
"Can you leave us both here, Bro? Go away, I'll solve this problem with just the two of us."
(Bisakah kamu meninggalkan kami berdua disini, Bro? Pergilah, aku akan menyelesaikan masalah ini dengannya hanya berdua.)
Sesungguhnya, Koichi ragu dengan kata-kata yang dibisikkan oleh Grace padanya. Dia merasa sangat khawatir. Tetapi, setelah dia melihat mimik wajah adiknya dengan senyuman yang sulit diartikan itu, dia hanya bisa mengangguk mengiyakan kata-kata sang adik.
Akhirnya, Koichi pun pergi dan meninggalkan mereka berdua. Dia bingung bagaimana harus bertindak. Sebagai seorang Kakak, harusnya dia melindungi adiknya. Tapi masalahnya,dia sama sekali tidak pernah mengetahui apa yang terjadi pada adiknya itu.
GRACE POV
"Baiklah, Mrs.Melv. Apa yang membuat anda melakukan hal seperti itu padaku? Apa kesalahan yang telah kuperbuat padamu, Mrs.Melv.?" Ucapku dengan sewajar mungkin, karena aku sedang berhadapan dengan orangtua.
Sangat jelas, yang terlihat di matanya adalah kebencian. Padahal aku merasa tidak membuat kesalahan yang fatal. Oh iya, aku sudah tidak memberikan kabar selama 2 tahun lebih pada keluargaku dan mereka -Arion sekeluarga- dan aku memang sedang menunggu waktu yang tepat untuk pulang.
"Aku peringatkan padamu, ya. Jangan pernah lagi muncul dihadapanku dan keluargaku, terutama Arion! Aku muak melihat tingkahmu beberapa waktu dekat ini! Kamu itu sudah bertunangan, tapi kamu malah mencelakai tunanganmu sendiri sampai dia jatuh sakit di sana dan kamu malah asik berduaan dengan pria lain di sini..!!"
Kata-kata Mommy sangat kejam padaku hingga aku merasa seperti ada bambu runcing yang menusuk ke dada ku saat ini. Aku tidak menyangka Mommy akan berpikiran seperti itu padaku.
'Dari siapa Mommy mendengar semua itu? Aku tidak pernah berniat untuk mencelakai Arion, tapi aku yang sudah menyelamatkan dia dari maut. Kenapa Mommy jadi berubah begini padaku?'
Sebelum aku sempat menjawab, Mommy malah pergi begitu saja meninggalkanku. Aku hanya bisa melihat punggungnya yang menjauh dan menghilang di balik pintu mobil.
"Kenapa Mommy bisa ada di sini? Apa yang di lakukan oleh Mommy sampai dia ada di sini dan menguntitku dalam beberapa waktu dekat ini? Tidak mungkin kan, kalau Mommy hanya ingin menamparku, jauh-jauh dari Indonesia ke London?"
Aku masih kebingungan, tidak tau harus ngapain. Karena mood ku sudah jelek sedaritadi. Tatapan orang-orang ini juga membuatku risih. Setelahnya, aku hanya bisa pulang ke rumah dan meninggalkan semua hal buruk yang telah terjadi di tempat itu.
Sesampainya di rumah, aku mengambil es batu dan menampungnya di kantungan es. Aku mengompres pipiku yang sakit di dalam kamar. Akan sangat berbahaya jika Bang Ricky mengetahui semua ini.
Pipi ku sangat merah dan untungnya hanya sedikit membengkak. Jadi, akan cepat pulih dan besok aku bisa pergi bekerja. Akan lebih baik lagi, kalau Abang Ricky tidak mengetahui apa pun.
Setelah siap dengan semuanya, aku menyingkirkan barang bukti ke dalam kamar mandi. Besok pagi saja aku kembalikan kantungan ini ke asalnya. Dengan segera aku membasuh diri dan pergi tidur.
Keesokan harinya, aku mendapat kabar yang tidak ku duga. Tepat di hari sabtu pada minggu ini, perusahaan akan mengadakan hari besar ulang tahun perusahaan yang ke-10 di sebuah Club milik Yardies Corp.
'Kenapa harus di Club sih?' Aku hanya bisa membatin kesal.
Aku tidak suka pergi ke Club seperti itu. Tapi apa daya ku? Aku harus pergi ke sana. Aku tidak mau mengecewakan Bang Ricky dengan menolak ajakannya. Eh, ini undangan resmi dari perusahaan, anggap saja begitu.
Bang Ricky tidak mengetahui tentang gosip di kantor. Aku yakin jika aku berada di sana, aku akan sendirian dan aku akan melihat wajah orang-orang yang sinis padaku.
"Baiklah, Bang. Aku akan pergi ke sana bersama supir. Tidak baik jika kita pergi bersama-sama. Ingat, aku ini adalah karyawanmu dan kamu itu sudah berkeluarga." Kataku jutek padanya.
