THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
57



Sesampainya di Mansion keluarga Melv. mereka langsung menuju ke halaman belakang, di mana di sana terdapat jet pribadi milik keluarga Melv.


Ichi menatap kagum dengan semua kemewahan yang di lihatnya mulai dari gerbang depan hingga halaman belakang Mansion keluarga Melv.


“Why are you staring like that? You should familiarize yourself with all of this, Bro.” Tanya Grace pada Ichi yang masih terkagum - kagum melihat jet pribadi keluarga Melv.


(Kenapa kamu bengong begitu? Kamu harus membiasakan dirimu dengan ini semua, Kak.)


“Familiarize yourself with all of this from now on. Because I will show you something more amazing than this, Bro.” Arion mendekati kedua Kakak Beradik itu dan merangkul Grace.


(Biasakanlah dirimu dengan semua ini mulai sekarang. Karena aku akan menunjukkan sesuatu yang lebih menakjubkan daripada ini padamu, Kak.)


“I'm just amazed to see a private jet this close. You're very lucky to be able to hook a man like Arion.” Kata Ichi pada adiknya dengan tatapan yang menggoda. Dia suka melihat wajah malu dari adiknya itu.


(Aku hanya kagum bisa melihat jet pribadi dengan jarak sedekat ini. Kamu sangat beruntung bisa menggaet lelaki seperti Arion.)


“Tuh, dengar Grace. Kamu itu beruntung banget bisa membuat aku mencintaimu.” Bisik Arion pada Grace. Untuk menutupi wajahnya yang mulai memerah, Grace berlari memasuki Jet lebih dulu dan meninggalkan kedua lelaki yang sudah menggodanya.


‘Hei, Grace. Mau ke mana, sayang? Kok aku malah di tinggal begitu aja?” Teriak Arion sambil berlari mengejar Grace.


Mr.Melv. dan istrinya merasa bahagia melihat kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah Arion. Steve dan Ichi juga turut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh kedua sejoli itu.


Arion menarik Grace masuk ke dalam sebuah kamar yang tersedia di dalam Jet Pribadinya. Dia menyuruh Grace untuk beristirahat dan merebahkan tubuhnya di sisi kanan tempat tidurnya.


Dengan ragu, Grace pun merebahkan tubuhnya di sebelah Arion. Tiba - tiba saja Arion memeluk erat tubuh Grace dari arah belakang. Grace memang terkejut dengan tingkah Arion. Tapi dia lebih terkejut lagi setelah menyadari bahwa suhu tubuh Arion yang berbeda.


“Kamu sakit ya, Ar? Badanmu terasa panas. Kamu demam?” Grace segera membalikkan badannya menghadap Arion dan memegang kening Arion.


“Tidak, aku tidak sakit,” elak Arion melihat Grace yang terlihat mencemaskan dirinya. Dia sangat senang mendapatkan perhatian dari calon istrinya itu.


“Kamu demam, Ar. Tunggu di sini, aku akan memberimu obat demam yang selalu ku bawa di dalam tas ku.


Saat Grace hendak beranjak, tangannya di tarik kuat oleh Arion. Arion memeluknya begitu erat seolah tidak mau melepaskannya.


“Ar, jangan begini. Aku hanya mengambil obat dan air. Kamu juga harus di kompres, biar cepat hilang demamnya.” Grace mulai memasang tampang marahnya pada Arion, hingga Arion pun harus rela melepaskan pelukannya.


Grace pun keluar ruangan itu dan menemui Pramugari yang ada di depan pintu. Dia meminta Pramugari itu untuk membawakan air dalam baskom, handuk kecil dan juga air hangat.


Setelah semua pesanannya datang, Grace mulai memberikan obat dan Arion hanya menuruti perintah untuk meminum obat tersebut.


“Kenapa kamu bisa jadi demam begini? Bukannya tadi kamu itu baik - baik saja ya?” Tanya Grace penasaran, “Apa Bang Ricky membuatmu melakukan hal aneh? Apa dia membawamu ke Ring Tinju?”


