THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
75



“Aku Lisya. Kita selalu sekelas sejak SD. Aku hanya bisa mengambil rank 2 dan 3 di kelas karena kamu selalu menjadi yang pertama. Kita juga satu Kampus di London. Kamu sama sekali tidak mengingatku?” Kata Dokter cantik yang berusaha menatap mata Arion.


Arion menolak untuk ditatap oleh perempuan yang menurutnya aneh yang ada di hadapannya itu, “Bagaimana bisa aku mengingatmu? Padahal aku sama sekali tidak mengenalmu. Maaf, urusan kita sudah selesai. Jadi, aku pergi.”


Ar pergi begitu saja dengan langkah yang panjang. Dia benci dengan tatapan Dokter itu. Dia sampai tidak menyadari kalau dia sudah meninggalkan Steve yang jauh tertinggal di belakangnya.


“Hai, aku Steve. Sekretarisnya Arion. Salam kenal Lisya. Maafkan atas sikap juteknya Arion ya? Dia itu orangnya memang begitu.” Steve mengulurkan tangannya pada Lisya.


Lisya memandangi sejenak tangan yang terulur padanya. Dia masih syok dengan sikap Ar yang selalu saja begitu sejak dulu. Tidak pernah bisa tersentuh walau seujung jaripun. Lisya sangat menyukai dan sudah lama sekali dia mengikuti perkembangan kehidupan Ar, tapi dengan nasib sialnya, dia malah diabaikan begitu saja oleh Ar.


Dia sudah berusaha sangat keras untuk mengambil gelar Doctor hanya untuk menyamakan derajatnya dengan Ar. Tapi itu semua sia - sia sekarang. Dia masih saja terdiam tidak berniat menyapa Steve.


Steve yang heran dengan bisunya sang Dokter cantik langsung saja menarik tangan kanan Dokter itu seolah mereka sedang bersalaman. Hal ini membuat Lisya terbelalak melihat tingkah Steve.


“Jangan masukkin ke hati perkataan Ar yang tadi. Kalau kamu memang sudah lama mengenalnya, kamu pasti sudah tau betul bagaimana sifat Ar. Kan masih ada aku. Hehehe..” Steve cengingiran sendiri berusaha menghibur Lisya yang kelihatan murung itu.


“Ehh, maafkan aku. Aku Lisya. Salam kenal juga Steve. Kamu kan yang menghubungi aku tadi?” tanya Lisya sambil mnengingat dengan jelas nada suara si penelepon yang tadi menanyakan jadwal permeriksaan Ar.


“Iya, itu nomor aku pribadi. Jangan lupa di save ya, Lisya.” Steve tersenyum semanis mungkin dengan maksud hati ingin Lisya merasa nyaman mengobrol dengannya.


“Baiklah. Nanti akan aku save. Aku mau kembali bekerja lagi. Bye.” Ucap Lisya sambil berjalan menjauhi Steve. Dia sedang patah hati. Ya! Itu semua karena sikap Ar yang tidak ada keramahtamahannya sama sekali.


Steve merasa seperti memenangkan lotre hari ini. Dia melompat kegirangan karena dia sudah menemukan tambatan hatinya. Sudah sejak lama dia tidak merasa gregetan di dekat perempuan manapun seperti saat dia berada di dekat Dokter cantik itu.


‘Aku pasti bisa membuatmu melupakan Ar. Karena aku tau kalau yang ada di dalam hati dan pikiran Ar hanya ada Grace. Aku tidak akan menjomblo lagi. Yihaa!!’ Steve bersorak kegirangan di dalam hatinya karena perkenalan yang tadi termasuk awal yang bagus baginya untuk memulai aksi pendekatannya dengan sang Dokter.


Steve pun bergegas keluar dari Rumah Sakit dan masuk ke dalam mobil.


“Kenapa lama sekali? Kamu tidak tau aku hampir berjamuran menunggumu di sini?” ucap Ar dengan ketus pada Steve yang baru saja menghidupkan mesin mobil.


“Maafkan aku, Ar. Aku hanya menuntaskan apa yang harus aku tuntaskan. Toh juga kamu tidak berjamur tuh.” Jawab Steve enteng tanpa mempedulikan tatapan mata Ar yang di arahkan padanya.


Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..


Ponsel Steve bordering dan dia memasang earphone Bluetooth dan menjawab panggilan itu, “Iya, Mom. Ada apa?”


Ar yang mendengar kata Mom langsung saja menoleh ke arah Steve. Dia mendengarkan apa yang dikatakan Steve.


“…..”


“Ohh, berarti kami langsung ke Mansion?”


“…..”


“Oke, oke, oke, Mom. Kami akan segera ke sana. Sampai jumpa Mom.”


“…...”


“Bye Mom.”


Percakapan itu pun berakhir begitu saja. Dan Steve mengatakan apa yang Mrs.Melv. sampaikan padanya.


“Mommy sudah pulang duluan. Katanya, ada teman - teman Mommy datang ke Mansion ingin mengunjungimu. Mereka mau melihat keadaanmu secara langsung. Jadi, kita harus segera pulang ke Mansion.” Steve pun mengemudikan mobilnya dengan cepat. Dia tidak ingin Mrs.Melv. dan teman - temannya menunggu lama kedatangan mereka.


Setibanya di Mansion, kedatangan mereka disambut begitu banyak perempuan paruh baya. Jelaslah, kan mereka temannya si Mommy.


“Nak, ini ada Tante Flo dan Tante Zio. Mereka yang begitu akrab denganmu sejak kecil. Kamu masih ingat kan? Ini juga ada Tante Ira, Tante Nat, Tante Dey dan Tante Roy. Mom yakin, kamu tidak begitu mengingat mereka. Salaman dulu.” Mrs.Melv. mulai memperkenalkan Anaknya yang tidak mau menyalam para Tante - Tante itu.


“Maaf ya Jeng, Ar memang begini orangnya. Dia tidak bisa disentuh oleh perempuan, sejak dulu dia selalu risih berada di dekat perempuan.” Kata Mrs.Melv. saat memperkenalkan Ar pada mereka.


“Iya, Jeng. Sejak kecil dia memang begitu. Maklum saja, sama siapapun dia begitu, tidak terkecuali sama Mommy nya sendiri. Kadang - kadang.” Sahut Tante Zio untuk meringankan suasana yang sempat tegang.


Pastinya keempat teman Mrs.Melv. sempat merasa bahwa Ar itu Anak yang sombong. Tapi, karena penuturan dari Tante Zio, mereka jadi menghilangkan pemikiran mereka  yang negatif itu. Mereka merasa senang melihat senyuman yang Ar lemparkan pada mereka.


“Maafkan Ar ya, Tante. Ar memang tidak bisa menyalam Tante, tapi Ar bisa tersenyum sebagai gantinya. Salam kenal Tante.” Ujar Ar untuk mengalihkan perhatian mereka pada Mommy nya.


“Wahh! tersenyum saja, Ar sangat tampan.” Ucap ?Tante Dey.


“Iya! Bagaimana lagi kalau dia tertawa? Pasti sangat menawan.” Lanjut Tante Ira.


“Bener tuh, Jeng. Ar memang sangat tampan. Tidak seperti Anakku.” Lanjut Tante Roy.


“Sudah, sudah, sudah. Jangan begitu. Kita kan ke sini ingin menjenguk dia, bukan malah berkata hal yang tidak - tidak seperti itu,” celetuk Tante Zio yang langsung menggandeng tangan Ar masuk ke dalam.


Steve yang merasa diabaikan pun langsung pergi dari Mansion itu. Dia masih harus menemukan bukti - bukti yang bisa menyeret dan memberatkan hukuman si pelaku yang sudah merencanakan kecelakaan waktu itu.


Ar berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari Tante Zio. Tante yang satu ini sangat senang ketika mendengar kabar bahwa Ar sudah melupakan Grace. Dia tidak menyangka aka nada kesempatan baginya lagi untuk mendekati Ar seperti ini.


‘Aku tidak akan melewatkan kesempatan emas ini, Ar.’ Tante Zio membatin dengan hati  senang.


“Kamu kok bisa begitu dekat dengannya, Jeng Zio?” Tanya Tante Nat yang melihat Tante Zio selalu menempel pada Ar.


