THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
74



Guys,, untuk eps kali ini, Author akan memberikan sedikit foto pemandangan untuk kalian semua..


Cukuplah untuk mencuci mata, melegakan pikiran dan menenangkan perasaan..


Khusus di eps ini, lupakan kegundahan hati kalian semuanya..


~ HAPPY READING GUYS ~


**********


“Selamat ya, Grace.  Kamu sudah membuat para pemegang saham itu merasa puas dengan hasil presentasimu. Mereka sampai menelepon Dad hanya untuk menanyakan tentang dirimu. Mereka berpikiran untuk membuat dirimu langsung turun tangan menangani apa yang sudah direncanakan. Meskipun ada beberapa dari mereka yang tidak suka kalau aku mengutus orang luar untuk memimpin rapat ini, bukan bagian dari pemegang saham. Tapi kamu sudah berusaha dengan baik. Kamu boleh berlibur sebentar di sana. “ Tutur Daddy panjang kali lebar.


“Tapi Dad, bukannya jadwal penerbanganku untuk kembali ke Indonesia adalah besok? Aku kan juga harus kembali bekerja. Dad jangan melakukan hal - hal di luar nalar dong.” Aku mengumpat pada Dad yang dengan sesuka hatinya mengubah jadwal penerbanganku.


“Tidak ada tapi tapi Grace. Jadwal penerbanganmu tepat hari Senin. Jadi, selama tiga hari ini, kamu pergilah menenangkan pikiranmu ke tempat wisata yang ada di sana. Semuanya sudah Dad atur untukmu. Kamu hanya mengatakan pada ketiga bodyguard itu tempat yang ingin kamu kunjungi. Mereka yang akan mengantarkanmu. Dan satu hal lagi, tiket penerbanganmu akan diberikan langsung oleh Sekretaris Dad padamu nanti. Selamat bersenang - senang, sayang.”


Aku belum sempat mengatakan apapun, Dad sudah mengakhiri panggilan telepon itu. Heran dehh..


Tak ingin ambil pusing, langsung saja aku melangkah keluar dari ruangan rapat. Ya! Aku masih duduk di sini sedaritadi untuk menenangkan perasaanku yang melayang itu.


“Aku ingin melihat lihat setiap tempat di gedung ini, bolehkah?” Tanyaku dengan ragu pada Sekretaris Dad yang ada di depan pintu.


“Silahkan Bu, ikuti saya.” Dia pun melebarkan tangan kanannya menunjuk ke arah yang akan kami jalani pertama kali.


“Terimakasih.” Kataku sambil membungkukkan badanku padanya.


“Ini sudah menjadi tanggungjawab saya, Bu. Tidak perlu sungkan.” Jawabnya padaku sambil memegang kedua bahuku melarangku untuk membungkuk padanya.


Oh iya, dia bisa berbahasa Indonesia karena dia adalah orang Indonesia asli yang mendapatkan beasiswa melanjutkan kuliahnya di NYC dan mendapat keberuntungan untuk bekerja di Melv.Corp. Dia sudah bekerja di sini selama tiga tahun. Aku sudah mencaritahu sedikit informasi mengenai dirinya tadi malam, karena sejujurnya aku pun bingung melihat dirinya yang dengan santainya menyapaku dengan lancar menggunakan Bahasa Indonesia.


Kami pun mulai mengelilingi gedung yang cukup luas ini. Semua bagian dari perusahaan ini ditunjukkannya padaku dan dia memberikan sedikit informasi dari setiap bagian yang kami jumpai dengan penuh kesabaran. Aku senang bisa mengenalnya di sini. Dia begitu ramah dan cerdas. Tidak salah kalau perusahaan mempekerjakan orang seperti dia.


Setelah lelah berjalan mengelilingi gedung Mel.Corp. ini, aku pun duduk di kursi yang ada di dalam kantin perusahaan. Stevi , nama Sekretaris Dad itu, sedang mengambilkanku makanan dan minuman. Sekarang memang sudah saatnya untuk makan siang. Kami makan bersama dan setelahnya, aku di ajak ke ruangannya.


