THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
07



JEFF POV


Aku merasa sangat bahagia melihatnya lagi. Tapi, aku juga sedikit kecewa. Dia mengabaikan ajakanku dan mengomel begitu padaku, membuat aku malu saja di depan si rese itu. Arion kalau tidak salah namanya, sepertinya aku pernah mendengar namanya disebut para kolega bisnisku. Tapi, kenapa tadi Anne mengenalnya sebagai artis?


Aku mengambil laptop ku dan mencaritahu tentangnya. Sangat mudah mencari informasi tentang karirnya. Ternyata dia lebih kaya dari aku, apa Grace akan berpaling padanya? Padahal aku melanjutkan impianku sebagai pengusaha juga demi dia. Aku tidak mau kami itu menikah dan aku menjadi orang yang tidak bertanggungjawab karena miskin.


Arion Gavin Melviano, Pewaris Melv.Corp yang juga aktor dan model terkenal. Wah, tidak ku sangka, akan memiliki saingan yang tangguh seperti dia. Tapi aku tidak akan kalah dengannya, karena aku yakin Grace masih mencintaiku. Buktinya, dia masih single sampai saat ini.


Tapi, kebiasaan Grace ini yang tidak ku sukai, dia tidak mempermasalahkan seberapa banyak teman lelakinya. Dia itu terlalu santai untuk berteman dengan semua laki-laki itu. Entah mau sampai berapa banyak lagi teman lelaki yang dia perlukan.


Selama aku tidak berada di dekatnya, para lelaki yang menyukainya, pasti akan merebutnya dariku. Aku tidak mau hal itu terjadi. Aku harus berbuat sesuatu.


To My Sweety <3 :


Udah tidur Grace?


Tidak ada jawaban apapun. Apa dia sudah tidur ya? Atau dia sengaja tidak mau menjawab pesang singkat dariku? Yah, mungkin dia memang masih marah padaku, besok pasti sudah baikan. Dia itu tidak akan bisa berlama-lama marah pada seseorang.


To My Sweety <3 :


Grace, maafkan aku ya, jangan marah lagi.


Besok malam, kalau kamu ada waktu menemuiku, kabari aku ya.


Aku traktir kamu makan yang enak dehh, kamu bisa pilih tempat dan jenis makanannya.


Asal kamu enggak marah lagi.


Sudahlah, aku sudah mengantuk. Besok pagi aku ada meeting dengan beberapa rekan kerjaku yang juga ikut dalam kegiatan bisnis kali ini. Ada hal yang harus kami selesaikan selama seminggu disini.


**********


From My Sweety <3 :


Nanti malam jam 7 di Cafe A-01. Jangan telat.


Wahh, pagi yang cerah dengan balasan pesan singkat dari dia. Senangnya, akhirnya dia sudah tidak marah lagi padaku.


To My Sweety <3 :


Oke. Ku tunggu disana ya.


Aku langsung bergegas untuk menemui rekan kerjaku, ini sudah waktunya bagiku untuk memperluas kerjasama dengan orang luar.


**********


Sore hari, pukul 6..


Aku sudah tidak sabar bertemu dengan dia. Kulirik jam tanganku, masih ada satu jam lagi. Aku langsung pamitan dari orang-orang sekitarku dan aku langsung menuju kamar hotelku.


Aku tidak akan menyia-nyiakan hal ini, aku ingin status kami seperti dulu lagi. Aku harus berpakaian rapi dan menarik. Ku lihat seisi koperku, setelan jas berwarna navy menjadi pilihanku saat ini. Aku tau pasti, bahwa Grace sangat menyukai warna gelap termasuk biru.


Setelah aku merasa sempurna, aku segera keluar dari hotal menuju Cafe A-01. Aku melihat sekitarku, dia memang belum datang, karena ini masih kurang 15 menit dari pukul 7.


Aku memilih tempat duduk pojok kanan, dengan pemandangan taman disebelah kiriku, karena aku duduk menghadap pintu masuk Cafe. Seorang pelayan datang menhampiriku, aku memesan 2 jenis minuman yang berbeda dan untuk makanannya, aku hanya memesan cemilan saja.


