
Pagi ini, aku sudah ada di dalam mobil bersama Steve. Perusahaan masih di handle oleh Silvia untuk sementara waktu. Beginilah kami, dia sering membantuku untuk menjaga perusahaan ketika aku sibuk dengan karirku di Dunia Entertain.
Kami akan syuting ke lokasi syuting yang berada di daerah Jakarta Selatan. Yah, ini memang kewajibanku untuk mengikuti jalur lokasi syuting.
"Lho? Kenapa ke sini? Apa tidak salah?" Aku bertanya pada Steve.
"Tidak ada yang salah dengan lokasi syutingnya. Hari ini produser ingin melihat adegan yang mengharuskan para aktor berpacu dengan kuda."
Aku mengangguk mengerti apa yang dimaksudkannya. Kami memasuki pintu utama arena Equestrian ini. Dengan segera ku langkahkan kakiku ke arah seorang produser dan menyapanya dengan sopan.
"Selamat pagi menjelang siang Pak Produser." Aku tersenyum ramah padanya.
"Wah, kamu sudah tiba? Sini saya perkenalkan padamu, artis yang akan menjadi pemeran utama wanita dalam film ini adalah dia, Zesil Camella. Baru-baru ini, dia itu sedang ténarnya, karena seorang model cantik yang terjun ke Dunia Acting."
Ampun dehh, besar kepalanya dibilang cantik begitu. Jijik banget lihatnya. Aku berusaha untuk mengalihkan pembicaraan kami.
"Maaf, Pak. Saya sudah mengenalnya, karena kami memang pernah jadi model sampul sebuah majalah. Saya permisi dulu ya, Pak. Saya mau bersiap-siap. Nanti kita ke adegan yang ini kan, Pak?"
“Ehh, iya. Saya ingin melihat kemampuan para pemeran lelakinya dalam menunggang kuda. Ayo! Semua pemeran pria nya sudah boleh bersiap-siap.” Kata Pak Produser dan perhatiannya teralihkan dalam sekejap.
Dengan cuek, aku tidak menyambut uluran tangan Zesil dan aku langsung pergi dari tempat itu bersama Steve untuk bersiap-siap. Aku tau bahwa Zesil merasa kesal dengan tindakanku tadi, tapi aku juga tau kalau tindakanku padanya tidak akan membuat dia menyerah begitu saja untuk mendekatiku.
Syuting kali ini akan banyak aksi bertarungnya dalam menunggang kuda, karena memang temanya tentang perebutan tahta kerajaan. Hari ini hanya beberapa adegan kecil sebagai perkenalan sesama pemeran pria dan untuk mengetahui kemampuan masing-masing pemeran.
Aku dan beberapa pemeran pria sudah bersiap dalam posisi kami di atas kuda, kami berjalan-jalan santai sebentar sembari berkenalan dengan kuda kami masing-masing.
Sebenarnya dulu aku sering ke tempat seperti ini disaat aku sedang jenuh dengan semua kegiatanku, jadi jangan heran jikalau aku memang ahli dalam menunggang kuda.
Aku sempat melihat kearah Zesil. Kulihat dia tersenyum licik dengan memandangi punggung seorang pekerja penjaga kuda. Aku mulai penasaran dan kulihat kearah mana pekerja itu membawa kuda putihnya. Aku melihat seseorang yang kurindukan. Ya, Dia Grace.
“Grace? Kenapa dia bisa sampai disini?” Ucapku secara tidak sadar. Hingga seseorang yang mendekatiku dan bertanya, “Hei, Arion. Kamu barusan berbicara dengan siapa?”
“Ahh, tidak. Aku hanya melihat seseorang yang sepertinya ku kenal.” Aku segera menjauh darinya dan melihat ke
arah Grace lagi. Dia sudah duduk di atas kuda putih yang tadi di bawa penjaga kuda itu. Perasaanku menyatakan bahwa akan ada sesuatu hal buruk yang terjadi pada Grace, tapi aku tidak tau apa itu.
Aku melihat Zesil masih memandang ke arah Grace sambil tersenyum aneh. Firasatku tidak pernah salah jika melihat tingkah Zesil yang seperti itu. Karena Zesil memang akan selalu berbuat sesuatu yang buruk pada setiap wanita yang mendekatiku.
Jika itu wanita lain, aku tidak peduli pada mereka. Malahan aku merasa berterimakasih pada Zesil karena menjauhkan mereka dariku. Tapi, jika itu terjadi pada Grace, aku sendiri yang akan bertindak melawannya.
Aku sangat yakin. Dia pasti merencanakan sesuatu pada Grace. Grace yang disana sedang bersama dengan kelima sahabatnya, aku akan selalu memperhatikan gerak-geriknya.
