
Beberapa minggu kemudian...
"Ar, hari ini kita hanya ada jadwal syuting dimalam hari jam 8. Kita akan ke kantor pagi ini dan siangnya beristirahat. Kita belum tau jam berapa pulangnya."
Steve sudah siap dengan semua perlengkapannya. Pagi ini dia datang khusus menjemputku dan memberitahukan padaku jadwalku seharian ini.
"Ya, aku mau bersiap dulu. Aku juga sudah lama tidak ke kantor. Mau melihat perkembangan perusahaan selama sebulan ini."
Aku langsung menuju ke kamar meninggalkan Steve di ruang tamu. Dia juga membawa bekal untuk sarapan kami pagi ini. Kami pun makan bersama sebelum berangkat ke kantor.
Sesampainya di kantor, Steve langsung menuju ke ruangannya. Sedangkan aku masuk ke ruanganku dan duduk di sofa. Aku hanya melihat Silvia dari jauh. Aku tau dia sudah mengetahui keberadaanku ini, tapi aku tetap diacuhkannya.
Tak berapa lama, Silvia berdiri dari tempat duduknya dan mengambil beberapa berkas -sebenarnya setumpuk- dan meletakkannya di atas meja dihadapanku.
"Nah, ini dokumen yang sangat memerlukan tanda tangan dan stempel darimu. Kamu bisa membacanya terlebih dahulu. Aku mau pergi meeting sebentar dengan staf bagian pemasaran."
Setelah meletakkan berkas-berkas itu, dia pergi begitu saja menuju ruang meeting. Dia cukup cepat beradaptasi dengan dokumen-dokumen membosankan ini.
Aku tetap harus berterimakasih padanya, karena dia sudah banyak membantuku selama ini. Lihatlah dokumen ini, tidak ada yang berubah. Semuanya penuh dengan ketikan dan tulisan.
Tokk.. Tokk.. Tokk..
"Masuk." Kataku tanpa menoleh.
"Pak, ada panggilan dari seseorang yang bernama Grace. Dia ingin berbicara dengan Ibu Silvia."
"Katakan saja padanya untuk menunggu. Nanti Silvia yang akan meneleponnya setelah selesai meeting. Masa kamu tidak melihatnya tadi ke ruang rapat? Seharusnya kamu lebih tau dibanding siapa pun."
"Maaf, Pak. Tadi saya menemui bagian personalia, saya kira Ibu Silvia ada di ruangan ini. Saya mohon undur diri, Pak. Permisi."
Hanya untuk berbicara dengan Silvia, dia sampai menelepon ke kantor? Tapi untuk berbicara denganku, dia sangat irit. Jangankan menelepon, melontarkan pertanyaan padaku saja tidak pernah.
Memang benar, sudah selama sebulan lebih aku tidak menanyakan kabarnya. Aku ingin berbicara padanya, tapi dia tampaknya biasa-biasa saja.
Sudahlah, aku harus menyelesaikan semua berkas dihadapanku sebelum Silvia datang. Dia pastinya akan mengomel panjang kali lebar jika aku masih menunda pekerjaanku ini.
Sejam penuh aku sendirian di ruangan ini. Mata ku sudah lelah membaca semuanya. Jari-jariku pun kebas karena banyak membalik-balikkan lembaran demi lembaran dan menandatangani yang sekira perlu untuk di beri tanda tangan.
Silvia masuk ke dalam ruangan dan langsung mencari ponselnya. Ku lihat dia sibuk mengetikkan sesuatu dan terdengarlah suara seseorang yang kurindukan.
"Selamat siang Ibu Silvia." Kata Grace sambil terkekeh.
"Selamat siang juga Ibu Grace. Hahaha.." Silvia menyapa nya sambil tertawa.
Dari percakapannya saja, sepertinya mereka sedang melakukan video call. Wah, jangan sampai Silvia mengatakan bahwa aku berada disini.
Saat Silvia melirik ke arahku, aku langsung memberi tanda silang padanya. Dia pun mengerti apa yang ku maksudkan.
