
Setelah mereka puas bersenang-senang, akhirnya kami berangkat ke Villa untuk mengambil tas dan barang-barang kami lainnya. Malam ini juga lah, kami akan pulang ke tempat tinggal masing-masing.
Oh ya, yang di bilang Nayaka tadi beneran lho. Dia membelikan pakaian ganti untukku dan memang bebar-benar 10 set. Gila itu anak, entah sejak kapan dia mempersiapkannya, aku pun tidak tau. Dia juga membelikan yang lainnya masing-masing 1 set. Dia jadi di kira pilih kasih, padahal dia hanya menepati janjinya padaku.
Sebelum berangkat, kami berpelukan seperti teletubies. Kami melepaskan detik-detik terakhir kebersamaan kami dengan berpelukan bersama. Mereka pun berjanji akan mengantarkan kami untuk yang terakhir kalinya esok pagi.
Kami pun segera berangkat sebelum waktu semakin jauh. Anne yang mengantarkanku ke kost diikuti oleh Wilsen dari belakang, sedangkan Ahza mengantarkan Iwan dan Nayaka pulang ke Apartemen masing-masing.
AUTHOR POV
Sesampainya di depan kost, Grace masih berdiam di tempatnya berdiri saat ini dan melihat kepergian kedua sahabatnya itu. Dia tidak menyadari adanya seseorang yang sedang berada dibelakangnya.
"Grace?" Suara bariton yang memanggil namanya itu begitu dikenalnya. Dia berbalik mau memastikan orang yang ada di belakangnya.
GREPPP...
Tiba-tiba lelaki itu memeluknya dengan erat. Grace tidak membalas pelukan itu, karena dia masih fokus memegang tas bawaannya.
"Ar, lepaskan aku. Aku sudah sangat lelah. Apalagi ini sudah terlalu larut untuk bertemu." Grace membuka suaranya setelah dia merasa pegal sendiri telah di peluk erat dalam diam sekitar 10 menit.
"Arion." Dia berusaha kembali memanggil orang tersebut. Dia malah dikacangin.
"Ar,, aku sudah pegal nih. Aku juga cukup sesak dipeluk erat begini. Lepas dong. Ini sudah yang ketiga kalinya aku memanggilmu. Gak dengar juga?" Grace sudah meninggikan suaranya dan Arion pun tersadar bahwa mereka sudah berpelukan begitu lama.
Arion melepaskan pelukannya, "Grace, jangan marah ya. Aku hanya ingin bertemu denganmu dan memelukmu sebagai tanda perpisahan kita. Kenapa kamu tidak bilang padaku kalau besok pagi kamu sudah berangkat ke Bandara?"
Grace masih diam kebingungan melihat ekspresi Arion. Meskipun hari sudah malam dan sekitar mereka tampak redup, Grace masih bisa melihat jelas raut wajah kecewa dari Arion. Karena pada saat ini, jarak mereka begitu dekat.
"Kamu memang tidak mau memberitahukanku tentang jadwal penerbanganmu? Tapi, kamu memberitahu Silvia tentang semuanya."
"Ahh, aku sudah terbiasa chattingan sama Kak Silvi. Aku mengatakan padanya apa yang ingin ku katakan. Aku saja tidak begitu ingat, kapan aku memberitahukannya tentang jadwal penerbanganku. Maaf ya, Ar. Aku benar-benar tidak kepikiran untuk memberitahukanmu, bukan karena sengaja tidak mau memberitahumu."
Grace menundukkan kepalanya, karena dia memang tidak ingat untuk mengabari Arion. Apalagi, dia merasa kalau
dia masih belum begitu dekat dengan Arion.
"Oke, baiklah. Permintaan maaf mu kuterima. Tapi, besok aku tidak bisa menemuimu di Bandara karena pagi-pagi sekali, aku harus berangkat ke Bandung untuk syuting. Makanya, setelah aku tau tentang jadwal penerbanganmu dari Silvia, aku langsung kemari menemuimu. Kamu tidak marah kan?"
"Marah karena apa?" Grace mulai kebingungan lagi dibuat Arion.
