THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
TPG2_115



"Sorry Ms. I have gotten to know people wrong. It turns out you are Sir Arion's wife. I apologize, Ms. I am Sir Arion's Secretary. I hope you don't put too much heart into what I said earlier. I really don't know if you are Sir Arion's wife." Ucap Ella sambil membungkukkan setengah badannya pada Grace yang masih duduk di pangkuan Suaminya dan yang dibawanya tadi disembunyikannya rapat - rapat dibelakang pinggangnya.


(Maaf, Bu. Saya telah salah mengenal orang. Ternyata kamu adalah Istrinya Pak Arion. Saya mohon maaf, Bu. Saya Sekretarisnya Pak Arion. Saya harap Ibu tidak terlalu memasukkan ke dalam hati  perkataan saya tadi. Saya beneran tidak tau kalau Ibu adalah Istrinya Pak Arion.)


"Alright. Come back to your desk. I don't want anyone to disturb my break with my wife." Perintah Ar pada Ella dengan juteknya. Dia tidak melihat ke arah Ella, tapi dia terus - menerus menatap sang Istri.


(Ya, sudahlah. Kembalilah ke meja kerjamu. Saya tidak ingin ada yang mengganggu jam istirahat saya bersama dengan Istri saya.)


"Yes, Sir." Jawab Ella singkat sambil berbalik dan membawa kembali bekal yang yang tadinya ia bwa untuk Atasannya itu. Dia benar - benar merasa dibodohi oleh Atasannya itu.


"I thought he was still single, apparently he was married. Really damn it!" Umpat Ella setibanya dia di meja kerjanya.


(Saya pikir dia masih lajang, ternyata dia sudah menikah. Sialan!)


"I gave you a warning beforehand, Ella. I have heard that Sir Arion is married to the woman he loves in Jakarta. You're the one who is yapping. Difficult to accept other people's advice." Ucap seorang rekan kerjanya yang duduk di sebelah Ella.


(Aku sudah memberimu peringatan sebelumnya, Ella. Aku pernah dengar bahwa Pak Arion sudah menikah dengan perempuan yang dicintainya di Jakarta. Kamu nya yang ngeyel. Susah menerima nasihat orang lain.)


"Whatever! What are you saying, I don't care anymore." Ucap Ella pada rekan kerjanya dengan ketus. Dia sedang tidak ingin diganggu sekarang. Kesialan telah menimpanya hari ini.


(Terserah! Kamu bilang apa, aku tidak peduli lagi.)


GRACE POV


"Sayang, kamu bawa bekal apa nih? Ayo, kita makan di sana." Ucapnya padaku dengan lembut sambil menarik tanganku dan mengambil alih bekal yang kubawakan untuknya.


"Lihat saja sendiri." Jawabku cuek padanya. Aku sedang kesal, dia tidak mengatakan apa pun mengenai bekal yang idbawa oleh Ella, Sekretaris mudanya itu. Aku yakin kalau perempuan tadi masih berusia di bawah 25 tahun.


"Kamu kenapa, sayang? Apa karena masalah tadi lagi? Dia kan sudah minta maaf dan pegawai di sini memang belum ada yang mengenalmu, sayang." Ucapnya sambil mendekap tubuhku saat kami sudah terduduk di sebuah sofa.


"Kalau saja tadi aku tidak masuk tepat waktu, mungkin saja kamu sudah makan berduaan dengan Sekretaris muda mu itu kan, sayang?" Tanyaku blak - blakan padanya. Aku tidak suka  melihat orang lain menggoda Suamiku. Arion itu Suamiku!


"Kamu salah besar, sayang. Aku tidak akan pernah makan berduaan dengan orang lain selain kamu dan Mommy. Sejak dulu sampai sekarang." Jawabnya dengan santai. Apa dia tidak menyadari kalau aku sedang kesal padanya?


"Jadi, kenapa kamu tidak menolak bekal yang diberikannya tadi padamu, sayang?" Tanyaku dengan nada sedikit meledeknya.


"Kamu begitu sensitif saat ini, sayang. Tadi itu, bukannya aku tidak menolaknya. Saat aku mau mengatakan sesuatu, Istriku malah datang tiba - tiba dengan kata - kata pedasnya. Aku jadi tidak berani mengangkat suara. Kan kamu sudah membuat dia mati kutu, sayang. Padahal aku sangat senang dengan kedatanganmu yang juga sangat membantuku menyingkirkan orang - orang seperti Ella." Jawabnya sambil menciumi puncak kepalaku beberapa kali.


