THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
30



"Sudah selesai. Jangan tegang gitu la, Grace. Aku kan tidak apa-apain kami disini. Aku cuma kasih ini sebagai hadiah kecil dariku. Selama dua hari ini, sangat berharga bagi ku. Jadi, aku harus membelikan mu sesuatu."Ucap Arion dsngan penuh semangat.


Aku melihat dileherku ternyata sudah tergantung sebuah kalung cantik dengan mata berlian berwarna biru safir. Di belakang mata berliannya ada ukiran kecil seperti AR♡GR.


"Ukiran itu melambangkan perasaan ku pada mu, Grace. Jadi, jangan pernah di lepas kalungnya ya. Di pakai terus. Oke?" Wajah Arion kali ini sungguh menggemaskan. Dia sangat berharap aku mengangguk padanya.


'Ku kerjai aja nih anak sebentar.' Ucapku dalam hati.


"Yaaahh, modelnya kenapa begini sih, Ar? Kurang menarik. Udah itu, kenapa mesti ada ukirannya? Nanti orang-orang yang melihatnya jadi tau kalau ini kalung pemberian laki-laki. Gimana caraku jelaskannya coba? Bikin ribet ajah." Aku berpura-pura ngambek padanya.


Aku baru saja mau membuka pintu kamarnya, dia langsung menahan lengan ku, "Grace, jangan marah dong. Ayo kita tukar saja dengan yang baru. Sesuai keinginanmu. Gimana?"


"Ini aku mau berangkat lho, Ar. Jangan nahan-nahan tangan orang gitu dong. Sakit tau?"


"Ahh, iya. Maaf Grace. Aku gak sengaja. Maafin aku ya, jangan marah dong. Aku kan niatnya baik, cuma mau kasih hadiah buat kamu. Aku gak tau kalau kalung seperti itu tidak sesuai dengan selera mu."


Setelah mengucapkan itu, dia menundukkan kepalanya, tidak berani menoleh padaku. Aku langsung memeluknya dan mengucapkan salam perpisahan padanya.


"Aku pergi dulu ya, Ar. Makasih hadiahnya, aku suka. Bye." Aku pun langsung pergi meninggalkan dia yang masih diam seperti patung di kamarnya.


"Bye Mom, Dad. Kak Sil, Kak Adam. Bye all." Aku dan keluargaku pun masuk ke dalam mobil dan berangkat ke Bandara di antar oleh supir pribadi Arion.


'Hahaha.. Dia pasti kelabakan sendiri. Lucu juga wajahnya yang memerah tadi. Kapan-kapan kerjain dia lagi deh.' Gumamku dalam hati.


**********


Kami tiba si rumah tepat pukul 5 sore. Aku pun langsung memasak nasi dan pergi membelikan lauk untuk makan malam nanti.


Sesampainya di sebuah Rumah Makan, aku melihat ada sebuah mobil hitam yang berhenti tepat disaat aku parkir tadi. Tapi orangnya tidak keluar sama sekali dari mobil itu.


Begitu selesai membeli lauk, aku langsung pergi dari tempat itu dan dengan kecepatan penuh mengendarai sepeda motorku. Yang benar saja, mobil hitam yang tadi kulihat mengikutiku dengan kecepatan penuh juga.


'Gila! Siapa dia?' Aku mengkhawatirkan keadaanku saat ini.


Aku mulai memikirkan cara untuk sampai ke rumah dengan cepat tapi tidak dikejar lagi. Aku pun teringat jalan pintas yang sempit yang bisa menghalau mobil itu untuk mengikutiku.


Aku pun segera membelokkan sepeda motorku ke kanan persimpangan di depan dan langsung mencari jalan sempit itu. Yah, aku menemukannya. Dan kali ini, ada 3 sepeda motor yang mengikutiku.


'Wah, wah.. Ini sudah tidak beres.' Gumamku sambil melirik kaca spionku.


Ku percepat kecepatan sepeda motorku dan langsung berbelok ke kiri dari persimpangan di depan. Berhasil! Mereka terkécoh. Ku lihat mereka tidak sempat berbelok dan malah lurus terus. Aku pun langsung tancap gas menuju ke rumah.


Sesampainya dirumah, aku menceritakan hal itu pada kedua orangtuaku, "Pa, gimana ini, Pa? Masa aku tidak bisa keluar rumah karena hal ini?"