"Karena aku memelukmu begitu saja tanpa izin." Arion menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Baiklah, itu tidak masalah. Jadi, sekarang pulanglah. Kamu kan besok ada jadwal syuting dan aku juga harus berangkat pagi ke Bandara."
"Kamu masuklah terlebih dahulu, Grace."
"Baiklah, bye Ar." Grace berlalu begitu saja.
Arion merasa senang, karena dia dapat memeluk Grace malam itu dan melihat Grace masih mengenakan jaket pemberiannya di Pantai tadi. Dia juga merasa sedih secara bersamaan, karena dia akan berpisah dengan Grace
mulai saat ini entah sampai kapan.
**********
Sesampainya di parkiran Apartemen, Anne meninggalkan semua barangnya di mobil, kecuali handphone dan dompetnya. Karena dia tidak mau repot mengangkat tas besar itu bolak balik. Karena malam ini, dia hanya akan merapikan sedikit barangnya untuk keperluannya besok.
Dia memang tidak berencana menjual ataupun menyewa Apartemennya itu, karena dia yakin dia pasti akan datang lagi ke Apartemennya ini saat liburan nanti. Saat dia keluar dari mobil, tiba-tiba dia merasakan ada tangan yang menahan bahunya dan membalikkan badannya.
Dia terkejut, tapi dia tidak memiliki cukup tenaga untuk mendorong lelaki yang tengah memeluknya kini. Kedua tangannya berada tepat di dada bidang lelaki ini. Lelaki ini memeluknya begitu erat.
"Anne, jangan lupakan aku ya. Setelah kita berjauhan nanti, jangan lupa menghubungiku. Aku juga akan sering
menghubungimu, tapi kamu jangan cuek padaku nantinya."
"Wilsen?!! Ini kamu? Lepaskan aku, Wil. Nanti ada yang lihat gimana? Bahaya, kalau aku kena gosip yang tidak mengenakkan nantinya."
Anne berusaha melepaskan pelukan Wilsen, tapi tetap aja sia-sia, "Wil, ada apa denganmu? Tidak biasanya kamu begini. Tumben-tumbenan kamu kayak anak kecil gini. Lepasin aku."
Wilsen melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Anne, "Nah, kalau kamu berbicara lembut seperti ini
kan lebih enak di dengar, Anne. Gak pake loe-gue gitu. Aku senang mendengar kamu mau memanggilku pakai aku-kamu gitu. Mulai saat ini, ubah cara bicaramu itu ya, Ann."
BLUSSHHH...
Pipi Anne memerah, sesaat dia lupa dengan kebiasaannya. Dia malu karena ketahuan bisa mengucapkan kata begitu lembut oleh seorang lelaki. Padahal selama ini dia hanya berbicara lembut dengan keluarganya.
"Oke, baiklah. Sekarang kamu beristirahatlah. Besok pagi kamu sudah harus ke Bandara. Aku dan yang lainnya juga akan ke sana. Bye, Ann. Good Night."
Kata Wilsen sambil berlalu menuju ke mobilnya. Dia pergi saat Anne benar-benar terpaku dengan sikap anehnya. Anne merasa ada yang tidak ada beres dengan sikap Wil padanya.
Dia memasuki gedung Apartemennya dan segera membersihkan diri, lalu tidur. Dia tidak mau besok telat bangun. Tapi, pada akhirnya, dia tidak bisa tertidur pulas seperti biasanya.
"Ini semua gara-gara kamu, Wil. Aku jadi kepikiran terus."
Dia merasa gelisah entah kenapa. Terus saja dia membolak-balikkan badannya karena merasa tidak nyaman dengan posisinya.
ARION POV
Hari ini aku bisa lebih sering menemui Grace, karena jadwal syuting kami diliburkan sehari setelah kejadian di arena Equestrian itu. Aku memang sempat ke kantor membantu Silvia dan melakukan pemotretan sebagai model
sampul Majalah XYZ bulan depan.
Karena aku sangat ingin menghabiskan waktuku hari ini dengan dia, aku menyuruh seorang anak buahku membuntuti mereka. Di pagi hari, saat aku sedang dikantor, aku mendapat telepon dari Zach, dia memberitahukanku bahwa Grace dan temannya menuju ke arena Balapan AA.
