THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
89



"Apa maksudmu mengirimkan foto - foto ini padaku? Apa arti dari semua ini?" Tanyaku dengan penuh emosi yang tertahan padanya yang telah membuatku kacau dengan isi dari amplop itu.


"Aku tidak bermaksud apa - apa. Aku hanya ingin membuatmu sadar kalau Arion ith sebenarnya orang yang tidak pantas untukmu. Aku hanya ingin membuka matamu. Kamu harus percaya padaku, Grace. Aku tidak pernah mau melukaimu, apalagi melakukan apa yang dilakukan oleh Arion padamu." Ucapan Agung membuatku bimbang dan ragu.


"Aku tidak percaya padamu! Kamu tidak pernah berubah!" Teriakku padanya. Aku tidak bisa percaya padanya begitu saja. Dia adalah lelaki mesum yang pastinya akan menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Itu bukti dari kepercayaanmu padanya dan bukti dari ketidakpercayaanmu padaku, Grace."


Agung melemparkan beberapa fot terbaru lagi. Foto yang aku terima adalah foto Ar denga perempuan cantik di sebuah Restoran dan di dalam ruangan VIP. Perempuan itu duduk di pangkuan Ar. Ada juga foto dimana perempuan itu mendekatkan wajahnya pada Ar, sangat dekat. Ada juga foto perempuan itu yang merangkul Ar saat sedang keluar dari mobil yang tidak dikenalnya ataupun masuk ke dalamnya.


Tapi, berbeda dengan foto yang dibawa oleh Agung. Foto itu hanya ada 2 lembar. Foto Ar dan perempuan itu di taman belakang perusahaan. Berarti foto ini adalah foto yang terbaru. Foto dimana wajah Ar yang dibelai oleh perempuan itu dan Ar yang merangkul pinggang perempuan itu.


"Aku menyuruh seseorang untuk mengikuti Arion dan mencaritahu kebusukannya di luar sana. Semua ini kulakukan hanya untukmu, Grace. Aku ingin kamu tidak salah memilih lelaki itu sebagai pendamping hidupmu." Ucapnya dengan wajah sendunya.


Aku bimbang. Tapi aku juga tidak tega melihat wajah sendunya itu. Memang benar, dia itu mesum. Tapi, lihatlah ekspresinya saat ini. Aku merasakan kesungguhannya.


AUTHOR POV


Pagi ini, Ar begitu bahagia melihat Grace yang mau menuruti perkataannya. Tapi dengam terpaksa, Ar harus menuruti persyaratan dari perempuan itu. Karena dia juga tidak mau Grace memiliki masalah dengan pegawai kantor yang hnaya mengenalnya sebagai Sekretaris Pribadinya.


Selama 2 jam penuh, dia hanya sibuk dengan segala berkas yang ia tandatangani dan meeriksa segala file yang telah dikirimkan padanya dari berbagai divisi. Dia juga mendapat kabar dari Steve mengenai jadwal kunjungan ke salah satu perusahaan Client yang berinvestasi cukup besar dan memiliki hubungan yang cukup baik dengan Melv.Corp. Tapi, kali ini ia harus pergi sendirian, karena Steve akan memimpin rapat menggantikan Ar.


"Ar, jangan lupa dengan jadwalmu siang ini. Lebih baik lagi, kalau kamu mau mengajaknya untuk makan siang bersama. Karena itu termasuk pendekatan yang bagus dalam menjaga terjalinnya suatu hubungan. Jangan sampai kamu telat, dia sudah menunggumu." Ucap Steve dalam sambungan intercom yang ada di sebelah Ar.


"Ya, ya, ya. Aku kaan ke sana. Tapi aku tidak akan mengajaknya makan siang, karena aku sudah memiliki acaraku sendiri." Jawab Ar dengan senyum renyahnya.


"Baiklah, semuanya dalam kendalimu, Ar. Silahkan berangkat sekarang, sebelum aku yang mengahmpirimu." Tegas Steve pada Ar yang mengakhiri panggilan dari Steve.


