THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
TPG2_110



Mr.Melv. sangat kagum dengan sosok Steve yang bertanggungjawab itu. Setelah melihat kegigihan dari Steve, dia yakin dengan sangat bahwa semalam tidak terjadi apa - apa dengan kedua Anak muda itu. Dia pun secara diam - diam meminta rekaman CCTV dari pihak Apartemen untuk memegang sedikit bukti untuk membantu Steve.


Apa yang membuat Papanya Lisya marah adalah perbuatan tercela yang telah dialami oleh Anaknya. Anaknya juga tidak berani memberikan penjelasan lebih pada Papanya yang sedang marah besar itu. Sejak tadi dia terdiam. Tapi, setelah melihat Papanya bertindak kasar dengan Steve, Lisya mulai memberikan respon positif terhadap kekasihnya itu.


"Pak, ini rekaman CCTV yang bapak minta." Bisik seorang petugas Apartemen pada Mr.Melv.


"Oke, terimakasih banyak. Ini upahmu, jangan menolak rezeki." Ucap Mr.Melv. sambil menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada petugas Apartemen itu.


"Makasih banyak, Pak." Petugas itu pun pergi dengan menerima uang yang diberikan oleh Mr.Melv.


Mr.Melv. mendekati temannya itu. Mereka memang sudah saling kenal sejak masa SMA. Jadi, Mr.Melv. tau betul sifat dan sikap kasar dari seorang Adhinata. Papanya Lisya memang sangat ketat dalam menjaga harga diri keluarganya. Jadi, maklum saja kalau dia sampai seperti itu terhadap Steve. Kemungkinan besar, ini adalah sebuah kesalahpahaman yang belum terungkap.


"Mr.Adhinata, mohon maaf, jika aku mengganggu perdebatan kalian. Aku tidak membela siapa pun di antar kedua Anak muda ini. Mereka memang masih muda, tapi kita sebagai Orangtua juga harus mencaritahu kebenaran yang sesungguhnya sebelum kita menuduh dan menghukum mereka." Sela Mr.Melv. saat temannya itu mulai mengoceh tentang harga diri Anaknya pada Steve.


"Aku perlu bukti seperti apalagi? Kamu kan sudah melihat ini. Ini adalah bukti yang kuat dari kesalahan yang mereka perbuat tadi malam." Mr.Adhinata mulai merasa tidak bisa menahan emosinya lagi saat dia harus melihat dan menunjukkan pakaian Lisya yang rusak di dekat kakinya. Dia menginjak - injak pakaian kotor itu. Dia merasa jijik dengan perbuatan Anak muda yang tidak bisa menjaga harga dirinya.


"Aku mempunyai rekaman CCTV dari pihak Apartemen ini. Mari kita lihat terlebih dahulu, bagaimana cara mereka masuk ke dalam Apartemen ini. Apakah mereka memang datang bersamaan atau bagaimana? Mungkin mereka terlalu mabuk tadi malam, sehingga tidak ada dari mereka yang mengingat detail kejadian tadi malam. Aku akui kalau mereka berdua sudah salah karena pergi minum minuman beralkohol berdua hanya demi gaya hidup. Tapi, aku juga sangat tau bagaimana sifat dari Steve yang sudah ku anggap seperti Anak kandungku sendiri."


"Selama ini, aku tidak pernah menganggapnya seperti yang Anda katakan padanya. Makanya, dia bebas memanggilku dengan sebutan Daddy sama seperti Anak - Anakku yang lainnya. Aku ingin kamu sebagai Orangtua mendidik Anak dengan kepala dingin, tidak seperti ini. Kamu sudah melukai Anakku, jadi kamu juga sudah melukaiku sebenarnya." Tutur Mr.Melv. begitu panjang pada temannya yang sedang dipenuhi oleh amarah yang berlebihan.


"Aku sedang emosi tadi, jadi aku minta maaf jika pandanganku terlalu merendahkan Anak ini. Sekarang, mari kita lihat isi dari duplikat CCTV yang kamu terima itu, Mr.Melv. Kalau saja apa yang kupikirkan adalah benar, aku benar - benar akan menghukum keras kedua Anak ini." Tegas Mr.Adhinata sambil melirik ke arah Steve dan juga Lisya.


