THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
71



Previous Episode


"Kamu kemari. Cepat!" Ar memanggilku dengan ekpresi datarnya.


Terpaksa aku harus berjalan mendekatinya. Dia memberikan rantang bubur yang sudah dihabiskannya. Aku menerimanya dengan hati - hati. Tapi tangan kami bersentuhan. Tiba - tiba saja dia menghempaskan rantang yang ada di genggamannya.


Aku sangat terkejut dan langsung berjongkok mengambil rantang itu. Hal ini membuatku terus bertanya - tanya di dalam hati, 'Apa dia memang seperti ini, jika sedang bersentuhan dengan perempuan?'


“Kamu kesana! Jangan dekat - dekat denganku lagi! Cepat menjauh dariku!” Ar memarahiku dengan intonasi begitu kasar. Aku pun langsung berjalan menjauh darinya dan duduk di sofa. Aku menundukkan kepalaku.


"Aku paling benci kalau ada yang menyentuhku! Apalagi dia seorang perempuan!" Wajahnya begitu dingin dan sangar. Aku sampai meneteskan airmataku. Tidak ku sangka, dia akan berbuat seperti ini pada setiap perempuan yang menyentuhnya, padahal yang tadi itu tidak disengaja.


**********


Aku hanya diam tak bergeming mendengar ucapannya yang kasar itu. Dia mengacak rambutnya dengan gusar. Mungkin dia sedang marah besar.


Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..


"Ya? Halo Mommy? Ada apa Mom?" Aku menjawab telepon dari Mommy.


"Speakerkan suaranya. Aku ingin tau apa yang mau Mommy sampaikan padamu!" Arion memerintahkanku seolah - olah dia ingin mengetahui hubunganku dengan Mommy. Wajar saja sih, kalau dia heran dan bingung melihat keakrabanku dengan keluarganya.


Aku pun mengaktifkan pengeras suara panggilan teleponku.


"Sayang, Mommy agak sore baru bisa ke sana. Kamu tidak masalah kan, kalau untuk beberapa jam lagi menemani Ar di sana? Mom juga sudah memberitahukan Steve semuanya. Maaf merepotkanmu ya, sayang." Kata Mom dengan manjanya padaku.


"Tidak merepotkan kok, Mom. Mom tenang saja, jangan khawatir. Aku akan menjaga Ar dengan baik sampai Steve datang ke sini." Ucapku sambil tersenyum melihat layar ponselku.


"Ar sudah makan dan minum obat kan, sayang? Mom tidak mau kalau dia melewati jam makannya, apalagi jam minum obatnya," mendengar Mom yang berulangkali memanggilku dengan sebutan sayang, ekspresi Ar mulai berubah.


"Sudah kok, Mom. Percaya dehh sama aku. Aku akan menjaganya dengan baik." Aku hanya menjawab singkat seperti itu, karena aku tidak mau Ar salah paham jika perkataanku pada Mom ada yang salah, apalagi menyangkut dirinya.


"Bagus kalau begitu, Mom akan melanjutkan kegiatan Mom lagi dengan Silvia ya, sayang. Bye, Grace."


"Bye Mom." Panggilan itu pun berakhir begitu saja. Sekarang hanya ada keheningan di antara aku dan Ar.


"Grace? Namamu tidak asing di telingaku. Sepertinya kamu cukup dekat dengan keluargaku, sampai - sampai kamu memanggil orangtuaku dengan sebutan Mom and Dad. Apa yang kamu lakukan hingga mereka kelihatannya begitu menyayangimu?!! Padahal mereka tidak akan mau dipanggil oleh orang luar sepertimu. Apa yang sudah kamu lakukan pada keluargaku? Kenapa mereka malah lebih memilih menghubungimu daripada bertanya padaku secara langsung?!! Hah..?!!" Bentak Ar padaku.


Aku hanya menunduk tak berkata apa pun. Aku malas meladeni perkataannya yang tidak memerlukan jawaban dariku. Dia sudah berani menyebutku sebagai orang luar! Aku sungguh emosi mendengarkan dia mengucapkan kedua kata itu.


