THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
95



Setelah selesai berdiskusi dengan Kak Adam dan Steve, aku segera berpamitan dan berangkat kerja bersama Steve. Malam ini adalah malam dimana Mrs.Melv. tiba di Bandara dan Steve tidak punya waktu untuk ikut dengannya karena sudah ada janji temu dengan Lisya.


"Malam ini Mom akan tiba di Indonesia. Kamu bisa mengunjungi Mom besok pagi dan tinggal beberapa hari di Mansion. Banyak hal yang ingin aku sampaikan pada semuanya." Ucapku dengan jelas padanya. Dia hanya mengangguk tanda sudah mengerti dengan ucapanku.


"Baiklah. Aku akan bersiap - siap untuk mendengarkan semuanya. Kamu memang ahli dalam membuat keputusan. Kapan kamu merencanakan semuanya? Kenapa kamu tidak pernah berbagi sedikitpun padaku?" Tanya Steve dengan wajah penuh dengan ekspresi penasaran yang sangat terlihat jelas.


"Aku hanya tidak ingin rencanaku bocor sebelum waktunya. Semua perencanaan ini sudah dimulai sejak awal aku mengingat semuanya." Jawabku dengan singkat.


Tiba - tiba ponselku bergetar tanda pesan masuk. Aku tersenyum sumringah melihat tulisan dalam pesan tersebut. Meskipun isi pesan itu adalah sebuah nominal yang cukup besar, tapi aku senang mendapat kabar darinya.


AUTHOR POV


"Kak, mereka itu Bodyguard nya Kakak ya? Rasanya risih banget diikuti begitu, Kak. Apa yang terjadi? Hingga Kak Ar mengutus 2 Bodyguardnya untuk mengikuti kita?" Tanya Sam dengan polosnya.


Saat ini mereka sedang berada di sebuah Mall terbesar di Jakarta. Sam ingin membeli pakaian untuk dia pakai ke Kantor, karena sudah sangat lama dia ingin membelinya bersama dengan Kakaknya. Tapi keadaan malah memisahkannya dengan Kakaknya begitu lama. Hari ini adalah hari cutinya, jadi dia benar - benar ingin menghabiskan waktunya dengan sang Kakak tersayang.


"Iya. Ar memaksa Kakak membawa kartu ini, lalu sebagai imbalannya dia ingin Kakak menuruti permintaannya dengan membiarkan kedua Bodyguard itu mengikuti kita." Bisik Grace pada Adiknya itu sambil menunjukkan sebuah kartu yang ada di dalam sling bag nya.


"Woaahhh..! Kita bisa belanja sepuasnya dong, Kak?" Tanya Sam dengan antusias. Dia sangat senang mendapat bantuan dana untuk berbelanja. Setelan jas itu tidaklah murah, jadi dia masih ragu untuk menggunakan uangnya.


"Tidak. Kakak yang akan membayar tagihanmu dengan tabungan yang Kakak miliki." Jelas Grace dengan penuh penekanan.


"Tapi, Kak. Nanti saldo Kakak tidak cukup untuk membeli beberapa jas untukku." Sam meledek Kakaknya yang menurutnya tidak begitu memahami style para lelaki.


Baru saja memasuki salah satu stand yang menjual berbagai macam setelan bermerk, Sam dihampiri oleh seseorang dan orang tersebut menepuk pundak Sam dari belakang.


"Ehh, Bro. Loe udah kaya dan tajir sekarang ya? Bawa kekasih jalan - jalan ke Mall dan berhenti di sini. Kelihatannya loe udah bisa membeli jas yang ada di sini makanya loe mampir ke stand ini." Ucap seorang kenalan Sam yang dengan sombongnya mengolok - olok Sam di hadapan Grace.


"Ya, kamu salah. Perkenalkan, dia Kakakku." Ucap Sam memperkenalkan keduanya. Sejujurnya, dia emosi mendengar cakap sombong dari teman kuliahnya itu.


"Oh! Ternyata Kakak? Salam kenal, Kak. Jadi, kamu datang ke sini itu untuk membeli kan? Bukan hanya untuk melihat - lihat saja? Karena kami tidak akan melayani orang yang tidak mampu untuk membeli." Ucap lelaki itu dengan alis dinaikkan sebelah dan ekspresi wajah yang meremehkan.


