THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
39



AUTHOR POV


“Anakku..!! Bagaimana kondisi nya Steve?” Mrs.Melv. berjalan menelusuri lorong Rumah Sakit menuju ke ruang UGD –Unit Gawat Darurat- menuju ke tempat di mana Steve berada.


“Mom, Arion masih di dalam dan sedang di operasi oleh dokter yang ahli. Tenang Mom, Arion pasti akan baik-baik saja.”


Steve berusaha menenangkan Mrs.Melv. yang sedaritadi histeris mendengar kabar tentang Arion. Mereka menerima telepon dari pihak Rumah Sakit tentang ada beberapa yang mengantarkan Arion ke sana tanpa


mau mengkonfirmasi apa pun.


Jadi, Mr. dan Mrs.Melv. langsung menghubungi Steve untuk mengatur semuanya sebelum mereka tiba di sana. Mereka segera berpamitan pada kedua orang tua Grace untuk pergi ke Bandara dan mengambil waktu penerbangan ke Jakarta yang paling cepat.


“Kenapa Arion harus sampai di operasi, Steve?” Mr.Melv. merasa cemas dengan kondisi anak nya saat ini dan ingin mengetahui apa yang sudah diketahui oleh Steve.


“Steve melihat ada luka di lengan kiri Arion, Dad. Sepertinya itu bekas tembakan dan peluru nya harus segera di keluarkan. Dan kemungkinan besar, Arion sudah terluka cukup parah melihat beberapa lebam di tubuh nya tadi.”


Mr.Melv. mendekati istri nya dan memeluk nya. Dia memberikan kekuatan pada istri nya. Mereka menunggu sampai pintu ruangan tersebut terbuka.


Tiba-tiba dua orang datang menghampiri semua yang duduk menunggu di depan ruang UGD.


“Dad, kapan Arion balik ke Jakarta? Bukan nya dia sedang ada di Rusia?” Adam duduk di sebelah Mr.Melv dan bertanya. Sedangkan Silvia duduk di sebelah Mrs.Melv. dan mengambil alih posisi Mr.Melv. yang memeluk istri nya.


“Mom, jangan sedih begini. Arion itu kan anak yang kuat, dia pasti baik-baik saja. Yakinlah Mom.” Silvia memeluk dan mengelus lengan sang Mommy yang terlihat lemas karena terisak-isak.


‘Mungkin selama perjalanan, Mommy sudah menangis.’ Pikir Silvia yang melihat keadaan si Mommy.


“Tadi pagi, Daddy mendapat kabar dari pihak Rumah Sakit, kalau ada orang yang mengantar Arion ke sini dan tidak mau mengisi formulir nya. Dia pergi begitu saja setelah mengantar Arion. Jadi, Daddy menyuruh Steve untuk mengatur semuanya. Sekarang kita tunggu Arion sadarkan diri terlebih dahulu, supaya kita bisa mengetahui semua nya dengan jelas.”


Ucapan Mr.Melv. berhenti sampai situ. Akhirnya, semua orang larut dalam pemikiran masing-masing. Selama berjam-jam, tidak ada satu pun dari mereka yang membuka suara. Pandangan semua orang hanya tertuju pada pintu UGD yang ada di hadapan mereka saat ini.


CEKLEEEK…


Saat melihat pintu ruang UGD terbuka, Mr. dan Mrs.Melv. langsung menoleh sambil berdiri dari posisi duduk nya dan menghampiri sosok Dokter yang keluar dari dalam ruang UGD sembari membuka masker di wajah nya.


“Dokter, bagaimana kondisi anak saya? Dia baik-baik saja kan, Dok? Tidak ada masalah serius terjadi pada anak saya kan, Dok?”


Mrs.Melv. tidak bisa menahan rasa ingin tau nya pada sang Dokter. Hingga akhirnya, tangan nya di tarik oleh suaminya dan membuatnya agak menjauh dari Dokter itu.


Kini hanya terdengar helaan napas sang Dokter.