"Aku tidak suka dengan orang yang kecentilan seperti dia." Ucapku kesal padanya.


"Makasih sayang." Jawabnya sambil melepaskan pelukannya.


Aku menatapnya heran dan bertanya, "Kenapa malah bilang makasih?"


"Karena kamu sudah cemburu padanya. Aku sangat bahagia, sayang. Ternyata kamu bisa cemburuan seperti itu. Sungguh menggemaskan." Ar malah menarik daguku dan menciumku lebih lama dari biasanya.


Aku merasa malu. Kecemburuanku ternyata sangat terlihat dengan jelas olehnya. Aku saja tidak mengerti kenapa aku bisa jadi orang yang pencemburu seperti ini.


"Ayo! Kita makan sekarang. Kalau ditunda terus, aku bisa memakanmu, sayang. Kamu tau kan, kalau suamimu ini berenerjik sekali saat melakukan itu?" Ucapnya sambil tersenyum sok imut seperti itu.


"Iya, iya, iya. Nih, dimakan. Sayurnya cuma brokoli ini saja yang bisa aku masakkan. Karena Kak Elvina belum ada belanja, makanya aku hanya memasakkan lauk yang sederhana untuk bekalmu siang ini. Makan yang banyak ya, sayang." Ucapku sambil menyerahkan sendok padanya.


Aku melihatnya melahap nasi dan lauk yang aku bawakan. "Lho? Kenapa sayang?"


Dia membuatku kaget, karena langsung pergi ke wastafel yang ada di ruang istirahat tersembunyi di ruangan ini. Aku mengikutinya dan membantunya dengan membawakan air hangat untuknya. Dia memuntahkan semua makanan yang bercampur dengan brokoli.


Setelah dia lebih tenang, dia meminum air hangat yang kubawakan.


"Ada apa sebenarnya, sayang? Kamu sakit ya?" Aku bertanya dengan dipenuhi rasa khawatirku padanya.


"Tidak, sayang. Jangan khawatir. Aku tidak sakit kok. Ini hanya pengaruh bawang putih yang kamu campur dengan brokoli itu, sayang. Ini sudah tidak masalah lagi kan? Yuk, kita duduk lagi. Aku juga sudah kenyang sebenarnya. Maaf ya, sayang. Aku tidak bisa melanjutkan acara makannya." Ucapnya dengan wajah yang sedikit murung.


"Iya, sayang. Tidak masalah. Kalau kamu merasa tidak enak badan, beristirahatlah sejenak." Aku mengusap pundaknya beberapa kali.


"Tapi, pekerjaanku masih tanggung, sayang. Aku harus mengirimkan file nya pada Daddy sore ini. Agar kami bisa membahasnya nanti malam. Masalah ini harus segera dituntaskan, supaya aku bisa mengambil keputusan secepatnya." Lirihnya padaku.


Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku melihat ekspresinya yang tidak berdaya itu. Aku tau kalau dia tidak bisa menolak permintaanku, namun dia juga tidak bisa mengabaikan pekerjaannya.


"Begini saja. Aku akan membantumu mengerjakan laporanmu itu. Beristirahatlah selama sejam penuh, nanti akan aku banguni. Kamu terlihat sangat pucat, sayang. Jadi, sekarang berbaringlah di sana. Percayalah padaku, sayang. Aku tidak akan merusak pekerjaanmu." Tegasku padanya.


Lihatlah! Wajahnya begitu pucat, tapi dia tetap enggan untuk beristirahat. Aku bisa membantunya semampuku. Toh juga, aku sudah banyak belajar dari Daddy selama ini.


"Baiklah, sayang. Aku akan percaya padamu. Kalau kamu tidak sanggup, jangan dipaksakan ya, sayang. Cup!" Ucapnya sambil mengecup keningku.


"Oh ya, kamu duduk saja di sana, jangan sungkan. Apa yang aku muliki saat ini, semuanya sudah menjadi milikmu. Anggap saja seperti rumah sendiri ya, sayang." Ucapnya sambil mengusap kepalaku dengan lembut.


Dia pun beranjak dan berjalan lamban ke arah ruangan tersembunyi itu. Ayah dan Anak sama - sama mempunyai ruangan seperti itu di dalam Kantornya. Memang benar adanya, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.


