
ARION POV
Setelah perbincanganku dengan Steve beberapa hari lalu, aku tidak pernah lagi mengatakan apapun pada Grace, terkecuali masalah pekerjaan. Aku masih bingung harus bersikap bagaimana dengan Grace.
Meskipun aku diam dan dingin, dia tetap saja masuk ke ruanganku dan meletakkan bekal yang dimasaknya khusus untukku di atas meja kecil itu. Aku tidak bisa menolaknya lagi. Aku benar - benar sudah terpikat dengan seorang perempuan yang sudah bertunangan.
'Apa aku salah, jika aku menyukai perempuan yang akan menjadi milik orang lain?' Pikiranku selalu saja melayang seperti itu jika aku tidak fokus bekerja walau hanya sedetik.
Tidak terasa, besok sudah hari rabu saja. Aku tidak suka bertemu dengan Dokter itu, tapi aku masih harus menemuinya karena amnesiaku belum pulih sampai saat ini.
PRANG..!!!
'Apa itu?!!' Aku terkejut mendengar suara pecahan barang dan langsung beranjak dari kursi kebesaranku. Aku keluar dari ruanganku dan...
"Anda ini siapa? Kenapa Anda membuat keributan di Perusahaaan saya? Anda juga berusaha melukai Sekretaris saya!" Aku sangat marah melihat dia menjatuhkan vas bunga dan mengambil pecahan vas itu. Dia berniat menggoreskan pecahan vas itu pada Grace, untung saja aku bergerak cepat menghalanginya.
Darah terus mengalir di telapak tanganku yang menahan dan mengambil paksa pecahan vas itu dari tangan si pembuat onar ini. Tak berapa lama, para security datang dan memegang kedua lengan Ibu itu.
"Gara - gara dia, aku harus bercerai dengan suamiku! Dia itu perusak rumah tangga orang..! Ternyata di Perusahaan sebesar ini menampung orang - orang rendahan seperti dia!" Teriak Ibu itu sambil memelototi Grace yang sedang bersembunyi di belakangku.
"Kita akan tau apa yang terjadi sebenarnya di kantor polisi. Cepat! Bawa Ibu ini pergi dari sini!" Perintahku pada security bodoh itu. Mereka membiarkan si pembuat onar ini masuk ke dalam Perusahaan.
Setelah keadaan aman, aku menarik tangan Grace dengan tangan kiriku menuju ke ruanganku. Aku mendudukkannya di sofa. Dia hanya diam dengan tatapan kosongnya.
Aku pergi mengambil kotak P3K untuk mengobati luka di telapak tanganku yang penuh darah. Aku duduk disebelahnya dan mulai fokus untuk membersihkan luka dan membalut bekas sayatan pecahan vas tadi.
Begitu selesai dengan urusanku, aku mengembalikan kotak P3K ke tempatnya semula. Ruanganku begitu hening karena dia sama sekali tidak bersuara.
"Grace?!!" Aku kaget melihatnya pingsan di sofa itu. Apa yang membuatnya hingga pingsan begitu?
Dia benar - benar membuatku gusar karena begitu mengkhawatirkannya. Langsung saja aku menggendong tubuh Grace ala bridal style.
Aku tidak mempedulikan tatapan aneh dari karyawan yang melihat caraku menggendong Grace saat ini. Yang terpenting bagiku adalah untuk membawanya ke Rumah Sakit secepatnya. Kekhawatiranku ini memang berlebihan. Aku juga tidak tau mengapa aku bisa seperti ini, mungkin aku memiliki hubungan yang cukup dekat dengan perempuan ini
AUTHOR POV
Kebetulan hari ini Lisya sedang cuti bekerja, dia memutuskan untuk mengambil cuti untuk beristirahat dan menenangkan hati, tapi pada saat dirumah Lisya bukannya bisa untuk beristirahat sejenak, malahan pikirannya telah dikacaukan karena terus memikirkan Arion.
"Kenapa sih aku terus kepikiran dia? dia bahkan tidak mengingatku sama sekali. lupakan! lupakan!" Ucap Lisya sambil terus merasa gelisah.
