
AUTHOR POV
"Grace, kamu sangat cocok memakai pakaian itu. Tidak salah Mom memilih pakaian itu untuk kamu pakai. Mari, kita sarapan dulu." Mrs. Melv. mengajak semua orang untuk makan bersama di pagi hari.
Grace memakai gaun putih selutut bercorak cherry yang dipadu - padankan dengan jas berwarna merah terang. Gaya rambut panjangnya yang dicepol rapi dan riasan wajah yang natural dengan pewarna bibir yang merah merona membuat dirinya terlihat lebih berseri dari biasanya.
Mrs. Melv. Memuji kesesuaian setelan pakaian yang dipilih olehnya untuk menantunya itu. Dia senang melihat Grace selalu tersenyum, meskipun mereka masih belum mendapatkan kabar dari Arion.
'Bagaimana hasil pencarian Ricky?'
'Apa dia sudah menemukan Arion dan Steve?'
'Kenapa Ricky tidak memberi kabar sama sekali?'
Semua orang selalu memikirkan hal yang sama. Jawabannya belum diketahui sejak 4 hari yang lalu. Tapi, tidak ada yang berani bertanya. Baik itu pada Grace, maupun langsung pada Ricky.
Meskipun Adam terlihat cukup dekat dengan Ricky dan dia memiliki nomor ponsel Ricky, dia juga tidak memiliki nyali untuk menghubunginya walau sedetik.
"Mom, Dad. Kemungkinan Grace akan lebih lama pulang hari ini," ucap Grace membuyarkan lamunan orang - orang di sekitarnya.
"Loh? Kamu mau lembur? Bukannya Dad selalu bilang untuk tidak lembur?" Mr. Melv. merasa khawatir pada Grace.
Dia merasa Menantunya ini sudah cukup lelah dengan kondisi pekerjaan yang akan sangat melelahkannya. Apalagi dia sedang mengandung.
Spontan Grace membentuk tanda silang (X) dengan kedua tangannya. Dia tau arah pembicaraan Mr. Melv.
"Bukan, Dad. Grace harus pergi bersama dengan Sam dan Yoru. Mereka akan menemani Grace ke Dokter Kandungan. Sudah waktunya Grace memeriksakan kondisi kandungannya Grace. Bukankah Grace pernah mengatakannya waktu itu?" tutur Grace sambil menatap Mr. Melv.
"Dad terlalu cepat mengambil kesimpulan. Itu tidak baik, Dad. Grace kan belum selesai bicara tadi," celetuk Adam sambil mengunyah roti selai sarapannya.
"Benarkah itu, Yoru?" tanya Mr. Melv. sambil melirik ke arah orang yang disebutkan namanya.
Dengan santainya, Yoru menganggukkan kepalanya. Dia menjawab, "Benar, Dad. Percayalah padaku dan Kak Sam. Kami akan menjaga Kak Grace. Kakak tidak akan kami izinkan untuk lembur meski hanya sedetik. Kami hanya akan pergi menemaninya memeriksa kandungannya, Dad. Jangan khawatir berlebihan seperti itulah, Dad."
Mr. Melv. berdeham cukup keras. Dia menoleh ke arah Grace dan berkata, "Apa kamu sudah cukup hanya ditemani oleh kedua anak muda itu, Grace?"
Grace terkekeh mendengar ucapan Mr. Melv.
"Dad, jangan mulai lagi dehh," Silvia meledek Mr. Melv.
"Iya, iya, iya. Dad gak akan ngomong apa pun lagi," ucap Mr. Melv. sambil mengangkat kedua tangannya.
"Baiklah, kami berangkat kerja ya, Dad, Mom."
Akhirnya, Mansio intu kembali sepi. Sam, Yoru dan Grace, berangkat bersamaan. Atas permintaan sang Kakak, Sam tinggal selama beberapa hari di Mansion Utama.
Mungkin bawaan kandungannya, Grace ingin tidur dengan kepala yang dielus oleh sang Adik. Setelah dia tertidur, barulah Sam kembali ke kamarnya. Sudah lima hari lamanya, Sam melakukan hal itu hanya untuk membuat sang Kakak dapat tidur dengan nyenyak.
"Kakak gak mau tau ya.. Kalian harus datang ke ruanganku jam 4 sore. Tidak boleh terlambat!" Grace mengancam kedua adiknya itu.
"Siap, Kak!" jawab kedua lelaki itu dengan sigap.
Mereka tau betul seberapa sensitifnya seorang perempuan ketika sedang mengandung. Mereka selalu menuruti permintaan Grace, meskipun itu adalah hal yang aneh sekalipun untuk dilakukan oleh seorang pria.
Di tempat lain, Agung yang sudah tertangkap, dikurung di dalam sebuah ruang bawah tanah dimana letaknya cukup jauh dari Mansion. Dia sedang dalam kondisi yang cukup menggenaskan dengan kedua tangan terikat menggantung ke atas dan kaki yang dililit oleh sebuah tali.
