THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
66



"Sayang, bangun. Kita berangkat sekarang, yuk?" Ar membangunkan Grace dengan lembut. Dia sudah selesai mandi dan berpakaian.


"Kenapa harus sepagi ini, Ar? Aku kan masih ngantuk. Ini masih jam 5 pagi," jawab Grace sambil membenamkan wajahnya di balik bantal.


"Sayang, kamu jangan malas gitulah. Kan aku mau kasih kejutan. Kamu harus semangatlah. Ayo!" Arion mengangkat tubuh Grace yang masih terbalut selimut tebal  dan membawanya ke dalam kamar mandi.


"Ar..!! Kamu itu ya..?!!  Menyebalkan..!!" Teriak Grace yang kagetnya bukan main karena dirinya dibawa masuk ke dalam kamar mandi.


Arion menurunkan tubuh Grace dengan perlahan dan berkata, "Mau aku yang mandikan atau mandi sendiri, sayang? Aku sih, gak masalah kalau aku harus basah - basahan lagi."


Senyuman Arion membuat bulu kuduk Grace berdiri tegang. Dia langsung mengusir Ar dari dalam kamar mandi, "Aku bisa sendiri. Keluarlah! Aku gak akan  lama."


Ar hanya bisa menurut pada Grace yang sudah terlihat  kesal. Dia tertawa bahagia karena sudah melihat sisi imut dari Grace. Ar pun menunggu Grace di balkon kamarnya.


Setelah Grace selesai dengan ritual mandinya, dia pun keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalut handuk. Arion yang mengira Grace sudah selesai, menoleh ke arah belakangnya.


Ar sangat terkejut melihat pemandangan seperti itu. Dengan cepat, dia membalikkan badan dan mengalihkan pandangannya keluar balkon kamar.


'Kenapa aku bisa melihat dia yang seperti itu?! Aduuh, bagaimana ini?! Tahan, Ar. Tahan. Jangan berpikiran mesum lagi. Gak boleh, itu dosa!' Ar mengumpat keras di dalam pikiran dan hatinya.


Saat ini, jantungnya sudah berdebar kencang tidak beraturan. Junior miliknya juga sudah mulai terbangun. Kacau sudah pikiran Ar, dia jelas - jelas melihat kemolekan tubuh Grace yang hanya tertutup sedikit oleh handuk yang dikenakannya.


Grace masih tidak menyadari keberadaan Ar yang ada di balkon kamar. Dia mengira Ar sudah keluar dari kamar. Jadi, dia mengenakan pakaiannya di balik lemari pakaian di dalam ruang ganti dengan leluasa.


Setelah selesai mengenakan kaos putih dengan celana jeans berwarna biru, dia pun keluar dari ruang ganti yang tadinya tidak terkunci. Saat dia mendapati keberadaan Arion d balkon kamar.


'Mampus aku! Ternyata dia masih ada di sini?! Apa dia melihat semuanya?! Akh, tidak mungkin. Dia kan di sana daritadi. Aku saja sampai tidak menyadarinya. Semoga saja dia memang tidak melihat apapun." Grace membatin sambil menundukkan kepalanya dan menokok pelan kepalanya.


Ar yang menyadari kehadiran Grace, langsung menoleh melihat tingkah aneh calon Istrinya itu. Dia mendekati Grace dan memegang pergelangan tangan Grace.


"Jangan pernah menyakiti dirimu sendiri, sayang. Aku saja tidak tega menyakitimu, kenapa kamu malah menyakiti dirimu sendiri?" Ar menunjukkan wajah kesalnya pada Grace. Dia memang tidak suka melihat Grace melukai dirinya sendiri.


"Ehh,, aku bukan maksud kayak gitu, Ar. Tapi..." Grace tidak berani menatap Ar. Dia malu karena pikirannya masih mempertanyakan hal yang tadi dipikirkannya.


Ar meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibir Grace yang mungil itu sambil membisikkan, "Sssttt.. Jangan membantah. Aku melihatnya sendiri, kamu memukul kepalamu. Itu sam saja dengan menyakiti dirimu sendiri, sayang. Sekarang ayo kita sarapan. Perjalanan kita memang tidak begitu jauh, tapi kita harus sarapan terlebih dahulu."