Mr.Melv. pun menyerahkan sebuah flashdisk pada Steve. Flashdisk itu dihubungkuan pada TV yang ada di ruangan tersebut. TV mulai menyala dan menunjukkan apa yang terjadi tadi malam.


Flashback On


Terlihat jelas mobil Steve parkir di tempat dia biasanya memarkirkan mobilnya. Dia keluar dari mobil dengan sempoyongan dan berjalan ke dalam gedung Apartemennya. Sendirian berjalan seperti sedang di ombang - ambing menuju ke dalam lift. Ya! Saat itu dia sedang sendirian.


Begitu lift tertutup, tiba - tiba parkirlah mobil milik Lisya di parkiran bagian belakang gedung Apartemen Steve. Dia keluar dari mobilnya dan dihadang oleh dua orang lelaki mesum yang berusaha merobek dan menarik Lisya ke pelukan mereka. Mereka benar - benar bernafsu untuk menikmati kemolekan tubuh Lisya.


Lisya adalah seorang Dokter cantik yang cukup pintar. Dia membuka sepatunya dan menokokkannya ke kepala kedua lelaki itu. Mereka merasa kesakitan, apalagi mata mereka mengenai tumit sepatu tinggi milik Lisya. Dengan kecepatan maksimal, Lisya berlari memasuki lift Apartemen Steve.


Dia tidak tau lagi harus bagaimana. Kepalanya semakin pusing. Dia tidak bisa pulang dalam keadaan mabuk. Jadi, dia memutuskan untuk mengikuti Steve. Padahal dia sudah diantar oleh Steve sampai di Rumah. Karena rasa takutnya akan amarah Papanya jika melihatnya mabuk berat, dia malah keluar Rumah lagi dan mengikuti Steve. Alhasil, dia malah diganggu oleh dua lelaki yang tidak diketahui identitasnya.


Begitu lift terbuka, Steve langsung berjalan tanpa menoleh ke belakang lagi. Dia masuk ke dalam Apartemennya. Dia langsung ambruk dan tertidur pulas di ranjangnya yang empuk. Sedangkan Lisya, dia keluar dari lift mencari sosok Steve. Dia melihat kekasihnya itu sudah masuk ke dalam salah satu pintu sebelah kanan lorong itu.


Lisya pun berjalan dengan kekuatan yang tersisa dan mencoba untuk membuka pintu Apartemen Steve. Ternyata Steve lupa mengunci pintu kamarnya, sehingga Lisya bisa masuk dengan bebas. Lisya yang sudah tidak nyaman dengan pakaiannya, malah membuang pakaian itu ke sembarang tempat. Setelahnya, dia merobohkan tubuhnya ke atas ranjang milik kekasihnya itu dan tertidur dengan mengenakan selimut milik Steve.


Flashback Off


"Lisya! Kenapa kamu malah datang ke sini dan bukannya pulang ke Rumah?! Papa menunggumu pulang semalaman sampai tidak tidur, tapi kamu malah berada di dalam Apartemen seorang lelaki yang baru kami kenal dan bahkan kamu tidak mengingat apa pun karena terlalu mabuk. Kamu sudah mempermalukan nama baik keluarga kita! Kamu mempermalukan Papamu ini karena sudah menuduh orang yang salah! Kalau saja kamu pulang ke Rumah, ini semua tidak akan terjadi!" Bentak Mr.Adhinata terhadap Putri tunggal kesayangannya.


Lisya hanya bisa menangis dan mengucapkan kata maaf berulang kali pada sang Papa. "Pa, maafkan Lisya. Lisya benar - benar minta maaf. Lisya hanya takut Papa marah besar karena semalam Lisya sangat mabuk. Dan itu yang pertama dan terakhir kalinya Lisya mabuk - mabukan. Lisya minta maaf, Pa."


"Kenapa kalian bisa mabuk bersama semalam? Apa yang membuatmu jadi pemabuk seperti itu, Sya! Apa dia yang mengejarkanmu untuk mabuk - mabukan seperti itu?! Jawab Sya!" Teriakan demi teriakan keluar dari mulut Mr.Adhinata. Dia tidak suka melihat Anak yang dididiknya susah payah, malah jadi pemabuk seperti itu.


