
"Grace? Kamu sudah sadar? Ar! Cepat panggil Dokter untuk memeriksanya." Ucap Silvia yang sudah tiba di Rumah Sakit sedaritadi pagi.
"Kak Sil? Kenapa aku bisa ada di sini?" Tanya Grace yang sudah sadar sepenuhnya.
"Selamat ya, Grace." Ucap Silvia dengan singkat. Diikuti dengan yang lainnya.
Ar belum juga muncul. Grace merasa sangat kebingungan. Semua orang mengucapkan kata Selamat padanya, tapi dia malah tidak mengetahui apa yang dimaksudkan oleh mereka.
Ceklekk..
Terdengar suara pintu terbuka. Akhirnya, Ar datang bersama seorang Dokter. Dokter itu pun langsung memeriksa denyut jantung serta bagian lainnya yang dianggapnya perlu untuk diperiksa.
"Mereka sangat kuat. Kondisi keduanya sangat baik. Kalian sudah bisa membawa mereka pulang. Tapi, ingat untuk selalu menjaga kesehatan dari sang Ibu agar janin dalam tubuhnya tidak kekurangan asupan. Kontrol setiap makanan yang dikonsumsi untuk membantu memulihkan kembali ke keadaan semula. Itu saja, saya mohon diri dulu." Penuturan sang Dokter membuat Grace merasa terperanjat tidak percaya dengan semua itu.
"Sayang, kamu kenapa malah bengong begitu?" Tanya Ar yang sudah duduk di tepi ranjang tempat Grace berbaring.
"Aku tidak salah dengar kan? Dokter tadi bilang janin? Apa aku memang hamil?" Tanya Grace berangsur - angsur pada Ar.
"Iya, Sayang. Kamu hamil. Janin itu ada di rahim kamu, itu adalah Anak kita. Jadi, kamu harus lebih menjaga kesehatan kamu ya, Sayang. Aku tidak mau kamu melakukan hal mengerikan seperti semalam. Gegara kamu bergerak terlalu ekstrim saat melawan ketiga bandit itu, kamu jadi mengalami pendarahan yang cukup parah. Puji syukur, Anak kita kuat di dalam sana." Ucap Ar sambil mengelus perut Istrinya yang masih belum tampak perubahannya.
"Iya, Grace. Makanya, kami mengucapkan selamat padamu. Kamu terlalu aktif kurasa. Jadi, kamu tidak merasakan tanda - tanda kehamilanmu dan kamu malah melakukan pekerjaan yang cukup berat." Tegur Silvia pada Grace yang masih terdiam tidak tau harus berkata apa lagi setelah merasakan kebahagiaan yang mendadak ini.
"Sudahlah, Nak. Mungkin itu pembawaan bayinya. Dia itu aktif dan tidak ingin tinggal diam di Rumah, jadi jangan salahkan Ibunya." Ucap Mr.Melv. membela Grace yang memang selama ini sudah begitu rajin membantu Ar dalam segala pekerjaannya.
"Pasti Anaknya bakalan lebih aktif dan cerdas dari Papanya. Dia lebih mirip Grace." Adam mengeluarkan sedikit pendapatnya setelah melihat kondisi Grace saat ini.
"Pokoknya, Mom ingin kalian tinggal bersama Mom. Momyang akan membantu menjaga kalian selama masa mengandung. Kalian tidak perlu melakukan pekerjaan berat lagi. Ingat itu yaa.." Tegas Mrs.Melv. pada Silvia dan Grace.
"Idenya Mom ada bagusnya juga kok, Kak. Lebih baik tinggal di Mansion Utama. Jadi, aku juga akan membantu kalian jika kalian merasakan kesulitan." Ucap Yoru dengan antusias.
Akhirnya, Grace tersenyum mendengar ucapan setiap orang. Dia masih memikirkan sesuatu. Dirinya selama ini sehat - sehat saja, jadi dia tidak akan berdiam diri di Rumah. Dia akan tetap ke Kantor bersama dengan Suaminya.
