
"Lama amet sih? Mereka benar-benar ada di sini atau gimana sih?" tanya Grace dengan garangnya pada Satpam yang sudah mengetuk pintu sebuah gudang selama beberapa menit, tapi tak kunjung dibuka.
"Kamu sabaran sedikit, kenapa sih, Neng?" ucap Satpam itu dengan kesalnya.
Karena merasa ada yang tidak beres dengan tempat itu, Grace pun melakukan sesuatu yang nenurutnya benar. Dia menarik bahu Satpam itu hingga terjatuh dari anak tangga kecil yang berdekatan dengan pintu samping gudang yang ingin mereka masuki.
"Satu.. Dua.. Tiga!" teriak Grace dengan sekencang-kencangnya sambil menendang pintu kayu itu dengan sepenuh tenaganya.
BRUKK!!
Pintu itu pun ambruk seketika. Satpam yang melihatnya pun menganga tidak percaya. Dia menggelengkan kepalanya yang botak itu sambil melihat Grace yang dengan beraninya memasuki gudang itu seorang diri.
"Di mana kalian! Jangan beraninya memperdayaku! Aku tau kalau kalaian sengaja memancingku ke sini!" Teriakan Grace bergema di seluruh ruangan.
Dia terlihat sangat berani dan menantang siapa pun yang ada di sana. Yang paling penting untuk saat ini adalah menyelamatkan Ed!
Dengan langkah kaki jenjangnya, Grace mampu menyusuri semua ruangan dengan cepat. Tidak ada siapa pun di sana.
Setelah berpikir cukup keras, Grace pun mengingat kembali sesuatu hal yang menurutnya sangat janggal dari rangkaian peristiwa yang ia alami.
"Kemungkinan.." ucapnya tanpa sadar.
Grace teringat sesuatu. Sepertinya dirinya sedang dikelabui, sehingga mereka bisa melakukan hal buruk pada yang lainnya. Akhirnya, Grace memutuskan untuk kembali ke kantornya.
"Heh! Mereka sungguh licik! Beraninya memancing amarahku sampai seperti ini. Lihat saja nanti, akan ku beri perhitungan pada mereka!' umpat Grace dalam hati.
Akhirnya, Grace berlari keluar dari komplek perumahan itu dan masuk ke dalam mobil. dia menekan pedal gas dengan kuat dan mengemudikan mobilnya dengan ngebut - ngebutan. Dia langsung menuju Melv. Corp untuk mengetahui apa yang terjadi di sana.
Sesampainya di parkiran, Grace dihampiri oleh beberapa orang. Mereka bersamaan mengatakan bahwa lokasi penyekapan Ed sudah ditemukan.
Grace merasa geram dengan orang - orang yang sudah menipunya tadi. Mereka membuat dirinya kewalahan sendiri. Dia pun meminta bagian keamanan mengirimkan titik lokasi Ed padanya dan dia langsung mengemudikan mobilnya keluar dari parkiran. Setelah mendapatkan titik lokasi Ed, Grace melajukan mobilnya dengan sekencang - kencangnya.
Dia tidak peduli lagi dengan pengemudi lainnya. Meskipun ada beberapa Bodyguardnya yang sudah pergi lebih dulu, Grace tetap bisa mengejar ketertinggalannya.
Mereka yang menyadari keberadaan Grace pun mengikutinya dengan kecepatan maksimal. Para Bodyguard itu tidak menyangka dengan kemampuan Nona Mudanya dalam mengendarai mobil sangatlah berbahaya.
Setibanya mereka di lokasi penyekapan, mereka bertemu dengan anak buah Ricky. Grace masih dapat mengenali wajah mereka, meskipun mereka sudah lama tidak bertemu.
"Hei, kalian kenapa ada di sini?" tanya Grace dengan ekspresi herannya.
Pasukan Grace yang baru saja tiba, memiliki rasa penasaran yang mendalam melihat Nona Muda mereka bercakap-cakap dengan rombongan orang-orang yang belum pernah mereka ketahui.
"Kami mendapat kabar, Ed menghilang. Jadi, kami datang untuk mencarinya, Grace. Kamu jangan salah paham dulu. Kami baru saja tiba di sini, karena kami juga baru mengetahui kabar lokasi Ed yang disekap," jawab seorang dari anak buah Ricky yang terlihat cukup dekat dengan Grace.
Dia tidak ingin Grace mengetahui bahwa Ricky yang memerintahkan mereka untuk selalu mengikuti Ed di mana pun dia berada. Dan Grace tidak boleh sampai tau bahawa mereka sudah berada di lokasi itu sejak pagi tadi.
"Baiklah, Kak. Aku ingin kalian membantuku untuk menerobos masuk ke dalam sana. Aku tidak ingin terjadi apa - apa pada Ed," tutur Grace dengan wajahnya yang khawatir pada keponakannya itu.
