THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
73



ARION POV


"Steve, kamu tau tentang foto ini? Selama ini kan kamu selalu di sisiku. Kemana pun aku pergi, kamu pasti akan ikut denganku," tanyaku pada Steve saat dia sedang berada di dalam ruanganku mengantarkan beberapa berkas untuk ku tandatangani.


"Tidak. Saat itu, kamu tidak masuk kerja demi mengantarkan dia ke Rumah Sakit. Itu saja yang bisa kukatakan padamu, Ar." Steve malah pergi begitu saja sebelum aku bertanya lagi padanya.


Aku penasaran, apa sebenarnya hubunganku dengan dia? Aku merasa sangat hampa saat ini. Kenapa? Apa karena dia?


Aku memegang dada kanannya yang terasa sesak tapi tidak tau apa penyebabnya. Entah mengaoa, aku tiba - tiba teringat dengan rasa bubur buatan Mommy. Aku ingin memakannya siang ini.


"Halo, Mom." Sapaku pada Mom yang sudah menerima panggilanku.


"Halo, sayang. Ada apa? Tumben jam segini kamu menelepon Mom?" Tanya Mom padaku dengan nada manjanya.


"Mom, Ar ingin makan bubur buatan Mom yang kemarin itulah. Masakkan untuk Ar ya, Mom." Aku langsung saja  to the point bilangnya sama Mom.


"Lho? Harus sekarang ya, Ar? Mom kan masih sibuk beberes barang kita yang masih harus dipisahkan."


Sepertinya Mom sedang sibuk. Tapi kan, bisa saja menyuruh pelayan untuk membereskannya. Aku tidak bisa menunggu lagi.


"Mom, Mommy kan bisa suruh pelayan untuk merapikannya. Untuk apa ada pelayan begitu banyak di Mansion? Mom hanya memasakkan bubur saja nyah, nanti Ar akan suruh supir untuk menjemputnya kalau Mom memang sibuk."


Aku tidak ingin makan yang lain selain bubur masakan Mommy. Rasanya aku sudah candu dengan rasa bubur itu. Kenapa bisa begitu ya? Akh! Aku tak mau ambil pusing lagi.


"Mom, pokoknya, kalau Mom tidak memasakkan bubur itu, Ar gak mau makan apa pun." Aku mengancam Mommy dan langsung mengakhiri panggilan tersebut sebelum Mom menjawab apa pun.


Aku pun kembali memfokuskan diriku pada semua berkas yang ada dihadapanku. Meskipun sulit bagiku untuk berkonsentrasi.


Setelah beberapa jam berkutat pada komputer dan dokumen yang membosankan ini, Mom datang dengan membawa bubur yang aku inginkan.


"Hmm.. Dari aromanya saja, sudah menggugah selera, Mom." Aku tersenyum pada Mom yang sedang sibuk membuka rantang yang dibawanya.


"Makanlah, Mom sudah sampai membawanya ke sini hanya untukmu, Nak." Mom memang tersenyum padaku, tapi aku merasa ada sesuatu yang tersembunyi di balik senyuman Mom.


Aku menyuapkan sesendok bubur itu ke dalam mulutku, "....." Aku benar - benar kecewa.


"Ada apa, sayang?" Mom melihat perubahan ekspresiku dan bertanya dengan ekspresinya yang khawatir padaku.


"Mom, jujur saja. Selama ini, bubur yang ku makan itu bukan masakan Mommy?" Tanyaku dengan heran. Aku melihat wajah kaget Mommy setelah mendengar pertanyaan yang aku lontarkan.


"Mom? Bubur ini rasanya tidak sama dengan yang sebelumnya ku makan. Apa benar bukan Mom yang memasak bubur yang ku makan saat di Rumah Sakit? Ar mau Mom jujur pada Ar." Aku bertanya dengan sedikit meninggikan suaraku.