Selang beberapa menit, aku juga di telepon oleh seseorang yang ku kenal.
"Ar, kamu sedang sibuk? Bisa kita ketemuan? Kita kan sudah lama tidak bertemu. Ajak juga Steve, gimana?"
"Memangnya mau ketemuan dimana Do?"
"Di arena Balapan AA. Aku akan kesana sekitar sejam lagi. Gimana? Kita kan sudah lama sekali tidak melakukan pemanasan seperti ini."
Aku mengingat nama tempat itu. Tempat yang sama dengan yang dituju oleh dia.
"Baiklah, aku akan ke sana bersama Steve."
"Gitu dong, Ar. Jangan fokus kerja mulu, biar jangan jadi penggila kerja. Sampai jumpa"
"Yah, bye."
Aku segera menyuruh Steve untuk ikut denganku. Kami akan ke Apartemenku dan mengganti pakaian dengan pakaian santai. Kan tidak mungkin ke arena balapan memakai jas.
Kami akan bertemu dengan Naldo. Dia itu pemilik toko kue yang suka balapan. Dulu aku yang mengajarinya untuk
balapan. Dia suka tapi tidak bisa mengemudikan mobil balap. Mungkin saat ini dia sudah lebih mahir dariku.
Sesampainya di tempat tujuan, aku melihat Grace dan teman-temannya mulai memasuki mobil dengan posisi
di arena balapan. Aku dan Steve agak terkejut melihat Grace yang juga ikut berdiri di salah satu mobil itu.
"Ar, orang itu Grace kan? Aku tidak salah lihat? Apa dia bisa balapan juga? Bahaya sekali pertandingan seperti ini untuk perempuan."
Steve berbisik padaku. Aku juga khawatir padanya. 'Apa dia memang bisa mengemudikan mobil balapnya itu dengan benar? Kenapa aku tidak pernah tau tentang ini dari Adam? Apa mungkin dia juga tidak tau?' Banyak
sekali pertanyaan dalam benakku.
"Aku kesana dulu ya, Steve. Kamu saja yang menunggu Naldo datang. Nanti katakan kalau aku sedang ikut
balapan." Aku langsung menuju ke mobil dimana Grace sudah mulai memasuki mobil itu.
Tapi, tidak ada respon yang menarik darinya. Padahal aku sudah sedikit memberanikan diriku untuk memberinya
kode, bahwa aku ingin berada disisinya. Mungkin dia memang tidak peka atau memang sudah terbiasa dengan kata-kata seperti itu. 'Positive Thinking' aja Ar.
Didalam mobil, kami memang tidak ada berbicara sama sekali. Sampai akhirnya dia merebut posisi ketiga di arena balapan. Dia melihat ke arah mobil di depan dan mengucapkan sesuatu yang membuatku sedikit membelalakkan mataku melihatnya.
Ternyata di depan kami Ahza, aku tidak tau bagaimana Grace mengetahui hal itu. Mungkin dia sudah tanda dengan mobil yang dikendarai oleh setiap temannya.
Aku tidak menyangka bahwa keberanian Grace sungguh mengerikan. Ditikungan yang tajam, dia berhasil menyalip mobil Ahza dengan dengan kecepatan tinggi. Sungguh luar biasa.
Pada akhirnya, kami berhadapan dengan mobil lain di depan kami. Dia adalah Anne. Dari caranya mengemudi dan tidak memberi celah pada Grace untuk menyalipnya, aku sudah mengetahui bahwa dia itu sangat profesional dalam mengemudi.
Aku tidak ingin Grace menggunakan cara mengerikan untuk menyalip mobil Anne. Aku memberinya sedikit petunjuk untuk bisa mengelabui dan menyalip mobil Anne.
Sebenarnya, dia tidak mempercayaiku. Kelihatannya begitu. Tapi, entah bagaimana, pada akhirnya dia menuruti perkataanku. Grace menempati posisi pertama.
Aku senang melihat wajahnya yang berseri karena kemenangannya itu. Dia juga tidak lupa mengucapkan terima kasih padaku.