"Kami tau kalau kamu khawatir, Grace. Tapi, kita harus bisa menyusun strategi untuk bisa masuk ke dalam dengan aman." Seorang dari rombongan anak buah Ricky pun mulai memberikan masukan.
Sebelum mereka mulai memperbincangkan sesuatu, tiba - tiba saja ada suara teriakan yang sangat keras menyapa kedua rombongan itu.
"Kalian tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi anak bodoh! Kalian semua akan mati! Tanpa terkecuali."
Sapaan yang bermakna itu pun mendapatkan perhatian penuh dari kedua rombongan itu. Grace dengan beraninya menjawab mereka dengan lantangnya.
"KALIAN SEMUA YANG AKAN MATI DI TANGAN KAMI..!!"
Grace berhasil membuat ketua rombongan penjahat itu naik pitam dalam sekejab mata. Akhirnya, mereka pun berkelahi satu dengan lainnya.
Grace dilindungi oleh beberapa orang hingga dia benar - benar masuk ke dalam rumah yang cukup megah jika ingin disebut sebagai tempat penyekapan seorang anak kecil.
Grace berjalan pelan, menyelinap menyusuri sudut - sudut ruangan. Dengan langkah kaki yang sangat pelan, ia bisa menjaga hentakan kakinya agar tidak mengeluarkan bunyi apa pun juga.
Pintu demi pintu dibukanya secara perlahan, tapi dia tetap tidak bisa menemukan di mana Ed berada. Sampai dia selesai menyusuri setiap ruangan yang ada di lantai satu, dia tetap tidak menemukan keberadaan Ed.
Saat dia melihat anak tangga yang bertengger di tengah ruangan, dia ingin sekali berlari mengikuti arah anak tangga yang akan membawanya ke lantai dua. Tapi hal itu diurungkannya, karena terdapat dua orang yang berjaga di antara kaki tangga itu.
Dengan kecerdasan yang dimilikinya, dia memikirkan cara untuk menyingkirkan kedua orang tersebut. Namun, dia harus lebih berhati - hati, karena mereka membawa senapan.
"Bro, gue ke toilet dulu ya? Loe tunggu saja di sini. Sebentar saja," ucap salah seorang penjaga tangga lalu pergi dengan meninggalkan senapannya bersandar di ujung tangga.
Setelah dia pergi, Grace langsung meluncurkan aksinya. Dia melepaskan kedua heels-nya dan melemparkannya dengan sekuat tenaga ke arah seorang penjaga yang tersisa itu.
High heels itu tepat sasaran! heels itu mengenai pipi si penjaga. Begitu penjaga itu merasa kesakitan dan berbalik arah, Grace dengan cekatan berlari sambil melemparkan yang satu laginya.
Saat heels itu mengenai kening sang penjaga hingga dia tertunduk kesakitan, Grace menghantam kepala penjaga itu dengan sikutnya sekuat mungkin. Tak membutuhkan waktu yang lama, sang penjaga pun akhirnya pingsan tanpa mengeluarkan suara apa pun.
Grace mengambil senapannya dan langsung berlari menaiki anak tangga. Di ujung tangga terlihat sebuah pintu dengan motif yang cukup mewah. Saat Grace mencoba untuk membuka pintu tersebut, terdengar suara teriakan dari bawah sana.
"Hei, kau! Berani - beraninya kau masuk ke dalam tanpa izin!"
Suara teriakan itu ternyata berasal dari seorang penjaga lainnya yang tadi sempat izin ke kamar kecil. Grace mengangkat senapannya dan lgsg menembakkan peluru menembus jantung si penjaga yang sudah tiba di ujung tangga.
Karena pintu itu terkunci, Grace pun menembakkan peluru ke arah knop pintu dan pada akhirnya, pintu itu pun terbuka lebar.
Dia meneliti isi dari kamar tersebut dan melihat sosok anak kecil yang sangat disayanginya.
Ed tidak membalas ucapannya, karena dia sedang tidur di ranjangnya. Sebenarnya, Grace merasa kasihan dengan wajah polosnya Ed saat sedang tertidur pulas, tapi harus terganggu oleh kedatangannya.
Grace menarik selimut tipis yang menutupi tubuh Ed dan menarik Ed dalam dekapannya. Dia memposisikan Ed dengan baik di dalam gendongannya.
Ed yang merasakan posisinya yang sudah berubah itu pun membukakan matanya. Senyum sumringahnya membuat Grace merasa damai.
"Aunty! Ed minta maaf, karena telah merepotkan Aunty."
Ed memeluk Grace dengan erat dan begitu pula dengan Grace. Namun, Grace harus keluar dari tempat itu sebelum mereka benar-benar terkurung di sana.
"Ed, sekarang Aunty akan mengeluarkan kita berdua dari sini. Aunty harap, Ed akan diam dan tidak banyak bergerak selama digendongan. Oke?" ucap Grace membuat kesepakatan dengan Ed.