“Bagaimana kondisi anak kami, Dok? Dia selamat kan, Dok?” Kali ini, Mr.Melv. yang mengajukan pertanyaan pada sang Dokter.


“Begini, ada yang harus saya sampaikan pada kalian semua mengenai kondisi pasien saat ini.”


“Bagaimana kondisi nya, Dok? Dia baik-baik saja kan, Dok?” Mrs.Melv. terlihat tidak sabar mendengar berita tentang kondisi anak sematawayang nya itu.


“Dengan sangat terpaksa, saya harus mengatakan ini pada kalian bahwa saudara Arion kritis.”


Semua yang mendengar hal tersebut merasa seperti tersambar petir di siang bolong. Mereka sampai tidak bisa berkata apa-apa. Adam memeluk tubuh Silvia yang bergetar dan Mr.Melv. juga memeluk istri nya yang mulai menangis.


“Operasi nya memang berjalan lancar, tapi dia masih mengalami keadaan kritis karena dia sudah terkena suntikan bius yang cukup besar dosis nya. Dan ingat, saat dia sadar nanti, dia belum boleh melakukan pergerakan yang ekstrim, karena operasi ini di lakukan untuk mengambil peluru yang ada di lengan kiri dan punggung nya. Pasien akan segera dipindahkan ke ruang VIP. Saya permisi dulu.”


Setelah mendapatkan penjelasan singkat dari sang Dokter, Mrs.Melv. sudah tidak menangis lagi. Dia tau bahwa Arion sudah sangat baik kondisi nya saat ini. Mereka pun mengikuti para suster yang membawa Arion keluar dari ruang UGD dan masuk ke dalam ruang VIP.


Terlihat sangat jelas, saat ini Arion bernapas di bantu alat pernapasan. Ini semua untuk menjaga saluran pernapasan Arion selama dia masih berada di bawah pengaruh obat bius.


‘**********


Keesokan harinya...


“Halo, bagaimana kabar Arion?” Seseorang dari seberang sana berbicara dengan nada khawatir.


“Dia masih dalam keadaan kritis. Kami juga masih menunggu. Kata Dokter, dia kritis karena terlalu banyak disuntikkan obat bius saat di Rusia. Kami masih mencari tau tentang lokasi dan kejadian yang sesungguhnya.”


Mr.Melv. memberikan sedikit penjelasan tentang Arion kepada Mr.Viktor. Keluarga Melv.


“Maafkan kami, semua ini terjadi karena kami. Semua ini adalah karma yang harus aku terima karena telah berbuat dosa yang tidak termaafkan di masa lalu ku.”


Terdengar suara serak di seberang telepon, membuat Mr.Melv. merasa tidak enak mendengarnya.


"Tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Ini hanya sebuah tragedi yang akan membuat kita semakin dekat. Kami akan mencari tau tentang kebenarannya. Jangan terus-menerus merasa bersalah begitu. Oh iya, paakah ada kabar dari Grace? Apakah ada pihak Rumah Sakit yang menghubungi kalian?"


"Tidak ada. Kami hanya mendengar kabar bahwa Cakra sudah meninggal dunia karena beberapa tembakan yang diarahkan ke bagian vital tubuh nya. Sehingga dia tidak mampu bertahan lebih lama dari yang diperkirakan. Besok siang kami akan melayat ke rumah nya. Bagaimana pun, dia sudah berkorban untuk menolong putri kami."


"Ya sudah, kalian jangan khawatir berlebihan. Kami akan berusaha semampu kami untuk mencaritahu keberadaan Grace dan apa yang telah terjadi di Rusia."


"Tidak masalah, Mr.Viktor. ini kan keluarga."


"Tapi kan, anak kita belum resmi menikah."


"Mereka kan sudah bertunangan. Bagaimana pun, kita ini keluarga. Jangan lagi pikirkan hal-hal yang membuat mu stres. Kami mau mengurus semua keperluan Arion dulu ya, Mr.Viktor. Selamat siang."


