THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
84



ARION POV


Hari menjelang pagi, matahari mulai memancarkan sinarnya. Aku terbangun dari tidurku dan kuperhatikan sekelilingku. Ternyata aku berada dalam ruang rawat inap.


'Kenapa jadi aku yang dirawat di sini? Di mana Grace? Apa dia baik - baik saja?' Pikiranku langsung melayang pada orang yang tidak terlihat olehku saat ini.


Aku pun beranjak dari ranjangku sambil memegangi tiang infusku, aku berjalan menuju pintu keluar dan membuka ointu. Aku ingin mencari keberadaan Grace. Entah mengapa, aku ingin sekali bertemu dengannya sebelum aku meminta penjelasan dari Steve. Aku ingin mempertanyakan padanya, kenapa pada waktu itu dia tidak langsung memberitahukan padaku, kalau yang menjadi tunangannya Grace adalah aku?


Aku sangat kesal padanya. Dia membuatku seperti seorang yang bodoh yang tidak menuduh tunangannya sendiri berbohong padanya karena tidak memberitahukannya tentang pertunangannya, padahal itu tidak diperlukan karena tunangannya adalah aku.


Pantas saja, sejak awal melihatnya, aku sangat menginginkannya, padahal aku adalah orang yang sangat membenci perempuan. Aku tidak suka didekati bahkan disentuh oleh perempuan manapun. Tapi, aku merasa sangat nyaman jika Grace berada di dekatku.


"Ar..!!" Tiba - tiba saja Steve meneriaki namaku dan menepuk pundakku. Kemungkinan besar, dia terbangun karena mendengar suara deritan pintu.


"Kamu mau kemana?" Tanya Steve padaku.


"Aku ingin mencari Grace." Jawabku singkat. Aku tau kalau dia sudah mengetahui jika aku mencari keberadaan Grace.


"Kenapa kamu tidak membangunkanku saja? Memangnya kamu tau ruangannya yang mana satu?" Tanya Steve lagi padaku.


"Aku tau. Dia pasti berada di kamar VIP 6 kan?" Ucapku padanya. Dan tebakanku ternyata benar! Dia memasang wajah aneh padaku.


"Kamu tau darimana Ar? Apa kamu mendengarnya semalam? Kamu pura - pura pingsan ya?” Steve memang sangat terkejut mendengar ucapanku itu.


“Tidak. Aku hanya menjawabnya dengan menggunakan feeling. Hehehe..” Aku terkekeh melihat Steve menggarukkan kepalanya yang tidak gatal itu.


“Oh iya, aku boleh minta tolong padamu?” Tanyaku padanya yang sedang menatapku serius.


“Apa itu? Tumben kamu bertanya dulu sebelum kanu memberikan perintahmu.” Ucap Steve yang terasa menusuk di dadaku.


"Aku hanya ingin kamu memberikan berkas tentang semua tempat tinggal yang sudah aku miliki. Semuanya, tanpa terkecuali. Baik itu atas namaku atau lainnya. Aku ingin datanya diberikan padaku pada hari ini juga." Perintahku pada Steve yang sedang berpikir keras.


"Kamu sudah mengingat semuanya?" Tanya Steve padaku dengan ekspresi penasarannya.


"Belum, Tapi, aku sudah mulai melihat dengan jelas beberapa bayang - banyang dari potongan ingatanku. Aku juga ingin kamu menyelidiki semua yang terjadi di acara itu. Aku merasa bahwa semua ini settingan seseorang yang mau merusak hubunganku dengan Grace." Aku memberitahukannya untuk membantuku mencaritahu tentang hal yang aku khawatirkan.


"Baiklah, Ar. Aku akan mencaritahu secepatnya. Aku akan pergi sekarang, ada hal mendesak yang harus aku lakukan di Kantor. Sampai jumpa,Ar." Steve pun berjalan menjauh. Tapi, aku belum sempat menanyakan hal yang membuatku gelisah.


Akh! Sudahlah. Aku ingin bertemu dengan Grace dulu. Aku mendekati kamar VIP 6 dan memutar knop pintunya. Aku mengintip sedikit melihat siapa yang ada di dalam sana. Ternyata Mommy sedang duduk di dekat ranjang Grace.


Akhirnya, aku masuk ke dalam ruangan itu. Mommy menoleh padaku dan tersenyum, "Kamu sudah sadar sayang? Kenapa kamu kemari? Dimana Steve?"


