THE PERFECT GIRL

THE PERFECT GIRL
33



AUTHOR POV


Hari sudah menjelang malam. Sudah saatnya makan malam. Semua orang sudah berkumpul, tapi...


"Inangbao, ayo kita cari Arion dan Grace. Mereka belum kelihatan dari tadi siang." Ucap Mama Grace pada mertua putrinya.


"Sepertinya mereka tertidur di kamar depan."


Kedua Ibu-Ibu kepo bergegas menuju ke arah kamarnya Grace. Mereka melihat pintu kamar itu tidak tertutup rapat. Saat mereka mengintip...


"Astaga! Betapa manis nya perlakuan Arion pada Grace. Seumur-umur, dia belum  pernah begitu lho, Inangbao." Mrs.Melv. mengikuti cara Mrs.Victor memanggilnya dengan sebutan besan dalam logat Batak.


"Ahh, masa? Arion kan tampan dan mapan, harusnya orang seperti dia itu banyak dikelilingi kaum hawa."


Lanjutlah percakapan Emak-Emak ini.


"Iya lho, Inangbao. Masa gak percayaan sama aku? Anakku itu belum pernah yang namanya dekat dengan perempuan. Dia itu selalu menepis setiap ada perempuan yang menyentuhnya, baik itu sengaja atau tidaknya." Penjelasan yang cukup masuk akal dari Mrs.Melv. mendapat anggukan dari Mrs.Victor.


"Hayoo, ngapain di sini berduaan, Tidak jadi banguni mereka? Sudah waktunya kita makan malam." Ucap Mr.Melv. dan Mr.Victor serempak.


"Lihatlah, Arion anak kita, begitu hangat perlakuannya terhadap Grace. Mommy mau foto mereka dulu, boleh kan Dad?"


Mrs.Melv. mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan menjepret beberapa kali dua sejoli yang sedang tertidur lelap itu. Posisi mereka saat ini sedang berhadapan satu sama lain. Tangan Arion sebelah kanan berada di pinggang Grace seolah dia sedang memeluknya. Grace hanya meringkuk di dalam dekapan Arion.


Selesai memfoto kedua sejoli itu, Mrs.Melv. memanggil nama mereka, "Arion.. Grace.. Bangun, nak. Sudah waktunya makan malam."


Setelah ada beberapa pergerakan Grace, keempat orang yang tadinya berkumpul, langsung pergi menjauh dari pintu kamar tersebut. Mrs.Victor mulai memanggil nama kedua sejoli itu dari kejauhan.


"Arion.. Grace.. Cepat ke sini, kita mau makan malam lho.."


"Iya ma." Sahut Grace yang masih memejamkan kedua matanya, dia berusaha untuk menyadarkan dirinya.


Begitu matanya terbuka, dia melihat wajah lelaki yang sedang memandanginya.


"Apa-apaan ini? Kenapa kamu ada di sini? Lepaskan tangan mu itu dariku, aku mau keluar." Grace memarahi lelaki di hadapannya itu.


"Aku masih belum puas memandangimu dari jarak sedekat ini, sayang. Jarang-jarang aku bisa melihatmu dengan posisi seperti ini. Kamu terlihat sangat cantik saat baru bangun tidur." Kata Arion dengan senyuman manisnya.


"Sudahlah, aku mau pergi makan malam, kalau kamu masih tetap mau di sini, ya sudah. Aku tinggal."


Grace langsung menghempaskan tangan kanan Arion yang berada di pinggangnya dan bangkit dari tempat tidurnya. Dia menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan pergi menuju dapur.


Meja makan mereka memang terletak di dapur. Mereka memandangi kedua sejoli yang baru saja tiba.


"Ayo, ayo. Di makan nasi dan lauknya. Habiskan semuanya ya, jangan sungkan-sungkan. Ini masakan Mama spesial untuk kita semua."


"Wah, Mama. Banyak amet jenis lauknya." Grace memandangi satu per satu lauk yang terletak di atas meja.