"Untuk sementara, kamu dirumah saja Grace. Mama mu yang akan mengantar-jemput adik kembarmu. Kamu dirumah saja dan fokus untuk acara Martuppolmu nanti." Papa khawatir padaku.


"Iya, Pa. Kemungkinan dia itu kaki tangannya si Om gila itu. Siapa lagi kalau bukan dia?" Aku mengucap kata itu dengan geram.


ARION POV


'Apa tadi Grace beneran memelukku? Dan... Dia bilang suka hadiahnya?'


Aku jadi tidak tersadar karena merasa jantungku seakan mau meledak mendapat pelukan darinya. Ya! Aku sangat senang saat ini.


"Ehh, kemana mereka Mom?" Ucapku setelah keluar dari kamar. Aku melihat keluargaku sudah berkumpul di ruang tamu.


"Kamu sih, lama keluar dari kamar nya. Kenapa? Kamu bokér ya? Sampai mereka pergi pun, kamu masih saja bertelur di kamarmu itu." Ucap Adam yang tidak ku sukai.


Silvia mendekatiku, "Memangnya apa yang kamu lakukan dikamar berduaan dengan Grace tadi? Begitu dia keluar, kamu malah berdiam di dalam kamar. Aku curiga, kalau kamu itu..."


DEG..!!


Jantungku tidak bisa diajak kompromi kali ini. Aku teringat lagi detik-detik aku di peluk oleh Grace. Maklum saja, itu pertama kalinya Grace memelukku atas inisiatif nya sendiri.


"Wajahmu memerah, Ar. Ada apa sebenarnya?" Daddy ikut-ikutan membuatku semakin salah tingkah.


"Ahh, tidak ada apa-apa Dad, aku mau balik ke kamar dulu. Aku mau menelepon Steve, menanyakan kabarnya disana."


Aku langsung pergi dari ruang tamu menuju ke kamar. Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku sendiri pada saat ini


Grace itu seperti racun. Dia bisa membunuhku kapan saja seperti saat ini. Sungguh sulit membuatnya menjadi milikku seutuhnya.


"Steve, bagaimana kabarmu disana? Apa kamu sudah membawa Sam sesuai perintah ku?" Ucapku padanya setelah teleponnya diangkat.


"Aku sudah membawanya ke sana, tapi dia menolak. Bagaimana ini, Ar? Kamu saja yang ngomong langsung sama orang nya ya?" Bujuk Steve padaku.


"Oke, baiklah. Berikan teleponnya pada dia."


Sam : "Halo, Kak?"


Arion : "Sam, kamu kenapa menolak untuk tinggal di tempat yang Steve tunjukkan padamu?"


Sam : "Kak, aku tidak bisa tinggal disana, terlalu mewah dan tidak sesuai dengan ku, Kak."


Arion : "Ini permintaan Kakak. Disana itu tempat tinggal Kakak kalau ke Bandung. Kakak kan jarang ke sana, jadi tempat itu terbengkalai karena tidak ada yang merawatnya. Kakak minta kamu tinggal disana bukan untuk membuatmu merasa rendah diri, Sam. Kamu kan bisa menggantikan Kakak merawat tempat itu selama kamu tinggal disana?"


Sam : "Tapi, Kak. Kan aku nanti jadi tidak enak sama Kakak. Kakak kan belum jadi sama Cici, tapi sudah membiarkanku tinggal disana."


Arion : "Sam, jangan menolak lagi. Kakak gak mau berdebat lagi. Sekarang kamu bereskan barangmu dari kost mu, lalu pindah ke sana. Kakak berbuat begini, supaya Kakak bisa lebih mudah mengunjungimu. Kamu kan mau kalau Kakak mengunjungimu setiap ada waktu kesana kan? Turuti saja apa yang diucapkan Steve."


Sam : "Tapi, Kak.."


Arion : "Sam, gak ada tapi-tapian. Toh juga kalau kamu tinggal disana, kamu kan juga harus membersihkannya. Kamu rawat dengan baik Apartemen Kakak yang disana, itu sudah lebih dari cukup bagi Kakak yang sudah membiarkanmu tinggal disana. Gimana menurutmu? Impas bukan?"


