
“Ayo! Ikut denganku. Aku akan menepati janjiku padamu. Kamu menang, kita akhiri ini semua dan kita akan kembali. Cepat!” Teriak Bang Ricky padaku.
Benar kata Grace, Bang Ricky memang terlihat menakutkan di luar, tapi sebenarnya dia sangat perhatian dengan orang yang dia kenal.
Aku pun mengikutinya keluar dari tempat itu. Kami sudah berada dalam mobil. Selama perjalanan, kami hanya terdiam dan tidak ada yang berniat untuk memulai percakapan.
Sesampainya kami di rumah, Bang Ricky membawaku ke ruang kerjanya. Desain ruangannya cukup menarik dengan perpaduan nuansa klasik dan modern. Perabotannya yang memiliki warna khas dari perpaduan warna cokelat dan merah gelap. Semua benda di sini rata - rata bernuansa gelap.
“Duduk di sana. Ada hal penting yang aku ingin bicarakan,” ucap Bang Ricky sambil menunjuk kea rah sofa di hadapannya.
“Ada hal penting apa Bang?” Tanyaku sambil duduk manis di hadapannya.
“Sebentar lagi Steve akan menjemputmu. Kamu boleh pergi dan kembali saat jam makan malam ke sini bersama kedua orangtuamu. Aku mau kamu bisa membujuk Mommy mu itu untuk meminta maaf pada Grace dengan tulus. Jika tidak, kamu tidak boleh membawanya ke mana pun. Dia akan menetap di sini jika aku tidak melihat ketulusan yang murni dari permintaan maaf yang dilontarkan oleh Mommy mu.”
Bang Ricky mulai menatap tajam kearahku. Aku mulai gugup seperti sedang bertemu dengan calon mertua.
‘Astaga! Aku mikir apa sih?!!’
Bang Ricky lebih menyeramkan daripada orangtua Grace. Aku jadi gugup setengah mati, tidak tau mau menjawab bagaimana.
“Gimana, Ar? Apa kamu bisa membuat Mommy mu untuk meminta maaf pada adik kesayanganku itu? Kamu sanggup apa tidak?” Tanya Bang Ricky padaku dengan nada tegasnya.
“Aku sanggup Bang. Aku akan bawa kedua orangtuaku ke sini nanti malam dan akan aku pastikan kalau Mommy akan meminta maaf dengan tulus pada Grace. Mommy sebenarnya sudah mengetahui kebenarannya dan saat ini dia sedang menyesali perbuatannya.”
Aku menjawab dengan mantap setelah tatapan tajam Abang itu mulai melembut padaku. Aku tahu bahwa dia sangat peduli dengan keadaan Grace. Dia ingin yang terbaik buat adiknya itu, meskipun di dalam tubuh mereka tidak mengalir darah yang sama.
“Baiklah, Steve sudah tiba di depan gerbang. Kamu sudah boleh pergi. Tidak perlu berpamitan dengan yang lain karena mereka sedang tidak berada di rumah,” kata si Abang dengan gaya duduknya yang khas.
“Ar pamit dulu ya, Bang. Terima kasih sebanyak - banyaknya untuk 2 hari 1 malam nya ya, Bang. Aku benar - benar merasa senang karena telah diperbolehkan untuk mendekatkan diri dengan Abang.”
Setelah mengatakan kata perpisahan itu, aku membungkuk dan bergegas keluar dari ruangan tersebut. Aku kembali ke mansion bersama Steve.
“Kenapa pakaianmu seperti ini? Wajahmu lebam begitu, apa yang terjadi? Apa kamu berkelahi dengan Ricky?”
Steve selalu muncul bersamaan dengan segudang pertanyaan. Dia sungguh tidak pandai menyembunyikan rasa penasarannya.
“Hari ini aku belajar mengalahkan orang dari Bang Ricky di Ring Tinju. Meskipun aku kalah dengan lawan pertamaku, tapi aku bisa menang dari lawan keduaku,” jawabku sambil tersenyum pada Steve yang sedang menyetir.
“Busseet, kalau bertanya itu jangan seperti kereta api lah, Bro. Belajar mengantri di saat bertanya. Hahahaha..” Aku kesal mendengar pertanyaannya yang tidak ada habisnya.
