu dari Bos Besar. Lihat ke arah kanan mu. Bos Besar masih melihat ke arah sini untuk memastikan, apakah aku sudah mengantarkan jus ini padamu.)


Selain ketus, kelihatan banget dari mimik wajahnya itu kalau dia tidak menyukaiku. Aku langsung terdiam seribu bahasa dan melihat ke arah kanan. Dan benar saja, Bang Ricky sedang melihat ke arah ku sambil tersenyum dan mengangguk.


Setelah pertemuan kami yang singkat itu, Bang Ricky langsung pergi dengan beberapa orang penting -menurutku- dan perempuan tadi juga pergi meninggalkanku sendirian.


Sejenak aku ragu untuk meminum jus itu. Entah mengapa, perasaanku menjadi tidak enak, karena yang mengantar


minuman itu bukan Bang Ricky, melainkan karyawan yang jelas-jelas membenciku. Yah, mereka banyak yang membenciku karena iri dengan kecantikanku.


Malam ini, aku yang duduk di pojok begini saja, bisa menjadi pusat perhatian seluruh karyawan laki-laki di perusahaan Yardies Corp. Mereka sering curi-curi pandang ke arah ku, tetapi tidak ada yang berani mendekatiku. Mereka tau kalau Bos Besar mereka sangat posesif terhadap orang terdekatnya, termasuk padaku.


Selang sejam, aku sudah mulai merasa bosan dan haus sekali. Tanpa berpikir panjang, aku meminum habis jus jeruk yang ada di hadapanku ini. Tiba-tiba saja pandanganku buram dan aku merasa pusing.


'Tuh kan, ada sesuatu di minuman ini. Tapi tidak mungkin Bang Ricky yang perbuat, pasti perempuan itu.' Aku hanya bisa mengumpat dalam hati.


Aku pun beranjak dari tempat ku dan ingin segera menuju parkiran. Di sana supir setia menunggu untuk mengantarkanku pulang ke rumah. Tapi, sebelum aku pergi terlalu jauh dari kursi yang ku duduki, ada beberapa perempuan yang mendekatiku. Sandiwara mereka sangat mencolok dan membuatku ingin muntah.


"Ouch, why are you Grace? Are you sick?"


(Aduh, kamu kenapa Grace? Kamu sakit ya?)


"Are you sick? Do you want us to go home?"


(Kamu sakit? Mau kami antar pulang?)


"Here, let me take you home, Big Boss is busy right now, surely you can't go home alone."


(SiniĀ  biar aku saja yang antar kamu pulang, Bos Besar kan sedang sibuk, pasti kamu gak bisa pulang sendririan dehh.)


Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Suara nyaring dan kebisingan itu membuat kepalaku semakin sakit. Aku juga merasakan perubahan pada suhu tubuhku. Panas. Gerah. Intinya, aku merasa seluruh tubuhku serasa terbakar.


Saat ini, mereka sudah mulai agak kasar pada ku. Mereka seperti menyeretku ke arah pintu samping. Aku benci akan hal ini. Mereka pasti merencanakan sesuatu hal yang tidak baik.


Aku berusaha membuka mata, aku mencoba untuk melihat sekelilingku. Selain mereka, semua tamu di Klub ini adalah para lelaki.


'Siapa yang bisa menolongku saat ini?'


Meskipun pandanganku semakin buyar, aku tetap berjuang melihat seseorang yang bisa menolongku. Tapi, aku tidak bisa menjangkau mereka, jarak mereka sangat jauh. Karena kami melalui pintu samping, jadi hanya sedikit tamu yang ada di sini.


Tiba-tiba saja aku melihat sosok Arion dari seseorang yang duduk membelakangi pintu samping. Dia sibuk berbincang dengan temannya. Ya! Itu memang benar dia. Aku tidak mungkin salah lihat. Aku yakin 100% apalagi terdengar jelas suara baritonnya yang khas itu.


"Ar, tolong aku."


"Ar, ku mohon, tolong aku."


Setelah berusaha begitu keras untuk berbicara, akhirnya aku hanya bisa mengucapkan ketiga kalimat itu. Mereka yang mendengarku berbicara dengan bahasa yang tidak mereka mengerti, sempat merasa panik dan dengan cepat menyeretku keluar dari pintu samping.


Aku hanya bisa berharap kalau Arion bisa mendengarkan suaraku yang hanya numpang lewat itu. Belum lagi, suara serakku ini tertimpa dengan musik Klub yang bergema.


Aku dibawa paksa dengan mobil. Sebelumnya, ada seseorang dari mereka bertelepon entah dengan siapa dan mengangguk-angguk sambil melihat ke arah ku. Mereka pun melajukan mobil dan tertawa terbahak-bahak sembari mengolok-olok aku.


