
GRACE POV
Setelah tidur selama 8 jam penuh, badanku terasa pegal semuanya. Arion masih saja memeluk erat pinggangku.
Aku mencoba melepaskan tangannya dari pinggangku. Dia malah menarikku lebih kuat lagi hingga punggungku menempel lekat pada dadanya.
"Ar! Lepaskan aku. Kamu itu ya! Udah bangun bukannya bangkit, malah molor terus." Aku kesal dengan tingkahnya. Badanku terasa mau remuk karena di peluk begitu erat.
"Sebentar lagi ya, sayang. Aku masih kangen sama aroma tubuhmu. Kangen ku itu sudah terpendam selama lebih dari 2 tahun lho.. Jangan lasak, nanti aku tidak bisa mengendalikan diriku, bahaya lho.."
Aku terkejut tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkannya. Jantungku berdetak dag - dig - dug mendengar dia memanggilku dengan sebutan sayang dan mengucap kata - kata yang menggoda.
"Aku mau ke kamar kecil, udah gak nahan lagi, Ar." Aku pun menarik paksa tangannya lalu pergi ke kamar kecil yang ada di ruangan itu.
"Siap itu, balik ke sini lagi ya, sayang. Aku masih mau bermanja - manja kayak semalam sama kamu." Teriak Arion sambil terkekeh melihat tingkahku yang kesal padanya.
Aku rasa, dia menyadari bahwa aku sudah membuka hatiku untuknya. Ya! Aku memang sudah membuka hatiku sejak peristiwa di hotel waktu itu.
Aku sudah mulai merasakan perasaan yang aneh selama aku berada di dekatnya. Belum lagi, debaran jantungku yang tidak karuan saat dia menyentuhku. Tapi aku sudah merasa sangat nyaman jika aku bersama dengannya.
Setelah ku pikir -pikir kembali, aku memang sudah terlalu jahat padanya. Aku mengacuhkannya begitu saja, padahal sudah beberapa kali dia mengatakan bahwa dia menyayangiku bahkan mencintaiku.
Setelah aku menyelesaikan kegiatanku di kamar kecil, aku pun keluar dan mengambil tas kecilku. Aku berniat untuk keluar dari ruangan itu.
"Mau kemana, sayang? Kamu gak mau nemeni aku di sini sebentar lagi?" Ekspresi manja Arion terpapar di wajahnya.
"Aku mau duduk di luar. Aku bosan di sini, Ar." Aku pun melangkahkan kakiku menuju pintu keluar.
Tiba - tiba saja tanganku di pegang erat oleh Arion, "Apaan sih? Kan aku sudah bilang, aku bosan di sini. Aku mau duduk di luar."
"Kita barengan keluarnya ya, Grace? Tunggu aku sebentar saja. Ya? Ya? Ya?" Arion memohon padaku untuk menunggunya.
"Oke, baiklah. Waktumu hanya 10 menit. Aku tunggu di sini," kataku padanya sambil duduk di salah satu kursi yang tersedia di ruangan itu.
Arion pun bergegas ke kamar kecil. Sebelum 10 menit berlalu, dia keluar dari sana dan mendekat padaku.
"Ayo! Kita ke depan." Arion menggenggam tanganku dengan erat. Selalu saja begitu.
"Wah, lihatlah pasangan ini. Mengumbar kemesraan di hadapan kami yang masih menjomblo ini. Sungguh mengerikan nasib kami berdua," ucap Steve sambil melirik ke arah seseorang yang tengah duduk di sebelahnya, Koichi.
Daddy dan Mommy jadi tertawa mendengar ucapannya itu. Aku merasa sangat malu. Entah kenapa, akhir - akhir ini diriku begitu mudahnya tersipu malu. Padahal aku bukan tipe orang seperti itu sebelumnya.
"Makanya, jangan cuma melirik laki - laki saja kerjamu itu. Kalau bukan aku, Kak Adam. Sekarang? Hanya Kak Ichi yang di lirik begitu." Arion langsung menarik tanganku ke arah bangku kosong yang ada di depan sana.
Ichi hanya bisa tersenyum mendengar namanya di sebut oleh Arion. Sedangkan Steve? Dia berusaha melemparkan pukulan yang tak akan sampai pada Arion. Lucu juga tingkah mereka berdua.