Tepat pukul 11 siang, Ar keluar dari ruangannya. Dia sudah berjanji akan berkunjung sejenak ke tempat Client tersebut. Sebelum dia benar - benar pergi, dia menoleh dan memperhatikan Grace yang sedang sibuk sendiri di meja kerjanya. Ar ingin sekali menghampirinya dan memberikan ucapan sampai jumpa padanya. Tapi semua niat itu dia urungkan, karena dia ingat bahwa Grace tidak ingin karyawan lainnya mengetahui kedekatan mereka.


Perjalanan ke sana hanya memakan waktu 10 menit dan semua perkerjaannya selesai dalam waktu 15 menit saja. Dia tidak mau berlama - lama ada di sana hingga dia memutuskan untuk berpamitan dengan untuk dapat segera kembali ke Kantor.


Saat perjalanan pulang, Ar teringat sesuatu. Dia ingin membelikan makanan manis untuk Grace. Dia pun menyuruh supirnya untuk berhenti di sebuah Toko Brownies yang cukup terkenal.


"Pasti Grace akan menyukainya." Ucap Ar dengan senyum sumringahnya setelah selesai membeli Brownies spesial untuk Grace. Dia terlalu bahagia sampai tidak melihat ada sepeda motor yang hampir menabraknya.


"AWAS..!!" Teriak seorang perempuan yang dengan cepat meraih pergelangan tangan Ar untuk menghindar dari sepeda motor itu.


Sepeda motor itu tidak jadi menabrak Ar, tapi dia malah menghalangi jalan hingga terjatuh sendiri di tengah jalan raya. Tiba - tiba ada suara benturan yang sangat kuat. Ya! Itu adalah suara mobil yang menabrak mobil lain dan hal ini terjadi begitu saja dalam waktu yang singkat.


Semua kejadian itu terekam di kepala Ar hingga kepalanya berdenyut dengan kuat. Mobil itu sangat kencang dari arah melakang sepeda motor yang jatuh itu. Untuk menghindari kecelakaan dengan sepeda motor itu, si penyetir malah membanting keras stir mobilnya tanpa menyadari ada mobil dari arah berlawanan yang menghampirinya dengan kecepatan penuh. Itulah awal dari kecelakaan yang terjadi tepat di depan Toko Brownies itu.


"AARRGGGHHHH..!!" Teriak Ar begitu keras. Kini dia terjatuh berlutut di trotoar itu. Dia memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Perempuan yang menolongnya tadi malah mengambil kesempatan untuk mengelus pundak Ar dan berusaha menenangkan Ar, tapi tetap tidak berhasil.


Ar melihat bayang - bayang kejadian kecelakaan yang menimpanya waktu itu. Dia merasakan semuanya begitu nyata. Dia benar - benar berada di dalam sebuah mobil dan melihat mobil lainnya yang melaju kencang ke arahnya. Seketika mobilnya terpental begitu saja. Dia merasakan rasa sakit setelah kepalanya terbentur keras dengan stir mobil.


Dia juga melihat Grace yang muncul entah darimana membuka pintu mobilnya dan menariknya keluar dari mobil itu. Grace menangis melihat kondisinya. Bagaimana ekspresi khawatir Grace yang terlihat itu membuatnya merasakan perasaan sakit yang lebih mengerikan dibandingkan rasa sakit yang menyerang tubuhnya.


Tidak berapa lama, dia merasakan dirinya berpindah tempat. Sekarang dia berada di sebuah taman yang sunyi. Hanya Grace di sana. Grace menyuruhnya mendekat dan beristirahat. Padahal mereka masih belum saling kenal. Tapi dia sudah di bantu oleh Grace tepat di saat dia memang sudah tidak tau bagaimana cara menghindar dari orang - orang yang mengejarnya.


Kepala Ar yang berdenyut mulai stabil. Dia mulai bisa mengatur nafasnya dengan tenang. Dia melihat sekelilingnya dan melihat banyak orang mengerumuni Tempat Kejadian Perkara (TKP) kecelakaan yang baru saja terjadi.


"Kamu tidak apa - apa lagi?" Ucap perempuan yang barusan menolong Ar.


"Ya, tidak apa - apa lagi. Jangan sentuh aku!" Bentak Ar pada perempuan itu.


Tapi perempuan itu malah tidak takut dengan sikap kasar Ar padanya. Dia semakin mendekat dan berkata, "Aku sudah menolongmu, apa kamu orang yang tidak tau balas budi?"