Sam : "Baiklah, Kak. Sam janji, Sam akan merawat Apartemen Kakak. Jangan lupa sering mengunjungiku ya, Kak."


Arion : "Pasti. Sekarang berikan ponselnya pada Steve."


"Ya, Ar? Bagaimana?" Tanya Steve padaku. Mungkin dia tidak mendengar percakapan kami.


"Kamu atur saja, dia sudah mau pindah kok." Ucapku dengan santai.


Aku berniat membuat Sam tinggal di Apartemen milik ku yang ada di Bandung. Aku ingin dia tinggal di tempat yang nyaman. Dia kan juga adikku, aku harus menjaganya.


'Masa harus begitu kali membujuknya. Aku tau dia segan, tapi tidak seharusnya begitu padaku. Aku kan akan jadi Kakak iparnya. Hehehe..'


Aku jadi senyam-senyum sendiri. Aku harus mempersiapkan diri untuk acara itu.


Ehh, tapi.. acara martuppol itu gimana ya? Aku kan tidak pernah tau tentang Adat Batak. Aku harus cari tau dari "Mbah googling" dulu dehh, biar bisa jadi ancang-ancang untuk ke depannya.


**********


"Ar, selesai makan, kita ngobrol sebentar di ruang tamu ya. Daddy mau ke ruang kerja sebentar. Nanti panggilkan Daddy kalau kalian sudah selesai."


Daddy pergi setelah selesai makan malam. Daddy memang selalu yang pertama siap makan daripada kami.


Setelah selesai makan, kami semua berkumpul, Termasuk Steve, Silvia dan Adam. Daddy memulai pembicaraannya.


"Ar, Dad memang masih belum bisa membayangkan kalau kamu akan berkeluarga. Tapi, kamu harus ingat janji kamu itu. Kamu harus pensiun dari dunia hiburan itu, baik itu sebagai model atau pun aktor."


"Iya Dad, Ar akan mengumumkan kepada media, kalau Arion tidak akan bertindak dalam syuting atau pun pemotretan." Kataku dengan mantap.


"Steve, lusa aturkan jadwal Arion untuk mengumumkan pengunduran dirinya dari dunia hiburan itu. Jangan sampai ada yang ketinggalan." Daddy langsung to the point pada Steve.


"Dad, ada dengar sedikit berita mengejutkan dari Silvia tadi sore. Coba kamu ceritakan pada mereka, nak." Kata Daddy sambil menunjuk ke arah kami.


"Jadi, tadi itu aku dapat telepon dari Grace. Setiba di rumah, dia langsung pergi membeli lauk. Saat perjalanan pulang, dia dikejar oleh sebuah mobil hitam. Setelah dia memasuki jalan sempit untuk menghindari kejaran mobil, dia malah dikejar 3 orang bersepeda motor. Syukur aja dia itu cerdas. Dia bisa mengécoh orang itu dan sampai di rumah dengan selamat."


Aku sempat terkejut dengan ceritanya Silvia. 'Kenapa Grace tidak mau menceritakannya pada ku?' Aku merasa Grace itu tidak menganggapku, padahal kan aku ini calonnya dia.


"Ar, karena kamu masih sibuk dengan kegiatanmu, Mom and Dad akan ke rumah Grace duluan. Dad akan mencaritahu kepastian dari peristiwa yang di alami Grace."


"Dan satu hal lagi, kalian hanya boleh datang kesana sehari sebelum hari H. Karena semuanya kami para orangtua yang akan mengurusnya."


"Iya Dad, Ar mengerti. Jadi, hari H nya sebenarnya kapan, Dad? Kenapa Ar belum tau soal itu?" Aku pun baru sadar bahwa aku sendiri belum mengetahui kapan hari itu akan berlangsung.


"Minggu depan, tepat hari minggu, nak. Karena teman bisnis dan keluarga hanya memiliki waktu libur di hari minggu. Karena kita mau nya acara nya cepat dilaksanakan, waktu seminggu itu sangatlah sesuai." Daddy tersenyum ke arahku.


"Terimakasih atas pengertiannya Dad, aku sayang Daddy." Aku langsung memeluk Daddy.


"Mom tidak?" Aku langsung memeluk Mom juga, "Aku sayang Mommy juga."


"Oh iya, Mom. Kenapa rencana yang hanya sebatas aku menyatakan perasaanku pada Grace malah menjadi acara perjodohan kami?"


