THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
62



“Dad, I miss you. Why have you never visited me? I was in trouble while Dad wasn't around. Especially after Mom died, I was more lonely there, Dad,“ kata Ichi sambil mengeratkan pelukannya.


(Papa, Aku merindukanmu. Kenapa kamu tidak pernah mengunjungiku? Aku menjadi kesulitan selama Papa tidak ada. Apalagi setelah Mama meninggal, Aku semakin kesepian di sana, Pa,)


“Forgive me, Ichi. Dad also missed you a lot. During this time Dad was very busy with the life of Dad in Indonesia, so Dad could not return to Japan again,” ucap Mr.Victor yang menyesali kelalaiannya sebagai seorang Ayah bagi Ichi.


(Maafkan Papa, Ichi. Papa juga sangat merindukanmu. Selama ini Papa sangat sibuk dengan kehidupan Papa di Indonesia, jadi Papa tidak bisa kembali ke Jepang lagi.)


Mr.Victor dan Ichi menangis melepas rindu satu sama lainnya. Tangisan mereka adalah satu - satunya cara untuk mengungkapkan bagaimana perasaan mereka pada saat ini.


Setelah puas melepas rindu selama hampir setengah jam, terdengar suara yang menyapa dari pintu utama, “Hello everybody. Dimana semuanya?” Ternyata dia adalah Arion diikuti oleh Steve dan Sam.


Grace datang mendekati Arion dan mengambil alih tas kerja Arion. Arion yang melihat kedatangan Grace langsung memanjangkan tangan kirinya ke arah pinggang Grace hingga calon istrinya kini tidak bisa menjauh darinya. Arion juga tidak lupa memberikan kecupan di puncak kepala Grace.


Bukannya marah atau cuek, Grace malah membalas pelukan Arion dengan merangkul pinggang Arion dengan tangan kanannya. Arion mendekati Mr.Victor dan Ichi untuk memberi salam pada mereka.


“Sore, Pa. Hai, Bro.” Setelah mengucapkan salam pada keduanya, Arion pergi ke kamar bersama Grace. Grace hanya melangkahkan kakinya mengikuti Arion. Arion merasa sangat bahagia karena tidak ada penolakan dari Grace.


“Aku mau mandi dulu ya, sayang. Kamu di sini, tunggu aku bersiap. Biar kita sama - sama turun ke bawah. Oke?” Bisik Arion pada Grace yang sedang sibuk memilihkan pakaian santai yang akan dipakai oleh Arion.


“Baiklah, nanti kamu pakai ini. Biar gak nganggur terus pakaiannya di dalam lemari. Aku akan menunggumu di balkon. Jangan lama,” ucap Grace tanpa menoleh sedikit pun pada Arion yang sedang berada di belakangnya.


"Oke, sayang." Arion pun berlalu memasuki kamar mandi dengan membawa pakaian ganti. Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian santai, Arion mendekati Grace yang sedang memandangi taman belakang rumah dari balkon kamar.


"Sayang, aku sudah siap nih," Arion memeluk pinggang Grace dari arah belakang dan menghirup aroma tubuh Grace dari leher jenjang milik Grace.


"Astaga, Ar..!! Jangan nempel terus dong. Kamu ini gak bisa kasih aku ketenangan sedikit pun kalau sudah berdekatan begini. Katanya sudah siap, kita langsung turun laa.." Ucap Grace dengan nada kesal. Dia tidak suka kalau Arion terus mencium bagian yang sensitif, itu mengganggu ketenangannya.


"Sebentar sayang, kan semalam kamu hukum aku tidur sendirian. Masa gak boleh begini sebentar saja? Kamu tega banget sama aku," Arion mulai membenamkan wajahnya di tengkuk leher Grace sebelah kanan.


"Ya sudah, terserah kamu saja dehh, Ar. Aku juga bukan orang yang setega itu sebenarnya. Maaf ya, kalau aku keterlaluan tadi malam," ucap Grace sambil menundukkan kepalanya.


"Kalau kamu merasa bersalah, mulai malam ini kamu pindah ke kamar ini ya? Kita tidur bareng lagi ya? Kamu jangan hindari aku seperti tadi malam lagi. Aku jadi gak bisa tidur semalaman," bujuk Arion. Dia masih betah berlama - lama membenamkan wajahnya hinga napasnya yang menderu dapat dirasakan oleh Grace.


"Kalau aku gak mau pindah ke sini?" Tanya Grace sambil memegang kedua tangan Arion yang sedang memeluk erat dirinya dari belakang.


"Aku saja yang pindah ke kamar yang kamu tempati. Gimana?" Arion sungguh luar biasa. Dia bisa membungkam Grace dengan kata - katanya yang singkat itu. Grace sampai tidak tau mau menjawab apa lagi.