“Aku sudah sering bermain bersamanya sejak kecil saat dia bermain ke Salon ku bersama Mommy nya yang sedang melakukan perawatan di sana. Kami sudah cukup dekat, makanya Ar tidak marah jika aku memegang tangannya seperti ini. Betul kan, Ar?” Tante Zio menyombongkan diri sambil mengeratkan pegangannya pada lengan Ar hingan bagian kenyal miliknya itu menyentuh dan bergesekan dengan lengan Ar.


“Tan, jangan begini. Ar hanya tidak mau bertindak kasar dan membuat Mom malu di depan teman - temannya. Tolong lepaskan tangan Tante.” Ar berbisik pada orang di sebelahnya yang sudah membuatnya merasa sangat risih.


“Tidak boleh dilepas dulu, Ar sayang. Tante masih mau berduaan begini denganmu,” ucap Tante Zio sambil tersenyum pada Ar.


Tiba - tiba Ar menghentakkan tangan Tante Zio dan membalikkan badannya sambil membungkukkan badannya menghadap Mommy dan teman - teman Mommy nya, “Mom, Tante, Ar pamit mau istirahat dulu ya. Ar sudah lelah, seharian bekerja dan tadi juga baru selesai dengan jadwal pemeriksaan di Rumah Sakit.”


Setelah mengucapkan kata - kata itu, Ar pun pergi begitu saja menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar nya. Pintu kamarnya langsung di kuncinya dan dia bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membresihkan diri dari noda - noda yang sudah ditempelkan Tante Zio padanya.


‘Nyesel aku berlama - lama di bawah. Kenapa tidak sejak awal saja aku pamitan untuk beristirahat? Jadi begini kan akhirnya?’ Umpat Ar dalam hati.


Selama setengah jam penuh, Ar membasuh dirinya. Dia menggosok lengannya dengan sabun sampai 10 kali. Sangat lama dan berulang kali tanpa bosan.


“Kenapa rasanya aku ingin menghirup aroma itu? Tapi aroma apa itu? Bantal guling dan bahkan parfumku saja tidak ada yang sama dengan aroma itu.” Ar mencari aroma yang sudah lama tidak dihirupnya. Dia merindukan aroma yang sama sekali tidak diingatnya.


Tiba - tiba saja dia teringat sesuatu. Dia pun mengambil ponselnya dan menelepon seseorang yang jauh di sana.


“Halo, Dad.” Ucap Ar dengan penuh keragu - raguan.


“Ya, halo juga, Ar.” Jawab Mr.Melv. dengan singkat.


“Dad, Ar mau minta maaf tentang tingkah Ar yang sudah keterlaluan mengusir Grace, sekretaris kesayangan Daddy waktu itu.” Kata Ar dengan cepat.


“Kamu masih ingat untuk menelepon Dad dan meminta maaf setelah sekian lama kamu berbuat kesalahan seperti itu?” Mr.Melv. mulai berkata - kata dengan nada dinginnya.


“Iya Dad, Ar memang salah, Ar akui kalau Ar sudah bertindak kasar padanya. Ar minta maaf.” Jawab Ar dengan ragu.


“Grace itu Anak yang baik dan cerdas. Dia yang telah Dad utus untuk menggantikan Daddy memimpin rapat di USA dan dia telah membuat hasil rapat yang memuaskan. Dia itu bisa dipercaya, Ar. Jadi, Dad tidak suka jika ada orang yang berlaku kasar padanya, termasuk kamu! Mengerti?” Ucap Mr.Melv. dengan nada suara yang ditinggikan.


“Iya, Dad. Ar mengerti. Ar minta Dad membawanya kembali ke sini. Ar akan melakukan yang Dad mau jika Dad mau mengutusnya ke sini lagi. Ar mau meminta maaf padanya secara langsung dan ingin bertanggungjawab atas kesalahan Ar padanya.” Ucap Ar dengan antusias. Entah mengapa, dirinya sangat menginginkan Grace berada di sisinya saat ini.