Aku benar-benar penasaran. Mereka tidak ada yang mau memberitahukan padaku sejak awal. Aku pun melirik tajam pada Adam.


"Ini ide Adam, nak. Jangan marah padanya. Dia sudah menyusun rencana yang membuatmu akan menikah dengan Grace."


"Iya sih, Mom. Tapi kan gak adil kalau Ar tidak tau tentang hal ini sejak awal. Ar kan jadi terkejut mendengarnya saat itu. Padahal Ar baru saja menyerah mendapatkan Grace, tiba-tiba Ar dijodohkan dengannya."


"Jangan merengut kayak anak kecil lah, Ar. Aku itu sudah baik banget menyusun semua rencana ini dan lihatlah rencana yang kau tidak ketahui ini bisa di bilang sukses besar." Kata Adam dengan gaya sombongnya itu.


"Iya deh, iya." Ucapku malas.


"Lusa kami akan berangkat ke Siantar. Kita akan melaksanakan acara pertunangannya di Siantar. Jadi, urus terlebih dahulu semua bisnis dengan baik, agar di hari H, kamu tidak di ganggu lagi oleh pekerjaanmu."


"Baik Daddy."


"Selama seminggu ini, jangan hubungi Grace. Fokus saja dengan pekerjaanmu. Kalau kamu ketahuan menghubunginya, Dad tidak akan segan-segan membatalkan perjodohan ini. Mengerti?"


"Mengerti Dad."


Aku sangat lesu mendengar larangan dari Daddy. Aku tidak boleh berhubungan dengan Grace, padahal aku yang akan bertunangan dengannya. Tapi, mau gimana lagi? Aku harus bisa menuntaskan pekerjaanku.


"Oh ya, Steve. Kapan kamu menyusulku?" Dengan nada mengejek, aku bertanya pada seseorang yang diam seperti patung itu.


"Kamu itu ya, mentang-mentang sudah dijodohkan, malah menghinaku. Nanti juga ada saatnya aku naik ke pelaminan." Ucap Steve dengan menatapku.


Semua yang ada di ruangan itu tertawa mendengar ucapan Steve. Begitu kami selesai dengan perbincangan kami, semuanya bergegas meninggalkan ruang tamu dan masuk ke dalam kamar.


Si atas kasurku, aku menatap foto Grace yang tersenyum memakai pakaian kebaya berwarna peach yang menambahkan kesan cantik pada tubuhnya yang indah. Ada juga fotonya yang mengenakan almamater, tapi itu tidak mengurangi kesan cantik pada kebaya nya.


Aku memang saat itu tidak ada bersama dengan mereka. Foto-foto ini ku terima dari Silvia. Dia tau bahwa aku akan memerlukannya.


Ku atur saja foto Grace yang pertama ku lihat sebagai walpaper di handphone ku. Biar aku bisa terus memandanginya di saat senggang.


**********


Beberapa hari kemudian..


Mom and Dad sudah berada di Siantar. Aku sempat mendapat kabar bahwa Mama diculik oleh orang yang tidak dikenal. Mereka di ancam untuk menyerahkan Grace kepada Tuannya.


Aku yakin itu adalah ulah Cakra. Dia itu sangat terobsesi dengan Grace.


Tapi, hal itu tidak membuat Daddy diam begitu saja. Daddy berhasil menyelamatkan Mama dan semua pencuri yang di tangkap malah bunuh diri karena tidak ingin memberitahukan siapa Tuan nya itu.


Sebenarnya, tidak diberitahukan pun aku sudah tau pasti siapa dalangnya. Tapi, selama tidak punya bukti yang kuat, kami tidak bisa berbuat apa-apa.


Semoga saja, lusa tidak ada halangan apa pun. Ya! Lusa adalah hari H acara pertunangan kami.


Besok aku sudah bisa berangkat ke Siantar. Tapi, penerbangan kami di sore hari, menungguku selesai bekerja.


Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Grace. Semua keperluanku pun sudah dipersiapkan dengan baik di sana. Jangan heran, Mommy sangat hapal dengan ukuran ku. Dia akan menyiapkan semuanya dengan baik dan benar.


Oh iya, dua hari yang lalu, aku sudah melakukan konferensi pers dengan beberapa media yang cukup berpengaruh. Aku sudah menyatakan bahwa aku akan pensiun dari dunia Entertainmen dan Permodelan.