“Okelah, kamu berhutang penjelasan padaku. Setibanya di Mansion, kamu harus menceritakan semuanya dengan jelas sejelas - jelasnya padaku,” ucap Steve tanpa memperdulikan tentang pendapatku.
Setibanya di Mansion, aku langsung masuk ke kamar dan membasuh diri. Sudah sejak subuh tadi, aku belum ada mandi. Badanku serasa lengket akibat melakukan kegiatan ekstrim dari pagi hingga siang.
Selesai dengan ritual mandiku yang membuat tubuhku segar kembali, aku pun keluar dari kamar menuju ruang makan. Di sana sudah ada Daddy, Mommy dan Steve.
“Dad, Mom. Sejak kapan kalian ada di sini? Sepertinya tadi belum ada siapa - siapa kecuali Ar dan Steve,” tanyaku sambil memandang mereka dengan tatapan yang aneh.
“Sebenarnya, saat Steve ingin menjemputmu dari rumah Ricky, dia sudah terlebih dahulu memberitahukannya pada kami dan kami langsung pulang dari kantor. Kami baru saja sampai di rumah dan menunggumu di sini. Sekalian kita makan siang bersama.”
Ucapan Mommy ada benarnya juga. Pantes saja mereka baru kelihatan. Aku duduk di seberang Mommy dan Steve duduk de sebelahku. Kami pun memulai kegiatan makan siang kami.
“Wajahmu kenapa? Apa yang terjadi di sana?” Tanya Daddy setelah selesai makan. Kini kami sedang berada di ruang tamu.
“Jadi begini, … lalu ….” Aku mulai menjelaskan hal apa saja yang aku alami di sana. Mereka mendengarkan dengan ekspresi serius. Terutama Mommy.
“Ar mendapat pengalaman penting dari Bang Ricky, Dad. Dia mengajarkanku untuk bisa melakukan berbagai cara untuk melindungi diri sendiri, sehingga aku mampu untuk melindungi orang yang penting bagiku.” Tuturku pada mereka.
“Bagus itu. Kamu sudah bisa berpikir seperti itu dan kamu tidak menaruh dendam apa pun padanya. Pada umumnya, melihat apa yang di lakukan Ricky padamu akan membuat orang berpikir untuk membalas perbuatan kejamnya itu,” ucap Daddy dengan tangan menyilang di dadanya.
“Sekarang masalahnya, Bang Ricky mengundang kita ke rumahnya untuk makan malam dan dia ingin Mommy meminta maaf dengan tulus pada Grace. Dia hanya ingin melihat ketulusan Mommy pada Grace. Bagaimana Mom? Apa Mom mau melakukannya?” Tanyaku pada Mommy dengan mantap.
“Yah, Mommy mau. Mommy juga sebenarnya ingin bertemu dengannya, tapi Mommy tidak lagi menemukan keberadaannya. Mommy menyesal dan ingin segera meminta maaf padanya,” kata Mommy dengan wajah sendunya.
“Baiklah, kalau begitu. Nanti malam kita akan berangkat ke sana. Sekarang obati terlebih dahulu lebam di wajahmu itu Ar. Daddy tidak ingin Anak Daddy berpenampilan jelek di depan menantu Daddy.” Ucap Daddy sambil tersenyum padaku. Mommy dan Steve malah tertawa tanda mengejekku. Aku hanya bisa mengangguk tanda setuju dengan perkataan Daddy.
AUTHOR POV
Mrs.Melv. mengambil kotak obat dan membantu Arion mengobati lukanya. Luka di sudut bibir Arion di beri obat merah sebagai antiseptik. Lebam di bagian pipi Arion di kompres menggunakan nasi panas yang di gulung ke dalam handuk kecil berbahan kain tipis.
“Akh, sakit Mom. Biarlah Ar sendiri yang mengompresnya. Mommy tidak perlu melakukannya.”
Arion meringis kesakitan karena proses pengompresan yang di lakukan Mrs.Melv. cukup kuat dan membuat pipinya yang lebam terasa sakit. Sebenarnya, jika di sentuh sedikit saja pasti rasanya sakit, karena lebam di wajahnya cukup parah.