"Kenapa kamu masih saja mengganggu Menantuku? Apa kamu mengira kamu bisa merampas perasaan Menantuku, Grace, selama Arion tidak ada?" tanya Mr. Melv. yang geram melihat Agung yang tak kunjung mati setelah beberapa kali disiksa oleh anak buahnya.
"Jangan sebut nama orang itu! Dia tidak akan kembali lagi!" teriak Agung dengan senyuman sinisnya.
Dia selalu mengucapkan kata - kata itu, meski dia tidak pernah mau menjawab alasan di balik perkataannya itu. Dia masih tetap kekeuh dengan pendiriannya untuk tidak memberitahukan keberadaan Arion pada siapa pun juga.
"Apa maksud dari perkataanmu itu?! Sejak awal, kamu selalu mengatakan hal yang sama berulang kali. Kenapa kamu begitu yakin dengan kepergian Arion yang tak akan kembali lagi?" tanya Mr. Melv. dengan penuh emosi.
Dia tidak suka dengan ucapan Agung yang sudah beberapa kali didengarnya. Setiap kali dia mendengarnya, tangannya bergetar hebat. Mr. Melv. ingin sekali menamparnya. Tapi, dia tidak ingin mengotori tangannya hanya untuk seseorang seperti Agung. Maka dari itu, Mr. Melv. berusaha keras untuk tidak mendekat pada Agung.
Mr. Melv. duduk di sebuah bangku. Dia menarik nafas untuk menenangkan diri sejenak setelah meluapkan emosinya pada Agung. Dia masih teringat dengan kondisi tubuhnya yang masih harus dijaga kesehatannya.
Meskipun dalam keadaan mendesak, Mr. Melv. selalu ingat akan kesehatannya. Karena baginya, dirinya masih belum rela meninggalkan keluarga yang dicintainya hanya karena maslah kondisi kesehatannya.
Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..
Mr. Melv. mengambil ponsel dari saku celananya. Dia tidak lagi memperhatikan nomor ponsel yang menghubunginya.
"Halo," sapa Mr. Melv. dengan singkatnya.
"Ricky? Ini Ricky kan?" tanya Mr. Melv. dengan sangat yakin.
Dia merasa sangat senang mendapat panggilan dari seorang Ricky. Sangkin senangnya, dia sampai lupa bahwa dia baru saja meluapkan emosinya pada Agung.
"Iya, Mr. Melv., anda benar. Ada yang ingin saya sampaikan padamu, Mr. Melv." Ricky langsung mengucapkan niatnya pada Mr. Melv.
"Baiklah, apa itu? Apa yang ingin kamu katakan, Ricky?" tanya Mr. Melv. sambil berjalan menjauhi Agung.
Ricky sedikit menghela nafas. Dia mulai ragu untuk mengatakan niatnya. Sambil melirik ke arah Steve. Akhirnya,dia pun membulatkan tekadnya untuk mengatakan semua yang dipinta oleh Steve.
"Begini Mr. Melv., aku masih belum menemukan keberadaan Ar dan Steve. Tapi, anak buahku sudah menyebar hingga ke pelosok London. Kami pasti bisa menemukan mereka. Tapi, sebelumnya, aku memiliki saran yang sedikit lancang kedengarannya."
Ricky menghentikan ucapannya sejenak. Dia ingin memberikan waktu pada Mr. Melv. untuk mencerna kata - kata yang disampaikannya.
Di seberang telepon, Mr. Melv. merasa kehidupannya berwarna kelabu. Dia mulai meneteskan air matanya. Tapi, bagaimanapun, dia harus bersabar menunggu pergerakan yang sedang dilakukan oleh Ricky. Seorang Yardies pasti bisa menemukan anak semata wayangnya itu dalam keadaan selamat.
"Baiklah, aku akan menunggu kabar darimu. Jadi, untuk hal yang sedikit lancang itu, kamu mau memberikan saran seperti apa?" tanya Mr. Melv. dengan suara paraunya.
"Begini, saya tidak bermaksud lain, hanya ingin membantu kalian keluarga Melviano. Saya akan membantu anda dan keluarga anda mengurus Melv. Corp. untuk sementara waktu sampai Ar dan Steve ditemukan. Aku tidak ingin kalian terlalu lelah jika harus ada lagi yang diutus ke London hanya untuk memantau pembangunan dan sistem kerja di sini. Bagaimana Mr. Melv.?" tutur Ricky secara perlahan.
Dia masih ragu untuk mengatakan hal itu. Sesungguhnya, dia sedang dipaksa oleh Steve untuk melakukan hal yang sama sekali belum pernah dia lakukan sebelumnya.