Aku juga sudah mengatakan bahwa aku akan segera menikah. Meskipun banyak pertanyaan dari awak media tentang orang yang akan kunikahi, aku hanya menjawabnya dengan singkat.


"Dia adalah perempuan sempurna bagi ku. Aku merasa sangat beruntung karena dia telah memilihku. Nantikan saja kabar selanjutnya tentang pernikahan kami. Terima kasih atas perhatiannya."


Mereka hanya mengangguk dan mulai menebak-nebak siapa orang yang akan kunikahi. Apakah dia juga seorang model? Atau dia seorang aktris? Atau dia dari dunia bisnis? Sehingga dia bisa disebut perempuan sempurna.


Semua yang mereka beritakan 100% salah. Karena Grace bukanlah perempuan dari kalangan seperti itu. Berita-berita tentang keputusan ku mengenai pensiun dan pernikahan ku sudah tersebar luas hanya dalam kurun waktu dua hari.


Beginilah nasibku, yang selalu menjadi sorotan publik jika ada hal yang membuat publik penasaran. Makanya, selama ini, aku selalu berhati-hati jika kemana pun dan bersama dengan siapa.


"Hey, jangan melamun terus. Cepat pulang dan siapkan keperluanmu yang akan kamu bawa kesana. Besok kita akan pergi berbelanja. Kan tidak mungkin kamu ke rumah camer -Calon Mertua- tidak membawa apa pun."


Perkataan Steve membuat ku tersadar dari lamunan ku. Layar laptop ku pun sudah gelap. Padahal tadi aku masih melihat berita seputar diriku di sosial media.


Langsung saja ku matikan komputer dan laptop ku. Aku bangkit dari tempat duduk ku dan pergi bersama Steve. Dia selalu ada untuk ku.


Yah, jelas lah, dia kan Asisten ku. Saat ini, dia hanya menjabat sebagai Asisten ku saja. Itu akan meringankan sedikit bebannya, karena aku sudah bukan artis atau model lagi.


Aku sempat berpikir, 'Apa aku harus menurunkan gaji pokoknya juga? Dia kan sudah tidak menjabat sebagai manajerku lagi.'


Aku kan baik, tidak setega itu padanya. Jadi, ku biarkan saja gaji pokoknya mengalir begitu saja, karena aku juga sudah bergantung padanya. Dia itu sungguh orang yang bisa dipercaya.


Keesokan harinya..


"Ar, kamu ada rencana mau membelikan apa untuk calon mertuamu?" Tanya Steve padaku.


"Aku tidak tau, Steve. Aku telepon Mommy dari semalam tidak di angkat. Padahal aku mau tau apa yang mereka sukai." Kata ku dengan lesu.


Kami sudah tiba di Mall. Aku masih tidak bisa berpikir jernih untuk saat ini. Besok sudah hari H, hatiku gundah mengingat besok aku sudah bertunangan dengan Grace.


Aku mencoba mencari sesuatu yang pantas untuk diberikan kepada orangtua. Oh iya, aku ingat. Aku bisa membeli produk teh terbaik untuk kesehatan.


Aku membeli 2 jenis teh yang berbeda khasiatnya, tetapi masih sama-sama baik untuk kesehatan. S*ash Organic Cham*mile Herbal Tea yang bagus untuk meningkatkan sistem imun tubuh dan Gry*hon Mar*akesh Mint yang bagus untuk menurunkan kadar kolestrol.


Aku pernah dengar dari beberapa rekan bisnis ku mengatakan bahwa khasiat kedua teh ini sangat bagus dan terjamin kualitasnya. Makanya aku berminat sekali untuk membelikan teh itu sebagai buah tangan dariku.


'Apa lagi yang bisa ku beli ya?' Aku bingung, karena belum pernah sejarahnya aku membelikan sesuatu untuk orang lain. Apalagi ini adalah calon mertuaku.


**********


Jangan lupa like, rate, comment dan share cerita The Perfect Girl nya, ya..


Jika berkenan saja, karena Author tidak mau memaksa reader tercinta untuk melakukan smua hal itu sekaligus..


Makasih banyak buat para reader yang selalu setia stay membaca cerita ku ini..


Luph u all ♡♡♡