"Grace, today you will be the same as the btch out there. You will be ruined! And you will no longer be the center of attention in the office.*"


(Grace, hari ini kau akan menjadi sama dengan wanita murahan di luar sana. Kau akan hancur! Dan kau tidak akan lagi menjadi pusat perhatian di kantor.)


"Well, I agree! I'm also fed up with seeing his flirty behavior! I hate seeing him who always gets attention, especially the attention from our Big Boss."


(Yah, aku setuju! Aku juga sudah muak melihat tingkah genitnya itu! Aku benci melihat dia yang selalu mendapatkan perhatian, terutama perhatian dari Bos Besar kita.)


"Tonight will be a long and pleasant night for you, Grace."


(Malam ini akan menjadi malam yang panjang dan menyenangkan bagimu, Grace.)


"BWAHAHAHAHAHA.."


Mereka tertawa terus-menerus. Mereka senang menyiksaku begini. Aku tidak habis pikir, aku ini kan memang lebih cantik dari mereka. Ya, wajar saja kalau aku jadi pusat perhatian di kantor.


'Apa mereka tidak takut kalau Big Boss mereka akan sangat kejam terhadap mereka, jika mereka melakukan hal keji ini pada ku?'


Tiba-tiba saja mobil berhenti dan aku di seret keluar dari mobil menuju ke sebuah hotel.


Kami langsung masuk ke dalam lift tanpa menghadap terlebih dahulu dengan resepsionis. Aku semakin ketakutan. Aku takut karena sudah bisa menduga-duga apa yang akan terjadi malam ini pada ku.


Tapi, aku bisa apa? Aku kan sudah tidak berdaya lagi. Seluruh tubuh ku berbalut keringat. Aku merasa sangat panas, padahal aku tau bahwa di dalam hotel, suhunya berlawan dengan yang aku rasakan saat ini.


"Maybe he's in the shower. Come on, let's just change her clothes."


(Mungkin dia sedang mandi. Ayo, kita ganti saja pakaiannya.)


"Alright, I've brought something that can make her very tempting tonight. Tadaaa."


(Baiklah, aku sudah bawa sesuatu yang bisa membuat dirinya sangat menggiurkan malam ini. Tadaaa.)


"Wahh, that's a limited edition transparent lingeri. Where did you get it?"


(Wahh, itu lingeri transparan edisi terbatas. Darimana kamu mendapatkannya?)


"This is his, I just bought it last night. Just to wait for a moment like this. I bought it specifically for this itchy woman."


(Ini miliknya, baru aku beli semalam. Hanya untuk menunggu saat-saat seperti ini. Aku membelikannya khusus untuk perempuan gatal ini.)


Aku tidak menyangka, mereka ini begitu antusias mencelakaiku. Pakaianku pun di ganti dengan lingeria transparan itu. Tidak lupa mereka juga membuka dalaman yang sedang aku gunakan. Mereka benar-benar membuatku seolah tak memakai apa pun juga.


Setelah itu, mereka mencampakkan tas ku ke arah pintu. Mereka juga mendorongku hingga terjatuh dan tergeletak di atas ranjang berukuran king size ini dan mereka pergi meninggalkanku sendirian di tempat gelap ini.


AUTHOR POV


Seorang lelaki berbadan besar memiliki perut yang buncit dan berkumis tebal keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Dia tersenyum melihat pemandangan yang sangat menggiurkan dihadapannya.


Dengan segera, lelaki itu mendekati ranjang tersebut dan berkata, "It turns out that rare things like this happen too. I can enjoy a beautiful, sexy and beautiful body that is still a virgin like you. Tonight will be a very long night, dear. We will have fun until morning."


(Ternyata hal langka seperti ini terjadi juga. Aku bisa menikmati tubuh cantik, seksi dan molek yang masih perawan seperti dirimu. Malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang, sayang. Kita akan bersenang-senang hingga pagi.)


Air liurnya sudah mengalir deras. Dia sudah tidak bisa menahan nafsu birahi nya setelah melihat tubuh mulus Grace. Dia mulai merangkak di atas tubuh molek gadis yang sangat ingin diterkamnya.


Grace yang melihat wajah lapar lelaki itu membuatnya merasa sangat ketakutan, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa karena dirinya masih di bawah kendali obat perangsang yang sudah larut dalam darahnya.


Grace merasakan panas dan gairah yang besar. Dia tidak tau harus bagaimana. Yang bisa dia lakukan saat ini hanya menggeliat kepanasan di atas ranjang. Dia benar-benar telah kehilangan kendali atas dirinya saat ini.