Begitu keluar dari mobil, Grace langsung bertemu dengan teman-temannya. Ahza dan Anne terlihat kesal pada Grace. Sungguh menggelikan percakapan mereka itu. Mereka melemparkan kekesalannya pada yang menang.
Steve dan Naldo menghampiriku. Aku hanya berdiri diam dan hanya menjawab dengan senyuman. Anne dan Grace mendekati kami. Ku kira mereka menyapa ku, ternyata mereka hanya menyapa Naldo?
"Do, kamu kenal mereka?" Aku bertanya pada Naldo, karena aku penasaran.
"Ya, kenapa? Kaget? Anne dan Grace sering ke arena balapan seperti ini. Terkadang kami jumpa dan melakukan balapan bersama. Dan kali ini, kamu yang kulihat berada satu mobil dengan Grace. Kenapa bukan kamu saja yang mengemudi tadi?" Dia menjelaskan padaku.
"Dia temanmu? Yang kamu bilang jago balapan?" Nampaknya Naldo pernah menceritakan tentang diriku pada mereka, nampaknya Grace bertanya karena penasaran dengan kedekatan kami.
"Ya, Grace. Dia yang mengajarkanku tentang balapan seperti ini. Jangan heran. Harusnya aku yang terheran-heran
disini. Tak biasanya Arion akan duduk di kursi penumpang seperti tadi."
Wah, pernyataannya itu lho. Tidak pas timingnya. Kenapa dia mengungkit hal itu di depan Grace? Kelihatan banget Grace jadi kesal karena aku menemaninya saat balapan tadi.
Setelah mereka pergi, aku di interogasi oleh Naldo dan Steve hanya terkekeh mendengar penuturanku.
"Tak biasanya seorang Arion menemani seorang perempuan dalam balapan. Ada apa nih?"
"Biasa saja."
"Kamu menyukainya kan?"
"Hmm, gitu dehh."
"Sebelumnya, aku juga menyukainya. Dia itu selain cantik, cerdas dan berani pula. Padahal baru dua kali diajarkan dan ditemeni Anne mengemudi mobil balap, dia sudah mahir. Body nya juga tak kalah dengan gitar spanyol."
PLETAKKK..
Ku jitak jidatnya itu, "Jangan mesum dengannya, kuhancurkan isi kepalamu itu, baru tau rasa."
"Haduh.. Tuh kan, kamu memang menyukainya. Aku mundur dehh, mana sanggup aku melawan seorang Arion."
Ucapannya membuatku melirik tajam padanya.
Steve tertawa melihat tingkah kami ini, "Sudah lah, yuk, kita balapan sekali putaran."
Steve mengajak kami mengitari arena balapan ini. Dan memang, akulah juaranya. Bukan sombong, tapi memang kenyataannya aku jago dalam hal ini.
Selesai bermain, kami duduk bersama di sebuah Café di dekat arena Balapan. Tadi siang, aku mendapat kabar bahwa mereka -Grace dan temannya- sedang bersenang-senang di Pantai.
Setelah selesai ngemil, aku langsung mengakhiri pertemuan kami dan pergi menuju pantai tersebut. 'Sudah sore begini, apa mereka masih disana?' Tuturku dalam hati.
Steve mengemudikan mobil dan berhenti di tempat yang sepi. Aku mengenakan masker dan jaket. Aku mencari
keberadaan mereka. Saat aku sedang menuju kesebuah pohon di tengah pantai, akhirnya aku melihat keberadaan Grace.
Dia duduk membelakangiku. Ku perhatikan, dia sedang merasa kedinginan. Mungkin karena bermain air hingga tubuhnya basah. Dia duduk dalam keadaan menggigil.
Aku mendekatinya dan melepaskan jaket yang kupakai. Ku pakaikan dipundaknya.
Dia ingin berbalik, tapi kutahan kepalanya agar tidak menoleh padaku. Aku tidak mau dia mengetahui kalau ini sebenarnya aku. Aku takut dia akan berpikiran bahwa aku ini seperti seorang penguntit yang tau tentang keberadaannya. Apalagi tadi di arena balapan dia sudah kesal begitu padaku. Bisa-bisa dia menjauhiku nantinya.