Arion tersentak mendengar perkataan perempuan itu dan mulai merasa bersalah. Perempuan itu sudah menolongnya, setidaknya dia harus menraktir perempuan itu makan siang untuk membalas budi baiknya.


"Baiklah, aku akan traktir kamu makan, Kamu yang pilih tempatnya dan kita akan makan siang di sana. Hanya sekadar makan siang, tidak lebih!" Ucap Ar dengan ketus.


"Biaklah, Ar. Kita ke Restoran Seafood yang ada di seberang Mall KL ya?" Pinta perempuan itu tanpa basa - basi langsung menggandeng tangan Ar ke mobilnya.


Dengan kasar, Ar menghentakkan tangan yang melingkar di lengannya sambil mengatakan bahwa dia menolak untuk naik ke mobil perempuan itu.


"Apa maksudmu? Kamu bisa berangkat sendiri dan aku akan berangkat bersama supirku." Ucap Ar tegas dan tidak bisa dibantah lagi.


"Baiklah, terserah kamunya." Jawab perempuan itu dnegan singkat sambil masuk ke dalam mobilnya.


Mereka pun berangkat dengan mobil masing - masing. Meskipun kecewa, perempuan itu tetap berusaha untuk berakting dengan baik agar mendapatkan momen yang pas untuk di foto.


Sesampainya di Restoran, Perempuan itu menarik tangan Ar yang seketika itu juga melepas genggamannya. Perempuan itu memilih ruang VIP, Karena dia memiliki rencana terselubung di ruangan yang sepi itu.


Ar dan perempuan itu pun selesai memesan menu yang akan disantap, Perempuan itu dengan sengaja mendekat pada Ar dan langsung duduk di pangkuannya. Perempuan itu sungguh nekat.


Ar yang kagetnya buikan main, langsung menghempaskan tubuh perempuan itu hingga tersungkur. Dia benci di sentuh apalagi ada yang menempel padanya seperti itu.


"KAMU APA - APAAN? AKU TIDAK SUKA ADA PEREMPUAN SEPERTIMU..!! AKU SUDAH MUAK..!! TIDAK PERLU BAGIKU UNTUK MENTRAKTIR MU HARI NI." Bentak Ar pada perempuan itu.


Perempuan itu didorong lagi oleh Ar. Dia tidak suka dengan tingkah perempuan itu. Ar pun memutuskan untuk kembali ke Kantor dan meninggalkan perempuan itu sendirian di ruangan itu.


"Semua tagihan pesanannya akan aku bayar. Silahkan kamu menikmati pesananmu. aku akan pergi lebih dulu. Aku tidak suka berada di sini dan aku masih banyak pekerjaan." Ucap Ar dengan tampang dinginnya.


Perempuan itu hanya bisa diam di tempat menatap ke arah lelaki yang menjadi incarannya. Meskipun dia merasa sudah direndahkan, tapi dia tidak akan bisa menghentikan misinya ini sampai tuntas.


Saat Ar berjalan menuju parkiran . Dia terkejut dengan kehadiran tamu tak di undang. Perempuan itu tetap saja berani untuk memeluk lenga Ar yang tak kalah kuat dengan pelukan tadi.


Dia menarik Ar menuju ke mobilnya. Ar melepaskan tangan perempuan itu dengan paksa dan langung masuk ke dalam mobilnya yang segera melaju ke Melv.Corp.


'Perempuan itu membuatku jijik. Sungguh berani dia menempelkan bagian tubuhnya yang mengerikan itu padaku.' Umpat Ar dengan perasaan yang berkecamuk dalam hatinya.


Sesampainya di parkiran, Ar turun dengan tergesa - gesa dengan maksud ingin menemui Grace dan mengajaknya untuk makan siang bersama. Dia sudah mengingat semuanya. Kecelakaan yang dilihatnya tadi membuatnya menjadi ingat akan semua hal yang telah dilupakannya selama beberapa minggu ini.


"Hei, kenapa kamu malah meninggalkanku seperti tadi? Urusan kita kan masih belum selesai."


Tiba - tiba saja ada seseorang yang sudah di kenal suaranya oleh Ar menepuk bahunya. Ar kaget melihat keberadaan perempuan itu. Dia langsung menarik perempuan itu ke taman belakang perusahaan agar tidak ada yang melihat mereka berdua saat ini.