"Ar, Mom tidak bermaksud untuk berbohong padamu, sayang. Bubur yang sebelumnya adalah masakan Grace. Saat pertama kali kamu memakannya, kamu langsung mengira bahwa bubur itu adalah masakan Mom. Mom tidak ingin merusak selera makanmu waktu itu, jadi Mom hanya berdiam diri melihatmu dengan lahap menghabiskan serantang bubur itu."


Mom menjelaskan panjang kali lebar semua yang dipikirkannya. Aku melirik Mom yang sudah gugup karena dia merasa telah bersalah padaku.


"....."


Aku hanya diam tak bergeming. Aku marah karena telah dibohongi. Aku kesal karena tak seorangpun dari mereka yang mengatakan yang sebenarnya padaku. Saat ini, selera makanku sudah hilang.


"Sudahlah, Mom. Ar sudah tidak berselera makan lagi. Ar akan kembali bekerja lagi. Thanks ya, Mom. Mom sudah membawakan bubur yang Ar minta."


Setelah mengatakan hal itu, aku langsung beranjak dari sofa dan kembali ke kursi kebesaranku. Aku kembali memdokuskan diriku dengan pekerjaanku.


Aku tau kalau Mom sedang memperhatikan tingkahku seolah ingin mengatakan sesuatu. Tatapan Mom membuatku merasa risih dan aku jadi tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaanku.


"Mom, Ar mau bertanya. Saat ini dia ada si mana?" Tanyaku pada Mom yang sudah ada di hadapanku.


"Mom duduk di sini, ya? Mom akan beritahukan apa yang ingin kamu ketahui." Mom melirikku dan aku mengangguk tanda setuju.


Setelah duduk dengan nyaman, Mom tersenyum ke arahku dan berkata, "Sewaktu kamu mengusir Grace, dia memang tidak mengatakan apa pun. Tapi, setelah Dad mendengar hal itu, Dad memulangkannya ke tempat dimana seharusnya dia berada. Kamu terlalu kejam padanya, Ar. Padahal dia itu perempuan yang bisa kami harapkan."


Perkataan Mom membuatku memiringkan kepalaku. Aku tidak tau harus berkspresi bagaimana, "Dimana dia berada sekarang, Mom?"


"Kamu sudah berkata kasar padanya dan kamu juga sudah mengusirnya. Untuk apa lagi kamu mencarinya? Kamu benci berada di dekat perempuan, seharusnya kamu senang kalau dia sudah jauh di sana dan tidak akan pernah kembali lagi." Ucapan dan tatapan yang Mom lemparkan padaku sungguh tajam.


Tiba -tiba saja aku merasa dada bagian kananku terasa sakit, teramat sakit.


'Kenapa? Ada apa dengan diriku?'


Tanpa sadar aku memegang bagian yang sakit itu. Mom terlihat sedikit panik dan bertanya, "Kamu kenapa sayang? Kamu sakit? Sebaiknya kamu beristirahat terlebih dahulu."


"Tidak, Mom. Tidak apa - apa. Ar baik - baik saja kok. Ar juga tidak mengerti dengan kondisi Ar saat ini, Mom." Aku pun mengedikkan kedua bahuku.


"Oh iya, kamu jangan lupa untuk  periksa kondisimu setiap 2 hari sekali bersama Steve. Temui Dokter yang menanganimu waktu itu. Ingat! Kamu tidsk boleh kasar dengan orang yang akan menyrmbuhkan lukamu." Ancaman Mom itu membuatku terkekeh kecil.


"Kenapa bukan Dokter berjenis kelamin laki - laki sih, Mom..?" Tanyaku dengan nada bercanda.


"Tidak, tidak boleh. Kamu tidak boleh selalu bersama dengan para lelaki. Mom tidak suka itu. Masa Anak Mom seperti gay?" Tatapan Mom yang mengejek ditujukan padaku.


"Jadi, Mom menganggapku gay? Selama ini Mom melihatku seperti itu?" Aku bertanya dengan suara yang ditinggikan, tapi masih dalam mode bercanda.