Aku masih hafal betul apa yang disukai Grace saat berada di Cafe. Dia hanya berniat memenuhi perutnya dengan cemilan disaat seperti ini, dan tentunya, itu hanya pembuka saja, dia akan memesan makanan lainnya jika dia masih merasa lapar.


Pintu Cafe pun terbuka, aku melihat Grace. Segera aku lambaikan tanganku untuk memberinya kode. Pesanan ku yang tadi pun datang, tapi aku menyuruh pelayan itu untuk mengambil menu kembali.


"Kenapa kamu sudah memesan duluan? Aku masih belum memesan apapun. Tapi kamu bilang sesuka ku." Grace menatapku heran.


"Ini hanya pesanan ku untuk menahan laparmu disaat kamu menunggu pesananmu, itu pelayannya datang membawa menu, pesanlah sebanyak yang kau sanggup."


Aku senang melihat pemandangan di depanku ini, dia mengucapkan begitu banyak jenis cemilan dan tidak lupa 2 jenis minuman lainnya. Tanpa kusadari, aku sudah tersenyum melamun melihatnya.


"Hei, kenapa kamu menatapku begitu, Jeff? Aku hanya memesan menu yang jarang ku cicipi. Apa kamu merasa dirugikan dengan mentraktirku begini? Kamu boleh mundur sekarang, Jeff."


Aku tersadar dari lamunanku karena perkataannya, "Hahaha, bukan begitu Grace. Aku senang melihat wajah bahagiamu saat berada di dekatku. Apa kamu sudah memaafkanku?" Dengan hati-hati aku bertanya padanya.


"Ya, jangan ulangi lagi, aku tidak suka caramu itu. Meskipun kita tidak bertemu 10 tahun pun, kamu tetap tidak boleh bertindak seperti itu."


Aku mengangguk padanya, "Baiklah, selesai makan, maukah kamu ikut bersamaku?"


"Memangnya mau ke mana?" Tanyanya penuh dengan rasa penasaran sambil mengunyah cemilan yang kupesan tadi.


"Aku hanya ingin mengajakmu berkeliling menjelajahi kota ini, apa kamu mau?"


"Baiklah, itu ide yang bagus. Tapi aku tidak bisa berlama-lama ya, karena aku akan cukup sibuk malam ini. Wahh, pesananku sudah siap semua, selamat makan Jeff." Seketika Grace memandang semua jenis pesanan yang tertata rapi di meja kami saat ini.


Tidak segan-segan, dia melahap semua yang bisa dimakannya. "Selamat makan juga Grace. Perlahan saja makannya, tidak ada yang akan merebutnya darimu."


Kulihat dia hanya memelototiku karena ucapanku itu. Aku hanya diam sambil meliriknya dan hanya mencicipi setiap jenis cemilan di depan kami. Aku senang melihatnya yang sedang lahap menghabiskan makanannya.


**********


"Wow, indahnya.. Kamu kok bisa tahu tempat seperti ini, Jeff? Pemandangannya di malam hari sangat indah karena cahaya lampu dari gedung-gedung itu."


Wajah Grace tampak berseri. Aku sangat senang melihatnya, "Ada dehh, asal bisa buat kamu senang, pasti mudah bagiku untuk mengetahuinya."


Setelah sekian lama berdiam diri di belakangnya, aku memberanikan diri mengatakan maksud ku untuk bertemu dengan dia, "Grace, ada sesuatu yang harus kuberitahukan padamu." Dia langsung berbalik mengahadap aku.


"Yah, ngomong ajah, tak perlu gugup seperti itu." Grace melihatku dengan tatapan heran.


"Aku masih mencintaimu, Grace. Bisakah hubungan kita seperti yang dulu? Maukah kamu menjadi kekasihku lagi?"


Saat ini, Grace hanya melihatku dengan tatapan terkejut dan tangannya menutup mulutnya yang sempat menganga -terbuka lebar, sangkin kagetnya- dia juga tidak menjawab apa pun dari yang ku pertanyakan tadi.