"Kenapa kamu mengikutiku? Aku sudah bilang kalau aku hanya akan membayar tagihan makan siangmu saja, tidak ada hal lain lagi yang perlu diurus di antara kita berdua!" Tegas Ar pada perempuan itu.


Perempuan yang berjarak 10 meter di hadapan Ar mulai mendekat secara perlahan. Setengah perjalanan, perempuan itu tersandung dan hampir terjatuh. Ar yang melihat itu, dengan sigap menangkap pinggang perempuan itu.


Tidak ada maksud apa pun, Ar hanya menganggap dia masih harus berbuat baik pada perempuan yang sudah menolongnya tadi. Spontan Ar langsung melepaskan pegangannya itu dan membiarkan perempuan itu berdiri dengan tegap kembali.


Tapi, perempuan itu malah semakin mendekat padanya dan berkata dengan Percaya Diri (PD) nya sambil membelai pipi Ar, "Aku tau, kalau kamu sudah terpikat olehku. Aku akan menerimamu sebagai kekasihmu jika kamu tidak sabaran lagi."


Bulu kuduk Ar serasa berdiri karena merinding mendengarkan perkataan perempuan yang tak dikenalnya itu.


"Aku tidak butuh siapa pun lagi, apalagi seorang Kekasih! Karena aku sudah memiliki calon Istri yang lebih sempurna dibandingkan dengan perempuan sepertimu!" Ar meneriaki perempuan itu sampai perempuan itu tersentak kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Ar.


Perempuan itu meras telah dipermalukan oleh temannya sendir. Kalau bukan karena dia butuh dana untuk biaya kehidupan dia dan orangtuanya, dia tidak akan mau membantu temannya yang gila itu.


"KATAKAN PADAKU..!! KAMU SEBENARNYA SIAPA? DENGAN SEKALI PANDANG SAJA, AKU SUDAH TAU KALAU KAMU ADALAH SURUHAN SESEORANG. KATAKAN PADAKU, SIAPA YANG MENYURUHMU..!!" Ar mulai emosi dan membentak perempuan itu dengan kasar.


"Aku.. A..ku.." Tubuh perempuan itu mulai bergetar hebat karena dia mulai ketakutan melihat sosok dingin dan menyeramkan dari seorang Arion.


"CEPAT KATAKAN..!!" Lagi - lagi Ar membentaknya dengan wajah yang lebih sangar lagi.


"....."


Perempuan itu tidak tau lagi harus berkata apa. Dia tidak bisa menjerumuskan temannya sendiri. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa orang itu adalah Agung.


"Sudahlah! Pergi dari sini..! Aku tidak mau melihatmu lagi. Aku sudah tau semuanya dari ekspresimu saat ini. Kamu tertekan karena suatu hal yang dilakukan olehnya. Tanpa kamu sebut, aku juga sudah mengetahuinya. Dalang dari ini semua adala AGUNG. Kamu tidak perlu menjawab pertanyaanku lagi. PERGI DARI SINI SECEPATNYA DAN JANGAN PERNAH KEMBALI LAGI..!!"


Ar mengusir perempuan itu dengan tatapan yang mengerikan. Perempuan itu hanya pasrah diperlakukan seperti itu oleh Ar, karena dia juga menyadari bahwa dirinya sedang dalam ambang keterpurukan. Ar sudah mengetahui semuanya. Ar sudah tau kalau yang menyuruh dia adalah Agung.


Perempuan itu semakin cemas. Dia tidak tau harus bagaimana menyampaikan pada Agung mengenai Ar yang sudah membuka kedoknya secara terang - terangan di taman tadi. Dia sangat membutuhkan bayaran yang diimingi oleh Agung waktu itu. Dia takut kalau dia malah tidak mendapatkan bayaran sepeserpun, karena Ar sudah mengetahuinya.


 


 


 


 


>>> Bersambung <<<


 


 


Sampai sini dulu ya..


Kita akan lanjut di eps selanjutnya..


Jangan lupa berikan supportnya untuk Author..


Thor tidak minta yang aneh - aneh lagi dehh, hanya like dari jempolnya..


Kalau komen, itu semua terserah readers saja..


Salam Kasih untuk Yg Terkasih


Love You All