"Iya Mom, aku ingin menemui Grace dan aku ingin meminta maaf padanya. Steve sudah kembali. Mom, istirahatlah, Mom. Aku yang akan menjaganya, Mom." Ucapku pada Mom yang terlihat kurang tidur."


"Baiklah, Ar. Mom akan pulang dan menyiapkan pakaian gantimu dan Grace. Mom akan kembali bersama Silvia dan Adam. Jaga dia baik - baik ya, Ar. Jangan buat dia stres lagi, Ar. Ingat! Kamu itu harus berlaku baik padanya sebelum Daddy mu membeawanya kembali ke London." Mrs.Melv. memperingati Ar yang selalu membuat onar ini.


"Mom, apa Grace adalah tunanganku? Aku ingin mengetahui kebenarannya, Mom. Kalau benar aku adalah tunangannya, kenapa aku tidak mengenakan cincin berupa apapun itu?" Tanyaku penasaran.


Mom pun berjalan mendekatiku dan mengeluarkan kalung yang bertengger di leherku tapi tertutup di dalam bajuku. Aku sendiri saja tidak sadar kalau mata kalung yang kupakai adalah cincin yang hampir serupa dengan cincin yang dikenakan oleh Grace.


"Semuanya sudah terjawab kan, sayang. Mom bukannya mau menutupinya padamu. Tapi, waktu itu bukanlah saat yang tepat untuk memberitahukannya padamu. Kamu harus bisa mengingatnya cepat atau lambat sebelum dia semakin jauh darimu. Mom tau kalau Anak Mom tetap akan memilih untuk bersama dengan Grace sekeras apapun penghalang cinta kalian. Buktinya, meskipun kamu lupa tentangnya, tapi kamu tetap ingin Grace selalu ada di sisimu. Mom hanya ingin kamu berbaikan secepatnya dengan dia. Kasihan dia, Ar. Kamu sudah melupakannya dan kamu malah membuatnya stres sampai seperti itu. Lain kali, kamu jangan bertindak kasar di awal. Sebaiknya kamu mendengarkan penjelasannya dulu, baru kamu mengambil keputusan. Itu lebih baik dari[ada seperti ini.Ya sudah, Mom pergi dulu. Bye sayang."  Mom memberikan banyak petuah padaku.


"Siap Ny.Besar! Mom sudah waktunya pulang, Mom harus beristirahat dengan baik di Mansion ya." Ucapku pada Mom yang tidak jadi - jadi perginya.


Mom pun hanya tersenyum melihat tingkahku dan pergi dari ruangan ini. Aku mengalihkan pandanganku pada perempuan yang sedang terbaling lemah di hadapanku kini. Ternyata dialah pujaan hatiku dulu, sekarang dan bahkan untuk ke depannya dia akan tetap ada dihatiku.


Aku memegang telapak tangannya dan mengelus rambutnya dengan lembut. Sesaat aku merasakan pergerakan di telapak tangannya.


"Grace? Kamu sudah sadar?" Tanyaku padanya yang masih berusaha untuk membuka matanya. Dia hanya diam untuk waktu yang lama.


Grace tidak mau melihatku! Aku tau itu karena semua itu adalah salahku. aku akan meminta maaf padanya.


"Grace? Aku minta maaf. Aku akui kalau aku salah. Aku menyesal dengan segala perbuatanku padamu selama ini terutama yang tadi malam. Maafin aku ya, Grace?" Aku mulai memohon pada Grace dan mengakui kesalahanku.


"Kamu sudah keterlaluan, Ar! Kamu tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan tadi malam?" Ucap Grace dengan penuh amarah padaku.


"Maaf beribu maaf. Aku salah. Tak mengapa jika kamu marah dan memakiku, asal kamu jangan diam seperti ini. Aku sangat menyesal Grace. Maafkan aku ya?" Aku sungguh tidak tau lagi bagaimana meredakan amarah seorang perempuan, tapi aku tetap berusaha dengan keras untuk membujuk Grace.


"Hmm.." Jawaban yang sangat singkat. Tapi, Grace sepertinya tidak tega melihatku yang memohon sampai seperti itu. Dia berusaha untuk menutupi rasa kasihannya dengan tidak menatap ke arahku selama aku memohon maaf padanya.