“Kenapa kamu bisa tau tentang tempat itu, Grace?” Arion malah balik bertanya.


Grace mengompres kening Arion dan mulai mencari posisi yang nyaman untuk bercerita. Saat ini Grace duduk di tepi kiri ranjang dengan kaki diluruskan. Arion mulai mendekat pada Grace, setelah melihat jaraknya cukup jauh dengan calon istrinya itu. Dia menarik Grace yang dalam posisi duduk itu kini berubah menjadi posisi berbaring dalam dekapannya. Entah apa yang dipikirkan Arion, dia hanya ingin berdekatan dengan Grace dan tidak ingin melepaskan pelukannya walau hanya sebentar.


Grace pun mulai bercerita..


“Saat aku masih menjalani perawatan, aku tidak bisa berdiam diri di rumah. Aku bosan, meskipun aku sering ke taman belakang dan setiap hari bermain dengan Ed. Aku tidak di perbolehkan ke luar rumah meskipun sedetik saja.”


“Setelah setengah tahun penuh aku di kurung di dalam rumah, akhirnya Bang Ricky mau membawaku keluar rumah. Dan tempat pertama yang aku kunjungi adalah tempat itu. Tempat para anggota Mafia berlatih. Di sana aku mendapat banyak teman. Mereka semua ramah terhadapku dan mau membagikan ilmunya padaku.”


Sesekali Grace memegang handuk kompres di kening Arion dan meletakkan punggung tapak tangannya di pipi Arion untuk memastikan kondisi tubuh Arion. Dia sendiri pun bingung pada dirinya sendiri, kenapa dia bisa sangat mengkhawatirkan kondisi Arion saat ini. Padahal ini hanya demam biasa.


“Aku belajar banyak dari mereka dan selama aku berlatih, mereka tidak membiarkanku terlalu lama memukul samsak. Mereka tidak memperbolehkanku untuk merasa kelelahan dengan alasan aku masih dalam masa perawatan. Pemulihan urat saraf ku yang sempat kaku mengalami perkembangan yang cukup pesat karena aku melakukan banyak pergerakan.”


“Sebenarnya, aku sudah bisa melakukan banyak hal setelah menjalani perawatan selama 10 bulan. Tapi Bang Ricky tidak mau mengambil risiko sehingga dia tetap mengaturkan jadwal pemeriksaan tubuhku sampai setahun penuh. Dalam 2 bulan itu, aku sudah beberapa kali bertanding dengan anggota Bang Ricky. Meskipun aku tau, lawanku itu tidak sepenuhnya melawanku dengan serius, aku tetap merasa senang karena diperbolehkan melakukan banyak hal di sana.”


Grace pun bangkit dan mengambil kain handuk yang ada di kening Arion, memerasnya kembali dan meletakkannya dengan rapi di kening Arion. Berbeda dengan Grace, Arion malah merasa sangat senang mendapat perhatian penuh dari Grace.


“Oh iya, coba kamu ceritakan bagaimana kamu sampai mendapatkan luka lebam di pipimu ini. Aku yakin kalau ini semua pasti ulah Bang Ricky. Benar kan?” Tanya Grace yang tetap pada posisi duduknya setelah selesai mengompres ulang kening Arion.


Arion tidak suka dengan posisi mereka saat ini, jadi dia berinisiatif mengubah posisi tubuhnya menjadi horizontal. Kini kepalanya sudah berada di atas paha Grace yang sedang duduk di tepi ranjang dengan kaki diluruskan.


Grace tidak berniat untuk mengomel ataupun marah melihat perubahan posisi tidur Arion saat ini. Dia hanya tersenyum sambil menunggu jawaban Arion atas pertanyaannya. Grace juga sesekali mengelus rambut Arion. Arion suka sekali dengan belaian tangan dari calon istrinya itu. Dia menikmati setiap gerakan tangan Grace yang mengelus lembut puncak kepalanya.


“Aku memang di ajak ke tempat itu. Aku dibiarkan berlatih sendirian selama 3 jam. Tapi sebelum waktu latihan habis, aku sudah di suruh naik ke atas Ring. Di babak awal, aku kebingungan. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak punya basic sama sekali tentang tinju.” Arion mulai bercerita dengan mata yang terpejam.