Ar pun menarik pergelangan tangan Grace sampai ke ruang makan. Hanya mereka berdua yang sarapan.Karena yang lain tentunya belum ada yang bangun dari tidurnya. Hari ini tidak ada kegiatan yang berat. Semuanya akan beraktivitas di siang hari, itu pun hanya memastikan segala persiapan yang ada di Hotel untuk yang terakhir kalinya.


Selesai sarapan, Ar membawa Grace pergi ke suatu tempat. Tempat yang sudah lama dipersiapkannya untuk diberikannya pada calon Istrinya. Ya! itu adalah Mansion pribadi milik Ar yang akan dihadiahkannya untuk Istrinya kelak dan orang itu adalah Grace.


Di sepanjang jalan, Ar menutup mata Grace dengan kain kecil yang melilit di sekitar matanya Grace. Ar dengan bersusah payah membujuk Grace agar mau menutup matanya.


"Ar, masih lama gak? Aku kan bosan melihat yang gelap terus," ucap Grace dengan ragu - ragu. Dia merasakan ada yang memegang pundak sebelah kanannya.


"Tidak lama lagi. Sabar ya, sayang. Sebentar saja kok ditutup matanya. Biar lebih greget nunjukkin surprise nya sama kamu." Ar pun kembali fokus mengemudikan mobilnya.


Sesampainya di Mansion, Ar membimbing Grace untuk berdiri tepat di depan Rumah baru mereka.


"Sekarang aku buka ya, sayang. Satu, dua, tiga."


Begitu ikatan kain itu dilepas, Grace terkagum - kagum melihat bagunan yang cukup mewah yang ada di hadapannya sekarang. Tanpa sadar, dia membulatkan matanya dan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


"Ar, ini kejutannya?" Tanya Grace sambil melirik ke arah Ar yang berada tepat di sebelah kirinya.


"Yapp, kamu benar, sayang. Ini hadiah pernikahan kita dari aku untukmu. Kamu suka?" Ar balik bertanya pada Grace.


Grace mengangguk dengan cepat dan menjawab singkat, "Ya! Aku suka."


"Lho? Kamu suka, tapi kenapa wajahnya seperti itu, sayang?" Tiba - tiba saja wajah Grace tampak seperti orang yang sedang bersedih. Ar yang melihatnya, kelabakan sendiri. Takutnya dia sudah melakukan kesalahan yang fatal pada Grace.


"Tapi... Bukankah ini terlalu berlebihan ya, Ar? Kamu menyiapkan hadiah pernikahan yang begitu mewah. Sedangkan aku? Tidak bisa memberikan apa pun padamu." Ucap Grace yang masih menundukkan kepalanya.


"Tidak. Ini tidak berlebihan. Aku sendiri yang mau memberikanmu hadiah seperti ini, sayang. Jangan berkecil hati seperti itu dong. Kamu sudah memberikan hadiah terbaik untukku."


Mendengar Ar mengatakan hal seperti itu, Grace menatapnya dengan penuh rasa penasaran.


"Kamu adalah hadiah terbaik dan terindah buatku, sayang. Kamu gak perlu memberikan apa pun lagi padaku. Karena dengan kamu selalu berada di sisiku, itu sudah lebih dari cukup. Dan aku juga membeli Mansion sederhana ini pun karena sudah menjadi tanggungjawabku untuk melakukannya."


Ar memeluk Grace dan menenangkan perempuan itu. Dia tidak ingin melihat kesedihan dari raut wajah Grace.


"Kamu yakin? Kamu tidak apa - apa jika aku tidak memberikan hadiah apa pun padamu?" Tanya Grace dengan bimbang sambil membalas pelukan Ar.


"Aku yakin, sayang. Kan aku sudah bilang, kalau kamu adalah hadiah terbaik yang aku miliki saat ini. Aku sangat bahagia kalau kamu mau menerimaku dan cintaku seutuhnya.


"Aku kan sudah pernah bilang, aku mau menikah denganmu karena aku memang sudah yakin dengan pilihanku. Meskipun belum seutuhnya, sejujurnya, aku sudah mulai membuka hatiku untukmu, Ar." Grace pun menepuk pundak Arion secara perlahan.