"Tidak. Mom tidak pernah berpikiran seperti itu, sayang. Hanya saja, tatapan orang padamu terlihat seperti mengira kamu itu gay, Ar." Kata Mom sembari terkekeh padaku.


"Mommy.." Aku mengeluh mendengar kata - kata itu.


"Sudahlah, Ar. Jangan lupa nanti kamu ikut Steve ke Rumah Sakit ya. Mom pulang dulu, masih banyak kerjaan Mom di sana. Bye sayang." Mom pun melambaikan tangannya dan pergi begitu saja meninggalkanku.


Aku tidak bisa fokus lagi dengan pekerjaanku. Aku pun mengotak - atik ponselku.


'Ehh, ini kan..'


Begitu melihat foto yang ada di galeriku, aku pun langsung membuka lemari kecilku dan mengambil bingkai foto yang tadinya berdiri di dekat komputerku.


'Kenapa foto ini ada di ponselku? Apa memang aku yang mencetak foto ini? Akh! Tidak mungkin!'


Langsung saja, ku masukkan kembali bingkai foto itu ke dalam lemari kecil itu lagi. Aku tidak percaya dengan semua ini. Ini semua pasti hanya sekedar rekayasa!


**********


"Iya, iya, iya. Aku sudah siap, ayo!" Aku pun pergi menuju parkiran meninggalkan Steve yang masih mengoceh tidak jelas tentang Dokter itu.


"Hei..!  Kenapa kamu tidak memberitahukanku kalau Doktermu itu cantik?"


"Doktermu itu secantik apa?"


"Coba kasih aku sedikit clue tentangnya. Mana tau kami jodoh."


"Hei..! Kamu kok diam aja sih? Jawab aku dulu!"


"Ar..!!"


Aku mengabaikan Steve yang berteriak seperti orang gila. Malas banget, kalau disuruh mengingat - ingat penampilan perempuan yang tidak kukenal.


Sesampainya di Rumah Sakit, kami berdua langsung diarahkan ke ruangan sang Dokter.


"Dok, ini pasien yang bernama Arion yang memiliki jadwal perawatan selama 3 bulan ini," kata perawat yang sudah mengantarkan kami masuk ke dalam ruangan Dokter itu.


Kami pun dipersilahkan duduk di hadapan sang Dokter. Dokter itu hanya tersenyum padaku. Padahal Steve sepertinya tertarik dengan Dokter ini. Ya! Dokter ini memang terlihat cantik, tapi dia buka tipeku.


"Dia cantik." Bisik Steve padaku.


Aku hanya menggelengkan kepalaku meliriknya.


'Masih cantikkan Grace, menurutku. Ehh, apa yang kupikirkan? Kok jadi kepikiran dia lagi sih?!!' Aku bergulat di dalam pikiranku sendiri. Entah mengapa, aku bisa kepikiran dengannya yang sana sekali tidak ada dihadapanku.


"Arion, silahkan berbaring. Saya akan melakukan CT Scan untuk melihat kondisi otak Anda."


Dokter itu pun berdiri dsn berjalan ke arah ranjang yang sudah dilengkapi peralatan medis disebelahnya. Aku hanya mengikuti langkahnya.


Dia hanya tersenyum sambil melakukan pemeriksaan pada kepalaku. Karena aku tidak suka melihat senyumannya, aku hanya menutup mataku sambil menunggu pemeriksaan CT Scan ini selesai.


GRACE POV


Semalaman aku sampai lembur karena terlalu fokus bekerja. Tidak terasa, ternyata aku tidur jam 3 pagi. Dan sekarang aku sudah siap untuk berangkat ke Kantor. Ini sudah pukul 7 pagi.


"Bu, mari ikut kami ke mobil. Kita harus berangkat sekarang, karena meeting akan dimulai pukul 8. Kita tidak boleh terlambat." Sekretaris Dad itu mengingatkanku.


