THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
79



Keesokan harinya..


"Grace, kamu ke ruanganku sebentar ya. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan," bisik Steve pada Grace saat mereka bertemu di lift.


"Baiklah, tunggu aku ngabsen dan izin dulu sama Ibu Kepala." Ucap Grace yang balik berbisik pada Steve.


Begitu lift terbuka, Grace langsung buru - buru keluar dari lift.


BRUKK..!!


Grace terjatuh ke lantai dan barang yang dibawanya berserakan. Dia meminta maaf tanpa menoleh pada orang yang ditabraknya sambil mengutip dan membereskan barang bawaannya.


"Maaf, maafkan saya. Saya salah, saya tidak fokus tadi. Maafkan saya."


"Grace?"


Grace pun berhenti meminta maaf dan menoleh ke arah sumber suara. Laki - laki yang ada di hadapannya kini tersenyum manis padanya.


"Ternyata memang kamu. Lama tidak berjumpa Grace."


Senyuman lelaki itu membuat Grace bergidik ngeri. Dia langsung fokus membereskan barang dan pergi meninggalkan lelakiĀ  yang masih saja memandangi Grace yang sudah menjauh darinya.


**********


Di ruang kerja Steve..


"Ada apa sebenarnya Steve?" Tanya Grace dengan penuh penekanan.


"Kamu tenang dulu, Grace. Aku punya kabar buruk tentang Ar." Kata Steve dengan wajah yang serius.


"Ada apa dengan dia? Apa lukanya semakin parah?" Grace bertanya secara spontan setelah mendengar kata kabar buruk dari mulut Steve.


"Bukan, bukan itu." Kata Steve setengah berbisik.


"Jadi apa kabar buruknya?! Jangan bercanda gitu dong, Kak Steve." Grace mulai meninggikan suaranya.


"Ar mengira kamu menipu dia dan keluarganya. Ar tau kalau kamu sudah bertunangan dari Dokter Lisya dari cincin yang sedang kamu kenakan. Dia mengira kepergianmu dari Mansion Utama seolah kamu tinggal bersama dengan tunanganmu, tapi kamu enggan berkata jujur pada mereka." Steve mulai menjelaskan situasi yang dia tangkap dari pembicaraan singkatnya dengan Ar tadi malam.


Grace malah terkekeh mendengar penjelasan dari Steve, "Kak, biarin saja dia mau berpikiran bagaimana. Aku tidak mau membuat semuanya semakin rumit dengan menjelaskan sesuatu hal pada orang yang sudah jelas - jelas tidak mengingatnya sama sekali."


"Kita harus beritahu dia yang sebenarnya, Grace. Kalau tidak, kamu akan dalam bahaya. Ar tidak akan berbaik hati pada orang yang sudah berbohong padanya." Steve mengeluarkan semua kekhawatirannya pada Grace.


"Jangan terlalu khawatir, Kak. Aku akan berhati - hati menghadapinya. Kak Steve tenang saja ya." Ucap Grace dengan santainya.


"Tapi, Grace..." Perkataan Steve terpotong karena Grace mengalihakn pembicaraan mereka.


"Oh iya, Kak. Grace balik dulu ya, banyak sekali pekerjaan yang menumpuk mulai semalam sore. Ada beberapa laporan penting yang harus diselesaikan pagi ini. Bye Kak." Grace pun beranjak keluar pintu ruang kerja Steve.


'Tadi, aku bertemu dengan dia, sekarang aku mendapat kabar buruk seperti itu. Bagaimana dengan nasibku ke depannya? Haduuuh..' Grace hanya bisa mengeluh dalam hatinya. Dia harus lebih waspada dengan lelaki yang tadi dijumpainya.


"Grace, antarkan ini ke dalam. Tunggu sampai di tandatangani Pak Arion. Setelah itu, antarkan dokumen itu ke divisi pemasaran." Kata Ibu - Ibu centil yang duduk di seberang Grace sembari menyodorkan beberapa map berkas yang butuh tandatangan Ar.


Dengan langkah gontai, Grace memasuki ruangan Ar. Dia masuk tanpa menoleh ke arah depan, karena biasanya tidak akan ada seorang pun di Ruangan itu, kecuali Ar yang duduk di kursi kebesarannya.


BRUK..!!


'Aduh! Sialnya aku! Bisa sampai nabrak orang lagi.' Umpat Grace dalam hati.


"Grace? Kita bertemu lagi. Kita pasti jodoh nih!" Ucap seorang lelaki yang ada di hadapannya kini dengan penuh semangat.


"Maafkan saya, Pak. Saya tidak sengaja menabrak Bapak." Kata Grace sambil mengumpulkan kembali berkas yang dibawanya dan langsung berjalan menuju ke meja Ar.