"Kalau aku dirumah seperti ini terus menerus, pikiranku akan sangat kacau, ternyata cuti tidak membantuku untuk melupakan sosok Arion, kenapa sih aku harus bertemu lagi dengannya!" Gerutu Lisya terus menerus.
Lisya lalu menatap layar di ponselnya, Lisya mencari seseorang yang bisa dia hubungi untuk mengajaknya keluar, ya setidaknya bisa membuat hati dan pikirannya jauh lebih tenang lagi.
Lisya sudah bersiap dengan panggilannya, begitu panggilannya terhubung Lisya langsung mengajak sahabatnya untuk keluar.
"Cit, kamu dimana? bisa gak kita keluar hari ini? aku boring banget nih seharian dirumah saja." Bujuk Lisya.
"Hmm.. Kamu libur bekerja ya? Emangnya kita mau kemana?" Tanya Citra.
"kemana aja deh, yang penting kita pergi keluar, bosen nih aku dirumah terus menerus seperti ini." Ucap Lisya.
"oke! Oke, kita langsung ketemu ditempat saja ya." Ucap Citra dengan pasrah untuk mengikuti ajakan dari Lisya.
"Okeeeee.... Sampai ketemu disana ya. udah aku mau bersiap siap terlebih dahulu ya. Bye." Ucap Lisya dengan penuh semangat sambil mengakhiri panggilan teleponnya.
Ternyata Lisya sudah sampai duluan, tanpa menunggu lagi Lisya langsung masuk kedalam Cafe tempat mereka janjian, Lisya memutuskan untuk memesan makanan dan minuman duluan,
Kemudian Lisya menatap pintu masuk cafe itu terus menerus, tapi sosok yang ditunggu - tunggunya tak kunjung datang, Lisya kemudian menatap jam tangannya. "Ih! kesel banget deh, kebiasaan leletnya gak berubah berubah, tau gitu aku lamaan datangnya. masak aku sudah menunggu selama ini juga dia masih belum ada tanda tanda kehadirannya. awas aja tuh anak ya!' Gerutu Lisya yang sedari tadi.
Kali ini Lisya telah menghabiskan minumannya, Lisya sampai memutuskan untuk kembali memesan minumannya lagi, rasa hausnya semakin menjadi jadi karena sosok Citra tak kunjung datang, Lisya sudah menunggu sekitar 1 jam.
Akhirnya dari depan pintu Cafe, Citra masuk lalu berjalan ke arah Lisya yang sudah kesal sambil terus berkutat dengan ponselnya. Lisya sudah malas untuk menatap pintu lagi, lalu Citra sudah berada tepat dihadapannya sambil cengengesan gak jelas yang semakin membuat Lisya menjadi kesal dan jengkel.
"Sorry ya Sya, aku telat. hehehe." ucap Citra lalu cengengesan dihadapan Lisya yang sudah menatap tajam dirinya.
"Cit, Cit, kamu itu ya! aduh ampun deh kalo janjian sama kamu. sumpah ya kamu itu gak pernah berubah, selalu saja ngaret. Hufttt." Keluh Lisya kepada Citra.
"Ya maaf, namanya juga macet, lagian kan kamu tau kalau aku gak bisa on time. jangan marah marah terus Sya, ntar kamu cepat tua loh. mau?" Celutuk Citra sambil berusaha untuk menahan tawanya.
"udah deh Cit, bercandanya gak lucu tau. Sumpah ya aku beneran kesal banget nih sama kamu, Cit." Ucap Lisya sambil terus cemberut menatap sahabatnya itu.
"iya deh iya, aku kan udah minta maaf, lagian kamu ngajak ketemuannya mendadak banget tau gak. untung saja jadwalku sedang kosong." ucap Citra masih cengengesan.
"Ya udah deh, capek juga aku marah marah terus sama kamu! mendingan kita makan dulu." Ucap Lisya sambil menatap makanan yang sudah terhidang dari tadi, kemungkinan makanan yang sudah dipesan itu sudah dingin.
"Oke Sya, kamu baik banget sih? Tau aja aku udah sangat kelaparan seperti ini." Ucap Citra sambil mengelus perutnya.