Setelah berpikir panjang, Mr. Melv. pun berkata, "Ricky. Kamu itu memang saudara yang sangat peduli dengan orang sekitarmu. Baiklah, Daddy akan melakukan segala sesuatunya yang kamu butuhkan dari sini untuk mempermudah semuanya di sana. Kamu akan bisa mengakses hal yang ingin kamu akses di sana. Kamu juga bebas memberikan perintah, bahkan menerima atupun memecat pekerja yang ada di Melv. Corp."
Steve melompat kegirangan mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Mr. Melv. Dia tidak menyangka bahwa hal seperti itu akan mudah bagi mereka. Mereka tidak memerlukan alasan tambahan untuk membujuk Mr. Melv. agar memberikan kuasa penuh pada Ricky.
"Dan satu hal lagi, kamu harus bisa bekerja sama dengan Grace. Setiap laporan yang sudah kamu selesaikan di sana, kirimkan pada Grace secepatnya agar dia bisa memberikan ACC dengan segera. Karena pada saat ini, dialah yang menangani semuanya. Dialah yang mengambil keputusan untuk semua kegiatan yang dilakukan oleh Melv. Corp. yang ada di Indonesia, London dan NYC. Apakah ada hal yang kamu inginkan lagi, Ricky?"
Mr. Melv. mengakhiri pembicaraannya dengan sebuah pertanyaan. Meskipun dia sempat merasa sedih karena keberadaan kedua anaknya belum diketahui, dia masih bisa meraasa senang karena Ricky menawarkan dirinya sendiri untuk membantu Mel. Corp.
"Baiklah, Mr. Melv., aku akan melakukan semuanya dengan persetujuan Grace terlebih dahulu. Aku sudah selesai dengan semua yang aku inginkan. Aku hanya ingin membantu keluargaku. Keluarga Grace adalah keluargaku juga," Ricky menjelaskan maksud dari permintaannya tadi.
Ricky tidak ingin Mr. Melv. atau yang lainnya memandangnya seperti orang - orang serakah di luaran sana. Dengan berat hati, dia melakukann semua itu karena permohonan dari Steve.
"Dad paham betul, orang seperti apa dirimu itu, Ricky. Terima kasih karena kamu sudah terlalu banyak membantu keluarga kami. Oopss, salah. Terima kasih karena telah membantu keluarga kita. Dad akan menutup teleponnya. Sekali lagi terima kasih ya, Nak."
Pada akhirnya, panggilan itu berakhir. Ricky menatap kesal pada Steve yang sedang tertawa senang.
"Sudah? Kamu benar - benar merepotkanku, Steve!" ucap Ricky dengan kesal sambil mencampakkan ponselnya ke arah sofa.
"Terima kasih, Bang Ricky. Kamu memang Abang yang paling T-O-P dehh," ucap Steve sambil mengacungkan kedua jari jempolnya.
Ricky mengabaikan tingkah kekanakan Steve begitu saja dengan membalikkan badannya dan berjalan mendekati Ar yang sedang berbaring di depan sana.
"Dokter bilang, dia akan sadar sekitar seminggu hingga epuluh hari lagi. Karena kondisi tubuhnya akan pulih pada saat itu. Mereka itu Dokter yang sungguh luar biasa! Sampai - sampai mereka tau tentang hal sedetail itu. Bang, apa kita bisa mempercayai apa yang mereka katakan?" tanya Steve dengan penasaran.
"Ya! Karena merekalah yang telah merawat Grace yang sudah terluka seratus kali lipat lebih parah dibandingkan dengan luka yang sedang dialaminya." Ricky mengatakannya dengan raut wajah yang cukup serius.
Steve yang melihat perubahan ekspresi Ricky pun, tidak mengatakan apa pun lagi selain menagaggukkan kepalanya yang menandakan bahwasannya dia sudah mengerti apa yang dimaksud oleh Ricky.
"Baiklah, aku akan pulang. Kamu bisa meminta apa pun yang kamu butuhkan padanya. Dia akan membantumu merawat Ar. Aku tidak ingin kalian menghilang lagi. Itu akan membuatku semakin repot di masa depan."
Ricky pun mengambil ponselnya dari atas sofa dan pergi dengan beberapa anak buahnya. Dia menyuruh dua orang untuk menjaga pintu depan ruang rawat Ar dan dua orang lagi menjaga pintu lift.
Hal tersebut dilakukannya hanya untuk menjaga keamanan dan keselamatan Ar dan Steve selama Ar dirawat di Rumah Sakit miliknya. Ingat! Tidak ada seorang pun yang tau tentang kepemilikannya itu, bahkan Istri dan Anaknya.
>> Bersambung <<<
Sampai sini dulu ya..
Kita akan lanjut di next chap, Ingat untuk selalu beri like nya yaa, Kakak2..
Mohon bantu Author meningkatkan rating di TPG dan NARA yaa, guys..
Terima kasih bagi yang setia mengikuti kisah Arion dan Grace selama ini..
Salam Kasih untuk Yg Terkasih
~~ Love You All ~~
IG : friska_1609