“Kamu serius dengan ucapanmu? Bukannya kamu membencinya hingga mengusirnya?” Tanya Mr.Melv yang sebenarnya dia sudah tersenyum mendengar permohonan Anaknya itu. Dia sangat tau kalau Ar tidak bisa berjauhan dengan kekasihnya itu.


“Iya, Dad. Ar serius.” Jawab Ar dengan tegas.


“Baiklah, Dad akan aturkan jadwal penerbangannya ke Indonesia pada hari Senin. Dad ingin kamu yang menjemputnya layaknya kamu menjemput seorang teman. Dad tidak ingin kamu menelantarkan dia lagi. Kalau sekali lagi kamu mengusirnya, Dad akan pastikan untuk membawanya dan kalian tidak akan bertemu lagi.”


Ancaman itu berhasil membuat dada Ar sebelah kanan terasa sakit hingga tanpa sadar dia memegangi dadanya itu. Sangat sakit mendengar kata kalian tidak akan bertemu lagi. Sangat aneh menurut Ar. Tapi dia tidak bisa berdiam diri begitu, dia harus menjawab perkataan Daddy nya.


“Baik, Dad. Ar akan melakukan keinginan Dad. Senin nanti Ar akan menjemputnya di Bandara. Dad jangan khawatir, dia akan aman bersamaku.” Ucap Ar sambil menahan rasa sakit di dadanya yang mulai memudar sedikit demi sedikit.


“Daddy pegang janjimu, Nak. Ya sudah, Beristirahatlah. Dad masih banyak pekerjaan yang mau di urus selama di sini. Bye Ar.” Ucap Mr.Melv. sambil menutup teleponnya.


“Bye, Dad.” Jawab Ar singkat sebelum telepon itu berakhir.


Setelah mengetahui Grace akan pulang hari Senin, Ar merasa begitu lega. Perasaannya yang gelisah pun mulai memudar.


‘Kenapa denganku? Ada hubungan apa sebenarnya aku dengan dia?’


‘Apa dia itu begitu penting bagiku, hingga aku bisa merasakan sakit ketika mendengar ancaman Dad tadi?’


Setelah lelah berpikir, Ar pun tertidur pulas.


**********


Di Apartemen Grace..


Besok adalah jadwal penerbangannya. Dia sudah membereskan semuanya. Tidak terkecuali oleh - oleh yang dibelinya untuk dibagikan pada orang - orang terdekatnya.


Dia melihat ponselnya yang sudah seminggu ini dimatikannya. Sebelum tidur, dia mengaktifkan teleponnya untuk melihat notifikasi yang masuk ke ponselnya.


“Jeff?” Grace menyebutkan nama yang tertera di kotak pesannya.


From Jeff :


Grace, aku akan ada pertemuan selama tiga hari di Jakarta.


Aku akan tiba di Jakarta hari Selasa jam 9 pagi.


Jemput aku di Bandara ya. Aku tunggu.


Grace mulai sibuk dengan hitung - hitungannya. Dia akan berangkat jam 10 pagi di hari Senin, jadi dia akan tiba di Jakarta sekitar jam 9 pagi di hari berikutnya. Dia masih bisa bertemu dengan Jeff di Bandara dengan waktu yang sama. Dia pun membalas pesan tersebut.


To Jeff :


Baiklah, Jeff.


Kita akan bertemu di Bandara.


Sekitar jam 9 pagi.


Sampai ketemu, Jeff.


Setelah membalas pesan singkat itu, Grace pun mematikann kembali ponselnya. Dia masih tidak ingin diganggu oleh siapa pun juga. Dia hanya butuh ruang untuk sendiri.


>>> Bersambung <<<


Sampai sini dulu ya..


Lanjut di eps selanjutnya..


**********


Selesai membaca, jangan lupa klik tanda jempol sebagai apresiasi kalian terhadap Author ^.^


Dan beri komentar seputar ceritanya ya,, agar Author tau bagaimana respon pembaca pada cerita ini..


Apakah banyak yang suka? Atau malah banyak yang tidak suka?


'Terima kasih bagi yang sudah setia membaca dan menanti kelanjutan kisah Arion dan Grace.


 Ingat untuk singgah ke karya terbaru Author yang berjudul “NARA” yaa..


Salam Kasih untuk Yang Terkasih


Love You All