"Haeh.. Terserah kamu dehh, Ar. Aku mau turun nih. Sudah cukup waktu untukmu bermanja - manja. Ayo, turun!" Grace melepaskan tangan yang melilit di perutnya dan menarik sebelah tangan Arion keluar dari kamar. Arion merasa sedikit kecewa karena dia tidak diberi waktu lebih banyak untuk berduaan oleh Grace.


**********


"Pa, dia ini siapa? Kenapa Papa kenal dengannya? Dia ini bukan orang Indonesia kan, Pa?" Tanya Sam pada Papanya yang terlihat sedang bahagia bertemu dengan lelaki asing yang jangkung.


"Dia ini adalah Kakak sulung kalian, Sam. Dia anak Papa juga, sama seperti kalian," tutur Mr. Victor pada Sam. Dia menarik tangan Sam agar mendekar padanya, "Kenalkan, namanya Koichi panggil saja dia Ichi. Dia tidak bisa berbahasa Indonesia karena dia berasal dari Jepang. Then, Ichi, he is your brother, Samuel just call him Sam."


Mr.Victor berhasil memperkenalkan Sam dengan Ichi, meskipun suasana masih canggung. Dia berusaha membuat Sam mengerti dengan keadaan Papanya saat ini yang sudah menikah hingga 3 kali. Sam hanya mengangguk dan merasa kalau dirinya tidak bisa memprotes apa pun yang telah terjadi. Yang lalu biarlah berlalu, saat ini pepatah seperti ini yang sesuai dengan pemikiran Sam.


"Ichi, How do you feel after meeting with them? You're all family, throw away the awkwardness that is in you." Steve datang mendekati Ichi dan duduk di sebelahnya sambil menepuk pundak Ichi.


(Bagaimana perasaanmu setelah bertemu dengan mereka? Kan kalian keluarga, buanglah rasa canggung yang ada padamu.)


"I feel happy to meet them. It's been a long time since I felt the warmth of being in a whole family," kata Ichi sambil menoleh ke arah Steve.


(Aku merasa senang bertemu dengan mereka. sudah lama sekali aku merasakan hangatnya berada dalam sebuah keluarga yang utuh.)


"Kak Steve mengenal Kak Ichi?" Tanya Sam dengan penasaran. Kini dia menatap Steve seperti seekor kambing yang akan di sembelih olehnya. Tatapan tajam dan menusuk itu sempat membuat bulu kuduk Steve berdiri. Tapi itu tidak bertahan lama. Suara tawa Steve pun meledakkan suasana ruangan itu.


"Hahaha.. Ekspresimu sangat lucu, Sam. Dia ini kan datang ke Indonesia bersama kami. Selama di perjalanan, Ichi duduk di sebelahku. Bahakan kamar kami juga bersebelahan. Kamu jangan mikir yang aneh - aneh dulu. Usia anak kecil sepertimu belum pantas berpikiran yang aneh terhadap seniornya," ucap Steve dengan mengatasnamakan senioritasnya pada Sam.


Dengan ekspresi aneh yang ditunjukkan Sam pada Steve, Mr.Victor dan Ichi pun ikut terkekeh bersama dengan Steve. Tiba - tiba ada suara nyaring yang menghampiri mereka bertiga.


"Papa..!! Papa sudah janji mau marah sama koko Sam. Dia jahat..!!" Teriak si kembar sambil berlari ke pelukan Papanya. Mereka membuat Sam menjadi tertawa geli melihat tingkah adiknya itu.


"Kamu mau ngadu ya? Gak mempan! Koko gak takut," ejek Sam pada kedua adiknya itu.


"Papa.. Lihat..!!" Si kembar pun memanyunkan bibirnya menunjuk ke arah Sam.


"Hahaha.. Kembar, kenalan dulu sama Koko mu yang ini. Namanya Koichi, panggilnya Koko Ichi saja. Salaman dulu." Mr.Victor memberikan celah pada si kembar untuk bersalaman dengan Ichi.


Ichi tersenyum dan berkata, "Hello, my name is Koichi. What's your name, my little sisters?"


"Pa? Koko Ichi kok bicara pakai bahasa Inggris?" Tanya Lini pada Papanya.


"Pa? Koko Ichi orang mana? Bukan orang Indonesia ya?" Lanjut Lina bertanya pada Papanya.


Sam tertawa terbahak - bahak melihat sikap adik kembarnya itu, "Bwahahahaha.. Kalian ini bloon ya? Jelas - jelas dia itu bukan orang Indonesia, malah nanya lagi. Hayooo, jangan bilang kalian belum bisa berbahasa Inggris. Dasar - dasar untuk perkenalan diri pun kalian tidak tau?" Sam mengejek adik kembarnya itu sambil melirik mereka yang sedang kesal padanya.