"Kamu serius Grace? Kamu beneran sudah membuka hatimu untukku?" Tanya Ar dengan perasaan yang menggebu - gebu.


"Iya, aku serius. Aku tidak pernah seserius ini pada seorang lelaki. Meskipun aku sudah pernah satu kali berpacaran, aku tidak pernah melakukan hal seperti ini."


Baru saja mengatakan hal itu, Grace langsung merasakan pelukan Ar semakin erat padanya. Dia hanya bisa tersenyum dengan sikap Ar saat ini.


"Ar, sesak. Kamu memelukku terlalu erat. Aku sudah tidak sanggup bernafas lagi," ucap Grace sambil mengelus pundak Arion.


Arion memang melepaskan pelukannya, tapi dia langsung menangkup kedua pipinya Grace. Dan..


"Cup." Ar mencium kening Grace lebih lama dari biasanya.


"Aku sangat - sangat bahagia sekarang ini. Kamulah sumber kebahagiaanku, sayang. Ayo! Kita masuk ke dalam. Biar kita bisa pulang sebelum jam makan siang," ujar Ar sambil menggenggam tangan Grace dan membawanya masuk ke dalam Mansionnya.


Mansion ini tidak sebesar Mansion Utama. Hanya saja, Mansion ini memiliki motif dan dekornya yang lebih unik dari Mansion Utama. Jadi, Ar dan keluarga kecilnya akan betah berada di dalam rumah.


"Sayang, lihatlah ini." Ar menunjukkan sebuah amplop cokelat dengan maksud untuk memberikan kejutan selanjutnya pada Grace.


Grace yang merasa heran dengan amplop itu, langsung saja duduk di sofa tepat bersebelahan dengan Ar. Dia mengambil amplop yang terletak di atas meja dan membukanya secara perlahan.


Setelah dibuka, tampaklah kertas - kertas dengan banyak tulisan dan stempel tanda notaris yang dikeluarkan dari amplop cokelat itu. Grace tidak menyangka dengan apa yang dibacanya. Ternyata Ar membangun Mansion itu atasnamanya.


"Sekarang kami tandatangani berkas - berkas ini. Aku tidak mau ada yang meniru tandatanganmu waktu itu, jadi aku minta kelonggaran untuk menunggumu dan ingin kamu yang menandatanganinya secara langsung," kata Ar sambil menyodorkan sebuah pena pada Grace.


"....."


Grace hanya diam tak melakukan apa pun dengan pena dan berkas yang ada dihadapannya saat ini.


"Sayang, kenapa kamu masih belum menandatanganinya?" Tanya Ar yang bingung melihat calon Istrinya itu tak kunjung menandatangani berkas itu selama lebih dari 10 menit.


Ar pun mendekati Grace dan menariknya dengan perlahan agar dia bisa memeluk Grace dengan nyaman.


"Sayang, jangan mikir hal - hal yang tidak perlu dipikirkan. Berkas ini adalah bentuk rasa kepedulianku padamu. Mana tau, suatu saat nanti terjadi sesuatu padaku, kamu sudah memiliki tempat tinggal yang layak. Sebagai seorang suami, aku harus melindungi Istriku dari segala bahaya dari luar dan salah satu caranya dengan memberikan padamu tempat tinggal yang layak. Kita tidak mengetahui apa pun yang akan terjadi setelah ini. Aku ingin kamu segera menandatanganinya, sayang. Agar kecemasanku padamu bisa berkurang."


Ar menjelaskan maksud dan tujuannya yang sebenarnya pada Grace. Dia tidak mau Grace berpikir bahwa Ar memandangnya sebagai seorang yang materiatislis, karena memang bukan hal seperti itu yang dia pikirkan tentang Grace.


"Kamu jangan mengatakan hal buruk sebelum hal baik terjadi, Ar. Kamu membuatku khawatir," ucap Grace setelah sekian lama berdiam diri.


"Maafkan aku, sayang. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu khawatir. Aku hanya mengutarakan apa yang aku pikirkan hingga aku membuat keputusan seperti ini. Kita juga harus selalu memikirkan hal yang paling buruk, sekalipun kita tidak ingin itu terjadi ataupun tidak pernah terjadi. Hal ini akan menjadi suatu pegangan bagi kita untuk menghindarinya."


Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..