"Semoga Arion cepat sembuh ya, Mr.Melv. Selamat siang."


Panggilan tersebut pun berakhir begitu saja. Mr. dan Mrs.Melv. pulang ke Mansion utama dan membersihkan diri terlebih dahulu. Mrs.Melv. memasukkan beberapa pakaian ganti untuk Arion selama dia di rawat. Dia tidak mau putra nya memakai pakaian dari Rumah Sakit. Dia ingin putra nya tetap bersih dan rapi selama di rawat.


Begitu selesai mengumpulkan semua perkakas sang anak, Mr. dan Mrs.Melv. langsung berangkat ke Rumah Sakit. Bagaimana pun, sebagai orangtua, mereka tidak ingin berlama-lama meninggalkan anak nya yang sedang berbaring di Rumah Sakit.


"Mom, Daddy akan balik ke London tiga hari lagi. Bagaimana pun, Dad tidak boleh bolos kerja lagi. Daddy masih harus bertanggung jawab atas ketiga perusahaan yang sudah Daddy dirikan dari nol. Mommy gak apa-apa kalau Daddy tinggalkan bukan?"


Mr.Melv. telah memikirkan dengan baik keputusannya ini. Dia adalah pendiri Melv.Corp. Jadi, selama sang penerus masih tergeletak sakit, dia harus bisa mengesampingkan hal itu untuk bisa menjadi pemimpin yang baik demi perusahaan.


"Baiklah, Dad. Daddy boleh pergi, tetapi Mom akan tetap di sini. Mom ingin selalu ada untuk Arion. Mommy mau di saat Arion sadar, dia melihat keberadaan Mom di sisi nya. Mom takut Ar akan berbuat nekat jika dia mengetahui kalau Grace tidak ada kabar hingga saat ini."


"Ya sudah, Mom istirahatlah. Biar Daddy yang jaga Ar sementara."


"Dad, Mom tidak akan bisa beristirahat dengan tenang jika Arion belum menunjukkan tanda-tanda kalau dia baik-baik saja."


"Jangan khawatir, Mom. Putra kita itu kuat. Kalau Mom ingin menjaga nya, Mom juga harus sehat. Kalau Mom sakit, siapa yang akan merawat Ar..?"


Mr.Melv. memberikan sedikit nasihat untuk sang istri. Dia tau kalau istri nya itu khawatir akan kondisi anak mereka. Tapi, dia tidak bisa membiarkan istri nya lupa untuk merawat diri nya sendiri.


Mrs.Melv. terdiam sesaat memikirkan perkataan sang suami. Akhirnya dia tersenyum dan mengangguk pada suaminya. Dia tidak akan membuat diri nya sakit, karena dia akan menjadi sangat tidak berguna sebagai seorang ibu sebab tidak bisa merawat anak nya yang sedang sakit dengan baik.


ADAM POV


"Bagaimana Steve? Apa kamu sudah mendapatkan informasi tentang apa yang terjadi di Rusia?" Aku menelepon Stev setelah setengah sebulan tidak mendapat kabar mengenai peristiwa yang membuat adik ipar nya seperti sekarang.


"Aku sudah tau bagaimana situasi nya. Tapi, Aku masih mau memastikan siapa yang menyerang terakhir kali dan membawa Arion, Grace, bahkan Cakra keluar dari tempat yang sudah hancur lebur itu."


"Oke, baiklah. Usahakan secepatnya kabari aku ya, Steve. Dan satu lagi, waktu itu, aku ada meminta bantuan Ricky. Caritahu tentang dia dan segala aktivitas dia pada waktu itu."


"Iya juga ya, Dam. Kenapa aku tidak berpikiran sampai sana ya? Baiklah, aku akan mencaritahu semuanya tanpa celah. Tunggu saja kabar baik dari ku."