"Grace, aku tidak akan menuntut banyak padamu, aku ingin menjadi kekasihmu kembali. Aku tidak bisa melupakanmu, Grace. Kau lah satu-satunya yang bisa menyentuh perasaanku. Hanya menjadi kekasihmu,


jarak dan waktu tidak akan bisa membuatku melupakanmu begitu saja, Grace.Kita balikan lagi ya, Grace."


Ku lihat Grace sudah sadar sepenuhnya dan dia mengutarakan perasaannya padaku saat itu juga, "Maaf, Jeff."


Kata pertama yang dia ucap ini, membuatku mulai frustasi. Aku sudah tau akhirnya bagaimana, aku sudah tidak bisa dekat dengannya seperti dulu lagi. Walaupun aku tidak ingin mendengar alasannya, aku tetap diam mendengarkan dia menyelesaikan perkataannya.


Grace mengenggam kedua tanganku, "Jeff, aku tidak bisa menerimamu lagi sebagai seorang kekasih. Aku sudah menyadari, bahwa aku memang masih menyayangimu, tapi selama ini aku bisa dekat denganmu hanya karena aku nyaman berada di dekat mu sebagai seorang pelindung. Kamu itu sudah seperti kakak laki-laki ku. Aku senang kita pernah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih selama setahun, tapi aku tidak bisa menganggapmu seperti perasaan seorang perempuan terhadap seorang lelaki. Maafkan aku Jeff."


Dia menangis di depan ku sambil menundukkan kepalanya. Aku memang kecewa, sangat kecewa. Tapi aku tidak bisa melihatnya menangis. Aku berusaha untuk tetap tenang setelah mendengar keputusannya ini.


"Baiklah Grace, aku akan berusaha menjadi seorang kakak yang baik padamu. Tapi izinkan aku untuk memelukmu sebagai perpisahan kita, Grace. Besok pagi aku akan berangkat ke Surabaya dan beberapa harinya lagi aku akan balik ke Papua. Aku tidak bisa jamin kapan kita akan bisa bertemu lagi, Grace. Aku hanya ingin memelukmu."


Grace menatapku dan menganggukkan kepalanya, memberiku izin untuk memeluknya. Dengan segera aku menariknya ke dalam dekapanku, ku hirup aroma dari rambutnya. Aku mempererat dekapanku padanya, dia hanya bisa menangis dalam pelukanku.


"Kalau kamu sedang dalam kesulitan dan tidak punya pilihan lain lagi, hubungi aku. Aku ingin menjadi orang pertama yang menolongmu, sebelum kamu menjadi milik orang lain. Oke? Kamu kan sudah menganggap sebagai kakakmu, jadi perlakukanlah aku seperti selayaknya seorang kakak."


Tagisannya sudah tak terdengar lagi, tidak terasa kami sudah berpelukan selama setengah jam. Aku sudah janji padanya untuk tidak berlama-lama mengajaknya jalan, aku harus mengantarnya pulang. Ku ciumin puncak


kepalanya dan aku melepaskan pelukan kami.


"Grace, sudah saatnya pulang, aku akan mengantarmu. Terimakasih sudah memberikanku pelukan perpisahan yang mengharukan ini. Hehehe. Yuk, pulang."


Aku menggandeng tangan dan memasuki mobil bersama. Aku mengantarkan pulang dan setelahnya aku langsung menuju ke hotel tempatku menginap.


Semalaman aku tidak bisa tidur. Aku masih belum bisa menerima penolakan darinya. Karena dia menangis begitu, aku tidak bisa menolak keputusannya itu. Pikiranku saat ini sangat kacau.


Tapi, aku masih bisa memperjuangkan cintaku padanya, karena ada pepatah mengatakan 'Sebelum Janur Kuning Melengkung, Tidak Ada Larangan Untuk Mencintai Siapapun' Selagi orang yang kita cintai belum menikah, kita sah-sah saja mencintainya.


Dia masih bukan milik siapa-siapa, selama dia masih mau berkomunikasi padaku, aku akan berusaha membuatnya menjadi milikku seutuhnya.


ADAM POV


"Kenapa malam-malam gini meneleponku sih? Ajak ketemuan pula. Apa kamu tidak tau ini sudah waktunya untuk tidur?"