"Kalau kamu hanya diam saja, mending kamu keluar dari sini..!! Jangan pernah kembali lagi..!! Aku tidak sudi berbicara pada patung. aku tidak suka ada orang luar yang berani mendekatiku dengan cara licik sepertimu..!! Pergi dari sini..!! Pergi yang jauh..!!" Teriak Ar padaku yang membuatku membelalakkan kedua bola mataku.


"Kamu mengusirku?" Aku bertanya dengan nada yang bergetar.


"Ya! Aku mengusirmu!" Teriaknya lagi padaku.


"Kamu bersungguh - sungguh dengan perkataanmu?" Tanyaku lagi tanpa ragu.


"Ya!! Mau berapa kali aku mengulangnya?!! Keluar dan enyahlah dari sini..!!"


Bentakannya yang terakhir itu menjadi pertanda buruk bagiku. Aku sempat meneteskan airmat untuk yang kesekian kalinya setelah mendapat perlakuan yang kasar dari Arion. Ternyata begini rasa sakitnya jika kita diacuhkan, dimarahi, bahkan dibentak oleh orang yang kita cintai.


AUTHOR POV


Grace pun pergi dari ruang rawat inap Arion dan berlari keluar dari Rumah sakit. Sesampainya di dalam mobil, dia mengirimkan pesan singkat pada Steve.


To Steve :


Kak, aku akan berangkat ke Bandara sekarang juga.


Kalau Kakak senggang, Kak Steve boleh bergantian denganku untuk menjaga Ar.


Hanya hitungan detik, Steve membalas pesan dari Grcae dan langsung membereskan pekerjaannya di Kantor dengan cepat.


From Steve :


Baiklah, Grace..


Hati - hati di perjalanan.


Aku akan ke Rumah Sakit sebentar lagi.


Grace hanya tersenyum tipis membaca pesan dari Steve. Sudah saatnya bagi dirinya untuk menenangkan diri terlebih dahulu sebelum dia berangkat ke USA. Grace pun berangkat ke Bandara. Di sana dia duduk di salah satu Cafe yang ada dan memesan minuman. Dia merenungkan sesaat apa yang harus dia lakukan ke depannya jika dia bertemu lagi dengan Arion sepulangnya dia dari USA.


'Untuk saat ini, aku bisa menghindar dari dia, tapi setelah pulang dari USA, aku tidak bisa lagi menjadi lemah seperti sekarang. Aku harus bisa membuat Ar melihat ke arahku lagi seperti dulu.'


'Tapi,, bagaimana caranya?'


'Sampai kapan aku harus berusaha?'


'Sampai kapan aku harus bertahan menerima sikap kasarnya itu?'


Semua emosinya bergejolak dalam hati Grace. Hanya Arionlah yang ada di pikiran Grace untuk saat ini. Dia merasa sangat tidak berguna jika sedang berhadapan dengan lika - liku kisah cintanya.


Grace hanya bisa berdoa untuk kesembuhan Arion agar dia bisa merasakan kasih sayang Ar yang selama ini diberikan Ar padanya.


Di Rumah Sakit...


"Ar, kamu gila ya?!! Kamu bilang kalau kamu mengusir Grace dari sini dan menyuruhnya untuk tidak muncul lagi di hadapanmu?!! Kamu keterlaluan, Ar..!!" Steve berteriak pada Ar yang baru saja selesai menceritakan apa yang terjadi sampai Grace pergi dari sana.


"Kamu kok jadi ngebelain perempuan aneh itu sih?!! Aku kan tidak suka dekat - dekat dengan perempuan. Seharusny kalian tau itu! Kenapa kalian malah menyuruhnya ke sini untuk mengurusku? Aku pun bisa urus diriku sendiri daripada aku harus di urus oleh perempuan aneh itu. Sejak semalam dia tidak mau menjawab pertanyaanku yang sama. Udah itu, kenapa kalian bisa akrab begitu dnegannya? Apa dia memakai cara licik untuk mendekatiku?" Arion melemparkan berbagai pertanyaan dengan nada tinggi pada Steve.


Steve semakin frustasi mendengar apa yang dipikirkan oleh Arion dan dia hanya bisa menjawab singkat semua pertanyaan itu, "KAMU AKAN MENYESALI PERBUATANMU INI, AR! KAMU INGAT ITU..!!"