"Grace, ada apa mencariku? Maaf ya, tadi aku sedang meeting."
Silvia sudah duduk sambil menatap ponselnya yang kini disandarkan di depan monitor komputernya. Beneran video call-an mereka.
"Kak, aku hanya mau memberitahukan padamu, bahwa acara Wisuda ku akan dilaksanakan tepat seminggu lagi. Pada hari sabtu depan. Nanti akan kuberitahukan waktu tepatnya kapan lewat pesan singkat."
"Wah, aku akan meluangkan waktuku menemuimu ya, Grace. Kita harus foto-foto."
"Oke Kak. Kak Sil sedang sibuk ya?"
"Udah gak sibuk lagi sih, memangnya ada hal mendesak yang ingin kamu beritahukan padaku?"
"Yah, bukan begitu juga Kak. Kan kita juga sudah lama tidak ketemu. Selagi Papa sama Mama ku keluar, aku masih mau berlama-lama video call-an sama Kak Silvi. Apa tidak boleh?"
"Yah, boleh-boleh saja. By the way, kamu masih komunikasian sama temanmu yang aneh-aneh itu?" Silvia mulai bertanya padanya.
"Masih la Kak, kan kami juga punya grup chat. Kalau tidak sempat teleponan atau video call, kami itu sering chattingan. Tapi kami sudah pada sibuk masing-masing Kak." Jawab Grace dengan nada lesu.
"Emang kamu juga lagi sibuk ya? Kalau mereka, aku sih maklum saja. Kalau kamu?" Silvia mulai bertanya tentang hal yang memang ingin aku ketahui sejak lama. Karena itu menjadi alasan baginya untuk tidak menjawab telepon dariku.
"Sibuk Kak. Aku kan antar jemput adik kembarku ke sekolah. Mengajari mereka karena minggu ini mereka lagi UN. Trus aku juga sudah bekerja."
"Kamu kerja apa? Kok aku baru tau ya?" Silvia mulai menatap lekat pada layar ponselnya.
"Mulai dari jam 5 sore, aku kerja di Rumah Makan tempat aku bekerja dulu, Kak. Aku tidak betah kalau di rumah seharian Kak."
Penjelasan Grace cukup masuk di akal. Ternyata aku sudah salah paham tentangnya. Aku kira dia menghindariku. Aku tidak pernah lagi menghubunginya sejak saat itu.
'Apa dia tidak pernah sedetikpun memikirkanku?'
"Kalau jam 5 masuk kerja, jam berapa pulangnya Grace?"
"Sekitar jam 10 malam baru mulai tidak terima tamu lagi, Kak. Belum lagi jadwal bersih-bersihnya, Kak. Terkadang jam 11 lewat baru bisa pulang."
Wah, terlalu larut pulang nya, apa dia tidak takut ya? Aku tau dia jago bela diri, tapi bagaimanapun juga dia itu perempuan.
"Kamu pulangnya bagaimana? Apa tidak takut pulang sendirian jam segitu?"
"Tidak, Kak. Aku kan naik sepeda motor."
Aku baru tau kalau Grace ternyata bisa naik sepeda motor juga? Memang dia itu sungguh berbeda dengan perempuan lainnya.
Biasanya, sangat jarang bagi perempuan yang mau mempelajari banyak hal seperti mengemudi dan bela diri. Kalau dia, sudah jago keduanya. Dia selalu saja mendapat nilai plus dihatiku.
"Kamu tidak takut di tilang, Grace? Aku baru ingat, kamu kan hanya bisa mengemudi, tapi belum pernah ngurus SIM nya."
Silvia mulai menanyakan hal yang memang wajib dimiliki setiap pengendara bermotor. Sedia SIM sebelum kena Tilang. -.-'
"Tenang saja, Kak. Aku sudah mengurus semuanya disini. Sekarang aku ini orang yang punya SIM dan bisa mengemudi. Tapi tidak memiliki kendaraan apa pun. Cuma bisa jadi supirnya. Hahahahaha.." Grace tertawa. Silvia pun ikut tertawa. Tanpa sadar, aku pun terkekeh mendengar lelucon darinya.