Dia sedang sibuk mencetak tiket pesawatku. Selang beberapa menit, dia menoleh padaku yang sedang duduk di hadapannya.


“Bu, ini adalah tiket pesawat anda yang terbaru dan ini adalah kartu kresit yang di kirim oleh Mr.Melv. untuk anda pergunakan selama tiga hari ini.” Katanya sambil tersenyum padaku yang sedang melotot melihat kartu ATM yang diberikannya.


“Kapan Dad mengirimkannya? Kenapa Dad tidak mengatakan apapun padaku? Apa kamu tidak salah, Vi?” aku bertanya tanpa berniat menerima apa yang disodorkannya padaku.


“Tidak, Bu. Mr.Melv. yang mengkonfirmasikannya secara langsung pada saya. Saya hanya menjalankan perintah dari Beliau. Tolong jangan menolaknya, Bu. Nanti pekerjaan saya menjadi taruhannya.” Ekspresi wajahnya yang memelas itu membuatku dengan ragu menerimanya.


‘Apa keluarga Melv. Memang orang yang suka memerintah dengan disertai ancaman?’ Batinku mulai bergetar mengingat bagaimana Ar saat memerintahku waktu di Rumah Sakit itu.


‘Bagaimana keadaannya saat ini? Aku merindukannya. Merindukan Ar yang dulu.’ Tiba - tiba saja pikiranku buyar saat mendengar Stevi memanggilku.


“Bu, sudah saatnya Ibu kembali ke Apartemen untuk beristirahat,” katanya sambil menepuk bahuku.


“Baiklah. Terimakasih untuk semuanya ya, Vi. Terimakasih untuk hari ini.” Aku pun pergi dari gedung Melv.Corp ini dan masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh salah satu bodyguard yang mengikuti setiap langkahku selama aku berada di USA.


Sesampainya di Aparteman, aku langsung mandi dan berganti pakaian. Hari ini aku hanya ingin bermalas malasan di dalam kamar. Aku tidak ingin pergi kemana pun.


Saat malam tiba, aku hanya berdiam diri di dalam kamar sambil bermain di laptopku saat ini. Aku melihat - lihat tempat wisata yang bisa aku kunjungi selama di USA. Meskipun mood ku sedang tidak begitu baik, setidaknya aku tidak boleh menyia - nyiakan hari liburku. Lumayan bukan? Dapat cuti dengan fasilitas yang lengkap.


Hanya dua hari, harus aku manfaatkan sebaik mungkin untuk mengusir kejenuhanku ini. Aku jenuh menghadapi masalahku yang sepertinya tidak ada ujungnya. Setiap kali aku dan Ar akan bersama, selalu saja tidak di dukung oleh keadaan. Tapi, beginilah hidup. Semakin banyak tantangan dalam hidup kita, kita pun akan semakin dewasa dan bijak dalam mengambil keputusan.


Keesokan harinyaa..


Aku pun bergegas mandi dan bersiap - siap. Semalam aku sudah mengabari salah satu bodyguard yang berjaga di depan pintu Apartemenku agar mereka bersiap jam 8 pagi. Hari ini aku ingin pergi ke Air Terjun Niagara. Kenapa ke sana? Yah, aku sangat mengagumi segala tempat wisata yang berhubungan dengan air terjun. Seharian ini aku hanya ingin melihat, memandangi dan berpose ria dengan pemandangan indahnya.


Sesampainya di sana, aku diikuti ketiga bodyguard ku itu, Aku begitu takjub melihat pemandangan yang ada di hadapanku kini. Aku mengajak ketiga orang itu berjalan sejauh mungkin mengelilingi daerah Air Terjun itu. Aku juga mengambil beberapa gambar yang bersangkutan dengan Air Terjun itu. Tidak lupa, aku dan ketiga bodyguard ku ikut meluncur di atas Air Terjun itu. Sungguh menyenangkan!