Sam sempat terpancing oleh kata - kata pedas yang diucapkan oleh lelaki itu. Hampir saja Sam melayangkan tinjuannya ke wajah mulus milik lelaki sombong itu. Tapi, Grace malah lebih cepat bertindak daripada Adiknya. Dia menggenggam tangan Adiknya seraya berkata, "Tenang saja, teman Sam. Kamu tidak perlu takut jualanmu tidak laku. Kami sudah berencana akan membeli beberapa pasang setelan yang terbaik yang toko ini miliki. Silahkan kalian melayaninya." Jawab Grace dengan wajar datarnya sambil melirik ke arah orang yang sudah meremehkan Adiknya.


"Oke! Silahkan kalian bawa beberapa pasang setelan jas terbaik yang kita miliki saat ini." Sambil menepukkan kedua tangannya.


Para pekerja di stand itu mulai berbondong - bondong membawa beberapa setelan jas dengan berbagai merk dan corak warna. Sam hanya terdiam mendengar ucapan sang Kakak. Dai tidak mungkin melarang Kakaknya yang sudah terlanjur bertindak lebih cepat darinya.


"Sam, kamu coba yang ini dulu. Kakak mau lihat, seberapa bagus kualitas dari setelan jas yang dijual di Toko ini." Grace mendapat tatapan khawatir dari sang Adik, tapi dia juga menerima tatapan sinis dari teman Adiknya. Dia tidak peduli dengan kedua tatapan itu dan tetap menyodorkan setelan jas pilihannya.


Sam hanya mengikuti permintaan Kakaknya. Dia takut jika sang Kakak akan memorak - porandakan isi dari stand yang mereka datangi saat ini. Kakaknya yang paling seram dari semuanya.


Setelah beberapa kali mengganti pakaian, Sam akhirnya membuka suara. "Kak, aku sudah lelah. Kita ambil saja yang ini dan ini ya?" Sam menunjuk 2 setelan jas yang menurutnya paling bagus dari antara semuanya.


"....."


Grace hanya terdiam tak mengatakan apapun sambil meneliti ke 10 setelan jas yang sudah dicoba oleh Sam. Dia juga teringat dengan Ar secara alami. Akhirnya, Grace pun menentukan pilihannya.


"Kami akan membeli yang ini saja. Semuanya berapa?" Ucap Grace dengan mudahnya, seolah tak menggubris tatapan syok dari sang pemilik toko.


"Kak, apa Kakak tidak salah memilih? Harganya tidaklah murah, Kak. Apa tabungan Kakak akan cukup untuk membayar itu semua?" Bisik Sam dengan wajah khawatirnya.


"Sssttt.. Kakak tau itu, Sam. Kakak kan masih punya kartu sebagai cadangannya. Nanti Kakak traktir kamu makan saja ya? Hehehehe.." Grace terkekeh sendiri mengingat dirinya yang terbawa emosi hingga harus mengeluarkan nominal di luar jangkauannya. Akhirnya, ia memutuskan untuk menggunakan kartu yang dimilikinya saat ini. Dia masih ingat, password kartu ini adalah tanggal lahirnya. Karena itulah yang dibisikkan Ar tadi pagi padanya sebelum dia benar - benar berpisah dengan Ar di depan pintu utama Mansion.


"Bu, barangnya sudah dibungkus dengan rapi dan ini total tagihannya. Silahkan bayar ke kasir." Ucap seorang pekerja yang menunjukkan arah kasir.


Grace sempat kaget melihat 8 digit angka yang tertera pada lembar tagihan itu. Dia tidak menyangka akan menghabiskan uang yang jumlahnya tidak sedikit hanya untuk membeli setengah lusin setelan jas bermerk. Tapi dia tetap tenang agar sang Adik tidak dihina oleh orang sombong yang hanya memiliki usaha kelas menengah seperti itu.


Dia pun berjalan ke arah kasir dan mengeluarkan kartu andalannya. Si pemilik toko sampai tidak mempercayai apa yang dilihatnya. "Wah! Sam. Kakakmu sungguh hebat! Dia memiliki kartu kredit yang hanya dimiliki oleh sekelabat orang yang sudah sampai pada tahap Go International."


"....."