"Sayang, kita akan tinggal di Mansion Utama untuk sementara waktu sampai kamu melahirkan ya? Kamu mau kan?" Tanya Ar sambil berbisik pada Istrinya.
"Yah, Aku akan mengikuti apa yang terbaik saja untuk saat ini. Aku akan menurut pada kalian semua." Jawab Grace singkat.
Ar yang mendengar jawaban itu pun mencium kening sang Istri dengan lembut. Dia mempersiapkan kursi roda untuk membawa Istrinya pulang ke Mansion. Hari ini Ar tidak bekerja, sehingga Steve yang harus bekerja ekstra untuk menutupi ketidakhadiran Ar di Kantor.
"Baiklah, mari kita pulang ke Mansion. Kamu harus minum vitamin untuk menambah daya tahan tubuhmu itu." Ucap Mr.Melv. sambil melihat ke arah Grace.
Semua orang mengangguk tanda setuju dan berbondong - bondong ke luar dari ruangan itu. Mereka pun kembali ke Mansion. Selama perjalanan, Ar tidak melepaskan pelukannya pada Grace. Dia tidak ingin jauh - jauh dari sang Istri.
"Grace, Silvia. Apa ada makanan yang ingin kalian makan untuk siang nanti?" Tanya Mrs.Melv. kepada kedua perempuan yang sedang mengandung itu.
"Tidak, Mom. Grace lebih suka makan yang manis - manis seperti cake dan buah daripada makanan seperti itu." Jawab Grace menolak untuk dipertanyakan tentang menu yang diinginkannya.
"Sil mau makan udang sambal lah, Mom. Terus dendeng pedas masakan Mommy ya. Harus masakan Mom." Pinta Silvia yang memang sejak beberapa hari ini sangat menginginkan masakan Mrs.Melv.
"Baiklah, Sayang. Nanti Mom yang akan masakkan untuk semua. Grace beneran tidak mau request masakan apa pun? Kandunganmu lebih tua dibandingkan Silvia lho, Nak. Seharusnya kamu yang lebih banyak ngidamnya." Ucap Mrs.Melv. yang heran mendengar jawaban Grace yang tidak menginginkan menu masakan apa pun.
"Tidak, Mom. Grace malah ingin memasak lauk untuk Ar. Dia kan biasanya makan masakanku, Mom. Nanti kalau Mom ke dapur, kita bareng ya, Mom? Grace mau ganti pakaian dulu." Ucap Grace dengan mantap. Dia sangat yakin dengan apa yang diinginkannya.
"Tapi, kamu sedang hamil, Sayang. Kamu tidak boleh terlalu lelah. Memangnya kamu mau memasakkan apa? Biar Mom saja yang masakkan." Ujar Mrs.Melv. yang mulai khawatir dengan permintaan Grace.
"Mom, biarkan saja Grace melakukan apa yang diinginkannya. Dia akan dibantu oleh pelayan dan tidak akan melakukan hal - hal yang membuatnya kelelahan. Ar percaya bahwa dia tidak akan membuat Anaknya sendiri menderita karena kebodohannya." Ucap Ar tegas sambil menoleh ke arah Istrinya.
"Ar benar, Sayang. Hanya memasak untuk Suaminya, tidak ada yang melelahkan. Mungkin dia mengidam dengan cara yang berbeda dengan Ibu hamil pada umumnya. Kalian bertiga tidak memiliki kesamaan dalam mengidam. Jadi, jangan memaksa Grace untuk melakukan hal yang tidak diinginkannya." Tutur Mr.Melv. yang memberikan pencerahan pada Istrinya yang terlihat tidak setuju pada permintaan Grace.
"Baiklah, Mom akan pergi mandi. Mom akan memanggilmu Mom pergi ke dapur." Ucap Mrs.Melv. yang pasrah dengan keadaan. Dia menyetujui permintaan Grace dengan ragu.