Steve pun mengakhiri panggilan itu. Aku sangat penasaran dengan apa yang terjadi. Lokasi penyekapan itu kabarnya sudah hancur lebur menyatu dengan tanah. Aku yakin sekali kalau itu adalah ulah Ricky. Karena hanya dia yang berani melakukan hal gila semacam itu.


Aku pun sebenarnya sudah tau bahwa Grace di bawa oleh nya. Itu pasti. Karena dia telah mengatakannya pada ku. Dan akhirnya dia dan Grace benar-benar menghilang. Tapi, hal semacam ini, aku tidak berani mengatakannya pada siapa pun.


Aku sudah menelepon dan mengirikan beberapa pesan singkat pada nya. Telepon nya mati toal dan tidak bisa di hubungi sama sekali. Aku sampai frustasi mencari cara untuk menelepon dia. Dia adalah seseorang yang tidak bisa di jangkau oleh orang yang tidak di kehendakinya.


Drrrrttt.. Drrrrttt..


"Ya, halo? Ada apa Mom?" Aku menjawab panggilan dari Momnmy.


Sejak Daddy pergi ke London, Mom lebih sering menelepon ku untuk memberitahu kabar tentang perkembangan Arion. Mom juga hanya bisa mengirimkan chat pada Daddy dan Silvia. Mom tau bahwa Daddy akan sibuk sekali mengurus perusahaan yang ada di London dan Amerika. Sedangkan Silvia sibuk mengurus perusahaan yang ada di sini. Daddy menaruh harapan yang besar pada Silvia untuk mengontrol perusahaan yang biasa di urus oleh Arion.


Tidak lupa, aku juga selalu memberitahukan kabar pada Steve dan kedua orangtua Grace. Aku tidak mau mereka terlalu khawatir di sana. Aku selalu bisa menjadi penenang bagi mereka, karena aku sudah menganggap Grace seperti adik ku sendiri. Tentu saja kedua orangtua nya sudah ku anggap speerti orangtua ku sendiri.


"Arion sudah sadar, nak. Cepat kemari. Dia ingin bertemu dengan mu, Dam."


"Benar kah, Mom? Adam akan segera ke sana. Bye Mom."


Aku senang mendengar kabar ini. Setelah koma selama dua minggu, akhirnya dia sadarkan diri. Aku pun bergegas ke Rumah Sakit. Tidak lupa, aku juga mengirimkan pesan singkat pada Steve.


Begitu sampai di ruang rawat Arion, aku juga melihat Steve di sana. Dia sedang berbincang dengan Arion. Sebelum mendekati Arion, terlebih dahulu aku menemui Mommy.


"Mom, sekarang Mom sudah bisa santai. Pulang lah, Mom. Nanti Silvia akan menemani Mom tidur di Mansion. Aku dan Steve yang akan menemani Arion di sini untuk malam ini."


Mrs.Melv. melihat sekilas ke arah Arion. Arion hanya tersenyum melihat Mommy dan mengangguk lemah.


"Baiklah, Dam. Mom akan pulang dan beristirahat di Mansion. Kalau ada apa-apa, kalian harus langsung menghubungi Mommy ya."


"Baiklah, Mom. Kami janji. Mommy harus kembali besok pagi bersama dengan bekal yang enak ya." Aku pun mengedipkan sebelah mata ku pada Mom.


Mommy hanya tersenyum geli melihat tingkah ku tadi, "Baiklah, besok pagi-pagi Mom akan bawa bekal enak untuk kalian yang sudah menggantikan Mom menjaga Arion. Kamu juga akan dapat bagian ya, Steve. Mom pergi dulu. Cepat sembuh ya, anak Mommy."


Mommy mengecup kening Arion sebentar sebelum meninggalkan ruangan ini. Keadaan Arion sudah stabil dan tadi Dokter beserta beberapa perawat sudah membuka selang alat pernapasan yang sebelumnya terpasang dengan rapi. Arion sudah bisa berbicara pada kami, tetapi masih belum bisa bergerak banyak, karena jahitan pada luka nya masih belum mengering sempurna.