“Aku tidak berbuat apa - apa selain menghindar dan melindungi diri dengan kedua tanganku. Akhirnya aku di pukul tepat di wajah dan terjatuh dari posisi bertahanku. Aku di nyatakan kalah oleh Wasit.” Suara Arion terdengar lesu menceritakan bagian di mana dia mengalami kekalahan.


“Setelah itu, kalian langsung pulang?” Grace lanjut bertanya karena rasa ingin tau nya begitu besar.


“Tidak. Aku di suruh naik ke atas Ring lagi dengan lawan yang berbeda. Aku harus menang bagaimanapun caranya agar Bang Ricky mau mengakhiri kegiatan kami di tempat itu.” Arion mulai membuka matanya. Tanpa sengaja tatapan mereka bertemu dan membuat keduanya saling terpesona.


Arion merasakan detak jantungnya yang begitu cepat saat dia bertatapan dengan mata seseorang yang sangat dicintainya itu. Tidak ada kata yang bisa mewakili perasaannya saat ini. Dia merasa amat senang bisa berada di dekat Grace dengan posisi yang cukup intim seperti sekarang.


Jika di ingat - ingat kembali, Grace akan selalu menolak untuk berdekatan dengan dirinya. Dia hanya berharap hubungan mereka yang cukup dekat ini akan bertahan lama dan Grace bisa membuka hatinya menerima keberadaan dirinya yang akan menjadi suaminya.


Sedangkan Grace, ketika dia menatap mata Arion yang juga sedang menatapnya, dia baru menyadari bahwa mata indah itu bisa membuat jantungnya berdetak secara tidak karuan. Akhirnya, dia mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk megurangi perasaan gugup yang entah darimana datangnya.


Grace mengambil handuk kecil itu lagi dan mengompres ulang kening Arion. Hanya seperti inilah dia bisa menghilangkan rasa gugupnya tadi. Dia tidak menyadari bahwa Arion sudah mengetahui kegugupan yang terpancar dari wajah cantiknya itu.


“Tapi, menurutku itu tidak adil, Ar. Kenapa kamu yang sudah terluka harus melawan orang yang berbeda? Kamu harus melawan berapa orang baru kamu bisa menang?” Grace mulai melontarkan pertanyaan untuk menghilangkan suasana awkward di antara mereka.


“Tidak perlu melawan banyak orang, di babak kedua aku meraih kemenangan dengan caraku sendiri,” ucap Arion dengan singkat, padat dan jelas.


“Cara sendiri? Bukannya kamu tidak tau apa - apa tentang tinju ya?” Grace kembali bertanya.


“Ya, aku melawannya dengan ilmu bela diriku yang lebih aku pahami disbanding dengan menggunakan jurus tinju yang tidak aku mengerti,” jawab Arion dengan senyuman yang terukir di wajahnya.


“Kamu jago bela diri juga?” Grace pun bertanya lagi dan lagi.


“Ya! Aku sudah mendapatkan sabuk hitamku saat masih duduk di bangku SMA. Aku masih rutin melatih diriku sendiri di Mansion saat aku punya waktu luang, meskipun aku tidak lagi bergabung dengan komunitas bela diri manapun.” Arion mulai membanggakan dirinya pada Grace.


“Wooaahhh, itu artinya kamu jago banget. Sudah sabuk hitam. Aku hanya tau sedikit tentang bela diri, itupun ilmu yang aku pelajari dari Bang Ricky saat aku SMA.” Ucap Grace sambil memegang pipi Arion untuk mengecek suhu tubuhnya.


“Tidak juga. Kamu malahan yang lebih jago menurutku,” Arion mengingat kejadian di mana dia melihat Grace menghajar preman di gang kecil dan itu hanya berdua dengan Anne.


“Apa maksudmu, Ar?” Tanya Grace yang merasa aneh dengan pernyataan Arion barusan.