"Baiklah, Aunty. Ed akan diam."
Begitu mendapatkan jawaban yang ia inginkan, Grace pun bergegas keluar dari ruangan itu dan menuruni anak tangga dengan hati - hati.
Bagaimana pun juga, dirinya masih seorang Ibu yang sedang mengandung. Jadi, dia memang harus lebih berhati - hati dalam bergerak.
Ed hanya bisa terdiam di balik punggung Grace sambil menatap kagum kelincahan Aunty-nya.
"Aunty! Be careful!" teriak Ed saat dia melihat seseorang sedang mengarahkan senapannya ke arah mereka berdua.
DORRR!
"Akh!"
Terdengar suara rintihan kesakitan dari Grace. Bahu kirinya terkena peluru senapan itu.
"Aunty!" Spontan Ed berteriak usai memdengar rintihan Grace.
"Ed, jangan takut. Aunty baik - baik saja. Terima kasih karena tadi sudah mengingatkan Aunty. Jikalau tidak, mungkin pelurunya bisa mengenai jantungnya Aunty. Aunty berjanji, kita akan keluar dari tempat busuk ini secepatnya!"
Tatapan Grace seketika berubah menjadi lebih sangar dan mengerikan. Tatapan kuat seperti tatapan seorang pembunuh, aktif di saat ia merasakan getaran tubuh Ed karena rasa takut Ed yang begitu hebat di balik punggungnya.
Amarah Grace meluap! Dengan hitungan detik, dia mengahabisi semua orang yang ada di ruang tengah dengan senapan yang ia miliki.
Setelah dia merasa aman dengan sekelilingnya, dis mencampakkan senapannya dan mengambil senapan lain yang sekiranya masih berisi. Dengan langkah cepat, Grace berlari keluar dari rumah itu dan menyelinap di sela - sela rerumputan dan pepohonan hingga mereka tiba di depan mobilnya.
"Aunty baik-baik saja kan?" tanya Ed setelah mereka berada di dalam mobil.
Grace mengangguk kecil sambil berkata, "Ed, ambilkan kotak obat yang ada di bangku paling belakang. Kita akan pergi dari sini dan akan berhenti di tempat yang aman untuk sementara. Aunty butuh bantuanmu untuk membalut luka Aunty."
Ed pun menyelinap ke bangku belakang dan mencari kotak obat yang dimaksud oleh Grace. Setelahnya, dia duduk dengan tertib di sebelah Grace sembari memegang erat kotak obat tersebut. Grace pun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju ke lokasi yang menurutnya aman dan jauh dari jangkauan para penjahat itu.
ARION POV
'Aku ada di mana? Kenapa aku bisa ada di sini?' Aku membatin melihat ke sekelilingku.
Tidak ada siapa pun di sini. Setelah sadar sepenuhnya, aku hanya mengetahui bahwa aku sedang berada di kamar pasien. Ya! Ini di Rumah Sakit. Tapi, Rumah Sakit mana yang memiliki fasilitas yang begitu lengkap?
Tiba - tiba saja aku melihat tiga Dokter dan beberapa Perawat datang menghampiriku. Mereka memeriksa keadaanku secara bergantian. Dan yang aku lihat, mereka bukanlah orang Indonesia. Asing melihat wajah mereka.
Aku hanya bisa terdiam mendapatkan perlakuan yang cukup spesial menurutku. Mereka sangat berhati - hati salam melepas seluruh alat medis yang menempel di tubuhku. Aku juga mendengar percakapan mereka mengenai kondisiku.
"This is truly amazing! He regained consciousness before the predicted time. Hurry up! You pull everything out. And let him move freely!" perintah Dokter yang satunya.
(Ini sungguh luar biasa! Dia sadar sebelum waktu yang diprediksi. Cepat! Kalian cabut semuanya. Dan biarkan dia bergerak leluasa.)
"Where am I?" tanyaku secara perlahan.
(Aku ada di mana ya?)
"You are being treated at a special hospital and are under special surveillance. Soon someone who has brought here will come visit you." jawab Dokter itu dengan singkat padaku.
(Kamu sedang di rawat di Rumah Sakit khusus dan berada dalam pengawasan khusus. Sebentar lagi seseorang yang sudah membawa ke sini akan datang mengunjungimu.)
Aku tidak ingin bertanya lebih lanjut lagi. Yang aku tau, aku hanya bisa menunggu seseorang yang dimaksud olehnya.
>> Bersambung <<<
IG : friska_1609
Author's note :
Maaf yaa, buat kalian semua pembaca setia TPG..
Author sangat sibuk dengan kegiatan Author di Kantor, sehingga tidak memungkinkan bagi Author untuk melanjutkan TPG dalam jangka waktu yang cukup lama..
Terima kasih buat kalian semua yang masih setia menunggu kelanjutan kisah Grace dan Arion..
Love You All
😘😘😘