Setelah selesai makan, baik Lisya maupun Citra merasa sangat kekenyangan hingga mereka tak sanggup untuk bergerak lagi.
"Baik, karena kamu sudah berbaik hati untuk mentraktir aku makan, pasti lagi ada maunya kan?" Tebak Citra sambil terus mengamati Lisya dengan lekat.
"Apaan sih, gak lah. ini kebetulan aja aku sedang suntuk dirumah, daripada aku makan sendirian makanya aku mengajak kamu, Cit. Ternyata kamu malah membuatku menunggu cukup lama. Huh!" Celetuk Lisya dengan kesal.
"Gak mungkin, karena Lisya yang aku kenal gak akan berbaik hati seperti ini, sampai rela rela mentraktir segala lagi. Udah cepatan cerita, aku itu udah terlalu kenal kamu Sya." Ucap Citra seakan bisa membaca pikiran Lisya saat ini.
"Hehehe, kamu memang benar sekali. Aku sedang kepikiran seseorang saja, pikiranku sedang kacau saat ini. Ya, makanya itu aku memutuskan untuk mengambil cuti." Ucap Lisya dengan jujur.
"Kamu sampai mengambil cuti? Waw, kacau karena seseorang? Hmm, biar aku tebak nih, pasti karena seorang pria kan?" Tebak Citra sambil terus mengawasi gerak - gerik Lisya yang menjadi salah tingkah.
Lisya langsung mengangguk seketika sambil menggaruk kepalanya yang sedang tidak gatal.
"SIAPA? KENAPA KAMU GAK PERNAH CERITA?" Teriak Citra dengan keras. Karena seisi Cafe melihat ke arahnya, Citra langsung memelankan suaranya sambil menutup mulutnya.
"Kamu kenal kok, bahkan cukup mengenalnya," ucap Lisya sambil tersenyum menerawang.
"Bentar bentar... Aku kenal? Bahkan sangat mengenalnya? Siapa sih, udah deh jangan main tebak tebakkan seperti ini." Omel Citra yang semakin penasaran.
"Tebak dong, kamu kan katanya sangat mengenalku." Ejek Lisya sambil mengangkat bahunya.
"Kasih petunjuk dong, udah gak udah berbelit - belit begini deh. Siapa dia?" Tanya Citra sambil mengamati Lisya dengan saksama.
"Oke! Oke! Kamu masih mengenal pria yang bernama Arion Gavin Melviano kan?" Ucap Lisya sambil tersenyum.
"Arion? Arion teman sekolah kita dulu itu ya? OMG! Kamu masih belum bisa move on dari pria yang bernama Arion itu?" Ucap Citra yang sangat syok ketika Lisya menyebutkan nama Arion.
Lisya langsung mengangguk cepat.
"Kamu gak ingat dulu sikapnya begitu tidak suka bila didekati oleh perempuan manapun? Termasuk kamu, Sya! Lantas, kamu masih suka dan tertarik dengan pria dingin seperti dia?!! Aku benar - benar tidak habis piker dengan jalan pikiranmu itu, Sya."
Flashback On
"Ampun kak, ampun. Tolong maafkan aku dan lepaskan aku. Aku mohon, Kak." Ucap Lisya sambil terus - menerus memohon kepada kakak seniornya.
"Apa?! Aku gak dengar kamu bilang apa?! Sasar gak becus! Ngerjain tugas aku aja bersalahan gini! Katanya kamu pintar!" Bentak slah seorang Kakak Senior diiringi suara tawa dari ketiga temannya.
"Waktunya terlalu mendesak, Kak. Maafin aku, Kak. Aku janji lain kali aku tidak akan pernah membuat kesalahan seperti ini lagi. Lepaskan aku ya, Kak?" Ucap Lisya memohon kebaikan para Seniornya.
"Gak! Enak aja! Aku bukan seorang yang terlalu mudah memaafkan kesalahan orang lain, apa lagi perempuan cupu kayak kamu gini!" Ucap Kakak Seniornya itu sambil memegang dagu Lisya dengan kasar.
"Aku janji kak, aku akan mengikuti semua keinginan Kakak. asalkan Kakak mau melepaskanku kali ini," bujuk Lisya dengan suara yang sudah bergetar.