"Nih, kamu makan yang banyak, biar nambah sedikit timbanganmu. Jangan sampai kamu jatuh sakit karena kelelahan." Arion mengambilkan nasi dan diberikan kepada Grace.


"Seharusnya Grace yang menyendokkan nasi untuk mu, Ar. Kamu ini jangan memanjakan dia." Kata Mrs.Victor pada Arion sambil melirik tajam ke arah putri sulungnya itu.


"Yaaah, Ma. Kenapa jadi menyalahkan aku sih? Kan dia yang mau, bukan aku yang suruh."


"Gak apa-apa, Ma. Arion yang mau menyendokkan nasi Grace kok, Ma. Jangan gitu kali liat Grace nya, Ma. Kasihan dia."


Semua orang terkekeh mendengar ucapan kedua sejoli itu. Mereka pun memulai kegiatan makan-memakannya.


**********


"Grace, kamu nanti tidurnya dengan Arion ya. Si kembar tidur di kamar belakang saja. Kan kamar di rumah kita cuma ada 4. Jadi, itu yang terbaik menurut Papa."


Ini adalah ide dari ke empat orangtua itu. Mereka memang ingin mendekatkan Grace dengan Arion. Mereka yakin, kalau Arion itu tidak akan melakukan hal tidak senonoh pada Grace. Dia saja masih canggung jika bersama dengan Grace, gimana bisa dia berbuat lebih dari itu?


"Hayoloo Paa.. Kenapa Grace mesti tidur berdua dengannya sih? Grace gak mau akh, mau tidur bareng dd kembar saja." Rengek Grace pada Papa nya.


"Grace, dia itu bakalan jadi suami kamu, kamu harus biasakan diri kamu dengan nya. Gimana sih?"


"Ya udah, kalau maksa! Grace bawa guling besar ini ya, Pa. Grace gak mau dekat-dekat dengan dia."


Grace langsung membawa guling berukuran besar dari kamar orangtuanya ke kamar nya. Dia meletakkan guling itu di tengah-tengah tempat tidur nya.


"Lho? Kenapa kamu bawa guling sebesar itu? Mau kamu apakan itu Grace?" Tanya Arion terheran-heran.


"Ini pembatas tempat tidur. Kamu gak boleh melewatinya. Ingat itu Ar!"  Grace langsung masuk kamar mandi untuk membasuh diri.


Arion tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah calon istrinya itu.


'Ternyata dia bisa malu juga.'


Setelah selesai menyelesaikan ritualnya di kamar mandi, Grace menyisir rambutnya di meja rias. Terlihat lah Arion yang sedang duduk bersandar di atas tempat tidur nya memegang laptopnya.


Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..


Ponsel Grace yang terletak di atas tempat tidurnya berbunyi, Jeff menelepon.


Arion yang melihatnya langsung mengangkat panggilan tersebut dan meloudspeakernya.


"Selamat malam, Grace. Gimana kabar mu di sana? Semuanya lancar-lancar saja kan?" Ucap Jeff yang penuh semangat.


Grace yang mendengar suara Jeff, langsung menoleh dan memelototi Arion.


'Beraninya dia mengangkat telepon dari ponselku.'


"Ini aku, Arion." Hanya jawaban singkat yang di berikan Arion pada Jeff.


"Oh, hai, Ar. Kemana Grace? Kenapa bisa kamu yang menjawab telepon dari ku?" Jeff bertanya dengan heran.


'Tanya kenapa lagi, apa dia bodoh? Aku kan calon suami nya. Kenapa kalau aku yang menjawab telepon dari ponsel calon istri ku?' Pikir Arion yang hanya disebutkannya di dalam hati.


Seketika ponsel itu di rebut oleh Grace, "Halo Jeff. Sorry ya, Arion memang gitu orang nya. Tadi aku sedang berada jauh dari ponsel ku, jadi dia yang mengangkatnya."