"Grace, maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengatakan hal itu padamu. Aku sungguh - sungguh menyesal, Grace. Maafkan aku ya? Apapun keinginanmu akan aku turuti. Apapun itu, asal kamu bersedia untuk memaafkanku." Aku memohon padanya sambil menggenggam tangannya.


"Apapun itu?" Tanyanya padaku sambil menoleh ke arahku.


'Apa semua perempuan seperti inikah? Jika di bilang akan mengabulkan apapun permintaannya, dia akan mudah hatinya itu.


"Iya, apapun itu. Aku akan mengabulkannya." Hanya itu yang bisa kukatakan padanya.


Grace mulai memikirkan sesuatu hal yang pastinya akan menyulitkanku. Dia tau kalau aku itu sudah melupakannya dan juga kenangan kami berdua, dia pasti memanfaatkan hal itu. Tapi, dia tidak tau bahwa aku sudah mulai menyadari hubungan kami yang sebenarnya. Padahal tingkah laku ku sudah sangat manja padanya.


"Baiklah, aku akan memaafkanmu, jika kamu bisa membawaku pulang ke Rumahku tanpa bertanya padaku dimana alamatnya." Grace hanya meminta hal itu sebagai syarat yang harus dilaksanakan.


Dia hanya mengangguk senang mendengar perkataanku. Aku pun beranjak dari tempat dudukku dan naik ke ranjang Grace. Aku berbaring di sebelah kirinya dan memeluknya. Aku membiarkan dia tidur dalam dekapanku. Tidak lupa, aku mencium aromanya dari rambutnya Grace.


"Ini masih jam 6 pagi, tidurlah lagi. Kamu butuh istirahat yang cukup. Biarkan aku memelukmu seperti ini, aku tidak bisa melupakan peristiwa semalam itu." Ucapku dengan lembut padanya.


"Baiklah, Ar.." Setelah dia mengatakan kedua kata itu, Grace pun tertidur lelap dalam pelukanku.


Aku yang dengan nyamannya menghirup aroma rambutnya malah tertidur pulas dengan posisi yang cukup romantis ini. Aroma inilah yang selalu aku cari jika malam tiba sejak kecelakaan itu.


AUTHOR POV


Mrs.Melv. beserta Silvia dan Adam bergerak dengan sangat hati - hati ketika melihat kebersamaan Arion dan Grace yang terlihat sangat serasi.


'Semoga kalian bisa bahagia sampai selamanya. Mom akan turut bahagia melihat kalian yang seperti ini.' Bisik Mrs.Melv dalam hatinya.


'Sungguh pasangan yang sangat serasi, aku jadi iri pada kalian." Gerutu Silvia dalam hati.


'Kalau kalian terus seperti ini, aku akan rela jika Grace bersamamu, Ar.' Adam pun turut membatin melihat kemesraan sepasang kekasih itu.


Setelah meletakkan barang milik Ar dan Grace, Mereka bertiga keluar dari ruangan tersebut.


Saat berada di luar ruangan, mereka bertemu dengan Dad dan Steve.


"Dad, kalian hanya diperbolehkan untuk mengintip sebentar dan kita harus segera pergi dari sini." Ucap Silvia sambil membukakan sedikit celah pintu itu agar Mr.Melv. dan Steve dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi di sana hingga mereka dilarang untuk masuk dan menemui pasien.


"Woahh.. Ternyata mereka sudah berbaikan? Ar memang tidak bisa berjauhan dengan Grace. Apapun yang terjadi, dia selalu mengingat dan menginginkan Grace untuk tetap berada di sisinya." Ucap Mr.Melv. sambil mengikuti kemana arah yang dituju oleh Istrinya.


Mereka ke kantin membeli makanan untuk makan siangnya. Semua orang melewati jam makan siangnya. Sehingga mereka harus mencari makanan terlebih dahulu


"Nah, selagi kita menunggu mereka bangun dari tidurnya, mari kita diskusikan tentang beberapa hal penting yang akan disampaikan." Mr.Melv. mulai menuju ke arah ruang VIP 7 diikuti oleh semua orang yang kira - kira sedang menebak apa yang akan menjadi pembahasan mereka.


"Baiklah Dad, kita sudah bisa mulai perbincangan ini." Ucap Adam mewakili semuanya.


"Baiklah, Steve. Silahkan sebutkan semua bukti yang sudah kamu dapatkan." Perintah Mr.Melv. pada Steve.