"Makasih ya, Mom. Grace juga mau bersiap - siap." Grace sangat senang mendapat persetujuan dari sang Mommy.
"Ayo, Sayang. Kita kembali ke kamar." Ar pun mulai mendorong kursi roda ke sudut tangga dan menggendong Istrinya menaiki tangga. Dia tidak mengizinkan Istrinya untuk menaiki tangga yang akan membuatnya merasa kelelahan.
"Kami juga kembali ke kamar ya, Mom., Dad, Yoru." Pamit Adam pada ketiga orang yang sedang asik dengan pikiran masing - masing sambil menggandeng Istrinya.
"Yoru juga kembali ke kamar untuk beristirahat ya, Mom, Dad. Siang nanti Yoru ada kelas. Jadi, Yoru harus ke Kampus." Lanjut Yoru berpamitan pada orang yang kini menjadi Orantuanya.
"Baiklah, kami juga akan kembali ke kamar. Nanti siang kita akan berkumpul bersama." Ujar Mr.Melv. yang dipakai untuk mengakhiri pertemuan mereka.
GRACE POV
"Sayang, kamu mau makan apa untuk lauk nanti siang? Mana tau kamu menginginkan sesuatu, aku jadi lebih mudah untuk mencari bahan masakannya." Tanyaku pada Suamiku yang sudah mendudukkanku di atas ranjang.
"Hmm? Aku hanya ingin memakan masakanmu, Sayang. Aku tidak akan pilih - pilih. Apapun yang kamu masak, aku akan memakannya. Itu saja, sudah cukup bagiku." Ucapnya dengan wajah yang dipenuhi senyuman.
"Baiklah, aku akan bersiap - siap dulu. Kamu tidak berangkat kerja, Sayang?" Tanyaku dengan ragu padanya.
Dia terlihat menggelengkan kepala dan berkata, "Tidak, Sayang. Hari ini aku akan menemanimu kemanapun kamu mau pergi. Kita akan keluar dan berjalan - jalan sebentar. Kamu mau kan, Sayang?"
Ternyata dia ingin mengajakku keluar Rumah. Aku sudah bosan dengan hari - hariku. Sangat jarang kami bisa pergi berkeliling dan hanya berdua saja.
"Mau banget malah. Kita akan pergi hanya berdua saja kan, Sayang?" Tanyaku dengan wajah berseri.
"Iya, Sayang. Jangan terlalu lelah. Kamu tau apa yang baik dan apa yang tidak baik untuk dilakukan kan, Sayang? Aku harap kamu tidak melupakan bahwasannya kamu sedang mengandung buah hati kita saat melakukan sesuatu." Ucapnya sambil menghampiriku dan mengelus puncak kepalaku.
Aku merasa bahwa saat ini dia jauh lebih perhatian padaku dibandingkan sebelumnya. Dia selalu mengingatkanku tentang hal ini.
"Baiklah, Sayang. Aku akan mengingatnya." Ucapku sambil tersenyum manis padanya.
"Aku mau mandi dulu. Kamu sudah bisa turun ke dapur setelah mengganti pakaianmu itu. Ingat untuk selalu berhati - hati ya, Sayang." Lagi - lagi dia memberiku peringatan demi peringatan.
"Grace? Baru saja Mom ingin memanggilmu, Nak. Ayo, kita bersama ke dapur. Tapi, kamu harus ekstra hati - hati. Jangan sampai terjatuh, karena dapur itu licin." Ucap Mom penuh dengan peringatan.
"Iya, Mommy." Jawabku singkat.
Kami pun memasuki dapur. Di sana sudah banyak para pelayan dan seorang Koki yang senantiasa membantu kami untuk memasak.