Jeff pun mengerti bagaimana situasi nya, "Oke, baiklah. Semuanya lancar kan Grace? Kabar nu bagaimana? Apa kamu sudah minum vitamin untuk menghilangkan rasa capekmu itu? Ingat, kamu gak boleh kelelahan, Grace. Tensi mu itu rendah. Kamu bisa saja pingsan sewaktu-waktu."


"Aku baik-baik saja, Jeff. Terimakasih sudah mengkhawatirkanku. Karena semua nya berjalan dengan lancar, aku tidak merasa kelelahan sama sekali."


Grace yang masih ingin berbicara pun terhenti karena ponsel nya di tarik oleh Arion, "Selama dia bersama ku, dia akan baik-baik saja."


Dengan sekali klik, berakhirlah panggilan tadi.


"Kamu apa-apan sih, Ar? Dia itu cuma menanyakan kabar ku. Kenapa kamu matiin begitu panggilannya?"


"Dia itu mantan kekasih mu, wajar dong kalau aku cemburu. Iya kan sayang? Karena aku cemburu, aku tidak mau kamu berlama-lama mengobrol dengan nya. Jadi ku akhiri saja panggilan nya."


Arion tersenyum melihat Grace yang tidak membantah perkataannya, meskipun dia jadi pendiam begitu. Itu lebih baik.


Grace mengambil selimut baru dan diberikan pada Arion. Lalu dia berbaring menyelimuti dirinya sendiri. Dia tidur dengan menutupi seluruh bagian tubuh nya, termasuk wajah nya yang menghadap ke langit-langit kamar.


Grace merasa kesal setengah mati mendengar perkataan Arion tadi. Tapi dia tidak mau berdebat, karena itu bisa mengganggu jam istirahat semua orang.


'Mending aku tidur aja deh.' Pikirnya.


Arion juga ikut berbaring di sebelah guling besar yang berada di tengah-tengah mereka. Dia tidak bisa tertidur sama sekali.


'Tempat tidurnya asing bagi ku, aku jadi tidak bisa tidur kalau bukan di kasurku sendiri. Bagaimana ini?" Pikiran Arion melayang-layang karena dia tidak bisa tertidur.


Saat tengah malam, dia sudah lelah menguap entah berapa puluh kali, tapi tetap saja tidak bisa tertidur. Akhirnya dia menggeserkan posisi guling besar itu ke samping nya, sehingga dia bisa bergerak mendekati Grace.


Grace telah tertidur nyenyak, dia mendengkur lembut. Arion membuka sedikit bagian selimut Grace yang menutupi wajahnya. Karena lampu kamar juga sudah dimatikan, sehingga Grace tidak terbangun.


Grace terbiasa tidur dengan suasana yang gelap gulita. Jika ada sedikit cahaya saja yang melewati kelopak matanya, dia pasti akan terbangun.


Dia berusaha untuk tidak membuat Grace terbangun. Tapi, dia tidak bisa menolak keinginan hatinya. Akhirnya, dia mencium lembut kening Grace dan mengucapkan kata "I Love You" dengan sangat lembut.


Entah mengapa, setelah dia berada di dekat Grace, dia merasa sangat mengantuk. Tanpa sadar, dia pun terlelap dalam tidur dengan posisi seperti memeluk Grace. Padahal tangan kanannya Arion hanya menyentuh bagian perut Grace.


Keesokan paginya..


Grace terbangun karena memang sudah waktunya dia bangun.


'Sudah jam 5 ternyata.'


Saat Grace ingin bangkit dari tidurnya, dia merasakan ada tangan yang menariknya bagian pinggangnya. Dia sangat terkejut.


'Ternyata semalaman posisi kami seperti ini?'


Grace pun berusaha melepaskan tangan kanan Arion yang memeluk pinggangnya itu. Setelah terlepas, dia langsung bangkit dari tempat tidur dan langsung melakukan kegiatan bebersihnya. Ya! Dia harus menyapu, mengepel dan merapikan semua barang-barang yang berantakan.