Aku sangat kesal dengan anak ingusan yang satu ini. Dia menelepon hanya untuk curhat tentang perempuan? Memang anak ini sudah gila karena tertarik pada Grace.


"Aku bingung harus berbuat apa lagi, Bro. Bantu akulah. Kan kamu pernah mendekati perempuan dan bahkan sampai menikah dengan sepupuku itu."


"Besok kalau kamu ada waktu, temui aku di kantor ku. Aku tidak mau keluar rumah jam segini. Bisa-bisa jadi kentang goreng aku dibuat istriku. Kamu kan tau gimana parahnya perempuan yang sedang marah."


Langsung saja aku menutup telepon darinya dan mematikan poselku. Anak ini benar-benar kebingungan karena ini hal yang baru baginya, aku memaklumi itu. Tapi, dia tidak bisa mengganggu waktu tidurku.


Setiap harinya, dalam sehari, aku hanya bertemu sebentar dengan istriku tercinta. Aku mana mau melewatkan saat-saat romantis kami di malam hari. Dia memang pengganggu.


**********


"Sayang, bangun. Kamu akan berangkat pagi kan? Aku udah siapkan sarapanmu. Pakaian kerjamu juga sudah ku gantung di balik pintu kamar mandi ya."


"Kalau hari ini aku libur saja, gimana? Aku tidak mau bertemu dengan si pengganggu itu, dia membuat ku pusing sejak dia menyadari perasaannya. Akan sulit baginya mendekati Grace jika dia selalu seperti itu. Padahal dia aktor terkenal, tapi untuk merayu seorang perempuan saja harus diajari lagi?"


Silvia hanya tersenyum dan keluar dari kamar. Aku pun segera membersihkan diri dan bersiap dengan pakaian pilihannya.


Dia sudah menungguku di meja makan. Kami sarapan bersama. Aku menanyakan sesuatu padanya saat selesai sarapan, "Kira-kira tipe lelaki idaman Grace itu yang bagaimana, sayang? Biar aku bisa sedikit membantu sepupumu itu dengan beberapa saran yang sesuai dari kriteria itu."


"Enggak tahu. Dia belum pernah dan tidak pernah mau membahas tentang kriteria lelaki idaman. Dia selalu diam dan diam jika ada yang menanyakan hal tersebut. Mungkin juga dia sengaja menghindar, karena menyimpan suatu rahasia. Aku tidak bisa membantu untuk kali ini, Arion harus mandiri, sayang. Jangan selalu membantunya."


"Ampun dehh, dua orang ini sangat berbeda, mulai dari segi status sosial hingga karakter pribadinya. Arion memiliki segalanya sedangkan Grace hanya bisa bertumpu pada kerja kerasnya. Arion sangat pemilih dalam


berteman sedangkan Grace sangat mudah berteman dengan siapa saja."


Aku membayangkan bagaimana hasil akhirnya jika mereka bersama dan kulirik jam di tanganku, "Ya, ampun. Aku jadi lupa waktu karena memikirkan mereka. Aku berangkat kerja ya, sayang."


Dengan tergesa-gesa, aku berangkat menuju kantorku. Mungkin dia sudah menungguku di depan pintu utama Restoran. Karena dia tidak akan masuk jika bukan aku orang yang mengundangnya untuk masuk ke dalam. Itulah kebiasaannya yang cukup aneh menurutku.


**********


Di kantor...


"Bro, ada yang membuatku tidak tenang semalaman. Semalam aku melihat Grace memeluk Jeff, mantan pacarnya. Aku melihat mereka sangat mesra, sampai-sampai Jeff menciumi puncak kepala Grace. Hal itu membuatku frustasi, Bro."


Arion sudah berceloteh panjang kali lebar setelah pintu masuk ruang kantor ku tertutup. Aku cukup kaget dengan perkataannya. Grace memiliki mantan? Aku tidak pernah tau akan hal itu.


"Memangnya kamu membuntuti mereka sampai tahu hal semacam itu? Mantan? Kamu yakin dia itu mantannya Grace?"