"Ini masih jam 9 pagi, jadi masih sempat untuk memasak dendeng pedas kesukaan Silvia. Kalian bantu menyiapkan dagingnya ya. Aku akan persiapkan bumbunya. Tiga orang bantu Grace, jangan sampai dia kenapa - kenapa. Dia sedang memgandung Cucu tertuaku." Tegas Mom pada mereka yang terlohat terkejut mendengar peringatan tersebut.
"Wah, selamat ya, Non Grace. Akhirnya Mansion ini akan ramai oleh Cucu - Cucu keluarga Melviano." Ucap sang Koki sambil mengulurkan tangannya untuk menyalamiku.
"Terimakasih Cheff." Jawabku singkat sambil memyambut uluran tangannya.
Aku juga tersenyum kepada semua pelayan. Aku yakin, mereka juga sebenarnya ingin mengucapkan selamat padaku, tapi mereka tidak berani. Mereka segan melihat Mom yang selalu menempel padaku.
"Sekarang sudah bisa pencar. Kalian bertiga tolong jaga Menantu dan Calon Cucuku. Jangan sampai mereka kenapa - kenapa." Perintah Mom pada ketiga pelayan yang sudah ditunjuknya untuk mengikutiku.
"Sayang, kamu hati - hati ya. Jangan pegang benda tajam, biarkan mereka yang mengiris atau memotong sesuatu." Ucap Mom lembut padaku.
"Baik, Mommy." Jawabku singkat.
Aku pun mulai berjalan pelan ke arah kulkas dan memilih sayuran dan bahan yang akan ku bagikan pada para pelayan. Mereka sudah tau apa yang harus dilakukan saat menerima bahan - bahan itu.
Setelah hampir sejam, akhirnya masakanku tuntas. Mom masih memasak dendeng kesukaan Kak Silvia.
"Masih lama ya, Mom?" Tanyaku dengan ragu.
"Masih tunggu bumbunya meresap ke dalam dagingnya, Nak. Sekitar dua jam lagi baru selesai. Baru bisa dilanjutkan ke tahap berikutnya. Kamu sudah selesai?" Ucap Mom sambil bertanya padaku.
"Iya, Mom. Grace mau minta Ar temeni beli roti dulu. Lagi pengen ngemil nih, Mom. Grace duluan ya, Mom?" Tanyaku dengan hati - hati.
"Kamu ngidamnya ngemil yang begituan ya? Beli yang banyak aja sekalian, Nak. Kalau Dad ada keluar, Mom bakal ingatkan Daddy mu untuk membeli roti - roti yang bisa kamu makan. Ya sudah, pergilah. Pelan - pelan saja jalannya." Mom memang sungguh perhatian.
Aku pun menganggukkan kepalaku dan tersenyum padanya. Seorang pelayan menggandeng tangan kiriku membantuku keluar dari dapur. Mereka juga sangat baik padaku.
"Terimakasih." Ucapku singkat sambil tersenyum padanya.
Aku pun bergegas masuk ke dalam kamar. Ku lihat Ar sedang duduk di salah satu sofa sambil memangku laptopnya. Dia sedang sibuk mengetikkan sesuatu yang tidak begitu aku mengerti.
"Sayang.." Ucapku lembut memanggilnya.
Dia menoleh ke arahku dan meletakkan laptopnya di atas meja sambil merentangkan kedua tangannya sebagai tanda menyuruhku untuk mendekat padanya. Aku pun duduk di sebelahnya dan memeluknya dari samping.
"Ada apa Sayang?" Tanyanya singkat padaku.
"Aku akan mandi dan aku mau kamu temeni aku pergi ke Toko Roti. Kita beli roti ya? Aku mau makan rotinya sekarang." Ucapku manja padanya.
"Baiklah, My Wife. Sekarang kamu pergilah mandi. Aku akan menunggumu. Kita akan langsung pergi setelah kamu siap. Oke, Sayang?" Ucapnya lembut padaku dan melepaskan pelukannya.