"Hmm... Tapi maaf ya, aku bukan tipe perempuan pemaaf. Jadi, percuma saja kamu terus memohon - mohon seperti ini kepadaku! Aku tidak aka melepaskanmu. mengikuti? Hmm, iya kamu harus mengikuti keinginanku."
Lalu kakak kelasnya itu memanggil seorang pria untuk melecehkan Lisya. Lisya sudah sangat ketakutan, air matanya sudah mengalir denga jelas.
"JANGAN KAK....AKU MOHONN...JANGAN..." Teriak Lisya terus - menerus.
Lisya sudah menutup matanya sambil terus terisak. Seketika suasana berubah menjadi sangat hening. Lisya memberanikan diri untuk membuka matanya.
"Kamu sudah aman. Mendingan kamu cepat merapikan pakaianmu dan pergi ke kelas. Kalo begitu aku pergi dulu ya." Ucap Arion lalu berjalan pergi meninggalkan Lisya yang masih syok.
'Siapa dia? kenapa dia menyelamatkanku? Aku harus berterimakasih kepadanya secara langsung, Dia tidak hanya tampan, ternyata dia juga sangat baik. Kenapa detak jantungku menjadi tidak karuan begini?' Batin Lisya sambil terus memegangi dadanya.
Pada saat Lisya dibully habis habisan dan hampir saja mendapatkan sebuah pelecehan seksual, Ar datang seperti seorang pahlawan yang menolong dirinya, yang membebaskan dirinya dari bullyan Kakak kelas. Lisya dulunya anak yang sangat kuper (kurang pergaulan) berkaca mata tebal dan seorang perempuan yang kutu buku. Tapi sejak saat Arion menolong dirinya, Lisya mendadak merubah penampilannya, Lisya sudah terpikat oleh kebaikan dan ketampanan dari seorang Arion. Padahal sudah jelas Lisya mengetahui bahwa Arion tidak suka bila didekati oleh perempuan manapun, tapi Lisya dengan kekeuh untuk mengejar Arion demi cinta yang ada di dalam hatinya. Lebih tepatnya obsesinya untuk mendapatkan cinta dari Ar.
Flashback Off
"Terserah kamu, Sya. Aku hanya tidak ingin melihatmu terluka dan sakit hati kembali. Saranku, mendingan kamu lupain dia! Dia bahkan tidak pernah mencintaimu, Sya." Ucap Citra masih membujuk Lisya.
"Gak ada salahnya kan aku mencobanya sekali lagi? aku sangat menginginkannya dan mencintainya." Ucap Lisya dengan senyuman yang sangat sulit untuk diartikan.
"Itu bukan cinta, kamu hanya merasa sangat penasaran kepada pria itu! Itu hanya ambisi dan obsesi untuk memilikinya, kamu harus sadari itu, Sya. Masih banyak pria didunia ini, kenapa kamu hanya tertarik olehnya saja? Kamu itu cantik Sya, bahkan kamu adalah Dokter tercantik di Rumah Sakit tempatmu bekerja saat ini. Banyak sekali pria yang ingin menjadi pasanganmu. Please berhenti mengejar lelaki dengan peluangmu yang sangat minim itu. Nanti kamu yang tersakiti, Sya." Ucap Citra masih terus membujuk sahabatnya itu.
"Kamu gak mengerti tentang cinta, Cit. Aku sudah berusaha semampuku untuk melupakannya, tapi ketika kami dipertemukan lagi dengan cara yang tidak disengaja seperti ini. Perasaanku tidak bisa memungkirinya, kalau aku sangat mencintainya. Hanya Arion, bukan pria lain. Aku tidak membutuhkan pria lain, kecuali Arion, kamu mengerti?!!" Ucap Lisya dengan penuh penekanan.
"Terserah kalo gitu! Aku kan hanya memberikan saran saja." Ucap Citra sambil mengangkat bahunya.
"Kenapa sih kamu, Cit, gak mau mendukung aku? Kamu gak mau melihat sahabatmu ini bahagia ya? Huh," ucap Lisya dengan sangat kecewa.