"Oh iya, Grace. Arion pernah meneleponmu tidak?" Silvia dengan sengaja menanyakan hal itu di depan ku. Lihat wajahnya yang melirik aneh padaku saat ini.
"Hmmm.. Tidak pernah lagi Kak. Sudah lama banget malah. Kenapa memang nya Kak?" Grace tampaknya penasaran dengan pertanyaan Silvia.
"Sejak kapan kalian sudah tidak komunikasian?" Sepertinya, Silvia mengorék informasi tentang hubungan kami pada Grace.
"Sudah sebulan gitulah pokoknya, Kak. Emangnya kenapa sih, Kak?"
"Sebenarnya tidak kenapa-kenapa Grace. Hanya saja dia semakin susah di hubungi, Grace. Aku sibuk tapi masih bisa di hubungi. Kalau dia? Sudah lama tidak nampak batang hidungnya."
"Ohh, chat saja dia, Kak. Dia itu kan memang orang yang super sibuk. Oh ya, dia kan selalu bareng kak Steve. Jadi Kak Silvi kan bisa menelepon Kak Steve sebagai gantinya."
"Iya juga ya. Ya udah dehh, Grace. Udah saatnya jam makan siang sebentar lagi. Aku mau hubungi sayang ku dulu ya, Grace."
"Yeee, mentang-mentang sayang, jadi sayang ku ya, Kak. Hehehe.. Ya sudah, selamat beraktivitas Kak Sil, bye."
"Bye Grace."
Begitu video call nya selesai, Silvia langsung menatap tajam ke arahku. Dia ini memang bikin risih saja. Pasti banyak hal yang mau di ucapnya padaku.
"Ar, kenapa bisa begitu lama kamu tidak menghubunginya sama sekali? Kamu sudah tidak menyukainya lagi? Kamu sudah menyerah?" Silvia mulai menginterogasiku.
"Bukan gitu, Sil. Setiap kali aku menelepon dia, dia tidak pernah memberi respon seperti tadi padaku. Dia begitu cuek terhadapku. Padahal kalau lelaki lain yang meneleponnya disaat sedang berteleponan denganku, aku yang malah diabaikannya. Terakhir kali, dia seperti menghindar dariku, dia bilang dia sibuk."
Aku menjelaskan padanya apa yang kurasakan saat ini, "Karena ku pikir dia merasa tidak nyaman dengan keberadaanku, aku memutuskan untuk tidak menghubunginya lagi, Sil. Mungkin itu yang terbaik bagi kami."
"Benar-benar nih orang ya, mudah putus asa ternyata. Ya sudah, itu terserah padamu. Padahal kalau dari percakapanku tadi, Grace memahami cukup banyak tentang dirimu. Dia itu bukan risih, tapi kamu nya saja yang tidak pandai memahami situasi saat sedang berbicara dengannya."
Perkataan Silvia ada benarnya juga. 'Tapi apa boleh buat? Aku sudah terlanjur mendiami Grace begitu lama. Apa tidak masalah kalau aku menghubunginya lagi? Bodohnya aku, yang mudah putus asa begini. Usahaku selama ini akan jadi sia-sia dong.' Gerutuku dalam hati.
Aku sudah berada di Apartemenku di antar oleh Steve. Dia juga balik ke tempatnya untuk beristirahat. Aku tidak mau terlalu menyiksanya dengan berbagai macam hal.
Saat ini, aku sudah berganti pakaian dan sedang tergeletak di kasur. Aku sangat merindukannya, tapi aku tidak berani menghubunginya. Aku masih saja berpikir dalam diam sambil memandangi foto dia satu-satunya yang ada diponselku.
Aku teringat bahwa aku sudah berjanji pada diriku sendiri, disaat pertemuan kami yang berikutnya, aku akan menyatakan perasaanku padanya. Sabtu depan adalah hari Wisudanya. Aku akan mempersiapkan segalanya untuk hari itu.