"Bukan begitu, Pa. Semalam Lisya reunian dengan teman - teman masa SMA. Mereka memilih klub sebagai tempat pertemuan. Lisya sengaja membawa Steve bersama Lisya agar ada yang menolong Lisya jika mereka berbuat macam - macam. Makanya, semalam Lisya berangkat bersama Steve dan meninggalkan mobil Lisya di Rumah."


"Tapi, Lisya malah ditantang oleh mereka, Pa. Untuk minum banyak. Mereka tau kalau dulunya, Lisya sangat menginginkan Arion. Lisya pernah bertaruh dengan mereka kalau Arion akan menjadi milik Lisya seutuhnya. Tapi takdir tidak berpihak pada Lisya. Jadi, setelah mabuk pun, mereka malah memaksa Steve untuk menggantikan Lisya untuk meminum sisa botol taruhan yang harus Lisya habiskan. Maafkan Lisya, Pa. Lisya sangat menyesal." Ucap Lisya dengan nada sendu.


Mr.Adhinata berdecak kesal. Dia tidak menyangka bahwa Anaknya akn menjadi seorang perempuan liar di luar sana. Padahal dia sudah berusaha keras untuk menjaga Anaknya dari hal - hal seperti itu.


"Sudahlah, Om. Aku yang salah, jangan marah lagi pada Lisya. Dia masih sangat muda waktu bertaruh dengan teman - temannya. Dia belum mengerti apa - apa tentang Cinta. Jadi, dia melakukan hal yang menurutnya menantang. Aku minta maaf karena tidak bisa berbuat lebih untuk menolak permintaan mereka tadi malam, karena memang Lisya harus bertanggungjawab atas keputusan yang sudah diucapkannya saat masih muda. Aku hanya bisa membantunya untuk menuntaskan hukumannya." Ucap Steve yang muncul di tengah Mr.Adhinata dan Lisya. Dia menarik Lisya untuk berlindung di belakangnya. Dia tidak ingin Lisya menerima amarah Papanya lagi, karena dia tidak ingin Lisya semakin menangis.


"Temanku, Mr.Adhinata. Jangan terlalu terbawa emosi. Kita bisa membicarakan hal ini dengan kepala dingin. Aku yang akan menjadi wali dari Steve. Apa pun yang menjadi tanggungjawabnya adalah tanggungjawabku juga." Lanjut Mr.Melv. pada temannya itu.


"Sebenarnya, apa hubunganmu dengan Anak muda ini? Sejak tadi kamu selalu membelanya. Padahal dia hanya... Kamu tau itu. Aku tidak akan menyebutkannya lagi." Tanya Mr.Adhinata yang penasaran dengan sebutan Anak dari Mr.Melv. beberapa kali.


"Ayo, kita duduk dulu. Aku akan menceritakannya padamu secara singkat. Steve, tolong kamu seduhkan teh untuk kami dan bawa Lisya dari sini. Dia perlu menenangkan dirinya." Perintah Mr.Melv. pada Steve yang langsung mengiyakan perkataannya.


Steve pun membawa Lisya masuk ke dalam kamarnya dan menyuruhnya untuk beristirahat. Saat ini, hanya tempat tidurlah yang sesuai untuknya menenangkan diri dengan membaringkan tubuhnya di tempat yang empuk. Lisya pun menuruti permintaan Steve padanya.


"Aku akan menceritakan sedikit peristiwa yang sudah membuatku berjodoh dengan Steve. Saat itu, aku melihat sebuah kecelakaan mobil yang cukup dahsyat. Karena kecelakaan itu tepat terjadi di depan mataku, aku jadi tidak bisa melanjutkan perjalananku. Aku pun menelepon pihak berwajib dan ambulance. Tiba - tiba aku melihat seorang Anak remaja laki - laki bergerak di dalam mobil sedan dan meminta tolong. Aku merasa iba, karena Adikku juga mengalami kecelakaan yang mengakibatkan sepasang suami istri meninggalkan Anak perempuannya yang sudah aku besarkan."


"Aku pun menolongnya. Aku mengeluarkannya dari dalam mobil itu tepat sebelum mobil itu meledak untuk yang kedua kalinya. Aku sendiri yang membawanya ke Rumah Sakit dan merawatnya. Dia ku beri tempat tinggal, ku  sekolahkan hingga lulus Sarjana. Dia seumuran dan ternyata teman baik dari menantuku, suami dari Silvia. Kamu tau kan, kalau aku tidak sembarangan mempercayai orang lain. Aku hanya bisa percaya pada mereka yang benar - benar bisa dipercaya. Apa kamu sudah mengerti bagaimana hubunganku dengannya? Apa kamu perlu bukti hitam di atas kertas untuk membuktikan kasih sayangku padanya?" Mr.Melv.menjelaskan semuanya secara perlahan pada temannya itu.