Sekarang sudah pukul 7 pagi, Grace pun kembali ke kamarnya. Dia tidak melihat keberadaan Arion.


'Mungkin dia sedang mandi.' Pikirnya.


"Oh iya, aku juga harus bersiap. Sebentar lagi kan aku harus pergi dengan dia. Ya sudah lah, aku pakai mini dress ini saja. Biar mudah berganti pakaian nanti disana."


Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan keluarlah Arion dengan posisi 1 handuk melilit di pinggang nya dan 1 lagi bertengger di leher nya.


"Heii, lain kali bawa pakaian mu ke kamar mandi kalau mau mandi. Jangan seperti itu. Sungguh tidak sopan." Ucap Grace dengan ketus setelah membalikkan badannya. Dia sangat kaget melihat bentuk tubuh Arion yang bisa di bilang cukup sempurna. Sebagai aktor dan model, tentu saja dia menjaga porsi bentuk tubuh nya agar tetap six pack.


"Kenapa aku tidak sopan? Kan di kamar ini hanya ada kita berdua, sayang." Arion tersenyum geli melihat tingkah calon isteri nya itu.


"Sebaiknya kamu berlatih menjadi seorang istri yang baik. Harusnya kamu menyediakan keperluanku bukan?" Arion berusaha membuat suasana canggung tadi menjadi senormal mungkin.


"Baiklah, asal kamu tetap di sana! Jangan mendekat!" Ucap Grace sambil membuka koper bawaan Arion dan memilihkan setelan pakaian santai padanya.


Mereka memang mau pergi ke studio foto untuk persiapan foto Prewed. Si Mommy juga sudah memilihkan beberapa gaun dan setelan jas di sana untuk dikenakan saat berpose.


Mereka berdua hanya pergi kesana dengan membawa diri. Segala sesuatu nya sudah di atur sedemikian rupa oleh si Mommy. Jadi, Arion dan Grace harus bisa fokus berpose dengan romantis di sana.


"Nih, sudah. Ku letak di kasur. Aku mau mandi dulu." Begitu Grace membalikkan badannya, dia tetap tertunduk dan tidak mau mengangkat wajahnya.


Arion yang tertarik melihat tingkah lucu perempuan itu, hingga dia tidak tahan untuk tidak menarik lengan perempuan itu. Grace pun akhirnya berada di pelukan Arion.


Begitu kuat tenaga Grace mendorong Arion hingga ia terpundur, "Awas saja kalau kamu begitu lagi, ku hajar tepat di wajah mu itu nanti!"


Grace pun langsung menuju ke kamar mandi. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat kejadian barusan.


Arion sangat senang bisa melihat sisi lucu dari Grace.


'Biasanya dia itu galak tapi jutek, tapi tadi dia itu sangat imut meskipun nada bicaranya masih tetap galak.'


Arion pun memakai setelan pakaian yang dipilihkan oleh Grace. Dia suka dengan style yang diberikan Grace padanya.


'Bagus juga seleranya, dia memilihkanku setelan seperti ini. Sudah lama aku tidak memakai pakaian seperti ini.'


"Ar, kamu sudah siap berpakaian?" Grace menjerit dari dalam kamar mandi.


"Sudah, keluarlah."


Grace pun keluar dari kamar mandi dan menuju meja rias untuk mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer.


Arion mendekatinya dan mengambil alih hairdryer tersebut, "Heii, kamu ngapain sih? Mulai semalam buat orang kesal melulu."


Bahu kiri Grace di tahan oleh Arion saat dia mau bangkit dari tempat duduk nya.


"Kamu duduk saja yang bener, biar aku yang keringkan rambut mu. Jangan lasak, nanti aku jadi gak fokus."


"Biar aku saja, Ar! Kamu itu lah, ..."


CUP..


Arion mencium pipi kanan Grace. Hal ini lah yang membuat Grace terdiam tak berkata apa pun lagi.


"Nah, gitu dong. Kan kalau nurut daritadi, aku pun gak bakalan begitu sama kamu. Tapi, tak apalah, aku senang bisa nyium pipi mu. Anggap saja itu morning kiss dari ku."