"Oke, aku akan mengatur semuanya untukmu. Kamu akan diantar oleh supir terbaikku dan aku akan menyediakan gaun untuk kamu pakai di acara itu. Ingat, kamu harus tampil cantik di malam perayaan itu. Aku tidak mau kamu mempermalukanku nantinya."
Dia mengucapkan itu sambil menaikkan sebelah alis matanya saat menoleh padaku. Kak Elvina malah tertawa melihat tingkah Bang Ricky yang menurutku sangat menyebalkan.
"Hahahaha.. Sudahlah, suamiku. Kamu jangan terlalu sering menggodanya. Grace tidak berdandan juga sudah cantik. Aku saja mengakuinya sebagai seorang perempuan."
"Kak El, memang yang terbaik." Ucapku sambil memgacungkan kedua jempolku padanya. Dia selalu berada di pihakku, kapan pun Bang Ricky mengolokku.
Aku senang berada di sini. Mereka telah merawatku dengan sangat baik. Mereka adalah keluargaku. Tapi, tetap saja, aku tidak bisa tinggal lebih lama bersama mereka. Karena aku juga harus kembali pada keluargaku dan mereka harus menjalani kehidupan berkeluarga dengan normal.
Kami pun berangkat ke kantor seperti biasa. Aku akan diantar oleh supir yang berbeda dengan Bang Ricky. Kami selalu seperti ini sejak aku menolak untuk berangkat bersamanya. Sejak aku merasa risih dengan semua gosip yang beredar di kantor.
Beberapa hari sudah berlalu dan aku mendapati sebuah kotak terletak di atas kasurku. Aku melihat isinya. Dan ya! Itu adalah sebuah gaun malam yang sangat ngepas di badan. Sepertinya ini pilihan terbaik dari Bang Ricky untukku.
Aku juga melihat secarik kertas yang terpampang di dalam kotak itu.
Besok kamu tidak perlu bekerja. Kamu hanya perlu memanjakan diri sejenak bersama El dan Ed. Ingat! Jam 8 malam, tidak boleh telat! Jangan mengecewakanku, Grace."
"Wahh, dia memang sungguh luar biasa! Memberikan kejutan seperti ini. Sungguh tidak ada kesan manisnya sedikitpun. Bahkan dia seperti membentakku di dalam tulisannya. Astaga!"
Aku merengut sambil menggelengkan kepalaku melihat apa yang ditulisnya. Benar-benar sifat seorang Mafia, tidak ada manis-manisnya dalam berkata-kata.
Sejak tinggal bersamanya, aku sudah tau semua latar belakang dia dari istrinya sendiri. Dia tidak pernah mau menceritakan masa kelamnya padaku, jadi Kak El lah yang membuatku mengetahui tentang dirinya yang sesungguhnya yang selama ini dia tutupi dariku.
**********
Keesokan harinya..
"Grace, cepat siap-siap. Kita akan berkeliling Mall hari ini bersama Ed. Ed ingin membeli pakaian dan mainan baru bersama Aunty nya. Tadi malam Ricky berkata padanya kalau kamu cuti hari ini dan bisa menemaninya bermain-main seharian."
Suara nyaring Kak Elvina sangat mengganggu waktu tidurku, "Sebentar lagi ya, Kak? Aku masih mengantuk. Sebentar saja."
Baru saja aku menutup wajahku dengan selimut, tiba-tiba aku mendengar teriakan anak kecil.
"AUNTY...!!!" Ed berteriak sekencang-kencang nya sambil menggoncangkan tubuhku yang masih berbalut selimut.
"Come on, Aunty.. Let's go!!"
"Okay, Ed. Wait a minute. Okay?"
"Okay Aunty."
Akhirnya Ed keluar dari kamarku. Dengan berat hati, aku beranjak dari tempat tidurku dan bangkit menuju kamar mandi. Ed sudah menunggu. Aku tidak tega melihat anak kecil yang imut seperti dia menunggu terlalu lama.
Setelah menghabiskan waktu 10 menit untuk membenahi penampilanku, aku segera turun menuju mobil yang sedang menungguku.
Sesampainya di Mall, kami berkeliling sampai aku merasa sangat lelah. Ed selalu menggenggam tanganku dan dia tega meninggalkan Kak El di belakang.
'Sebenarnya, siapa sih, Mommy anak ini?' Aku sampai berpikiran seperti itu.
Karena aku kelelahan, aku menyudahi semuanya. Aku memohon pada Ed agar kami duduk sejenak di salah satu stand es krim terdekat. Dia mengangguk kesenangan dan langsung menyambar antrian. Dia terlalu aktif menurutku.
Saat bersantai sembari makan es krim rasa Matcha kesukaanku, aku memandang ke arah luar stand. Tanpa sengaja, aku melihat sosok laki-laki yang sudah lama tidak kutemui.
'Apa aku tidak salah lihat?'
'Apa orang itu beneran dia?'
'Tidak, tidak, tidak. Mungkin aku salah lihat.'
'Mungkin itu hanya halusinasiku saja, karena aku sempat bertemu dengan Mommy.'