"Duduklah, jangan bengong mulu." Ucapan Arion membuyarkan lamunanku. Aku saja heran kenapa bisa bengong begitu.
Aku duduk di dekat jendela. Aku senang melihat awan dan pemandangan dari atas seperti ini. Tiba - tiba pundakku ada yang memegang, siapa lagi kalau bukan Arion?
"Kenapa sih, Ar? Aku kan masih pengen lihat pemandangan di luar," ucapku rada ketus padanya.
"Kita makan dulu, sudah 10 jam penerbangan, masa kita belum ada makan apa pun? Kamu sudah lapar kan, sayang?" Ucap Arion lembut padaku.
Aku berpikir sejenak dan memegang perutku. Aku memang sudah merasakan lapar sedaritadi. Aku pun menganggukkan kepalaku dan tersenyum padanya. Arion memesan sesuatu yang tidak begitu aku pahami.
"Yang lainnya gak ikutan makan dengan kita?" Tanyaku penasaran padanya, karena dia hanya memesan untuk 2 porsi saja.
"Mereka sudah duluan makan dibanding kita. 2 jam yang lalu, Daddy sempat mengirimkan pesan singkat padaku. Karena mereka tidak mau mengganggu waktu istirahat kita, jadi mereka tidak memanggil. Daddy dan Mommy pun sudah balik ke kamarnya dan mereka sedang tidur bersama."
Saat makanan yang di pesan sudah terhidang di hadapanku, aku langsung menyerbunya dengan lahap. Beberapa kali Arion mengelap sudut bibirku karena ada saus menempel.
"Makan saja masih belepotan begini, gimana nantinya kalau kita sudah menikah? Apa masih begini cara makanmu?" Tanya Arion dengan nada mengejek. Ehh, menurutku dia sedang mengajakku untuk bercanda.
"Kalau tidak suka, ya sudah, menikahlah dengan yang lain." Ucapku cuek padanya.
"Sssttt.. Jangan berbicara seperti itu lagi ya, sayang. Aku tidak akan pernah menikah dengan perempuan lainnya. Hanya denganmu aku akan menikah. Aku mencintaimu apa adanya, Grace. Jangan anggap serius dengan candaanku barusan."
"Cup.." Arion langsung mencium keningku sebelum aku mengatakan sesuatu. Aku jadi diam terpaku. Aku merasakan degup jantungku berdebar - debar. Tidak biasanya begini.
'Aku sudah tidak waras kayaknya! Kenapa dia selalu bisa membuatku menjadi salah tingkah begini sejak tadi? Kalau begini terus, apa aku bisa tahan berada di dekatnya?' Batinku mulai merasa resah.
Selesai makan, aku menoleh ke arah luar jendela. Bentuk awannya sungguh cantik. Pemandangan di bawah juga sangat indah. Tapi, lagi - lagi tangan Arion menarik pundakku.
"Kenapa lagi sih, Ar? Aku lagi asik lihat pemandangan di luar, kamu ganggu aja!" Aku kesal melihat dia yang tau nya hanya cengingiran saja.
"Jangan merengut gitu dong, sayang. Aku kan masih mau melihat senyumanmu."
"Aduuh, Ar. Kamu itu aneh banget dehh daritadi. Kayak anak kecil aja. Kesal aku jadinya. Normal sedikit aja apa gak bisa?"
Emosi aku di buatnya. Apa gak cukup dia menempel terus padaku sejak semalaman di kamar? Sekarang dia sudah tidak demam lagi, tapi malah semakin manja. Aneh aku lihatnya.
"Ehh, ehh, ehh.. Kenapa kamu turunin sandarannya sih? Aku kan masih mau lihat ke luar jendela."
"Aku mau begini lho, biar kita tampak lebih romantis. Kenapa kamu tidak pernah nurut sama aku sih?"
Arion menurunkan sandaran bangku kami berdua dan dia menyelipkan lengan sebelah kirinya ke belakang tengkuk leherku.
"Ya sudah, terserahmu lah, Ar. Udah malas aku berdebat sama kamu." Aku pun langsung memalingkan wajahku ke arah jendela.