Arion terkekeh sendiri melihat ekspresi Grace yang terkejut melihatnya dari pantulan cermin di hadapan mereka.


Sebenarnya, Jantung Arion sedang berdetak kencang. Karena sangkin senang nya dia melihat ekspresi Grace saat ini, membuat nya bisa mengatasi rasa canggung nya tersebut.


Tokkk.. Tokkk.. Tokkk..


"Grace, kalian sudah siap? Sarapan yuk, biar nanti kalian gak kelaparan."


"Ya, Mom. Ini kami sudah mau ke sana."


Selesai menjawab ketukan pintu itu, Grace berdiri dan keluar dari kamar. Dia tidak mengatakan hal apa pun pada Arion.


"Yaaah, salah aku apa? Sampai dia jutek gitu. Perempuan itu memang susah sekali di tebak."


Arion menggerutu sendirian di kamar. Setelah dia menyimpan kembali pengering rambut itu, dia bergegas menyusul Grace ke dapur.


**********


"Grace, kamu sangat cantik mengenakan gaun itu" Bisik Arion saat dia dipertemukan dengan Grace di sebuah ruangan tertutup.


Mereka akan melakukan pemotretan indoor dan outdoor. Bagi Arion, hal seperti ini sudah seperti makanan sehari-hari nya sebagai mantan seorang model.


Tapi bagi Grace, ini sungguh aneh. Beberapa kali dia melakukan kesalahan karena merasa tegang. Dia sangat jarang berhadapan dengan kamera, kecuali saat membuat pas foto.


"Ekspresi pengantin wanita nya jangan tegang gitu dong, senyum nya harus senatural mungkin." Ucap sang fotographer yang sedaritadi menyadari ketegangan pada wajah Grace.


"Pengantin wanitanya jangan terlalu jauh dari pengantin prianya." Lagi-lagi sang fotographer menegur Grace.


'Puyeng deh, begini salah, begitu salah.' Grace merutuki dirinya yang selalu salah di mata sang fotographer.


Berulang kali Grace melakukan kesalahan, berulang kali juga Arion mengajari Grace cara bertindak di depan kamera. Dengan sabar pula dia membisikkan cara-cara itu hingga Grace bisa melakukan hal yang benar.


**********


"Nih, barang kamu sudah ku masukkan semuanya ke koper. Sudah saatnya kamu pergi." Ucap Grace sambil menyodorkan tas dan koper yang ada di tangannya kepada si pemilik.


"Tapi, aku masih belum mau berangkat, Grace. Waktu 2 minggu itu sungguh lama sekali." Kata Arion sambil memegang kedua bahu perempuan di hadapannya.


"Oh iya, aku hampir lupa."


Grace pergi menuju lemari pakaiannya dan mengambilkan sebuah jaket. Jaket yang ingin dikembalikan Grace kepada pemiliknya.


"Ini di pakai dulu, biar nanti gak kedinginan saat di perjalanan." Ucap Grace sambil membantu Arion mengenakan jaket itu dari belakang.


"Lho? Ini kan.." Sekilas Arion berusaha mengingat sesuatu yang sempat terlupakan.


"Terima kasih sudah meminjamkan jaket ini padaku. Dan maaf, baru mengembalikannya." Ucap Grace sambil memeluk Arion yang masih ling-lung, "Pergilah, mereka sudah memanggilmu."


"Ar, ayo cepat! Kamu sudah terlalu lama menunggumu!" Ucap Adam kesal karena sudah hampir setengah jam dia menunggu.


"Iya, iya. Bawel."


Arion pun pergi setelah berpamitan kepada para orangtua. Dia, Adam dan Silvia. Steve sudah terlebih dahulu balik ke Jakarta semalam. Karena ada keperluan mendadak di kantor.


Selama di perjalanan, Arion terus memikirkan 'Sejak kapan dia tau bahwa ini adalah jaket pemberianku?'