"Pak, ini adalah berkas yang harus Bapak periksa dan tandatangani. Saya akan menunggu di sini, karena saya harus menyerahkan hasilnya pada Divisi Pemasaran." Kata Grace tanpa menolehkan pandangannya pada Ar.


"Baiklah, kamu tunggu saja. Kenapa tidak sekalian saja kalian berbincang - bingcang terlebih dahulu. Kan kalian sudah lama tidak bertemu," ucap Ar dengan dinginnya sembari membuka berkas di hadapannya itu.


Ar merasa risih melihat teman seprofesinya dulu saat dia masih di Dunia Permodelan. Sesama lelaki yang menyukai fashion, pasti mereka memiliki selera yang hampir sama termasuk kriteria permpuan yang mereka sukai. Tapi saat ini Ar menganggap Grace sebagai perempuan penipu.


"Beneran nih, aku boleh berbincang - bincang dengan Sekretarismu yang cantik itu?" Tanya lelaki itu sambil melirik ke arah Grace yang sedang berdiri di samping meja menghadap ke arah Ar. Tapi, Ar hanya menganggukkan kepalanya saja.


Grace yang melihat Ar sudah selesai dengan pekerjaannya, langsung saja mengambil alih berkas yang tadinya di atas meja sekarang sudah berada dalam genggamannya. Dia tidak ingin berlama - lama di dalam ruangan itu, apalagi ada lelaki yang sudah 2 kali ditabraknya itu.


"Permisi." Ucap Grace sambil berlalu melewati lelaki yang masih berusaha untuk melihat wajahnya Grace. Tapi sia - sia. Dia tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana paras cantiknya Grace di usianya yang sudah matang itu, karena Grace terus menundukkan kepalanya dan melangkahkan kakinya dengan cepat.


"Kamu kelihatannya sangat tertarik padanya," ucap Ar sambil memainkan keyboardnya. Dia mulai memfokuskan diri untuk memulai pekerjaannya.


"Ya, sudah sejak SMP, aku sudah menyukainya dan sudah berulang kali aku memintanya untuk menjadi kekasihku, tapi selalu diakhiri dengan berbagai alasan penolakan. Saat duduk di bangku SMA, dia malah berpacaran dengan Jeff. Dan sekarang dia sudah bertunangan. Dan aku masih belum tau siapa tunangannya." Tutur lelaki itu sambil duduk di sofa sambil meminum teh yang sudah disediakan untuknya.


"Iyah! Sampai kapanpun, nama Grace tetap terukir dalam lubuk hatiku. Meskipun dia sudah dimiliki oleh lelaki lain, aku juga bisa menunggunya sampai kapanpun itu. Ya sudahlah, Ar. Aku pergi dulu. Aku baru terima pesan singkat dari Manajerku yang sudah menungguku di parkiran. Bye Ar, sampai ketemu lagi, Ar." Lelaki itu pun melambaikan tangannya dan keluar dari dalam ruangan Ar.


Diam - diam lelaki itu berdiri di dekat meja kerja Grace. Tapi, orang yang ingin dilihatnya tidak ada di tempatnya saat ini. Dia pun pergi dari Melv. Corp. dengan langkah gontai. Sedangkan Ar yang mendengar jawaban yang diberikan oleh temannya itu masih terdiam tidak melakukan apa pun.


Beberapa saat setelah ia melamun, tiba - tiba Grace masuk ke dalam ruangannya dan memberikannya rantang makanan. Perempuan itu memasak di pagi hari untuk menyiapkan bekal bagi dirinya sendiri dan Ar. Tapi, saat ini Ar masih emosi dengan pemikirannya sendiri mengenai Grace.


'Kamu telah berani menipuku dan keluargaku! Aku harus segera mengurusmu.' Ar terus - menerus memikirkan hal itu.


"Apa yang kamu bawa?" Tanya Ar dengan nada tegasnya.


"Ini ada sedikit bekal untukmu, Ar. Aku letak di sini saja ya?" Grace bertanya dengan ragu.


"Apa kamu bilang? Kamu membawa bekal? Siapa yang menyuruhmu membawa bekal untukku? Aku tidak butuh itu..!" Kata Ar dengan suara yang agak ditinggikan.


"Bagaimanapun juga, kamu harus makan, Ar." Grace pun meletakkan bekal makanan itu di atas meja


Arion melangkahkan kakinya menuju ke meja itu lalu dia mencampakkan bekal makanan yang di bawa oleh Grace dari atas meja. Grace yang hendak pergi pun menghentikan langkahnya dan segera membalikkan badannya melihat ke arah rantang yang sudah terlepas dari tutupnya dan isi makanan dalam rantang itu sudah berhamburan di lantai


Spontan Grace berjongkok dan mengambil satu per satu bagian dari rantang itu dan membawanya keluar dari ruangan Ar. Tidak lupa Grace menyuruh seorang cleaning service untuk membereskan kekacauan yang telah diperbuat oleh Ar.