Arion menggeserkan kepalaku agar bersandar di bahunya. Dia terus - menerus menciumi puncak kepalaku. Gak ada bosan - bosannya dia melakukan hal itu berulang kali.
"Aku masih mengantuk, Ar. Nanti banguni aku ketika kita sudah sampai di Mansion ya?"
ARION POV
Betapa bahagianya diriku saat ini. Apa pun yang aku lakukan padanya, tidak ada tanda - tanda penolakan darinya. Kemungkinan aku sudah berhasil mengetuk pintu hatinya.
Aku senang mendapatkan perhatian darinya. Terlebih lagi, dia mau merawatku saat aku demam. Padahal ini hanya demam biasa dan akan sembuh hanya dengan minum sebuah tablet saja, tapi dia terlihat khawatir padaku sampai mau mengompres keningku.
Aku sangat, sangat, sangat merindukannya. Tidak cukup bagiku hanya memeluknya selama 8 jam penuh. Aku masih ingin memanjakan diriku dengan aroma tubuhnya.
Saat ini dia sedang tertidur pulas dalam dekapanku. Aku rasa dia sudah mulai terbiasa dengan keberadaanku di dekatnya. Ini adalah awal yang sangat baik bagiku untuk bisa membuatnya mencintaiku, meskipun cintanya tidak sebesar cintaku padanya.
Selama lebih dari 5 jam, aku terus mencium puncak kepalanya dan menghirup aroma dari rambutnya. Sudah sangat lama aku tidak melihatnya. Aku tidak ingin berjauh - jauhan lagi dengan dirinya.
Sesampainya kami di Mansion, aku tidak tega membangunkan Grace. Aku pun menggendong tubuhnya ala bridal style secara perlahan agar tidak mengganggu tidurnya.
Selama ini, aku belum pernah sebahagia ini saat bersama dengan seorang perempuan. Biasanya aku selalu menjauh dengan perempuan yang berusaha dekat denganku.
Berbeda dengan Grace, malahan aku yang selalu ingin berada di dekatnya setiap saat. Tapi itu tidak mungkin. Meskipun kami sudah menikah, seluruh kegiatan perusahaan sepenuhnya sudah menjadi tanggungjawabku. Itu persyaratan dari Daddy saat menyerahkan aset perusahaan padaku di hari Wisuda S2 ku.
"Why aren't you coming inside? Even though the others had gathered in the living room and Grace had taken me to the room. Come on! We go inside." Kataku pada Kak Ichi.
(Kenapa kamu tidak masuk ke dalam? Padahal yang lain sudah berkumpul di ruang tamu dan Grace sudah aku antar ke kamar. Ayo! Kita masuk ke dalam.)
"I'm still reluctant to set my foot into a house as grand as this. In my entire life, this is the first time for me to have to mingle with people like you and Ricky." katanya padaku dengan wajah menunduk ke bawah.
(Aku masih segan untuk menginjakkan kakiku ke rumah semegah ini. Seumur hidupku, ini kali pertama buatku harus berbaur dengan orang - orang seperti dirimu dan Ricky.)
Dia membuatku tertawa terbahak - bahak. Aku masih mengingat wajah adik - adiknya yang juga pertama kalinya datang ke Mansion ini. Sangat berbeda dengan ekspresi Kak Ichi saat ini.
Ekspresi dialah yang paling lucu yang pernah aku lihat. Wajah yang takut mengotori lantai Mansion ini dengan kakinya. Padahal adik - adiknya yang lain memiliki ekspresi kagum melihat Mansion ini. Hanya Grace yang biasa saja melihat rumah semegah ini.
"Why are you laughing instead? I'm really serious." katanya lagi padaku.
(Kenapa kamu malah tertawa? Aku kan sedang serius.)
"You are too much, Bro. Grace is not even interested in such a grand house. When Grace came here, she didn't have any expression. Even though she is the same as you, Bro. Never mind, don't be shy. Think of it like your own home." Aku pun menarik tangannya untuk ikut denganku, meskipun tubuhnya kaku seperti patung.
(Kamu sangat berlebihan, Kak. Grace saja tidak tertarik dengan rumah semegah ini. Ketika Grace datang ke sini, dia tidak memiliki ekspresi apa pun. Padahal dia juga sama sepertimu, Kak. Sudahlah, jangan sungkan begitu. Anggap saja seperti rumah sendiri.)