Sam hanya diam membisu mendengar ocehan temannya yang sedang merangkulnya sok akrab itu. DIa tidak ingin mengucapkan apapun hanya untuk pamer seperti temannya itu. Dia hanya akan melihat bagaimana temannya itu ditampar oleh kesombongannya sendiri.


'Kak Grace memang yang paling cerdik menghukum seseorang. Dia sudah menampar keras harga diri Anak belagu ini.' Kekaguman Sam terhadap Kakaknya diucapkannya di dalam hati.


Setelah semua proses transaksinya terselesaikan dengan lancar, Grace mendapat sambutan yang ramah dari sang pemilik toko.


"Terimakasih banyak, Kak. Terimakasih karena sudah berbelanja di sini dan saya mohon maaf atas kelancangan saya tadi." Ucap lelaki itu sambil membungkukkan setengah badannya ke arah Grace.


"Iya, tidak masalah. Lain kali kamu jangan bertindak seperti tadi. Hanya karena kamu adalah kenalan Sam, saya tidak melaporkanmu dan masih membelanjakan uangku di toko ini. Kalau saja kamu itu bukan kenalan Sam, kamu pasti tau akibatnya." Grace tersenyum miring melihat ekspresi kaget sang pemilik toko.


'Masih curut malah sok belagu!' Umpat Grace dalam hatinya. Dia sungguh tidak habis pikir, apa maksud di balik ucapan Anak sombong itu.


Akhirnya Grace berangkat dengan Sam begitu saja. Pemilik toko itu sempat heran dengan sikap Kakaknya Sam karena meninggalkan belanjaannya begitu saja.


"Pak, kami yang akan membawa barang belanjaan Nona Muda dan Tuan Muda tadi."


Tiba - tiba saja ada seorang Bodyguard yang melarangnya untuk memanggil Sam dan Kakaknya. Lelaki sombong itu merasa sangat malu karena telah merendahkan Sam yang ternyata adalah orang yang statusnya berada jauh di atasnya. Dia pun mengangguk kepada dua Bodyguard yang membawa pergi belanjaan itu dan berjalan mengikuti Nona Mudanya.


Mereka pun masuk ke dalam sebuah stand makanan. Sambil menikmati makanan, mereka mulai bersendagurau mengenang masa lalu yang tak terlupakan. Grace juga bercerita sedikit tentang kehidupannya selama 2 tahun berada di London.


Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..


"Kak, ada panggilan masuk tuh. Kenapa diabaikan? Itu yang manggil Kak Ar lho." Tanya Sam yang melihat Kakaknya tak kunjung menjawab panggilan yang masuk.


Dengan terpaksa, Grace mengangkat ponselnya. Dia sebenarnya bukan menghindari Ar, tapi di takut karena telah menggunakan kartu kredit yang Ar berikan padanya. Baginya, nominal 8 digit itu cukup besar hanya untuk beberapa setelan jas.


"Grace? Kalian sudah makan siang kah?" Tanya Ar setelah panggilannya terhubung.


"Ini kami sedang makan berdua. Kenapa?" Grace mulai merasa aneh dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Ar.


"Berdua saja? Kalau bertiga, boleh?" Ar kembali bertanya pada Grace yang sudah was - was sambil melihat sekelilingnya.


"Kamu dimana? Jangan - jangan kamu mengekori langkah kami sejak awal?" Tanya Grace dengan penasaran.


"Bukan mengekori. Aku hanya meluangkan jam istirahatku untuk menemuimu. Tunggu aku ya." Ucap Ar sambil memutuskan panggilan itu secara sepihak.


"Hai, Apa kabar Sam?"


Sam yang terpanggil pun menoleh ke arah sumber suara. Sam tidak kalah kagetnya melihat keberadaan Ar yang ada di hadapan mereka yang mendadak itu.


"Baik Kak. Kak Ar kenapa tau kalau kami sedang ada di sini?" Tanya Sam pada Ar yang sudah duduk di sebelah Grace.


"Gak perlu heran, Sam. Mata - matanya kan 2 orang di sini. Kamu jangan lupakan kedua bodyguard itu, Sam." Ucap Grace sambil menyeruput jus pesanannya. Setelah itu, dia mulai menyantap kembali makanannya dengan lahap.


Sam mengangguk sambil berkata, "Oh, iya juga ya, Kak. Kak Ar banyak koneksinya."