"Aku tau dengan pasti, dia itu Jeff, mantan Grace. Aku pernah bertemu dengannya dan sempat makan malam bersama dengan Grace, Jeff dan Anne. Waktu jam pulang kantor, aku sedang kepingin makan masakan daerah Kota C. Aku menyuruh supirku untuk menvantarku kesana. Saat perjalanan pulang, aku melihat pemandangan diluar jendela. Tidak sengaja aku melihat mereka berdua berjalan ke arah Taman N."


"Trus? Kamu mengikuti mereka?"


"Iya, aku mengikuti langkah mereka dari kejauhan. Awalnya, aku hanya melihat wajah bahagia Grace, sampai lelaki itu berbicara padanya dan membuatnya menangis. Aku melihat Grace menangis, bahkan di dalam pelukannya. Aku sangat galau saat itu. Aku langsung pergi dari sana, tidak ingin lebih lama melihat lelaki itu memeluknya sambil menciumi puncak kepala Grace."


"Kamu tau apa yang mereka bicarakan? Aku sangat tau bahwa Grace bukanlah perempuan yang cengeng, kenapa sia bisa sampai menangis?"


"Aku tidak tau. Aku juga tidak berani berjalan lebih dekat lagi pada mereka. Aku benar-benar tidak tau harus bagaimana lagi, bro."


Aku pusing dengan pengalaman cinta pertama anak ini. Sungguh merepotkan. Aku pun tidak bisa membantunya lebih banyak selain memberikannya ucapan semangat.


"Hei, bro. Jangan mudah putus asa begitu. Kamu harus berani mendekatkan dirimu padanya secara alami. Sebagai teman biasa dulu. Bantu dia sebisa mu, jika kamu mengetahui apa yang dia butuhkan. Aku memang tidak bisa banyak membantumu. Mungkin saja memang mereka sedang ada masalah dan menyelesaikannya secara baik-baik. Meskipun Grace terlihat tegar begitu, dia masih seorang perempuan, dia masih bisa menangis."


Arion tampak berpikir sebentar. Lalu dia melihat jam yang melingkar di tangannya, dia bangkit dari duduknya dan bersiap untuk peegi ke kantor.


"Oh iya, Grace sudah datang jam segini, bro?" Tanyanya dengan ragu padaku.


"Yah, sudahlaa, bro. Dia pasti sedang menyapu atau mengelap meja. Lihatlah sendiri."


"Oke, baiklah. Aku pamit ya, bro."


"Sini, ku antar sampai pintu utama." Kulihat dia mengangguk padaku.


Dia berjalan melewati begitu banyak pegawai ku, tapi pandangannya tidak lepas dari sosok Grace. Dia memang sudah Jatuh hati padanya, ku akui itu dari tatapannya pada Grace.


"Nanti sore datang saja, aku akan bantu selama beberapa hari ini sebelum Mom pulang, agar kamu yang mengantar Grace ke kampusnya. Gimana?" Aku menawarkan hal sepele padanya.


Arion membalas dengan senyumannya, "Makasih banyak, bro. Aku akan datang nanti sore."


PRANG..!!!  anggap saja ini suara pecahan kaca ya, guys*


Tiba-tiba ada suara piring atau gelas yang pecah. Kulihat banyak pegawai yang berkumpul disana, aku melihat mereka mengelilingi seseorang. Ya, dia Grace.


Arion yang melihat itu, langsung menyerobot masuk ke arah kerumunan pegawai-pegawai itu. Kaki Grace terluka terkena pecahan piring yang terjatuh karena kesenggol oleh rekan kerjanya yang sedang merapikan tatanan meja yang sama dengan tempat Grace berada.


Arion menggendong Grace ala bridal style. Dia langsung buru-buru membawa Grace masuk ke dalam mobilnya. Saat melewatiku, dia sempat berkata, "Aku yang akan membawa Grace ke rumah sakit."


Wajah Grace saat itu sudah pucat, mungkin lukanya cukup parah.


Aku bertanya-tanya dalam diam 'Apa dengan kejadian ini, Arion bisa lebih dekat dengan Grace?'