“Oke, saatnya ambil posisi.” Kata Produser. Kami segera mengambil posisi masing-masing sesuai arahan tadi. Aku segera berkumpul bersama dengan pemeran lainnya.
Hatiku masih saja was-was dan selalu memikirkan apa yang akan terjadi pada Grace. Tapi, apa daya, aku juga tidak boleh gagal fokus dalam melakukan adegan ini. Ini adalah syuting pertamaku setelah aku cuti begitu lama dari Dunia Entertain.
ZESIL POV
Aku tidak suka melihat Arion yang bisa tersenyum pada pemeran lainnya, tetapi malah jutek begitu padaku. Lihat saja nanti, aku akan membuatmu menyukaiku. Sudah banyak para aktor dan aktris yang sama-sama memerankan peran utama menjadi pasangan yang pada akhirnya menikah.
Aku sudah bersusah payah agar bisa mengambil peran pemeran utama wanita dalam syuting ini agar dapat lebih sering memerankan adegam mesra dengan pemeran utama prianya, Arion. Aku masih memiliki banyak esempatan.
Ku pandangi sekelilingku. Arena Equestrian ini sungguh sangat luas. Tiba-tiba aku melihat sekelompok pengganggu. ‘Kenapa mereka bisa ada disini? Apa dia mengekori Arion untuk sampai kesini? Aku harus membuatnya jera untuk mendekati Arionku.’
Aku melihat dia berbicara dengan seorang pekerja disana. Setelah dia menjauh dari pekerja itu, aku langsung menghampirinya. Ternyata dia yang akan membawakan seekor kuda putih untuk ditunggangi oleh Grace. Aku menyuruhnya untuk memperlihatkan kuda putih itu padaku lebih dulu. Dengan alasan, aku juga ingin memilih kuda.
Dia memang menuruti perkataanku. Aku berpura-pura mengelus kuda putih ini dan beralih kearah alas duduk
(saddle pad) dan besi pijakan (stirrup) nya. Kuselipkan sebuah jarum kebagian saddle bagian kirinya tanpa diketahui oleh pekerjanya.
Aku terkadang sedia jarum pentul sutra di dalam tas, karena selain itu berguna untuk pertahanan diri, kita juga tidak bisa memprediksikan apa yang akan terjadi.
Aku pernah kesulitan dengan ikatan sebuah kain yang di bentuk pita ke pinggang di salah satu acara pemotretan. Jadi, kugunakan jarum yang tipis ini sebagai penahan bentuk pita dipinggangku. Itu semua karena waktu yang sangat mendesak. Terkadang aku akan membawa satu atau dua buah jarum pentul tanpa kepala ini.
“Pak, saya tidak jadi menunggang kuda saat ini. Karena saya masih harus menunggu teman saya datang, nanti saya kabari bapak lagi ya.” Aku tersenyum puas dengan ide licikku yang satu ini.
Tidak mungkin ada curiga padaku. Karena aku melakukannya dengan hati-hati kali ini. Tidak seperti waktu itu, saat aku membayar mahal untuk preman-preman tidak berguna itu.
Aku memperhatikan setiap gerak-geriknya, memang kuda putih itu pilihan Grace. Aku sangat senang. Dia akan celaka kali ini. Aku pastikan itu.
GRACE POV
"Wahh, pagi ini kita mau kemana Ann?" Tanyaku pada Anne yang baru terbangun dari tidurnya.
"Kita akan pergi ke arena Equestrian, Grace. Gue udah mengabari para lelaki itu. Mereka sedang bersiap-siap. Nanti kita akan bertemu disana."
"Jadi, kita menunggang kuda? Aku sudah lama sekali tidak kesana. Mungkin sudah setahunan gitu." Mataku berbinar-binar mendengar perkataannya.
Aku suka menunggang kuda, apalagi berpacu kuda. Itu kegiatan yang sangat bagus menguji adrenalin dan menghilangkan penat.
"Tapi, kita harus sarapan dulu, Grace. Cepat bersiaplah, gue tunggu di ruang tamu. Gue mau mandi dulu diruangan sebelah."
Kami memang tinggal di sebuah Villa milik keluarga Ahza. Disini tempatnya memang asri. Sangat menyejukkan mata. Villa ini terdiri dari beberapa bangunan. Aku dan Ann tinggal di Villa bagian barat dan para lelaki tinggal di bagian selatan Villa. Kami memang berencana liburan berenam.
Meskipun teman-temanku sangat kaya, mereka tidak pernah membedakanku yang tergolong sederhana ini. Mereka
selalu membelaku jika ada orang yang mengucilkanku. Aku sayang sama mereka semua.