"Koko..!! Awas ya, kami adukan nanti sama Cici..!! Huh..!!" Ancam si kembar secara bersamaan.


Lalu mereka menyambut uluran tangan Ichi dan menyebutkan namanya masing - masing.


"Hello, My name is Natalini. Just call me Lini. Nice to meet you, Koko Ichi."


"Hello, My name is Natalina. Just call me Lina. Nice to meet you, Koko Ichi."


Mereka berdua tersenyum pada Ichi. Ichi senang karena keempat adiknya itu menyambut dirinya dengan baik. Dia pun menganggukkan kepalanya sambil mengusap kepala kedua adik kembarnya, "Nice to meet you too, little sisters."


"Cici..!! Lihatlah si Koko Sam. Dia gangguin kami lagi. Cici marahin Koko Sam laa.." Si kembar kehilangan fokusnya pada Ichi karena melihat Grace. Hampir saja Grace terjatuh karena di serbu oleh kedua adik kembarnya itu, untung saja ada Arion yang menahan tubuh Grace yang sempat timpang.


"Heii.. Kalian berdua. Jangan main serbu begitu. Cici kalian belum sempat bernapas, biarkan dia duduk dulu, Dd. Nanti Cici kalian jadi marah sama kita, gimana? Kalian mau tanggungjawab?" Ucap Arion ngeledek kedua adik kembar Grace.


"Kan ada Kak Arion. Kakak aja yang tanggungjawab." Kata si kembar dengan cuek.


Akhirnya Grace membuka suara sambil melipat kedua tangannya menatap Sam, "Sam..!! Kamu jangan jahil gitu sama si kembar. Mereka udah bilang semuanya sama Cici. Kalau kamu gangguin mereka lagi, Cici jewer kupingmu itu..!!"


Grace berpura - pura memarahi adik jahilnya itu. Sam hanya bisa pasrah untuk mengalah, karena kalau dia melawan atau berani membuat si kembar mengadu lagi, dia akan habis di jewer Cicinya yang galak itu.


"Ampun, Cii.. Gak lagi deh, Sam gak ganggu si kembar lagi." Sam memohon pada Grace sambil merapatkan kedua telapak tangannya menghadap ke arah Grace.


Grace hanya tersenyum melihat ekpresi puas dari wajah kedua adik kembarnya itu. Tiba - tiba pandangan mereka tertuju pada beberapa orang yang datang dari taman belakang. Mr. dan Mrs. Melv. di ikuti oleh Mrs.Victor. Mr. dan Mrs.Melv. langsung pergi ke arah dapur dan memantau pekerjaan pegawainya sebelum mereka kembali berkumpul di taman belakang lagi.


Mrs.Victor tidak menoleh sedikit pun pada Ichi. Tatapannya hanya ditujukannya pada Sam.


"Mama. Sam kangen Mama." Sam pun memeluk Mrs.Victor dengan erat. Kini tatapan Ichi tertuju pada mereka berdua. Dia sudah menduga - duga bahwasannya perempuan paruh baya yang memeluk Sam adalah istri ketiga Papanya.


"Ma, Mama sudah bertemu dengan Kak Ichi?" Sam bertanya pada Mamanya yang masih memeluknya.


"Jangan ungkit itu lagi, Sam. Mama tidak mau bertemu dengannya. Mending kamu temeni Mama ke taman belakang." Mrs.Victor pun menarik tangan Sam menjauh dari tempat itu.


Grace melihat tingkah sang Mama yang berbeda dan dia mencoba bertanya pada Papanya, "Pa, Mama kok aneh ya? Apa Mama tidak menyukai keberadaan Kak Ichi?"


"Iya, Nak. Mamamu tidak menyukai Ichi. Dia belum menerima masa lalu Papa," jawab Mr.Victor dengan lesu. Dia melihat ekspresi Ichi yang sedang menatapnya.


"Baiklah, Pa. Nanti Grace coba untuk membicarakannya dengan Mama." Ucap Grace dengan antusias.


Grace menghampiri Mamanya di Taman belakang dan duduk di salah satu kursi yang terdapat di sana. Grace memberi tanda pada Sam untuk segera meninggalkan mereka berdua. Di sisi lain, mereka tidak mengetahui bahwa ada sepasang mata yang terus memperhatikan gerak - gerik keduanya dari balik pohon yang rindang.


"Ma, Kenapa Mama malah menghindari Kak Ichi? Dia merindukan Papa dan ingin menjalin hubungan baik dengan kita, Ma. Apa salahnya Kak Ichi hingga dia tidak bisa Mama terima seperti Mama menerima kami?" Tanya Grace yang dipenuhi dengan rasa penasaran.