**********
Keesokan harinya...
"Ar, kamu sibuk?"
"Untuk apa pagi-pagi begini kamu meneleponku?"
"Nanti kamu dan Steve datang ke kantor ku ya, ada yang mau ku katakan padamu."
"Hal baik atau hal buruk?"
"Keduanya. Ini penting. Nanti kabari aku kalau kalian sudah berangkat kesini."
Adam mengakhiri teleponnya. Dia ini sungguh mengesalkan. Pagi-pagi begini meneleponku hanya untuk menyuruhku datang ke tempatnya?
Langsung saja aku memberi pesan singkat pada Steve.
To Steve :
Steve, apa hari ini ada waktu untuk bersantai?
Kita harus menemui Adam nanti.
From Steve :
Ada, malam nanti.
Sekitar pukul 8.
To Steve :
Oke.
Pagi ini aku buat sarapan sendiri.
Jadi tidak perlu membeli sarapan untukku.
From Steve :
Oke.
Ternyata Steve sudah bangun jam segini. Aku langsung bersiap untuk membasuh diri. Aku akan buat sarapan sendiri. Sudah sejak lama aku tidak masak sendiri.
Selesai sarapan, aku langsung pergi ke kantor di antar oleh supir. Pagi ini memang aku harus mengikuti meeting yang cukup penting di kantor. Siangnya, aku dan Steve akan ke lokasi syuting.
Silvia sudah siap dengan semua berkasnya. Dia akan ikut dalam rapat kali ini sebagai pembicara. Aku yang akan mengambil alih segala pertanyaan yang akan ditujukan oleh para investor baru.
Silvia memang bisa diandalkan dalam presentasi. Segala bahan presentasi yang sudah ditanganinya, pasti akan sukses besar. Sayangnya, tidak akan menjadi gugup jika banyak mendapat pertanyaan dari orang-orang.
Selesai Rapat...
"Sil, kamu memang bisa diandalkan. Presentasimu sangat menarik, para investor itu dengan begitu mudah tertarik akan penawaran kita. Kenapa bukan kamu saja menjadi asistenku dari dulu?"
Aku menggoda Silvia yang sedaritadi senyam-senyum karena presentasinya tadi sukses menarik minat para investor baru.
"Kamu itu ya, sudah cukup Steve yang tersiksa menjadi asistenmu. Aku tidak mau hidup terikat denganmu sepertinya." Silvia melirik ke arah Steve yang hanya tersenyum mendengar jawabannya.
"Baiklah, terserah padamu. Aku kan hanya memberikan pendapatku padamu. Sekarang kami akan ke lokasi syuting. Jaga baik-baik Perusahaan ini ya, Sil." Aku mengedipkan sebelah mataku padanya dan berlalu begitu saja tanpa mendengar ocehannya.
Aku dan Steve pergi ke lokasi syuting. Semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada kendala.
"Besok akan menjadi akhir dari semuanya, saya harap kalian mau bergabung dengan semua kru dan staf untuk makan malam bersama."
Pak Produser datang menghampiri kami setelah syuting selesai.
"Baiklah Pak, besok kami akan ikut dan seluruh biayanya ku tanggung. Sebagai ucapan terimakasih untuk semuanya." Mereka semua bersorak bahagia mendengar ucapanku.
"Kalau begitu, kami pamit duluan ya, Pak. Kami masih ada urusan penting," sambung Steve dengan gaya sopannya.
Kami pun pergi menemui Adam. Dia terus mendesakku lewat pesan singkat untuk menemuinya dengan segera. Entah ada masalah apalagi yang diperbuatnya.
**********
Aku dan Steve duduk menghadap Adam di meja kebesarannya. Dia menatapku dengan wajah serius.
"Ada apa ini, Dam? Kamu jangan menakutinya begitu." Steve mulai membuka suara setelah melihat ketegangan yang ada di wajah Adam dan aku.
Siapa yang tidak ikut tegang melihat seseorang menatapmu dengan tatapan tegang begitu? Aku tidak tau aku membuat kesalahan seperti apa yang bisa membuatnya begitu ingin menerkamku.