Aku berjalan menuju kursi kebesarannya. Sejujurnya, ini yang pertama buatku. Merasakan duduk di bangku ini seperti seorang penguasa. Haha.. Kamu terlalu dramatis, Grace.


Ohh,, ternyata dia sedang menganalisis pekerjaan pegawainya. Dia sedang membuat kerangka laporannya sendiri dari berbagai informasi yang sudah dikumpulkannya. Setelah melihat beberapa berkas, sepertinya aku mengerti apa yang akan aku lakukan dengan file ini.


Tokk.. Tokk.. Tokk..


"Masuk!" Jawabku pada seseorang yang mengetuk pintu ruangan ini. Aku sempat lupa, kalau aku sedang berada di London.


"Eh, Where's Sir Arion, Ms.?" Tanyanya padaku dengan ekspresi terkejutnya. Dia terkejut melihatku duduk menggantikan Atasannya.


(Eh, Pak Arionnya mana, Bu?)


(Pak Arionnya sedang beristirahat, Ella. Apa yang kamu bawa? Bawa kemari, aku akan menyampaikan pesanmu nanti saat dia sudah baikan.)


"But, this is an important file requested by Sir Arion to be examined personally, Ms. I'll deliver it later." Ucapnya sambil memeluk erat berkas itu.


(Tapi, ini berkas penting yang diminta Pak Arion untuk diperiksa secara pribadi, Bu. Saya akan mengantarkannya nanti saja.)


Siakpnya berhasil membuatku dartingan alias darah tinggian. Apa sekarang dia ingin menantangku dengan melakukan hal seperti itu? Tapi, ya sudahlah. Aku malas berdebat dengannya.


"If that's the case, come out. What are you doing standing there for so long?" Ucapku ketus padanya. Bukannya keluar, dia malah dengan beraninya melirik ke arah ruangan yang pintunya tertutup. Tempat dimana Ar beristirahat.


(Kalau memang begitu adanya, keluarlah. Ngapain lagi kamu berdiri lama - lama di sana?)


"Ms. does Sir Arion need anything? Why didn't he just go to the hospital, Ms?" Tanya nya padaku.


(Bu, apakah Pak Arion membutuhkan sesuatu? Kenapa dia tidak dibawa ke Rumah Sakit saja, Bu?)


Dia mau menunjukkan perhatiannya pada suamiku, gitu? Apa coba maksud anak muda itu? Arion memang super duper diminati dimana pun dia berada. Sepertinya aku memang harus ekstra bersabar untuk menghadapi orang - orang seperti Ella ke depannya.


"I know better than you about my husband. You just need to work properly. Don't interfere too much with my husband's personal affairs."


(Aku tau lebih baik daripadamu tentang suamiku. Kamu hanya perlu bekerja dengan benar. Jangan terlalu ikut campur dengan urusan pribadi suamiku.)


"I'm sorry Ms. I'm back at work." Ucapnya sambil menunduk dan keluar dari ruangan ini.


(Maafkan saya, Bu. Saya kembali bekerja.)


Sungguh mengesalkan sekali Anak itu. Aku pun melanjutkan pekerjaanku. Tidak ada waktu bagiku untuk memikirkan tingkah Anak itu. Yang terpenting sekarang, aku akan menyelesaikan semuanya dalam waktu kurang dari sejam mulai sekarang.


**********


"Sayang, bangun. Kamu sudah tidur selama sejam penuh lho. Laporanmu juga sudah kuselesaikan menggunakan versiku. Ini diminum dulu air hangatnya." Aku masuk ke dalam ruangan tempat Suamiku beristirahat dan membawakannya air hangat.


Akhirnya, dia bangkit dan meminum air hangat itu. Dia juga mencuci muka nya. Sekarang wajahnya lebih segar daipada sebelumnya.


"Aku pulang duluan ya, sayang. Aku sudah janji dengan Ed dan Kak El untuk pergi ke Mall bersama - sama." Ucapku padanya. Dia menahan tanganku dan memelukku.


"Kamu pakai kartu ini ya, sayang. Beli semua keperluan dan keinginanmu. Termasuk apa pun untuk Kakak itu dan Edzard. Aku akan memantaunya, harus ada pengeluaran dari kartu itu selama perjalanan kalian di Mall. Kalau tidak, aku akan memghukummu malam ini, sayang." Ancamnya padaku sambil.menyematkan kartu kreditnya yang pernah diberikannya padaku. Aneh banget punya Suami seperti dia. Maksa Istrinya untuk memghabiskan uangnya.