“Aku pernah melihatmu dan Anne menghajar sebelas orang preman di gang kecil. Padahal waktu itu, kaki mu masih belum sembuh total. Kamu ingat kejadian itu?” Arion melirik ke arah Grace yang sedang melayangkan pandangannya entah ke mana sambil memikirkan kejadian itu. (Baca Eps.14)


“Kamu lihat semuanya? Itu kan sudah lama sekali. Kamu kok bisa melihatnya? Kamu beneran memata - mataiku sejak pertama bertemu ya, Ar? Jujur padaku, Ar. Sebelum aku menjauhimu karena kamu sudah melakukan kejahatan dengan menjadi seorang penguntit.” Grace mulai mengingat kejadian itu dan dia memelototi Arion dengan sinisnya.


“Tidak, bukan begitu Grace. Waktu itu kan aku sama Kak Adam di suruh Mommy menjemputmu. Tapi kami melihatmu bersama Anne pergi ke arah gang kecil itu. Maksud hati mau memanggilmu, tapi kami malah melihat kejadian itu. Aku sempat marah - marah tidak jelas sama Kak Adam karena dia menahan dan menyuruhku untuk menonton aksi kalian berdua. Aku bersumpah, aku tidak pernah melakukan hal seperti yang kamu pikirkan itu, Grace. Percayalah padaku.”


Arion mulai menunjukkan puppy eyes nya pada Grace. Grace malah tertawa lepas melihat tingkah Arion yang menurutnya sangat kekanak - kanakan. Arion hanya tersenyum melihat pemandangan yang ada di hadapannya saat ini.


‘Kamu terlihat begitu cantik dan menawan saat tertawa, Grace. Aku janji, aku akan selalu membuatmu bahagia dan tertawa setiap harinya selama sisa hidupmu bersamaku.’


Lamunan Arion terganggu karena Grace mulai melepas kain handuk dan meletakkan telapak tangannya di kening Arion.


“Ar, demammu sudah hilang dan suhu tubuhmu sepertinya sudah kembali normal. Kamu harus tidur biar kondisi tubuhmu bisa fit kembali.” Ucap Grace pada Arion.


Arion pun mengubah posisi tidurnya kembali seperti semula, “Kamu juga, berbaringlah. Kamu juga harus beristirahat. Pasti kamu lelah seharian ini tidak ada istirahatnya. Dan di waktu tidurmu pun kamu masih bersedia untuk merawatku. Terima kasih banyak lho, Grace.”


Grace pun berbaring dan membalikkan tubuhnya. Dia mematikan lampu yang menyala, “Saatnya tidur. Selamat malam, Ar.”


Arion hanya bisa pasrah melihat Grace yang membelakanginya. Dia pun memeluk pinggang Grace dari belakang. Arion mendekapnya begitu erat dan di amengucapkan, “Selamat malam juga, sayang.”


“…..”


Arion tidak mendengar jawaban apa pun lagi. Dia hanya mengira bahwa Grace sudah tertidur lelap dan dia langsung menguburkan wajahnya di leher belakang Grace sambil menghirup aroma tubuh Grace yang sudah lama tidak dihirupnya. Sehingga dia bisa mengabaikan semua hal yang sempat membuat dirinya merasa tidak nyaman.


Grace yang merasakan deru nafas Arion di bagian leher belakangnya sempat merasa kaget dan saat ini dia berusaha untuk menenangkan dirinya. Dia tidak mau Arion mengetahui bahwa jantungnya sedang berpacu kencang mendapat perlakuan seperti sekarang.


Pelukan Arion yang sangat erat mengalirkan kehangatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Grace merasa heran dengan perubahan dirinya saat ini. Dulu dia tidak pernah merasakan hal canggung seperti ini. Dia tidak pernah menyukai seseorang lebih dari kata teman, sahabat atau saudara.


‘Ada apa denganku? Perasaanku jadi tidak karuan begini.’ Grace membatin.


Pada akhirnya, mereka berdua tertidur lelap dengan posisi yang begitu intim. Posisi yang menandakan cara mereka melepas rindu yang terpendam selama 2 tahun terakhir.