"Karena dia tidak memiliki keluarga lagi, bagaimana dia bisa bertanggungjawab pada kehidupan Putriku?" Tanya Mr.Adhinata dengan sombongnya.


"Aku yakin, dia sudah cukup bertanggungjawab menjadi seorang lelaki yang membela perempuan yang dicintainya, terutama di hadapan Orangtua yang keras kepala." Jawaban yang diberikan Mr.Melv. bagaikan tombak yang menusuk bagi Mr.Adhinata.


Mr.Adhinata hanya berdecak kesal mendengar jawaban temannya itu. Kalau saja mereka bukan teman, dia pasti akan menghajar orang yang berani meledeknya.


"Baiklah, aku tidak akan berbasa - basi lagi. Aku ingin mereka bertunangan minggu depan dan menikah di awal tahun depan. Aku mau semuanya jelas di mata semua orang. Jadi, keluargaku juga tidak akan menanggung malu atas kejadian tadi malam. Bagaimana menurutmu?" Mr.Adhinata sudah mengambil keputusan dalam waktu yang singkat. Hanya ini caranya untuk menolong keluarganya dari gosip menyimpang.


Mr.Melv. menganggukkan kepalanya dan berkata, "Aku merasa tersanjung jika harus berbesan dengan teman baikku ini. Kamu tenang saja, aku akan jamin kebahagiaan Putrimu di  tangan Steve, Anakku. Mereka pasti bisa menjadi pasangan yang serasi."


Mr.Melv. terlihat bahagia sekali. Setelah sekian lama, akhirnya Steve akan menikah di usianya yang ke 30 ini. Dia sebagai Orangtua ikut berbahagia mengetahui bahwa Anak - Anaknya menikah dengan orang yang dicintainya.


"Aku hanya butuh pembuktian dari Steve, aku tidak menginginkan ucapan manis darimu, Melviano." Ledek Mr.Adhinata pada temannya itu.


"Baiklah, Adhinata." Jawab Mr.Melv. singkat sambil tertawa terbahak - bahak. Akhirnya Mr.Adhinata yang wajahnya suram sedaritadi pun ikut tertawa bersamanya.


Sejak saat itu, hubungan antar keduanya semakin membaik. Steve yang baru saja mengantarkan teh untuk kedua Orangtua itu pun merasa heran. Canda tawa keduanya terasa garing. Padahal baru saja Mr.Adhinata marah seperti bom meledak, sekarang sudah bisa tertawa lepas seperti itu.


"Steve, minggu depan kamu dan Lisya akan bertunangan. Jadi, persiapkan dirimu. Kami sudah sepakat untuk mengikat kalian ke dalam hubungan yang lebih resmi." Celetuk Mr.Melv. di sela - sela tawanya.


Steve hanya bisa terdiam terpaku mendengar kata bertunangan yang ditujukan padanya dan Lisya. Tiba - tiba saja, datang suara dari arah belakangnya.


"Pa, Papa serius dengan keputusan Papa? Apa ini tidak terlalu cepat?" Tanya Lisya pada Papanya yang terlihat sangat ceria itu.


"Iya, Papa serius. Minggu depan kalian harus bertunangan. Karena kalian harus bertanggungjawab atas kelalaian kalian berdua. Selain itu, kalian adalah sepasang kekasih selama ini. Jadi, tidak masalah kalau kalian bertunangan dan menikah." Jawab Mr.Adhinata dengan santainya.


Lisya tidak bisa membantah ucapan Papanya. Dia menerima semua keputusan itu. Sebab dia juga sepertinya akan bahagia hidup bersama dengan steve. Dia sudah lelah jika harus memikirkan Arion yang sejak lama selalu menolak kehadirannya.


>>> bersambung <<<


Sampai sini dulu ya..


Kita akan lanjut di next chap, Ingat untuk selalu kirim jempol nya yaa, Kakak2..


Salam Kasih untuk Yg Terkasih


 Love You All 


💞 💞 💞 💞 💞