Aku membisikkan sesuatu padanya dengan lembut. Sesuatu yang ingin kusampaikan padanya. Aku tau bahwa suasana di sekeliling kami sangat bising, entah dia mendengarnya atau tidak.
Dengan segera, aku pergi dari tempat itu. Aku langsung menuju ke mobil. Dan kami pun berangkat ke tempat
pemotretan. Aku hanya memiliki jadwal pemotretan pukul 5 sore.
Aku mendapat pesan singkat dari Silvia, hal itu membuatku sedikit syok.
From Silvia :
Ar, aku kelupaan memberitahukanmu sesuatu.
Grace akan berangkat besok pagi jam 8 ke Bandara.
Penerbangannya pukul 10.
To Silvia :
Thx for info nya Sil.
"Bagaimana dengan jadwalku besok?" Aku bertanya pada Steve yang sedang mengemudi.
"Jam 6 pagi, aku akan menjemputmu. Kita akan ke Bandung. Lokasinya disana dan syutingnya dimulai pukul 9 pagi." Steve menyebutkan jadwalku dengan lancarnya.
'Aku mana bisa menemuinya di Bandara besok. Bagaimana ini?' Aku mulai kebingungan sendiri.
Setelah selesai dengan semua kegiatanku, aku dan Steve langsung menuju ke Apartemen. Aku ingin menemui Grace malam ini juga.
Aku berangkat sendiri dengan mobil sport hitam yang jarang kugunakan. Sepanjang perjalanan, aku masih bingung, 'Apa yang harus aku lakukan saat berhadapan dengannya? Apa yang harus kukatakan padanya? Apa dia mengenaliku saat dipantai tadi? '
Akh, semua pertanyaan itu berputar di otakku. Aku harus tenang terlebih dahulu. Agar aku bisa mengatakan apa yang harus kukatakan.
Setelah hampir 2 jam menunggu, aku melihat kedatangan mobil Anne dan ada satu mobil lagi yang mengikuti mereka. Kulihat lelaki itu berambut pirang, kalau tidak salah namanya Wilsen.
Aku keluar dari mobil dan menghampiri Grace. Aku benar-benar bingung mau ngapain. Aku hanya bisa memanggil namanya, "Grace?"
Begitu dia berbalik, tiba-tiba tanganku bergerak dengan sendirinya. Aku memeluk Grace dengan erat. Aku sebenarnya sangat berat untuk berpisah dengannya, tapi aku juga gak bisa egois untuk menahannya disisiku. Dia masih belum mempunyai perasaan apapun padaku.
Kau memeluk dan menghirup aroma wewangian dari rambut dikepalanya. Aku akan merindukannya untuk waktu yang tidak bisa diprediksi. Tapi, aku hanya sekedar teman baginya.
Aduh, Grace mulai marah. Aku tersadar disaat dia sudah meninggikan suaranya. Tanpa sadar, aku memeluknya
terlalu erat dan lama. Dia sudah sesak. Langsung saja kulepaskan pelukanku dan mengatakan kejanggalan didalam hatiku padanya.
Aku ingin tau kenapa dia tidak memberitahukan padaku jadwal penerbangannya, tetapi dia memberitahukan Silvia. Tapi, aku jadi merasa sedikit kecewa dengan jawabannya. Dia benar-benar tidak bisa menganggapku lebih dari status seorang teman.
Yah, apa mau di kata? Aku memang tidak ada romantis-romantisnya seperti Adam dan bukan orang yang murah senyum seperti Steve.
Aku berpisah dengannya dan balik ke Apartemen. Aku senang karena bisa memeluknya dan dia tidak marah padaku karena memeluknya tanpa izin.
Yang membuatku lebih senang lagi, dia masih tetap memakai jaket pemberianku. Kemungkinan besar, dia tidak tau itu jaket milik siapa dan apa yang ku bisikkan padanya.
Saat aku bertemu dengannya di pertemuan berikutnya, aku berjanji pada diriku sendiri untuk memberitahukan padanya perasaanku yang sebenarnya. Aku siap menerima apapun keputusannya.