"Ar, aku tidak peduli dengan apa yang kamu pikirkan tentang diriku saat ini. Aku hanya ingin kamu tidak melewatkan jam makan siangmu dengan alasan tidak berselera makan. Ini bekalku yang akan kutinggalkan di sini. Kalau kamu tidak menyukaiku, itu tidak masalah bagiku. Tapi kamu harus pikirkan baik - baik untuk tetap menjaga kesehatanmu, Ar. Permisi."


Setlah cleaning service itu menyelesaikan pekerjaannya dan meninggalkan ruangan Ar, Grace kembali masuk ke dalam ruangan itu dengan membawa bekal terakhir yang dia miliki dan meletakkannya di atas meja kerja Ar. Akhirnya Grace keluar dan ruangan itu terasa hening seketika.


"Grace sudah memegang kelemahanku. Aku tidak akan berselera memakan makanan lain selain makanan masakannya. Kenapa aku harus berada dalam situasi seperti ini?" Umpat Ar pada dirinya sendiri yang membuat dirinya jengkel habis - habisan.


Selama setengah jam penuh, Ar hanya memandangi rantang itu. Tapi, setelah dipikir - pikir berulang kali, akhirnya dia menyerah dan langsung menyingkirkan semua berkas - berkas yang tadinya berserakan di atas mejanya.


Baru saja membuka tutup tiap rantang, dia sudah merasakan perutnya berbunyi seolah bersorak melihat makanan yang sudah dengan lancang menggugah seleranya saat ini. Ar pun menyantap makanan itu dengan lahap.


Rantang yang kosong itu sudah tertutup rapi dan dia meninggalkannya di atas mejanya. Lalu dia beranjak pergi ke ruangan Steve. Dia ingin menanyakan perihal Grace yang sudah membuat dirinya tidak lagi bisa mengendalikan diri di hadapan Grace.


"Bro, ada hal penting apa sampai kamu yang berjalan sendiri ke ruanganku?" Tanya Steve setelah melihat Ar yang berusaha berjalan mendekatinya. Ar pun duduk tepat di hadapan Steve.


"Aku ingin bertanya, apa Grace memang sudah bertunangan?" Tanya Ar dengan ragu.


"Bukannya kamu sendiri yang mengatakannya padaku bahwa Grace sudah bertunangan?" Steve malah balik bertanya pada Ar. Saat ini Steve sedang berusaha keras menutupi semuanya pada Ar.


"Iya, memang aku yang mengatakannya padamu." Kata Ar dengan ragu - ragu.


"Jadi, apa masalahmu sekarang? Kamu kelihatan sangat gelisah. Katakan saja padaku semuanya." Tanya Steve pada Ar.


"Aku sedang bergulat dengan pikiran dan perasaanku saat ini. Kalau Grace memang sudah bertunangan, kenapa dia selalu membuatku seolah dia memperhatikanku? Dia sampai membuatkan bekal untukku. Tadi aku melemparkan bekal yang dia berikan padaku, tapi dia malah kembali membawa bekalnya sendiri untukku. Aku benci karena di saat aku sudah mulai luluh padanya, dia sudah bertunangan dan tidak pernah mengatakannya secara langsung padaku. Apa yang harus aku lakukan sekarang Steve? Kenapa aku merasa tidak bisa menjauh darinya?"


Steve hanya diam tidak menyangka kalau perasaan Ar pada Grace tidak pernah berubah, meskipun ingatannya tentang Grace sudah hilang semuanya. Ar yang biasanya tidak peduli dengan perempuan manapun, bisa luluh sampai sebegitunya pada Grace. Perempuan itu memang sudah membuat kehidupan Ar yang tak terjangkau menjadi berantakan seperti ini.


Lalu terbesitlah dalam pikiran Steve untuk membuat Ar semakin bimbang, "Kamu tanyakan saja langsung pada orangnya, Ar. Dia tidak akan marah ataupun tersinggung jika kamu sendiri yang secara langsung menanyakannya. Aku yakin akan hal itu, Ar."


Dan benar saja, Ar pusing tujuh keliling dengan perkataan Steve. Dia benar - benar tidak berani untuk berhadapan lagi dengan Grace setelah kejadian tadi siang di ruangannya.


'Apa yang harus aku lakukan?' pikir Ar dalam diam.


>>> Bersambung <<<


Sampai sini dulu ya..


Kita akan lanjut di eps selanjutnya..


**********


Hello guys..


Nanti malam Thor akan mengupdate next eps + sedikit pengumuman ttg sayembara kecil - kecilan dari Author..


Stay tune di The Perfect Girl yaa..


Next eps pasti akan semakin seru, apalagi dengan sayembara yang cukup menarik..


Jangan lupa klik jempol dan komen2 nya yaa..


Salam Kasih untuk Yang Terkasih


Love You All