Ponsel Ar berdering. Dia di telepon oleh seorang Client penting, "Sebentar ya, sayang. Aku mau menerima panggilan ini. Kamu pikirkan apa yang aku bilang tadi."


Ar pun keluar dari ruangan itu dan berbicara dengan Client nya itu. Ada sesuatu yang terjadi pada proses distribusi barang. Dia tidak terima jika hampir setengah dari barang yang dikirim oleh pihak Arion. Dia meminta Ar untuk datang secara langsung untuk mengecek kerusakan yang terjadi, karena permohonan retur yang dia ajukan ditolak mentah - mentah oleh pihak penjualan. Karena dia merupakan Client tetap yang memiliki paling banyak transaksi, Ar pun menyetujui hal itu. Dia akan ke sana dan akan tiba setengah jam ke depan.


Ar pun berpamitan pada Grace. Dia mencium puncak kepala Grace sangat lama, "Sayang. Aku pergi sebentar. Ada hal mendesak yang harus aku lakukan. Tetaplah di sini, nanti akan aku jemput. Dan ingat, tandatangani berkas - berkas ini agar Steve dapat melanjutkan pekerjaannya yang berurusan dengan berkas - berkas ini."


Grace hanya mengangguk sambil tersenyum manis pada Ar, "Hati - hati di jalan ya, Ar."


Ar pun pergi dari Mansion itu menuju ke tempat Client nya. Dan memang benar hal yang dikatakan Client nya itu. Hampir setengah barang dari jumlah pembeliannya yang mengalami kerusakan. Padahal baru 2 hari Ar tidak bekerja, hal seperti ini sudah terjadi.


Ar pun menelepon pihak penjualan di Perusahaannya dan memaksa mereka untuk menerima permohonan retur yang diajukan oleh Client nya ini. Setelah semua urusannya beres, dia pun berpamitan pada orang tersebut dan mengirimkan pesan singkat pada Grace.


To My Grace :


Sayang, aku akan ke sana untuk menjemputmu.


Setengah jam lagi aku akan tiba di sana ya.


Love you ♡


Entah mengapa, Ar ingin membuat tanda khusus pada pesan singkat tersebut. Setelah pesan itu terkirim, Ar mulai melajukan mobilnya menuju Mansionnya.


Di sisi lain, Grace sudah siap menandatangani berkas - berkas yang ada di genggamannya kini. Dia pun beranjak keluar dari Mansion itu. Dia menunggu kedatangan Ar di depan gerbang Mansion.


Ar yang sudah hampir sampai melihat Grace di depan gerbang Mansion. Dia berhenti dan memarkirkan mobilnya di seberang jalan. Kini dia bisa melihat Grace dengan jelas, karena Grace ada di seberangnya.


Ar membuka kaca mobil dan melambaikan tangannya pada Grace. Jalanan yang lebar ini tidak ada pembatas di bagian tengahnya selain garis tengah berwarna putih. Jadi, tidak ada halangan bagi Grace untuk menyadari keberadaan Ar yang ada di seberang jalan.


Grace pun melihat ke kanan dan ke kiri, lalu memyeberang jalanan yang lebar itu. Ar menyadari sesuatu yang janggal di sudut jalan. Ada sebuah mobil yang entah darimana muncul menuju ke arah Grace dengan kecepatan penuh.


Karena mobil itu tidak membunyikan klaksonnya, jadi Grace tidak menyadari kalau dirinya sedang dalam bahaya besar. Ar yang melihat itu ....


 


Hayooo,, Ar ngapain setelah melihat itu?


Apakah yang akan terjadi pada Grace?


Penasaran bukan?


Lanjut saja next eps nya yaa... 😁😁


>> Bersambung <<


 


**********


Selesai membaca, jangan lupa klik tanda jempol sebagai apresiasi kalian terhadap Author ^.^


Dan beri komentar seputar ceritanya ya,, agar Author tau bagaimana respon pembaca pada cerita ini..


Apakah banyak yang suka? Atau malah banyak yang tidak suka?


Terima kasih bagi yang sudah setia membaca dan menanti kelanjutan kisah Arion dan Grace..


Ingat untuk singgah ke karya terbaru Author yang berjudul “NARA” yaa..


Salam Kasih buat yang Terkasih 😊🙏