"Baiklah, mari kita berangkat."


Kami pun berangkat menempuh perjalanan yang cukup jauh. Untung saja kami berangkat sejam sebelum jam 8. Jadi, kami tidak terlambat tiba di Kantor.


Begitu sampai di ruang rapat, aku mulai memperhatikan ulang file presentasinya. Aku memang merasa agak gugup. Tapi, aku harus bisa.


Tak berapa lama, para pemegang saham berdatangan dan duduk di tempatnya masing - masing. Semakin ramai ruangan ini, aku semakin gugup.


'Bagaimana ini?' Aku membatin.


"Bu, jangan gugup. Kita yang ada di sini adalah rekan Bisnis. Anggap saja seperti berhadapan dengan teman - teman kuliah saat kita sedang melakukan presentasi di depan kelas. Tenangkan diri Ibu." Bisik Sekretaris itu padaku.


Mungkin saja, aku memang terlihat sangat gugup saat ini. Aku pun langsung menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Ini adalah kali pertamaku dalam memimpin rapat seperti ini. Belum lagi ini dalam Bahasa Internasional, Bahasa Inggris.


'AKU PASTI BISA..!!' Ucapku dalam hati untuk memberikan support pada diriku sendiri.


Rapatpun dimulai..


Aku menjelaskan semua perencanaan yang akan dilakukan untuk mengrmbangkan kualitas produk dan melebarkan sayap di pangsa pasar yang lebih luas. Meskipun perusahaan cabang ini masih tergolong paling kecil di antara ketiga Melv.Corp milik keluarga Melviano, perusahaan ini masih bids bertahan selama 5 tahun terkhir. Ini membuktikan bahwasannya perusahaan ini memiliki potensi yang besar untuk bisa seperti Melv.Corp. lainnya.


Segalanya mengalir begitu saja. Aku berhasil mengatakan hal - hal yang sudah kuhapal semalaman. Semua usahaku tidak sia - sia. Aku mendapatkan pujian dari beberapa pemegang saham yang semakin tertarik dengan keuntungan yang ditawarkan oleh Melv.Corp. di masa yang akan datang.


Akhirnya rapat yang menegangkan itu selesai dalam waktu dua jam penuh.


"You are very great. For the first time to lead a meeting like this, you already look very convincing. I am happy to collaborate with Melv.Corp." Kata salah seorang pemegang saham sambil mengulurkan tangannya padaku.


(Kamu sangat hebat. Baru pertama kali memimpin rapat seperti ini, kamu sudah terlihat sangat meyakinkan. Aku senang melakukan kerjasama dengan Melv.Corp.)


"Thank you, Sir. You praise me too much." Kataku sambil menjabat tangannya itu.


(Terimakasih banyak Tuan. Anda terlalu banyak memuji saya.)


Satu per satu para pemegang saham itu mulai keluar dari ruang rapat sambil melontarkan pujian demi pujian untukku. Aku merasa melayang mendengar pujian seperti itu. Mungkin saja ini merupakan kepuasan tersendiri yang kita rasakan jika perkejaan kita terselesaikan dengan hasil yang memuaskan.


'Terimakasih Tuhan, semuanya terselesaikan dengan lancar.' Ucapan syukurku pada Yang Maha Esa.


 


>>> Bersambung <<<


**********


 


Selesai membaca, jangan lupa klik tanda jempol sebagai apresiasi kalian terhadap Author ^.^


Dan beri komentar seputar ceritanya ya,, agar Author tau bagaimana respon pembaca pada cerita ini..


Apakah banyak yang suka? Atau malah banyak yang tidak suka?


'Terima kasih bagi yang sudah setia membaca dan menanti kelanjutan kisah Arion dan Grace.


 Ingat untuk singgah ke karya terbaru Author yang berjudul “NARA” yaa..


Salam Kasih untuk Yang Terkasih 😊🙏


Love You All 💞