"Saat ini kita akan membahas tentang kronologi kecelakaan yang telah terjadi pada Ar dan Grace.Dalang dari semua ini adalah Pak Wicaksana. Dulu sekali, dia permnah menyuruh orang unruk menangkap Ar dari Apartemennya. Dan dia selamat akibat di tolong oleh Grace. Ar membalasnya dengan cara menyuruh orang untuk menguntitnya sampai beberapa waktu lamanya, hingga dia merasa frustasi karena tidak dapat mengetahui siapa yang menguntit dan meneror dia. Kabarnya, waktu itu dia hampir masuk Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Jadi, Ar menghentikan pergerakan orang - orang kita." Steve menjelaskan semuanya sedetail mungkin tentang awal mula permasalahan itu.


Setelah hampir 2 tahun tidak memperhatikan pergerakannya, ternyata dia sudah mengetahui kalau Ar sudah membuatnya hampir gila. Saat tersebar info mengenai pernikahan Arion dan Grace, dia mulai menyusun rencana. Dia membayar seseorang yang tengah mabuk untuk menabrak Grace. Dia ingin Ar menjadi gila karena kehilangan orang yang dicintainya. Tapi perkiraannya meleset, Ar yang terkena musibah itu. Kami baru mendapatkan beberapa bukti penting seperti rekaman CCTV dan isi dari kotak hitam dari mobil itu. Ternyata mereka melakukan transaksi secara langsung di dalam mobil itu." Jelas Steve untuk terakhir kalinya.


"Nah, sekarang kita bisa menyeret manusia tak berotak itu ke dalam penjara! Dia sudah 2 kali inign mencelakai anakku." Mr.Melv. menyatakannya dengan penuh amarah.


"Satu hal lagi yang ingin kusampaikan." Kata Steve dengan wajah yang serius.


"....."


Semua orang hanya menatap Steve dengan serius tanpa berkata apa - apa lagi. Mereka tidak mengira akan mendapatkan informasi tambahan.


"Ini mengenai Grace yang jatuh dari kolam renang. Sebenarnya, dalang utamanya adalah Agung, teman Modelling Ar. Selama ini, dia mendekati Ar hanya karena ia ingin meningkatkan popularitasnya saja. Dan dia bertemu dengan Grace yang sudah menolaknya sebanyak lebih dari 10 kali semasa SMP dulu. Dari rekaman CCTV yang aku dapatkan, dia hanya ingin membuat hubungan Ar renggang dengan Grace dengan cara mendekati Grace. Sebenarnya, dia pun belum mengetahui bahwa Ar adalah tunangan Grace yang selama ini dia cari. Melihat dia begitu berambisi dengan Grace, pacarnya malah sengaja menyenggol Grace hingga terjatuh ke kolam saat Grace pergi meninggalkan Arion yang sedang marah - marah padanya." Tutur Steve kepada semua yang menatapnya dengan ekspresi tidak percaya.


"Dia selama ini adalah teman Modelling nya Ar yang sangat dekat dengannya. Kita semua saja sudah sangat baik terhadapnya. Dia harus diberi pelajaran yang pantas, agar dia tidak berani lagi berbuat seperti itu." Ucap Adam dengan wajah penuh dengan emosi.


Saat mereka serius berbincang, mereka tidak menyadari bahwa Arion yang berdiri di balik pintu kamar VIP 7 itu mendengar keseluruhan percakapan mereka. Kepalanya mulai berdenyut lagi. Dia langsung balik ke ruangan Grace dan duduk di sofa. Dia berusaha untuk menenangkan pikirannya yang sudah melayang memunculkan bayangan ktika dia meminta bantuan pada seorang perempuan di sebuah taman. Begitu banyak orang - orang yang mengejarnya.


Rasa sakitnya hanya bertahan hingga 15 menit. Dia berpikiran untuk melakukan pemeriksaan nanti sore bersama Steve. Dia tidak perlu lagi untuk diinfus seperti ini, karena dia merasa dirinya sudah stabil.


 


 


 


>>> Bersambung <<<


Sampai sini dulu ya..


Kita akan lanjut di eps selanjutnya..


Apakah Ar bisa mengingat semuanya dalam waktu singkat?


Bagaimana reaksi sang Dokter jika dia tau bahwa Ar sudah bertunangan?


Apakah Steve bisa menyelesaikan semuanya?


Usai membaca, jangan lupa beri jempolnya dan sedikit komen2nya untuk mensupport Author, yaa..


Salam Kasih untuk Yg Terkasih


Love You All