Sebenarnya, kami ini berbeda kejuruan. Hanya aku, Anne dan Wilsen yang satu jurusan. Tapi, hal itu tidak menjadi penghalang bagi kami, kami itu akrab banget. Setiap jam istirahat atau waktu liburan kami selalu menghabiskan waktu bersama.
Udah lah, aku mau mandi dulu dehh. Nanti Anne marah pula kalau aku terlalu lama menemuinya di ruang tamu. Untuk pergi ke arena Equetrian, lebih baik aku mengenakan celana jeans panjang saja. Karena itu akan lebih nyaman saat menunggang kuda nanti. Aku mengenakan jeans berwarna navy dan baju kemeja longgar berwarna putih dibalut jaket denim kesayanganku.
"Aku sudah siap Ann, kamu dimana?" Aku mulai menuruni tangga Villa ini.
Aku heran, 'Kok jadi rame disini? Bukannya disini hanya ada kami berdua ya?'
"Lho? Kalian sudah disini semua? Bukannya ketemuannya langsung disana ya?" Aku bertanya pada para lelaki yang tengah duduk di sofa di ruang tamu.
"Kita berangkat barenglah, Grace. Masa mau pisah-pisah gitu? Itu namanya bukan liburan bersama. Itu namanya liburan sendiri." Kata Nayaka meledekku.
"Iya, iya, bawel." Aku kesal melihat mereka menertawaiku.
"Hei, kalian jangan mem-bully Grace melulu. Udah gue peringatkan berapa kali? Hah? Gue hajar, bonyok klen semua." Ucap Anne yang tiba-tiba muncul dibelakangku.
Langsung saja kupeluk lengan tangannya, "Memang Ann yang terbaik dehh." Ku lirik mereka berempat, mereka tidak berani tertawa lagi.
"Yuk, pergi. Kita sarapan dulu. Gue tetap bawa mobil sendiri dan Grace bareng gue. Yang lain urusan klen lah." Anne menarik tanganku mengikutinya masuk ke mobilnya.
Selama liburan, aku selalu bersama dengan Anne. Dialah yang membantuku menghindari ejekan dari keempat lelaki jahil itu.
Akhirnya, kami sarapan di sebuah rumah makan padang. Kami harus mengisi tenaga kami terlebih dahulu. Baru bisa bersenang-senang sampai puas nantinya.
"Nanti kita harus lomba pacu kuda ya. Jangan ada yang lari sebelum bertanding." Kata Ahza mengingatkan kami.
PLETAK..!!
"Makan yang bener woi..!! Makan dulu baru ngomong. Loe ganggu gue makan ajah la." Anne menjitak kepala Ahza sampai Ahza merasa jidatnya kesakitan.
"Hahaha.. Emang enak dijitak?" Nayaka menertawainya dan diikuti yang lainnya.
Aku hanya terkekeh melihat tingkah mereka semua. Suasana hangat terasa disekeliling kami. Aku senang melihat kebahagiaan seperti ini.
Tapi, ini yang terakhir bagi kami. Setelah liburan ini, kami akan pergi kembali ke asal kami masing-masing. Kami hanya akan bertemu lagi disaat acara Wisuda nanti.
Pokoknya, liburan kali ini, harus bisa menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi kami semua. Itulah yang kami inginkan saat mengatur jadwal liburan kami ini.
**********
Arena Equetrian...
"Grace?" Aku menoleh melihat seseorang yang sudah lama tidak kutemui.
"Hmmm?" Aku mencoba mengingatnya, dia mendekatiku.
"Grace? Udah lupa?"
Aku berusaha mengingatnya, dan ya, aku ingat siapa dia. Dia itu asli Tionghoa dan memang sudah berkeluarga. Tapi, karena usianya yang masih muda, aku lebih suka memanggilnya Koko (Abang).
"Ahh, hai, Koko. Apa kabar? Aku kiran siapa. Sempat lupa sih. Hahaha.."
Dia kenalanku dari Pematangsiantar. Dulu dia sempat bekerja di daerah Siantar selama beberapa tahun dan setelahnya dia pindah ke Jakarta.
Aku sempat lost contact dengannya karena ponselku rusak dan sekarang sudah ganti dengan yang baru, meskipun nomorku masih tetap yang lama.
"Baik. Dd ngapain kesini? Bareng teman ya?" Si koko bertanya padaku sambil melirik ke arah belakangku.
"Oh iya, kenalkan, ini teman-temanku, ko. Ini Anne, Wilsen, Ahza, Iwan dan Nayaka. Dan teman-teman, ini kenalanku dulu saat di Siantar, dia sudah seperti kakak ku sendiri. Namanya Bram, tapi panggil koko saja, artinya kakak laki-laki."