Aku pun bangkit dari tempat dudukku dan berjalan menuju ke kamar mandi. Aku bersiap untuk pergi ke Toko Roti. Begitu aku selesai dengan kegiatanku, Ar menghentikan kesibukannya dan menggandengku keluar dari kamar. Kami pun pergi ke Toko Roti dengan menaiki mobil.
Saat kembali dari Toko Roti, aku langsung ke ruang tamu dan melahap sebungkus Roti. Kak Silvia sampai datang menghampiriku. Dia malah melarangku makan roti yang banyak, karena sekitar satu setengah jam lagi sudah waktunya makan siang kami.
"Grace, jangan ngemil banyak - banyak. Nanti gimana makan siangnya?" Ucapnya sambil menarik plastik yang berisi beberapa roti lagi. Dia memang suka membuatku merasa kesal.
"Yaah, Kak Silvi.." Keluhku padanya yang terus saja mengoceh padaku, "Kamu itu sedang hamil, Grace. Jangan suka memakan hal - hal aneh dong. Waktu itu, kamu makan es krim cukup banyak, sekarang? Kamu malah mau memakan roti sebanyak ini?"
"Bukan, Kak. Itu tadi kami neli sekalian stok untukku selama berada di sini, Kak. Kakak tidak tau kalau Grace memang sedang ngidam makan makanan seperti itu. Jadi, Kakak memgira aku itu aneh." Tuturku padanya yang sangat menyebalkan itu.
"Sil, kembalikan rotinya itu. Dia belum pernah melewatkan jam makan siangnya. Jadi, aku juga belum pernah melakukan hal yang kalu lakukan padanya, Sil." Ucap Ar tegas dari arah belakang Kak Silvia. Dia membelaku.
"Kamu juga, Ar. Kamu selalu berpihak padanya. Nanti tidak ada seorang pun yang akan bisa membuatnya mengerti mana yang baik untuk dimakan dan mana yang kurang baik untuk dimakan selama masa kehamilan ini, Ar." Ucap Silvia penuh penekanan pada Ar.
Suamiku hanya terlihat tersenyum sambil menghampiri ku. Dia tidak melakukan apa - apa kecuali duduk di sebelahku dan merangkulku.
"Istriku sangat tau apa yang baik dan tidak baik untuk dilakukannya. Jadi, kamu tidak perlu khawatir Sil. Aku akan selalu mengingatkannya tentang hal itu." Ucap Ar sambil menoleh ke arah Silvia.
"Baiklah, ini aku kembalikan rotinya. Jangan dimakan terlalu banyak ya, Grace. Kalau Suamimu sudah berkata seperti itu, aku tidak bisa melakukan apa pun lagi." Ucap Kak Silvia sambil menggelengkan kepalanya secara perlahan.
Senyumanku merekah menghiasi wajahku melihat dia mengembalikan roti yang tadinya dia sita.
"Terimakasih, Kak. Aku berjanji padamu, aku akan tetap menjaga asupan gizi tubuhku meskipun aku suka ngemil selama masa kehamilanku ini." Ucapku padanya agar dia tidak terlalu mengkhawatirkanku.
"Baiklah, aku akan memantaumu, Grace." Ucapnya kembali dengan penuh penekanan.
Seketika aku dan Suamiku saling pandang dan terkekeh mendengar ucapan Kak Silvia. Dia memang sungguh baik. Mungkin itu adalah bawaan sang cabang Bayi yang membuatnya tidak bisa mengontrol emosinya. Padahal selama ini, Kak Silvia selalu dengan sabar menasihati orang lain, termasuk aku.
>>> Bersambung <<<
Sampai sini dulu ya..
Kita akan lanjut di next chap, Ingat untuk selalu beri like nya yaa, Kakak2..
Terimakasih bagi yang sudah support Author selama ini..
Salam Kasih untuk Yg Terkasih
~~ Love You All ~~