Air terjun Niagara terletak di antara negara bagian New York di provinsi Ontario. Air terjun ini merupakan salah satu keajaiban alam yang spektakuler di Amerika Utara. Niagara terbagi menjadi tiga air terjun yaitu *Horseshoe Fall*s, American Falls, dan Bridal Veil Falls. Air terjun Horseshoe Falls sebagian besar terletak di Kanada, sedangkan American Falls dan Bridal Veil Falls termasuk dalam negara Amerika yang dipisahkan oleh Goat Island.


Meskipun aku tidak begitu mengetahui dengan jelas mengenai Air Terjun Niagara ini, aku merasa sangat senang bisa mengunjungi secara langsung tempat wisata seperti ini. Aku memang seorang perempuan yang menyukai hal - hal yang cukup ekstrim seperti yang tadi kami lakukan. Air Terjun yang aku kunjungi ini adalah American Falls.


Siang dan malam hari, kami makan di Rumah Makan yang terdapat di daerah sekitar Air Terjun. Sebenarnya banyak Restoran yang berdiri dan menyediakan makanan lezat untuk para turis. Tapi aku malah tidak terlalu menyukai suasana mewah yang disediakan di Restoran itu. Aku lebih senang makan di tempat yang terlihat sederhana tapi tempatnya masih terkesan rapi.


Selesai makan malam, kami tetap kembali ke daerah Air Terjun itu lagi dan lagi. Tidak ada bosan - bosannya bagiku untuk memandangi Air Terjun ini. Apalagi pada malam hari seperti ini. Semuanya tampak begitu indah. Belum lagi, para Turis disuguhkan kembang api untuk membuat pemandangan di sini terlihat begitu hidup.



Esok harinya.. (Hari terakhir liburanku)


Hari ini aku akan pergi ke Taman Nasional Yellowstone yang terletak di negara bagian Wyoming, Montana, dan Idaho. Yellowstone National Park ini terkenal akan geyser dan sumber air panasnya. Geyser terkenal di dunia, Old Faithful Geyser, ada di sini. Di sini juga hidup beruang grizzly, serigala, bison dan rusa. Banyak wisatawan mancanegara mengunjungi tempat ini untuk menyaksikan kehidupan margasatwa dan keindahan alamnya.



Aku hanya berani mengambil gambarnya dari kejauhan, karena  memang ada larangan untuk tidak terlalu dekat dengan Geyser nya. Ini akan sangat berbahaya jika kita terkena semburan dari Geyser tersebut. Geyser ini akan meletus setiap kurang / lebih 90 menit sekali.


Dua hari ini aku merasa sangat senang dan perasaan senang ini bisa meringankan sedikit beban pikiranku mengenai hubunganku dengan Ar. Setiap kali hubungan kami membaik, ada - ada saja masalah yang datang mengacaukan semuanya. Tapi, di balik keadaan yang kacau itu pasti ada hikmahnya.


Dengan adanya tantangan dalam sebuah hubungan, itu akan membuat hubungan itu semakin erat. Jika kita menikmati proses dari masalah yang sedang kita hadapi, kita akan bisa menjadi pribadi yang lebih dewasa dan bijak dalam mengambil keputusan. Aku akan berusaha menjadi seseorang yang seperti itu.


** AUTHOR POV**


Selama lebih dari seminggu, Grace berada di USA. Dia membawakan hasil yang memuaskan dalam memimpin rapat penting di sana. Di sisi lain, Arion merasa hampa dan kesepian di tempatnya berada sekarang. Setelah pulang dari Rumah Sakit untuk melakukan pemeriksaan rutin itu, Ar tetap bersikeras unutk pergi bekerja, padahal si Dokter cantik itu sudah mengatakan bahwa dia tidak boleh menggunakan otaknya berpikir lebih keras lagi. Itu akan membahayakan kondisi otaknya.


"Ar, sayang. Kamu jangan memasksakan diri begini. Kata Steve, kamu sebenarnya dilarang Dokternya untuk memaksakan otakmu bekerja terlalu keras. Kenapa kamu malah jadi begini?" Kata Mrs.Melv. pada Anaknya yang sejak pagi tidak berkutik dari depan laptop dan berkas - berkas yang ada di hadapannya.