"Yang Mama tau itu, istri Papamu hanya Mamamu. Papamu tidak pernah mengaku kalau dia sudah dua kali menikah. Mengetahui hal itu dari orang lain, sudah membuat Mama membenci Papamu. Mama hanya memikirkan masa depan si kembar, makanya selama ini Mama mengabaikan semuanya demi adik kembarmu." Jelas Mr.Victor pada Grace.


"Ma, yang lalu biarlah berlalu. Mama jangan seperti ini. Kasihan Kak Ichi, dia sudah tidak punya siapa - siapa lagi, Ma. Mamanya pun sudah meninggal," Grace memohon pada Mamanya untuk bisa menerima Ichi.


Mrs.Victor hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan permintaan Grace. Grace hanya bisa menunduk lemah. Dia sudah membujuk sang Mama lebih dari lima kali. Dan hanya mendapat jawaban sebuah anggukan saja.


"Ma, Ar mau tanya sesuatu sama Mama la, boleh?" Arion muncul dari balik pohon rindang dan mulai mendekati kedua perempuan yang sedang berbincang itu. Sebenarnya dia sudah mendengarkan seluruh percakapan mereka. Dia datang untuk membantu Grace membujuk calon Mertuanya itu.


"Tanyakanlah, Ar." Jawab Mrs.Victor dengan singkat.


"Mama sayang sama Ar? Apakah Mama sudah menerima keberadaan Ar saat ini?" Pertanyaan Arion ini sedikit membingungkan dan hanya Grace yang mengetahuinya.


"Mama sayang sama kamu, Ar. Mama sudah lama menerima keberadaanmu di keluarga kami, sayang. Kamu ini kelihatannya agak aneh hari ini. Kenapa Ar?” Ucap Mrs.Victor dengan santai. Dian tidak mengetahui maksud dari pertanyaan Arion padanya.


"Mama serius dengan ucapan Mama?" Arion bertanya kembali hingga Mrs.Victor menjadi penasaran dengan sikap aneh Arion."


"Iya, Mama serius,Ar. Kenapa kamu menanyakan hal ini tiba - tiba? Ada apa sebenarnya, Ar?" Tanya Mrs.Victor dengan rasa ingin tau yang besar.


"Begini, Ma. Kali ini anggap saja Ar sudah lancang membicarakan hal ini pada Mama, tapi Ar juga tidak tega melihat Mama begini terus. Mama bilang kalau Mama menerima Ar yang tanpa hubungan darah dan hanya orang lain ini menjadi bagian dari keluarga Victor. Mama pun serius dengan perkataan Mama itu. Sebenarnya, Mama juga harus begitu pada Kak Ichi. Apalagi dia itu ada hubungan darah dengan mereka, karena dia itu anaknya Papa juga. Seharusnya Mama bisa lebih mudah menerima keberadaan Kak Ichi dibandingkan dengan aku yang pendatang di keluarga ini. Setidaknya, berilah dia satu kesempatan untuk masuk ke dalam keluarga Victor yang sesunggguhnya. Bagaimanapun juga, Kak Ichi itu tetap saudara Grace dan adik - adiknya. Mereka saja bisa menerima Kak Ichi dengan baik, kenapa Mama begitu bimbang menerima dia daripada aku?" Tutur Arion panjang lebar dengan harapan Mama mau mempertimbangkan ucapannya itu.


"....."


Mama masih diam tak bergeming selama hampir 20 menit. Sekarang sang Mama sudah beranjak dari kursi yang dia tempati dan berkata dengan tegas, "Kamu benar, Ar. Terimakasih telah memberikan sedikit arahan pada Mama. Mama memang sangat egois selama ini. Mama akan mencoba untuk membuka hati Mama untuk menerima kenyataan yang ada di depan mata."


Setelah mengatakan hal itu, Mrs.Victor berlari kecil menuju ke ruang tamu.


Apa yang akan terjadi selanjutnya?


Di tunggu saja next eps nya ya.. 😁😁


 


>> Bersambung <<


**********


Selesai membaca, jangan lupa klik tanda jempol sebagai apresiasi kalian terhadap Author ^.^


Terima kasih bagi yang sudah setia membaca dan menanti kelanjutan kisah Arion dan Grace..


Ingat untuk singgah ke karya terbaru Author yang berjudul “NARA” yaa..


Bagi yang mau chit - chat dengan Author, langsung Follow Author aja ya..


Klik profpict Author - pilih "Ikuti"..


Nanti Author Follback, biar bisa terbuka forum chattingannya..


Salam Kasih buat yang Terkasih 😊🙏