"Halo semua, salam kenal. Panggilnya samain dengan Grace saja ya, panggil koko saja." Si koko tersenyum pada mereka.
"Salam kenal juga, koo." Kata mereka serempak.
"Oke, baiklah. Koko masih ada urusan di dalam sama rekan kerja, kalian masuklah. Selamat bersenang-senang." Si koko pergi begitu saja sambil melambaikan sebelah tangannya pada kami.
Kami pun memasuki pintu utama. Arena nya terlihat sangat luas. Memang nyata nya luas sih.
Wilsen memberikan kode kepada para pekerja disana untuk mengeluarkan beberapa kuda untuk kami tunggangi.
"Wah, kuda-kuda ini sangat gagah. Tapi, kenapa gak ada yang putih ya, Ann?" Aku bertanya pada Anne sambil melihat kuda yang dikeluarkan untuk kami pilih.
Anne memanggil seorang pekerja untuk menemuiku. Aku mengatakan jenis kuda yang aku inginkan padanya.
"Grace, coba loe naik kuda putih itu. Gue udah dapat kuda yang cocok sama gue. Lihatlah si hitam ini." Kata Anne padaku.
"Iya, jangan khawatir. Aku kan ahli dalam bidang ini." Ku elus-elus kuda putih ini. Dia menunjukkan tanda-tanda suka nya padaku. Aku senang jika kami memang cocok, apalagi ini kuda putih yang sangat gagah.
Aku mencoba menaikinya dan mengajaknya berjalan sedikit di arena kami saat ini. Hari ini banyak yang datang kesini. Ditambah lagi, ada acara syuting sepertinya di arena seberang sana.
Kami mulai fokus dengan peraturan yang disebutkan Wilsen dalam permainan kali ini, "Nah, kita akan berpacu kuda selama dua putaran penuh. Siapa yang menang bisa gratis makan selama seharian penuh dan yang kalah yang akan membiayai biaya pacuan kuda kita dan biaya makan gratis si pemenang. Dan 1 lagi, yang kalah harus mentraktir semua karaokean nanti malam. Gimana?"
"Cocok banget itu. Pas kali buat yang duidnya memang pas-pasan." Celetuk Ahza.
"Aku sama Iwan setuju-setuju aja." Sambung Nayaka.
"Apalagi aku dengan Ann, kami juga setuju." Aku menyahut mereka yang sedang menunggu jawaban dari kami.
"Oke, baiklah, mari kita bersiap ambil posisi masing-masing. Jangan sampai ada yang hilang konsentrasinya karena melihat adegan syuting yang ada disana ya." Ucap Wilsen sambil tersenyum jahil pada kami berdua -aku dan Anne-.
'Aku pasti bisa, setidaknya jangan kalah kalau aku tidak menang, hehehe..'
Seorang pekerja mulai memberikan aba-aba kepada kami. Kami mulai bersiap dan...
BENDERA DI ANGKAT KE ATAS...
Saatnya berpacu, mari kita berlari sekencang mungkin. Aku mulai menduduki posisi kedua diantara semua barisan dan Anne yang pertama. Memang jago dia kalau balapan.
Ehh, tapi kok aku mulai merasakan gerakan aneh pada kuda ini? Apa yang terjadi?
Akhirnya aku berada di posisi terakhir dan kudaku mulai gelisah tak menentu. Kuda ini mulai mengangkat kaki depannya ke atas yang membuatku hampir terjatuh.
"Ada kuda yang mengamuk..!!" Kudengar ada suara seorang bapak-bapak yang berteriak sambil menunjuk ke arahku.
Aku takut sekali. Bagaimana ini?
'Ya, Tuhan. Lindungilah aku, berikan pertolongan padaku. Aku takut Tuhan.'
Tanpa kusadari, air mataku menetes. Aku mulai merinding ketakutan di atas sini. Ku pegang erat tali kekang kudanya. Kuda ini semakin memberontak. Astaga..!!
Semua teman-temanku hanya bisa memperhatikanku dari kejauhan. Semua para pekerja pun sudah kebingungan.
Ada beberapa dari antara mereka memberikan pengarahan padaku untuk tetap tenang. Ada juga yang mengajariku tentang beberapa cara menangani kuda yang berontak ini.
Aku sudah menuruti dan melakukan cara-cara yang disebutkan itu. Tapi hasilnya NIHIL.
Aku sudah tidak kuat lagi. Aku merasa sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk menahan tubuhku untuk tetap seimbang diatas kuda ini.
Aku pasrah...
'Apa yang harus kuperbuat? Kuda ini semakin ganas dan aku sudah tidak sanggup lagi.'