"Orang yang namanya Arion Gavin Melviano itu memang rada gak waras ya, sayang? Biasanya, kalau Istrinya tidak ada pengeluaran, si Suami pasti senang. Kalau dia? Suami yang memaksa Istrinya untuk menghamburkan uangnya untuk memperbesar pengeluarannya. Acemnya?" Ucapku sambil terkekeh karena sudah puas meledeknya. Bukannya tersinggung, dia malah tertawa lepas mendengar ucapanku.


"Suamimu memang berbeda, sayang. Aku harus melihat hasil karya Istriku dulu. Anggap saja pengeluaran dari kartu itu sebagai imbalan atas kerja kerasmu karena sudah membantu Suamimu ini, sayang." Ucapnya sembari memberikan senyuman terbaiknya padaku.


"Baiklah, asal kamu tidak mengomel padaku saat kamu mengalami kebangkrutan karena biaya belanjaanku ya, sayang." Ledekku padanya.


Langsung saja aku mengambil rantang bekal yang tadi aku bawa. Lalu keluar dari ruangannya. Dia sudah memfokuskan dirinya memeriksa file yang sudah aku kerjakan.


"Aku tidak akan bangkrut secepat itu, sayang. Apalagi aku hanya membiayai kamu saja." Arion menyempatkan diri mengatakan hal itu sebelum aku benar - benar menghilang dari balik pintu kantornya.


"I leave first." Ucapku sambil lalu pada kedua Sekretaris Arion.


(Saya pamit pulang dulu.)


Mata Ella terlihat tidak senang melihatku yang keluar dari ruang kerja Suamiku sendiri, meskipun dia membungkukkan badannya ke arahku. Aku tidak peduli dengan tatapannya. Dia sempat membuatku naik pitam tadi. Tapi syukurlah, aku ini orangnya panjang sabar.


Aku pun pulang dengan hati riang gembira. Sore ini kami (Aku, Kak El dan Ed) akan berjalan - jalan di Mall. Dan malamnya, kami akan makan di Restoran bersama Bang Ricky dan Arion.


Sesampainya di Rumah, aku melihat Kak El dan Ed sudah menungguku di depan pintu Rumah.


"Kalian sudah menunggu lama, Kak? Maaf, Kak. Tadi aku lupa ngabarin Kakak kalau aku agak lama di sana." Ucapku sambil menundukkan kepalaku.


"Tidak kok. Kami barusan saja keluar. Kamu sudah pulang. Kakak pun tau, gimana rasanya pengantin baru. Terus - menerus ingin bersama." Kak El meledekku. Aku hanya bisa menjawabnya dengan sebuah kekehan renyah.


Kami pun berangkat ke Mall dengan pengamanan ketat dari Arion dan Bang Ricky. Arion memberikan 3 bodyguard nya dan Bang Ricky memberikan 4 bodyguard nya.


Terlihat berlebihan sekali bukan? Tapi, begitulah hari - hari yang kami lalui. Harus dengan penjagaan yang ketat. Karena mereka, para Suami, bisa memprediksikan keselamatan kami dari penjagaan para bodyguard itu.


"Kak, pokoknya, belanjaan hari ini biar aku yang bayar pakai kartu yang dikasih Suamiku ya.. Aku sampai diancam dia untuk menggunakan kartu anehnya ini. Aku gak mau nanti malam mendengar ocehannya kalau aku tidak menuruti permintaannya kali ini." Ujarku pada Kak El yang masih bingung mencerna ucapanku.


"Hanya untuk menggunakan sebuah kartu kredit saja, kamu harus sampai diancam dulu? Hahahaha.. Kamu memang aneh, Grace." Tawa Kak El terlalu merusak mataku.


"Sudahlah, Kak. Jangan meledekku terus. Kita kan harus berangkat. Jangan sampai kita kecolongan antrian. Aku mau menonton bioskop sama Ed. Iya kan Ed?" Ucapku pada Kak El dan bertanya pada Ed.


"Iya, Mommy. Ed dan Aunty mau nonton bioskop nanti. Ayo! Kita berangkat." Ajak Ed sambil menarik tangan kami berdua. Kami pun berangkat dan bersenang - senang.


>>> Bersambung <<<


Sampai sini dulu ya..


Kita akan lanjut di next chap, Ingat untuk selalu kirim jempol nya yaa, Kakak2..


Salam Kasih untuk Yg Terkasih


 Love You All 


💞 💞 💞 💞 💞