"Grace akan bertunangan."
"Apa?!!" Ucapku dan Steve serempak. Kami bukan kompak, tapi kami terkejut mendengar apa yang dikatakan Adam.
"Yah, Grace sudah dijodohkan oleh kedua orangtuanya. Dia akan segera bertunangan dengan lelaki berusia 20 tahun lebih tua darinya. Dia itu teman baik Mamanya."
"Berarti usianya sudah 40an tahun? Masa iya, si Grace setuju? Kamu tau darimana Dam?" Steve menanyakan hal yang ingin kutanyakan. Tapi aku masih tidak bisa berpikiran jernih saat ini.
"Tadi malam, Grace menelepon silvia. Percakapan mereka selalu di loudspeaker oleh istriku, jadi, aku bisa mendengar semuanya. Grace sudah dilarang untuk bekerja dan dia tidak punya pilihan lain lagi selain menerima perjodohan ini."
"Kenapa dia menerimanya? Pasti dia ada cerita pada Silvia kan?" Aku bertanya sambil menatap Adam dengan serius.
"Dia terpaksa. Sebenarnya, orangtuanya sudah tertipu oleh teman Papanya sendiri. Papanya sudah berencana membuka usaha dengan temannya ini dengan modal dari Papanya. Modal ini sebagian dari tabungan dan sebagian lagi adalah hutang Bank."
"Papanya sebenarnya pengusaha pabrik bihun di Siantar. Tapi untuk mengembangkan usahanya, dia berencana
membuka cabang di Medan dan mempercayakannya pada temannya yang juga ingin berinvestasi. Tapi, semua uang yang akan dijadikan modal untuk membangun gedung dan membeli mesin, dibawa kabur oleh temannya."
"Kabar ini di dengar langsung oleh teman baik Mamanya Grace saat Mama nya curhat dengan temannya itu. Temannya berjanji akan membantu membayarkan hutang Bank dan menangkap pelakunya dengan syarat Grace harus mau dinikahkan dengannya. Dia sudah lama menyukai Grace, tapi dia tidak bisa mendekatinya karena dia juga sadar akan usianya yang terpaut jauh dengan Grace."
Kami terdiam tidak memotong perjelasan dari Adam. Aku merasa seperti ada batu besar yang menghantamku saat ini. Aku tidak menyangka kalau pada akhirnya Grace akan menikah dengan orang lain.
"Ar, sebelum janur kuning melengkung. Kamu harus merebutnya dari lelaki itu." Kata Steve yang menyilangkan tangannya sambil menatap ke arah ku.
"Aku tidak tau apa yang harus diperbuat. Kan kalian tau kalau aku ini tidak pandai mendekati seorang perempuan. Apalagi sekarang Grace akan bertunangan."
"Jangan khawatir, Ar. Kami akan membantumu. Kamu hanya perlu menyatakan perasaanmu dan membuatnya memilihmu saja. Pertunangan itu akan dimenangkan oleh pihak yang lebih kuat. Jadi, kamu juga harus kuat untuk melawannya."
Mudah bagi Adam mengatakannya. Dia kan tidak seperti diriku dan tidak pernah mengalami apa yang ku alami saat ini.
"Iya, Ar. Adam benar. Kamu bisa melamarnya dan menjanjikan kepada orangtuanya bahwa hidup mereka sekeluarga akan terjamin dan mereka tidak perlu pusing memikirkan hutang atau apapun itu. Kamu kan pewaris perusahaan besar, kamu bisa melakukan apa yang bisa dilakukan si Om itu." Kata Steve yang masih memandangiku dengan tatapan aneh.
"Tapi, aku tidak mau dianggap sebagai orang yang menyombongkan diri dihadapan Grace."
Aku masih berpikir panjang. Tapi terhenti karena Adam menarikku dan Steve ke sofa di tengah ruangan. Dia mulai merencanakan sesuatu yang aku saja tidak bisa membayangkannya.
"Begini saja, kita akan ......"