Steve pun keluar dari ruangan itu dan langsung menelepon Mr.Melv. untuk memberitahukan semuanya yang telah di dengarnya dari Ar. Dia takut kalau Grace akan pergi jauh dan meninggalkan mereka lagi. Sudah cukup Grace tersakiti selama ini. Steve merasa kasihan dengan perempuan yang sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri.


Sejak dulu, Steve tidak memiliki keluarga karena suatu alasan yang masih belum bisa disebutkan oleh Author. munculnya Grace dalam kehidupan Ar membuat Steve merasakan bagaimana rasanya mengkhawatirkan seorang adik kecil.


Mr.Melv. yang mendengar kabar itu, langsung memberikan sedikit pengarahan pada Steve, "Daddy minta kamu saja yang urus Ar. Nanti Daddy akan berbicara pada Grace. Kamu jangan gegabah, ingatlah bahwa Ar itu lupa ingatan. Jangan sampai kamu melakukan hal yang buruk pada Grace karena merasa kalau kamu memojokkannya. Kamu harusnya lebih mengenal Ar di banding siapa pun."


"Baik, Dad. Steve salah. Steve akan lebih bijak dalam bertindak ke depannya." Steve sadar akan kesalahannya yang sudah bertindak kasar pada Ar. dia harus meminta maaf pada Ar yang tidak tau apa - apa.


"Ya sudah, Dad mau menelepon Grace dulu. Jangan beritahukan ini sama Mommy ya, Steve." Mr.Melv. tidak mau istrinya kepikiran tentang hal ini.


"Oke, Dad. Steve tidak akan bilang apa - apa sama Mom. Kan Mom sudah tau bahwa Grace akan ke USA. Itu akan memudahkanku untuk mengecoh perhatian Mom." Kata Steve dengan antusias.


"Baiklah. Dad akan menelepon Grace dan menanyakan kabarnya. Bye Steve."


"Bye Dad." Steve pun mengakhiri panggilan tersebut dan berjalan kembali ke ruangan Arion.


Ar yang masih syok mendengar ucapan Steve masih melamun di atas tempat tidurnya. Steve mendekatinya dan menepuk pundak Ar secara perlahan dan berkata, "Ar, maafkan aku. Aku sudah terbawa emosi tadi. Semuanya merupakan keputusanmu. Aku juga tidak punya hak untuk mengatakan hal seperti tadi."


Ar melihat sekilas wajah Steve yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh penyesalan.


"Apa aku bisa bertanya satu hal padamu, Bro?" Tanya Ar dengan penuh rasa penasaran.


"Apa itu?" Steve sempat kebingungan melihat gelagat Arion yang aneh.


"Siapa sebenarnya orang bernama Grace itu? di satu sisi aku merasa sangat nyaman jika dia berada di dekatku, tapi di sisi lain aku merasa risih karena dia itu seorang perempuan. Sejujurnya, aku merasa khawatir melihat wajahnya yang menangis saat aku membentaknya tadi. Tapi aku malah tidak bisa menahan amarahku karena dia sudah dengan berani menyentuhku." Steve menjawabnya sambil tersenyum tipis melihat Ar.


"Jawabannya hanya ada di dalam lubuk hatimu, Ar. Kamu hanya memerlukan sedikit waktu untuk dapat mengingatnya kembali. Baiklah, lebih baik kamu beristirahat sebentar. Aku akan berjaga di sini sampai Mom datang." Jawaban Steve sama sekali tidak bisa menjawab keingintahuan Ar. Namun Ar masih tetap diam dan menuruti permintaan Steve. Dan akhirnya, Ar tertidur dengan pulas.


Apakah Grace akan memilih untuk tetap nerada di sisi Arion atau dia akan pergi menjauh dari kehidupan Ar?


Penasaran kan? 🤭🤭


Sabar menunggu next eps nya yaa...


>> Bersambung <<


**********


Selesai membaca, jangan lupa klik tanda jempol sebagai apresiasi kalian terhadap Author ^.^


Dan beri komentar seputar ceritanya ya,, agar Author tau bagaimana respon pembaca pada cerita ini..


Apakah banyak yang suka? Atau malah banyak yang tidak suka?


Terima kasih bagi yang sudah setia membaca dan menanti kelanjutan kisah Arion dan Grace.


Ingat untuk singgah ke karya terbaru Author yang berjudul “NARA” yaa..


Salam Kasih buat yang Terkasih 😊🙏