"....."


Ar tetap diam tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Mommy nya. Nafsu makannya juga berkurang drastis setelah tau kalau makanan yang dia inginkan adalah masakan Grace, perempuan yang sudah dia marahi dan dia usir secara kasar waktu itu. Dia sudah bertanya pada Mommy nya. berulang kali tentang keberadaan Grace. Tapi jawaban yang diterimanya tetap sama. Dia di suruh menanyakannya secara langsung pada Daddy nya yang sampai saat ini mendiamkan dia gegara kejadian itu.


Mrs.Melv. sangat khawatir dengan keadaan Ar. Semakin hari berat badan Ar semakin menurun, terlihat dari tirus pipinya dan badannya yang sudah semakin kurus. Mrs.Melv. sudah berulangkali meminta suaminya untuk memulangkan Grace, tapi Suaminya malah menahan Grace semakin lama di USA. Dia ingin Ar sendiri yang menanyakan keberadaan Grace padanya, sehingga dia bisa memberikan sedikit nasihat pada Anaknya itu.


"Ar, sudah waktunya kita pergi ke Rumah Sakit lagi. Aku sudah mengabari Dokternya agar dia tidak lupa akan jadwal pemeriksaanmu." Kata Steve dengan penuh semangat.


"Kamu saja yang diperiksa. Aku malas." Ucap Ar ketus.


"Jangan gitu, Ar. Kamu yang sakit kok jadi Steve yang diperiksa? Sana. Mom gak mau kamu melewatkan jadwal pemeriksaanmu. Cepat!" Mrs.Melv. menarik tangan Anaknya dan membawanya keluar dari ruangannya.


"Sana, pergilah kalian. Mom tunggu di sini. Oke?" Mrs.Melv. tersenyum melihat Ar yang dengan terpaksa mengikuti kemauannya.


Sesampainya di Rumah Sakit, Ar dan Steve langsung menuju ke ruangan sang Dokter. Dua hari yang lalu, saat pemeriksaan pertama, Steve menyempatkan diri untuk meminta nomor Dokter cantik itu. Stelah tadi mengkonfirmasi tentang jadwal Ar lewat telepon, Dokter itu mengizinkan mereka untuk langsung masuk ke ruangannya.


Selama pemeriksaan dilakukan, Steve selalu memandangi Dokter cantik itu.


'Benar - benar cantik Dokter ini. Tapi aku takut untuk mendekatinya. Bagaimana ini?' Batin Steve mulai bergejolak.


Setelah menyelesaikan pertemuan kedua ini, sang Dokter bertanya dengan ragu pada Ar, "Kamu beneran tidak mengingatku?"


Ar menatap serius pada Dokter itu. Dia kebingungan. Sebenarnya dia memang pernah melihat wajah Dokter aneh yang sedang berada di hadapannya itu. Tapi dia sudah melupakannya.


Steve yang mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Dokter cantik itu pun menganga karena terkejut.


'Ternyata Dokter ini kenalan Arion.' Begitulah kira - kira yang dipikirkan oleh Steve.


"Kamu siapa ya?" Tanya Ar dengan gamblangnya. Jawaban Ar sukses membuat Dokter cantik itu kesal setengah mati. Dia tidak suka kalau Ar melupakannya. Mereka kan satu sekolah sejak kecil dan satu kampus di London, meskipun mereka beda jurusan. Bagaimana bisa Ar melupakannya?


 


Sampai sini dulu ya..


Lanjut di next eps..


>>> Bersambung <<<


**********


Selesai membaca, jangan lupa klik tanda jempol sebagai apresiasi kalian terhadap Author ^.^


Dan beri komentar seputar ceritanya ya,, agar Author tau bagaimana respon pembaca pada cerita ini..


Apakah banyak yang suka? Atau malah banyak yang tidak suka?


'Terima kasih bagi yang sudah setia membaca dan menanti kelanjutan kisah Arion dan Grace.


 Ingat untuk singgah ke karya terbaru Author yang berjudul “NARA” yaa..


Salam Kasih untuk Yang Terkasih


Love You All