"Bukan begitu, tapi kamu terlalu terobsesi dengan pria itu, aku tidak suka melihatnya. aku hanya tidak ingin kamu kecewa kembali. Cukup sekali saja aku melihat kamu seperti itu, tapi kalo kamu tetap berusaha keras untuk mengejarnya, aku bisa apa?" Ucap Citra lalu menyeruput minumannya.
"Ya sudah, aku balik duluan ya. Udah jam segini, kamu kan tau aku tidak bisa terlalu lama meninggalkan Mamaku. Oh iya, thanks atas traktirannya. Bye." Ucap Citra lalu pergi meninggalkan Lisya yang belum sempat berkata lagi.
"Kesal banget deh lihat sih Citra! Datang lama, ehhh, pas waktu pulang malah duluan. Main ninggalin aku sendirian seperti ini lagi." Umpat Lisya dengan kesal karena tidak mendapatkan dukungan dari sahabatnya.
Pada saat sedang menggerutu sendiri, tiba - tiba ada seorang pria yang menyamperi dirinya.
"Hei, kamu di sini sendirian? Kebetulan banget nih." Ucap Steve dengan ramah dan sangat antusias.
"Gak kok, tadi sama teman. Oh iya, Arion apa kabar?" Tanya Lisya yang tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mengetahui kabar Arion.
Seketika raut wajah Steve berubah. 'Kenapa terus nanyai Arion sih? Jelas - jelas aku yang sedang berada di hadapannya.' Batin Steve kesal.
"Arion baik kok, tapi dia masih belum bisa mengingat apa - apa. Kamu tidak bekerja ya hari ini?" Tanya Steve saat melihat penampilan Lisya yang sangat jauh berbeda dari biasanya.
"Kelihatan banget ya? Iya, aku sedang cuti hari ini. Besok jadwal pemeriksaan Arion kan? Aku tunggu ya." Ucap Lisya dengan sangat antusias.
"Hmm.. Iya, memang besok jadwalnya, Sya. Tapi, sepertinya Ar tidak akan datang. Karena ada urusan lain yang lebih penting. Oh ya, setelah ini kamu rencananya mau kemana? Mau bareng gak?" Ucap Steve masih berusaha untuk mendekatkan diri kepada Lisya.
Lisya berubah menjadi tidak bersemangat mendengar apa yang dikatakan Steve padanya, "Oh begitu ya? Aku masih ada urusan lain, maaf aku pergi duluan ya." Ucap Lisya lalu beranjak pergi meninggalkan Steve seorang diri.
"Tapi.... Sya..... Aku...." Ucap Steve dengan terbata - bata tanpa bisa melanjutkan kata katanya lagi, karena Lisya sudah menjauh darinya.
'Uhhh sial! Kenapa sih, aku jadi susah banget gini bicara di depan Lisya! Seakan - akan mulutku ini terkunci seketika.' Umpat Steve kesal dalam hati.
>>> Bersambung <<<
**********
WOW..!! Akhirnya The Perfect Girl alias TPG sudah up sampai eps ke 80 😍😍
Thor mau buat Sayembara nih..
Sanyembara pencari Anak Bangsa yang KREATIF.. 🤩🤩
Thor akan membagikan hadiah berupa PULSA bagi :
* 3 orang yang bisa mengedit FOTO (COVER) yang sesuai dengan cerita TPG
* 2 orang yang memberikan KOMENTAR TERBAIK di kolom komentar eps ini mengenai cerita TPG (Berupa apa yang membuat cerita TPG ini menarik dan apa yang diharapkan ke depannya dari cerita TPG ini)
Hasil sayembara ini akan diumumkan pada hari Selasa bertepatan dengan jadwal up TPG..
Bagi yang mau mengikuti sayembara ini, diharapkan follow akun Thor yaa..
Agar kita bisa Chit - Chat satu sama lain dan bagi yang ikut sayembara bisa langsung mengirimkan FOTO editannya pada Thor secara pribadi..
Klik foto profil Thor pada kolom komentar --> klik tulisan "Ikuti" berwarna merah ❣
Semoga sayembara sederhana ini bermanfaat bagi kita semua..
Salam Kasih dari Author 😊🙏
Love You All 😘😘