Kak Ichi ling - lung sendiri. Dia kebingungan mau duduk di mana atau mau ngapain. Aku hanya menunjukkan padanya sebuah sofa yang bisa dia tempati.
Setelah kami duduk dengan rapi, Daddy menoleh ke arah ku dan berkata, "Mulai besok, kamu harus ambil cuti selama seminggu. Kamu tidak boleh melakukan apa pun. Karena Daddy sudah mengutus seseorang untuk menjemput dan membawa orangtua beserta adik - adik Grace yang ada di Siantar. Kita akan mengadakan pesta pernikahan kalian kurang dari seminggu. Untuk waktu pastinya, Daddy harus mendiskusikannya dengan calon mertuamu."
"Iya, Dad. Terima kasih atas restunya. Ar sangat senang karena kalian semua mendukung Ar untuk menikah dengan Grace," kataku sambil memeluk Daddy dan Mommy.
"Ichi, will you sleep later in the room next to Steve's room? You will stay here until Grace's wedding party is over." Kata Daddy pada Kak Ichi lalu pergi sambil menggandeng Mommy menuju ke kamar utama.
(Ichi, kamu nanti tidurnya di kamar sebelah kamar Steve saja ya? Kamu akan tinggal di sini sampai pesta pernikahan Grace selesai.)
"Yes, dad. Let's we rest first." Kak Ichi pun mengikuti Steve pergi dari ruangan itu.
(Iya, Dad. Mari kita beristirahat dulu.)
Aku pun kembali ke kamar di mana aku dan Grace akan tidur bersama. Aku naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhku tepat di sebelah Grace.
Dia masih saja tertidur dengan nyenyak. Sampai dia tidak mengetahui keberadaanku. Setelah begitu lama aku memandanginya, aku pun menyusulnya di alam mimpi.
"Ar, bangun. Mandi gih. Semua orang sudah menunggumu. Cepat! Sudah waktunya makan malam." Suaranya yang khas itu membangunkanku dari tidur lelapku.
Dia juga mengguncang tubuhku dengan kuat. Dia berusaha keras untuk membangunkanku. Ku tarik kembali selimutku hingga menutupi wajahku. Dia malah berhenti mengguncang tubuhku.
"Iya, sebentar lagi ya, sayang? Aku masih mengantuk." Aku pun mengeluh padanya.
"Gerak sekarang atau tidak sama sekali!" Ucapannya terdengar seperti ancaman bagiku.
Dengan terpaksa, aku bangkit dari tempat tidur. Aku takut dia marah padaku. Yah, kata - kata terkhirnya saja sudah membuatku merinding ketakutan.
"Tunggu aku 5 menit. Aku akan segera menyusul," ucapku dengan suara serak. Aku pun masuk ke dalam kamar mandi.
"Sudah aku siapkan pakaianmu di atas tempat tidur ya, Ar. Aku tunggu di bawah. Jangan membuat lama ya."
Grace sudah mulai memperhatikan keperluanku. Dia tidak lupa menyiapkan setelan pakai untuk aku kenakan. Senang? Itu sudah pasti.
Aku sangat senang mendapat perhatian darinya, meskipun hanya hal kecil saja yang aku dapatkan. Itu sudah lebih dari cukup bagiku.
Selesai mandi dan mengenakan pakaianku, aku langsung turun menuju ruang makan. Aku terkesan melihat banyaknya makanan yang di sajikan di atas meja makan.
"Siapa yang memasak dan menyiapkan begitu banyak jenis makanan yang terlihat lezat ini?" Tanyaku pada semua orang yang sudah duduk dengan rapi di sana. Adam dan Silvi juga ada di sana.
"....."
Semuanya diam tak bersuara. Tapi tatapan mereka tertuju pada Grace yang sedang menyeduhkan air mineral untuk semuanya.
"Grace?" Tanyaku dengan ragu.
Semua yang menatap Grace tadi, malah menoleh ke arahku. Mereka menatapku dengan tajam.
'Apa yang salah dengan perkataanku tadi?'
'Atau mereka yang sedang sensitif padaku saat ini?'