Ar yang melihat Grace begitu lahap makannya, membuat dirinya merasa lapar. Dia pun mengambil sendok yang dipegang Grace dan menarik piringnya. Dia tidak mengatakan apapun pada orang di sebelahnya. Ar hanya melahap makanan yang tinggal setengah itu sampai kandas dan meminum habis jus milik Grace.


Grace yang kesal dengan perbuatan Ar mulai mengomel sejadi - jadinya, "Ar! Kalau memang kamu lapar, pesan saja makananmu. Jangan mengambil makanan dan minumanku sesuka hatimu. Aku kan masih belum kenyang! Kamu itu mengganggu selera makanku saja. Aku tidak mau tau, kamu harus bertanggungjawab!"


Sam hanya terkekeh mendengar ocehan Kakaknya. Sedangkan Ar? Dia melirik Grace dengan senyuman puasnya.


"Oke. Aku akan bertanggungjawab. Kamu mau aku memesankan makanan yang sama lagi untukmu? Atau kamu mau makanan yang lain?" Ucap Ar sambil menoleh ke arah Grace yang masih diam karena kesal dengan tingkahnya.


Dengan diamnya Grace, Ar mulai khawatir dan dia pun memanggil pelayan untuk memesan sepiring dan segelas jus lagi dengan menu yang berbeda, tapi menu ini merupakan menu andalan dari tempat itu.


Sesudah makanan itu dihidangkan, Ar langsung menyendokkan makanannya dan menyodorkannya pada Grace.


"Grace, cobalah menu ini. Ini menu andalan mereka. Aku yakin kamu pasti suka. Nih, dibuka mulutnya. Ayo, dimakan. Aaaa.." Ar mulai membujuk Grace untuk memakan menu yang dipesannya.


"Ayolah, Grace. Dimakan." Ar tidak henti - hentinya membujuk Grace sampai akhirnya Grace melahap makanan yang disodorkan Ar karena merasa tergoda dengan aroma makanannya.


"Enak kan? Ayo, dimakan lagi. Habiskan semuanya. Ini minumannya. Aku akan menemani kalian setelah ini. Karena kita akan menjemput Mommy di Bandara sepulang dari sini." Ucap Ar sambil menggeserkan piring dan gelas jus yang memang dipesannya khusus untuk Grace.


"Mom pulang? Bukannya baru beberapa hari yang lalu Mommy ke London?" Tanha Grace penasaran.


"Iya, Mommy bilang dia merindukanmu. Aku saja sampai heran, sebenarnya siapa Anaknya." Gurau Ar sambil melirik ke arah Grace. Sam hanya bisa terkekeh melihat tingkah sepasang kekasih itu.


"Pelayan! Mana tagihannya?" Teriak Ar memanggil seorang pelayan.


Seorang pelayan datang dan membawa tagihan mereka. Ar pun mengambil kartunya dari dalam sling bag milik Grace dan berjalan menuju kasir. Mereka yang sudah selesai makan, akhirnya melanjutkan kegiatannya dengan mengelilingi Mall itu.


Bukannya membeli pakaian, Grace lebih memilih untuk membeli banyak cemilan untuk stok jajanannya di Rumah selama dia tidak diperbolehkan untuk bekerja.


"Grace, kamu beneran tidak mau membeli pakaian satu pun? Apa kamu tidak tertarik dengan berbagai jenis pakaian yang dipajang di stand - stand itu?" Tanya Ar dengan wajah yang serius.


"Tidak. Aku hanya butuh sedikit cemilan." Grace hanya menggelengkan kepalanya sambil menenteng beberapa plastik yang berisi cemilan. Mungkin itu stok untuk sebulan, karena Sam dan Ar juga turut membawa belanjaan Grace.


Kedua lelaki yang mengikuti langkah Grace hanya saling pandang dan mengedikkan bahunya. Mereka tidak habis pikir dengan sifat perempuan yang ada di depan mereka.


>>> Bersambung <<<


Sampai sini dulu ya..


Kita akan lanjut di eps selanjutnya..


Jangan lupa berikan supportnya untuk Author..


Thor tidak minta yang aneh - aneh, hanya like dari jempolnya..


Kalau komen, itu semuanya semaunya readers saja..


Salam Kasih untuk Yg Terkasih


Love You All